Category: MindTalk

Nggak Jahat sih, Cuma Nggak Cinta Aja

Hanya karena tidak mencintai, bukan berarti jahat. Tapi akan jadi jahat bila kamu menanggapi perasaannya bahkan menikmatinya, sementara tidak pernah ada cinta di hatimu untuknya. Bukankah itu namanya memanfaatkan perasaannya? Jangan memberi ruang sedikitpun untuk membuat perasaannya makin bertumbuh bila tidak ada cinta di hatimu.

“Kamu tuh PHP banget sih sama Citra” Sisil tiba-tiba datang menjejeri Doni sambil marah-marah. Doni hanya mengernyitkan dahi sambil melirik ke arah Sisil.

“Kamu tahu kan yang aku maksud?” Sisil masih nerocos tidak berhenti bicara melihat Doni tidak merespon. Doni meletakkan buku yang baru dia baca,”Jujur ya, aku tuh sama sekali nggak paham apa yang kamu bicarakan. Kasih prolog dulu kek, dateng-dateng langsung marah-marah nggak jelas”. Sisil mendengus kesal.

“Nggak jelas??? Nggak jelas gimana, udah jelas-jelas kamu bikin Citra sakit hati.”

Doni mendongak,”Sakit hati? Aku bikin sakit hati Citra? Kok bisa? Memang aku ada hubungan apa sama Citra?”.

Sisil melotot ke arah Doni, seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.

“Kamu sadar nggak sih Don, kalau kamu sudah bikin Citra terluka”.

“Lhoh aku tuh ngapain? Aku beneran nggak ngerti, aku melakukan apa sama Citra? Kenapa juga aku yang disalahkan kalau dia sakit hati. Bisa saja dia sakit hati sama orang lain”.

“Kamu itu nggak punya perasaan bener sih jadi orang.” Sisil tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Lalu dia membuka layar handphonenya dan menunjukkan history chat percakapan Citra dan Sisil kepada Doni.

Doni mengamati percakapan itu sambil sesekali dahinya mengerut. Setelah itu dia kembalikan handphone ke Sisil,”Kok bisa begitu ya?” Doni seperti bergumam. Untuk beberapa saat lamanya mereka larut dalam diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri.

“Sil, tolong tunjukkan salahku dimana. Apa salah kalau selama ini aku baik sama Citra?”. Doni bertanya sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Ya sebenarnya kamu tidak salah kalau baik sama Citra. Tapi kamu sudah memberi harapan sama dia. Kan kamu seperti PHP sama dia. Kamu memberi harapana palsu sama dia.”

“Nah….itu dia yang aku nggak paham. Harapan apa? Aku biasa saja selama ini. Tidak menjanjikan apa-apa dan tidak memberi harapan apapun. kenapa Citra merasa aku memberi harapan sama dia. Aneh”.

“Ya nggak anehlah Don, sikapmu sama dia selama ini membuatnya jatuh cinta. Apa yang kamu lakukan sama dia, membuatnya punya harapan untuk bersamakamu.”

“Tapi aku cuma……” Doni tidak melanjutkan kalimatnya. Dia terlihat bingung akan menjelaskan bagaimana.

“Jadi menurutmu aku jahat sama Citra? Hanya karena aku tidak mencintainya?” Tanya Doni tiba-tiba. “Aku memang selalu baik sama dia, karena dia juga baik sama aku. Dia asik diajak ngobrol, ya nyambung aja aku ngobrolnya. Intinya memang menyenangkan, tapi bukan karena aku mencintainya. Cinta kan nggak bisa dipaksa Sil”. Lanjut Doni.

“Jadi kamu tidak mencintai Citra?” Sisil balik bertanya dan dijawab dengan gelengan kepala Doni.

Sisil menatap mata Doni lekat-lekat, seolah mencari kebenaran di sana.

“Nah kalau aku nggak cinta, tapi berlaku baik sama dia terus aku dianggap PHP? Aku yang salah karena baik? Apa aku harus jahat gitu?”. Doni menjelaskan tanpa diminta. Sisil hanya mendesah, sungguh bukan posisi yang menyenangkan berada diantara keduanya. Doni maupun Citra sama-sama dekat dengannya. Mau menyalahkan siapa? Juga dimana salahnya?

Begitulah yang sering terjadi. Ada banyak sisi yang bisa dilihat, bagaimana itu bisa terjadi,tergantung juga dari sisi mana kita memandangnya. Banyak yang berbicara tentang kasus PHP menilik dari kejadian yang dialami si korban. Atau yang merasa menjadi korban. Tapi, bagaimana bila melihatnya dari sisi yang dianggap pelaku PHP? Karena tidak semuanya itu tepat bila dianggap sebagai orang yang memberi harapan palsu.

Dari cerita tentang Doni dan Citra, yang terjadi di antara mereka sebenarnya hanya sebuah kebiasaan bersama-sama. Saling merasa nyaman berinteraksi. Pertemanan itu sangat menyenangkan bagi keduanya. Tentu saja menjadi tidak nyaman dan menyenangkan bila salah satunya lantas terjebak memakai perasaan lebih atau jadi jatuh cinta. Karena ternyata, sikap welcome dari Doni atas hubungan pertemanan itu ditanggapi berbeda oleh Citra. Begitulah cinta yang kadang datang karena sebuah kebiasaan bersama. Tanpa direncanakan dan diinginkan keduanya, perasaan suka perlahan bisa menjadi cinta. Bila itu dirasakan oleh keduanya, tentu tidak akan menimbulkan masalah pelik. Bisa saja lantas jadian lalu akan menjadi pasangan yang asik dan saling mencintai. Tapi bagaimana bila perasaan itu hanya tumbuh pada salah satu saja? Perasaan sayang dan perhatian sebagai teman, meluluhkan dan bisa membuat jatuh cinta, ini menjadi sangat merepotkan.

Pertemanan yang asik itu, selanjutnya akan kehilangan keasikannya.

Bagaimana tidak? Doni yang masih ingin tetap baik, karena memang Citra sangat menyenangkan untuk dijadikan teman, tentu dia tidak ingin semakin melukai hati Citra, dengan langsung pergi menghindar begitu saja ketika tau bahwa Citra mencintainya, tapi disisi lain, bila Doni tetap bersikap sama, baik itu waktunya yang selalu tersedia buat Citra, atau tetap menjadi pendengar setia ketika Citra butuh teman untuk sekedar berbagi keluh kesah,justru memunculkan rasa kuatir akan semakin menumbuhkan harapan yang besar pada Citra. Serba salah kan?

Jadi, tidak tepat juga kalau kasus seperti Doni ini, lantas Doni dianggap si Pemberi Harapan Palsu ketika Doni memilih untuk mulai menjaga jarak atau sedikit mengurangi intensitas bertemu dengan Citra?

Sebagai sisi orang yang tidak mencintai, Doni merasa tidak memberi harapan apapun kecuali merespon positive pada pertemanan yang terbentuk dengan Citra. Sementara Citra, karena kecewa dan terluka tidak mendapatkan perasaan yang sama lantas merasa kebaikan Doni itu sebagai sebuah harapan yang palsu.

 Di posisi manakah kamu? Sebagai Doni? Atau sebagai Citra?

Bila posisimu sebagai Doni, tidak perlu merasa bersalah ketika harus merenggangkan intensitasmu. Bukan berarti kamu harus lari menjauh bahkan menghindari untuk tidak berteman lagi. Akan lebih menyakitkan, bila kamu menanggapi perasaannya bahkan menikmatinya, sementara tidak pernah ada cinta di hatimu untuknya. Bukankah itu namanya memanfaatkan perasaannya? Jangan memberi ruang sedikitpun untuk membuat perasaannya makin bertumbuh bila tidak ada cinta di hatimu. Tegas dalam bersikap itu lebih penting, untuk menjaga supaya tidak makin melukainya.

Bila posisimu sebagai Citra, ketahuilah bahwa tidak selamanya orang yang selalu ada buatmu itu mencintaimu. Juga tidak selalu terjadi bahwa orang yang selalu membuatmu tersenyum ketika kamu bersedih itu adalah bentuk harapan yang dia berikan padamu. Berbesarlah hati bila pada akhirnya, dengan mengetahui perasaanmu, dia memilih untuk membuat jarak kedekatan denganmu. Karena memang itulah yang seharusnya dia lakukan agar tidak makin melukaimu. Berdamailah dengan diri sendiri untuk bisa menerima kenyataan, bukan lantas menghakiminya sebagaii orang yang sudah memberi harapan palsu padamu.

Memang tidak mudah untuk tetap berteman baik dan masih tetap asyik seperti sebelumnya bila masih ada rasa cinta dihatimu untuknya.

You can never “just be friends” with someone you fell in love with.

Advertisements

Bersyukur Untuk Hari Ini

masakanku hari ini

“Being strong doesn’t always mean you have to fight the battle. True strength is being adult enough to walk away from the nonsense with your head held high”

Aku menemukan kalimat yang pas untuk ‘quote of the day’ di hari pertambahan usiaku hari ini.  Mengapa pas? Karena kalimat itu seperti mengingatkanku pada prinsip yang aku tanamkan pada diriku sendiri sejak 2 tahun belakangan ini. Termasuk sampai dengan hari ini.

Sore tadi, di sela-sela keriuhanku merespons ratusan ucapan dari teman-teman di sosial media, termasuk setelah berkeringat mondar-mandir di kantor menyiapkan makan siang yang sederhana sebagai ucapan syukurku, sempat bercakap-cakap dengan content writer Listeno yang nota bene cewek. Bermula dari keluhannya atas masalah keperempuanan yang mengganggu, dimana aku juga pernah mengalaminya, selain aku menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter yang aku anggap cocok, akupun sharing tentang permasalahan hidup dan bagaimana aku menyikapinya.

Segala macam penyakit dari yang sederhana sampai yang parah, kadang bersumber dari stress atau bahkan depresi. Terutama aku, sangat rentan terhadap masalah psikis. Kalau cuma masalah telat makan atau salah makan atau kurang istirahat, masih tidak terlalu mempengaruhi tubuhku tapi kalau sudah masalah hati dan pikiran, kontan tanpa perlu waktu lama sudah bereaksi cukup dahsyat terhadap tubuhku. Dari yang migren, maag akut sampai yang sepele, bersin dan biduran!

Itu permasalahan dari aku kecil sebenarnya, dulu banget, tiap aku sakit, ibu dan saudara- saudaraku tidak bertanya,”Sakit apa?” tapi pertanyaannya adalah,”Kamu lagi mikir apa?” atau “Kamu lagi punya masalah apa?”.

Sampai masalah paling parah yang menurutku puncak dari segala permasalahan hidupku terjadi
3 tahun yang lalu. Permasalahan bertubi-tubi, yang biasanya aku bisa menyelesaikan satu persatu, kali itu sama sekali tidak bisa terselesaikan, makin banyak dan menumpuk. Bukan masalah-masalah kecil yang bertumpuk lalu jadi besar, tapi masalah yang sudah sangat besar ditambah dengan masalah-masalah besar lainnya. Aku bukan lagi stress, tapi depresi tingkat tinggi. Hanya saja, aku tidak bisa mengutarakannya dengan gamblang kepada orang lain,boro-boro mau curhat, cerita aja nggak bisa. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, ketika masalah itu besar, justru aku tidak bisa bercerita pada siapapun. Kalau aku masih curhat sana-sini, itu malah berarti masalah yang sangat sepele. Kebiasaan itu membuat kepala seperti tertimpa patung gupolo yang gede banget itu, karena selalu berpikir keras mencari penyelesaiannya. Dada menjadi sesak karena memendam semua masalah sendiri, tanpa bisa share ke orang lain. Buatku, masalahku tidak selamanya orang akan mengerti, dan tidak selalu orang bisa membantu menyelesaikannya. Jadi buat apa bercerita? Sungguh sebuah prinsip yang sangat ‘ego’ aku rasa. Tapi begitulah aku, seperti orang yang selalu melihat bahwa aku selalu ceria, penuh tawa dan banyak bicara. Sesungguhnya, bila itu aku lakukan, adalah salah satu caraku untuk tetap merasakan bahagia, tanpa harus curhat kesana kemari memohon belas kasihan. Tapi setiap orang punya cara yang berbeda bukan? Jadi aku tidak juga lantas menyalahkan atau memandang rendah orang yang mampu curhat sama orang lain. Karena aku tidak bisa melakukan itu.

Karena hal inilah, aku sampai jatuh sakit cukup lama, dan sakitku pun tidak ringan. Berobat ke dokter,malah dokternya yang bingung karena aku tidak bisa menjelaskan bagian mana yang sakit. Alhasil, cuma dikasih vitamin dan obat maag besertasaran,”Jangan stress ya bu”. Sudah itu
saja. Akhirnya, dikit demi sedikit aku memampukan diri untuk berdamai dengan semua hal yang membuatku sesak tersebut. Diawali dengan menyingkirkan kemarahan pada banyak hal, banyak orang juga banyak kondisi yang aku anggap tidak ‘bersahabat’ dengan diriku. Dimana sebelumnya, aku menganggap diriku kuat karena bisa ‘bertempur’ dengan mereka yang membuatku marah dan tidak bahagia itu. Ternyata aku salah, karena kekuatan seseorang bisa dilihat dari bagaimana kedewasaannya untuk berdamai dengan diri sendiri dan bisa menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan. 

Kembali ke obrolanku dengan Ayoe tadi, aku mengatakan bahwa, sejak aku menderita sakit yang justru merugikan aku sendiri, aku tidak pernah mau lagi dibuat stress oleh orang lain, juga keadaan. Karena sekecil apapun masalah kalau itu dibuat stres, pasti timbulnya akan ada saja penyakit yang menyertai.

Siapapun pasti tidak ingin stress, tapi kadang, stress itu datang tanpa kita sadari. Mungkin masalah yang kita hadapi itu tidak terlalu besar, dan kita bisa menganggap sepele. Tapi diam-diam, alam bawah sadar kita itu mengendapkan permasalahan itu dan terus tertampung disana. Jadi sebenarnya, masalah itu belum selesai, akhirnya menimbulkan stress yang tidak kita sadari.

Dari semua itu, mulailah dengan menyingkirkan masalah-masalah yang tidak penting untuk dipikirkan. Penting atau tidaknya masalah itu, hanya diri kita sendiri yang tau ukurannya. Kalau misalnya tidak menghasilkan apa-apa yang positip, ngapain juga harus kita pikirkan banget-banget.

Kalau aku, sudah mulai menolak kuat-kuat hal-hal yang sekiranya akan membuatku sakit hati atau kecewa atau tidak menyenangkan. Misalnya, aku paling jengkel kalau janjian sama orang yang tidak serius, alias sering hanya wacana, jadi aku tidak akan pernah mau membuat janji sama mereka. Daripada aku jengkel kan? Kecuali kalau itu ada hubungannya dengan pekerjaan yang mau nggak mau harus membuat janji dengan orang lain, dibuat santai aja mindsetnya. Ketika janjian selalu dibatalkan atau harus bikin agenda ulang, ya tidak masalah, anggep aja itu bagian dari pekerjaan. Gak perlu dibuat jengkel atau pusing. Bikin penyakit aja.

Itu contoh sepelenya, atau ketika mendengar sesuatu yang buruk tentang kita dari orang lain, ya direnungkan aja, bener nggak memang seperti itu, kalau memang tidak ya biarkan orang akan bicara apa, toh tidak mempengaruhi penghasilan kita atau tidak merugikan kita secara finansial. Beda sih kalau yang menganggap buruk kita adalah orang yang menggaji kita, nah perlu diklarifikasi kalau memang tidak seperti itu kejadiannya.

Aku sekarang lebih berpikir simple dalam hal itu, tidak semua orang menyukai kita atau menganggap kita baik. Itu hak mereka, kita tidak bisa memaksa mereka untuk menyukai kita. Begitu juga sebaliknya, selama kita tidak merugikan orang lain, persetan aja orang mau bicara apa tentang kita. Itu aja sih prinsipnya.

Easy going, itu kadang diperlukan. Dengan begitu, kita tidak akan mudah marah dan tersinggung untuk hal-hal sepele.

Nggak perlu jadi orang yang ribet, kalau memang kita tidak bisa mengikuti sebuah ajakan teman karena sedang malas atau enggan, daripada terpaksa ikut hanya karena rasa ‘nggak enak sama temen’ ya gak perlu dipaksakan. Better terus terang aja kalau sedang tidak ingin pergi dengan alasan atau tidak perlu pakai alasan. Karena melakukan hal yang terpaksa itu hanya merugikan diri sendiri. Kalaupun memang terpaksa harus pergi, ya konsistenlah, artinya, keputusan untuk pergi toh kita buat sendiri walau terpaksa, jadi nikmatilah semuanya. Jangan bersungut-sungut yang hanya akan mengganggu mood orang lain.

Selalu bersyukur, ini penting, karena kalau kita tidak pernah bisa bersyukur untuk hal-hal yang sepele, betapa mengerikan hidup kita. Isinya hanya keluhan dan keluhan. Sebagai manusia biasa ya pastilah selalu merasa kurang, tapi kalau itu disikapi dengan selalu mengeluh dan bersungut-sungut, seberapa besar yang kita dapatkan tidak akan membahagiakan juga. Nikmati setiap prosesnya, sekecil apapun yang kita terima tetaplah bersyukur. Memang, sungguh lebih mudah bersyukur ketika kita tercukupi apa yang kita inginkan, tapi mampukah kita bersyukur untuk kondisi terpahit dalam hidup kita? Karena hidup itu selayaknya dinamis, ada cukup ada kurang kadang bahagia kadang sedih, jalani saja dan mengucap syukurlah kita masih diberi hidup dan kekuatan untuk menghadapinya. Bukankah itu hal yang luar biasa yang patut kita syukuri?.

Dan, diatas segala kesulitanku, aku mengucap syukur untuk banyak hal bahkan yang terkecil. Aku bersyukur berada di tempat kerja yang menyenangkan, dengan pekerjaan yang aku sukai. Ngomongin kurang, selalu aja ada kurangnya, tapi tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Lalu, aku bersyukur masih memiliki teman yang banyak, entah itu yang selalu ketemu setiap hari atau hanya bercengkerama di dunia maya. Baik teman yang menyenangkan maupun tidak, semua adalah teman. Bahkan yang tidak menyukai akupun tetap aku anggap sebagai teman. Hak mereka untuk tidak menyukai aku. Juga aku bersyukur masih bisa dibuat marah oleh satu atau dua orang teman, karena itulahromantika berteman. Tidak selalu cocok dan akur. Yang penting (berusaha) untuk tidak merugikan mereka.

Aku bersyukur atas kesehatan walau kadang ada saja yang membuat tidak nyaman, tapi aku masih tetap bersyukur aku sehat. Masih bisa bekerja dan beraktivitas. Semoga selalu sehat. Kalaupun ada kesakitan dalam tubuhku, aku anggap peringatan untukku beristirahat.

Begitupun aku bersyukur bertambah tua hari ini, dengan usia yang tidak lagi muda, masih memiliki energy yang besar untuk berkarya. Tidak memungkiri, kadang ada keluh menyisip dalam hati, seharusnya, di usiaku saat ini, bukan waktuku bekerja keras. Seharusnya begini, seharusnya begitu….
Aaah…..sungguh sebuah pikiran yang meracuni tubuh. Tidak perlu. Karena, kalau sampai di usiaku seperti ini masih bekerja keras, itu karena ‘pilihanku’ di masa lalu. Mengeluh bukan pilihan yang tepat, bahkan aku tidak memberi ruang sedikitpun untuk aku bisa mengeluh. Nggak sempat. Kerja dan kerja. Aku masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan, dan itu sebuah anugerah yang luar biasa, jadi mengapa tidak dipergunakan dengan semestinya.

Terimakasih untuk usia menjelang setengah abad. Juga bersyukur masih terlihat bugar, segar dan cantik *ahahahha puji aja sendiri J*
Itulah kebanggaanku satu-satunya, tua dalam angka, tapi muda dalam keseharian.

Selamat ulang tahun kepada diriku sendiri, mana kado untuk diri sendiri? Aaaahh….aku terlalu mahal merencanakan kado untuk diri sendiri, masih juga berkat belum tercukupi untuk memenuhinya. Tak apalah. Mungkin lain kali. Nabung lagi hehehe

Setidaknya, hari ini aku menghadiahi diri sendiri dengan melaunching music webblog ku yang bertahun-tahun terbengkelai, iniradio.com semoga hadiah ulang tahunku ini bisa berguna buat banyak orang nantinya.

Terimakasih ratusan teman yang sudah mengucapkan dan mendoakan banyak hal baik hari ini. Aku amin-kan semuanya. Semoga Tuhan mendengar 🙂

Akhirnya, terimakasih Tuhana sudah memberiku kesempatan hidup dan berkarya sampai dengan hari ini. Puji Syukur tak terhingga untuk itu.

Syalom,

~jeci~

Ribut Terus? Udah Bener Belum Cara Berkomunikasinya?

Masalah komunikasi terbesar adalah kita tidak mendengarkan untuk memahami tapi kita mendengarkan untuk membalas dengan segala asumsi sendiri dan pandangan yang berbeda. Padahal asumsi dan kurangnya komunikasi itu adalah pembunuh nomer satu dari sebuah hubungan.

Apapun bentuk hubungannya, entah itu hubungan cinta atau pekerjaan, yang namanya relationship itu tidak akan pernah lepas dengan yang namanya komunikasi. Komunikasi berperan penting menentukan keberhasilan dari hubungan tersebut. Yang pengen aku bahas sekarang ini tentang komunikasi dalam sebuah hubungan cinta, terutama untuk sepasang kekasih yang sering terlibat pertengkaran hanya karena masalah komunikasi. Bukan seberapa banyak jalinan komunikasinya, tapi seperti apa bentuk komunikasinya.

Bagaimana hubungan cinta seseorang akan berhasil bila tidak adanya jalinan komunikasi yang baik diantara keduanya? Tidak bisa aku bayangkan,seandainya ada hubungan yang salah satunya sulit diajak komunikasi atau bahkan jarang berinteraksi. Hubungan macam apa itu? Aneh menurutku, sebesar apapun cinta di antara keduanya,tanpa komunikasi atau interaksi sama dengan NOTHING!!

Mungkin kalian berpikir bahwa, mana ada hubungan seperti itu, yang namanya orang pacaran itu pastilah berkomunikasi.

Oh iya. Itu benar, tapi komunikasi macam apa dulu itu. Aku beberapa kali mendengar keluh kesah dari yang curhat sama aku, tentang komunikasi ini. Ternyata, banyak juga diantara pasangan-pasangan yang begitu sulitnya berkomunikasi.

Bahkan 9 dari 10 pertengkaran  bisa dipastikan alasannya hanya karena komunikasi yang salah. Tidak nyambung. Yang satu inginnya apa, ditanggapi dengan salah oleh lainnya. Alhasil perdebatan itu berujung pada pertengkaran. Semua hanya karena cara berkomunikasinya yang tidak tepat. Ditambah lagi dengan salah satunya mengabaikan pola komunikasi yang intens. Artinya, kadang tidak terpikir akan untuk mengkomunikasikannya karena dianggap tidak penting. Masalah penting dan tidak inilah kadang memicu perdebatan. Tidak penting menurut satu pihak, tapi bisa jadi sangat penting untuk pihak yang lain.

Contoh sepele.

“Aku udah mau balik dari kantor nih”

“Okay. Take care yak”

Beberapa jam kemudian.

“Kamu udah di rumah? Aku otw kerumahmu”

“Ya belumlah, kan aku sekalian ke cafe A ketemuan sama temenku”

“Loh kok nggak bilang?”

“Udah bilang kaliiii…..kan kemaren aku bilang kalau hari ini mau nongkrong sama temen”

“Iya memang. Tapi kok pas pulang tadi gak bilang”

“Ya aku pikir kamu udah tau, jadi ga kepikiran juga mau ngasih tau lagi”

“Apa susahnya sih Cuma ngasih tau kalau mau langsung kesitu”.

“Duh..gitu aja kok malah jadi ribet sih”.

“Bukannya ribet, tapi kalau misalnya kamu tadi bilang, kan aku langsung nyusulin kamu. Nah sekarang posisinya aku udah hampir deket rumahmu. Kan jauh lagi kalau mau balik ke situ”

“Ya udah sih, nggak perlu kesini kan gak papa. Aku bisa pulang sendiri kok”

“Astaga kamu ini! Aku tau kamu bisa pulang sendiri. Tapi bukan itu yang aku permasalahkan?”

“Lah terus apa? Kan tadi kamu sendiri yang ngeluh karena jauh mau ke cafe ini. Gimana sih”.

“Iya memang. Maksudku, kalau tadi kamu bilang kan gak sampe kayak gini”

“Aku udah pamit loh ya tadi. Kemaren juga udah ijin mau nongkrong sama temen-temen. Terus aku lagi ini yang salah?”

“Kamu kebiasaan selalu begitu. Menyepelekan hal-hal kecil”.

“Ya ampuuun…..kok jadi panjang ya pake nyalahin kebiasaanku segala”.

“Memang kamu selalu begitu kan? Padahal aku sudah sering mengingatkan soal komunikasi dari hal-hal yang sepele. Masih aja kamu lakuin”.

“Gila ya. Masalah sepele aja jadi ribut gini”.

“Sepele? Jadi menurutmu ini masalah sepele? Itulah kamu, semuanya dianggap sepele. Bahkan sampe menyepelekan bagaimana menghargai orang lain”.

“Cuma masalah aku lupa nggak ngabarin kamu kalau langsung ke sini doang langsung kamu anggap aku nggak menghargai kamu. Ya nggak gitu juga dong. Aku kan sudah ijin kemaren, semuanya harus pake ijin katamu. Itu sudah aku lakukan. Masih aja salah”.

“Ini bukan soal ijin!”.

Blaaar…….

Panjang. Iya. Perdebatan itu menjadi sebuah pertengkaran, lalu jadi panjang dan lebar kemana-mana. Dan itu semua hanya masalah kecil sebenarnya, tidak terbiasa menyampaikan hal-hal yang terlihat sepele. Itu saja. Apakah hanya salah satu yang salah? Menurutku, keduanya salah. Mengapa begitu?

Begini.

Dari contoh kasus tersebut, semua bermula dari sama-sama lupa. Yang satu lupa ngasih tau bahwa dari kantor langsung ke tempat nongkrong. Yang satunya juga lupa kalau sore itu kekasihnya ada agenda nongkrong dengan teman-temannya. Kalau saja kekasihnya dari awal sudah menyampaikan, simple saja misalnya,”Aku sekalian ke tempat nongkrong nanti sebelum pulang”, tentu saja pertengkaran itu tidak akan terjadi, karena sang kekasih akan langsung menjemput kekasihnya di tempat nongkrong tidak langsung ke rumahnya. Hanya karena mis komunikasi sederhana, kejutan yang sudah dipersiapkan sang kekasih buyar seketika. Bisa saja dia berencana langsung ke rumah kekasihnya untuk memberi kejutan dengan hati berbunga-bunga. Drop langsung hanya karena masalah komunikasi. Sepertinya kesalahan terjadi pada kekasih yang tidak memberitahu lebih dulu. Tapi selanjutnya, sang kekasih juga menjadi salah karena, memperpanjang masalah itu tidak pada tempatnya. Itu karena kejengkelan hatinya, atau buyar suasana hatinya karena kejutan yang akan dia berikan gagal. Emosi. Terpancing emosi sehingga tidak lagi bisa berpikir jernih untuk segera mencari solusi, yang ada membahas masalah itu sampai panjang. Padahal, kondisi seperti itu, bila saja ditanggapi dengan sedikit santai walau jengkel setengah mati, bisa segera mencari solusi. Misalnya dengan cara begini:

“Oh iya ya aku kok lupa kalau kamu mau nongkrong sama teman-temanmu. Masih lamakah?

Yang disana tentu akan merespon dengan asik juga.

“Aaaah aku juga lupa tadi nggak ngasih tau dulu kalau langsung kesini. Maaf ya. Mungkin sejam lagi aku udah bisa pulang kok”

Secara otomatis tanpa disuruh, sang kekasih akan langsung minta maaf atas kekeliruannya. Dan ini lebih menyejukkan hati. Dibanding dengan langsung memberondong dengan segala macam tuduhan dan kekesalan. Selanjutnya bisa membuat agenda yang lain.

“Ya sudah kalau gitu nanti ngabarin aja kalau udah mau pulang. Aku mau mampir ke mal deket rumahmu sekalian cari sesuatu”.

Case close. Tidak ada perdebatan, tidak ada pertengkaran. Tapi hal sepele tersebut bukan berarti lantas diabaikan. Bisa menjadi topik pembicaraan kalau sudah bertemu dalam suasana enak, dan dibahas secara baik-baik. Tentu hasilnya akan berbeda dengan yang pertama.

Jadi sebenarnya, kunci utama bisa membentuk komunikasi yang baik adalah, bagaimana kita merespon permasalahan itu. 

Selain masalah komunikasi yang tidak tepat dalam sebuah kasus. Bisa juga sebuah hubungan akan menjadi berkurang chemistrynya ketika intensitas tidak terjaga. Setiap orang mungkin punya prinsip yang berbeda dalam sebuah hubungan, salah satunya mungkin berprinsip tanpa rutinitas percakapan selama masih bisa menciptakan kenyamanan diantara keduanya itulah cinta.

Well….lantas aku berpikir, bagaimana bisa ada kenyamanan bila tanpa interaksi yang intens? Apa yang didapat ketika bersama-sama tapi tanpa obrolan? Satu hal yang aku pahami adalah,“Rasa cinta itu perlu dipelihara, bukan cuma sekedar ditanam lalu tumbuh dengan sendirinya, dan sarana untuk memelihara rasa itu dengan sebuah interaksi”.  Tanpa adanya komunikasi/interaksi rasa cinta yang sudah ada itu bisa menguap dengan sendirinya.

Suatu kali seorang teman mengatakan kalau dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Aku sempat heran, karena aku mengenal siapa yang membuatnya jatuh cinta. Aku hanya bertanya,”Kok bisa? Bukannya selama ini kalian sekedar saling sapa kalau bertemu? Kalian sudah lama kan kenalnya? Kok nggak dari dulu jatuh cintanya?” Semburan pertanyaan itu dia jawab dengan sebuah kalimat sederhana,”Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya kami jadi sering berinteraksi”. Sudah begitu saja.  Interaksi disini bukan dalam bentuk pertemuan demi pertemuan, tapi komunikasi. Mereka selalu berkomunikasi dalam bentuk apapun, bahkan kadang obrolan sederhana tanpa makna dalam. Dan komunikasi itu dilakukan oleh kedua pihak, bukan salah satu saja yang selalu memulai komunikasi. Begitulah, bahkan sebuah komunikasi yang sederhana mampu membuat seseorang saling merasa nyaman dan jatuh cinta.

Aku bukan mau menghakimi bahwa tidak berkomunikasi itu adalah sebuah kesalahan….tapi coba dipikirkan deh,pasti hampir semua kesel ketika chat maupun sms terabaikan. Yang Cuma sekedar teman saja bisa kesel, apalagi kalau itu adalah pacar. Kalau makin lama komunikasi itu makin berkurang, atau hanya salah satu pihak yang selalu berinisiatif memulai, bisa dijamin sudah terjadi perasaan yang berbeda diantaranya.

Hal yang sederhana sebagai bentuk dari menghargai orang lain adalah membalas atau merespon pesan-pesannya. Simplenya gini deh, ketika orang mengirim pesan buat kita, prosesnya adalah : memikirkan, mencari nama yang akan dihubungi, dua hal itu saja bisa dikatakan ada niat. Ga mungkin menghubungi seseorang tanpa memikirkannya lebih dulu. Sederhana kan? Masihkah komunikasi menjadi salah satu yang penting buatmu?

KOMUNIKASI adalah bentuk menghargai orang lain. Belajar mendengar, mempelajari dan memahami seperti apa orang yang kita ajak berkomunikasi. 

Mari menyelesaikan masalah dengan memperbaiki cara BERKOMUNIKASI.

Syalom

~jeci~

Mencintai Orang Yang Sudah Punya Pasangan Itu Nggak Salah.

Iya memang nggak salah. Yang namanya cinta itu kadang datang dengan sangat tidak sopan dan tidak tau diri memang.

 

   Dilarang tak bisa, dipaksapun apalagi, makin tidak bisa. Munculnya pun kadang tidak tepat. Tidak tepat waktu, juga tidak tepat kepada siapa. Begitupun perasaan cinta terhadap seseorang yang sudah punya pasangan. Pasangan resmi pula. Salah? Tentu tidak. Sah-sah aja, namanya juga jatuh cinta.

Tapi, akan menjadi salah dan masalah bisa perasaan itu bukan saja terus dipelihara tapi diwujudkan.

Bagaimana bisa lantas diwujudkan? Mengapa tidak?

Cinta itu bisa lantas terwujud bila mendapat respon positive dari yang bersangkutan.

   Awalnya sekedar jatuh suka atau simpatik, tidak terlalu menjadi pikiran sebelum ada sinyal positive. Ibarat kata, gayungpun bersambut. Senyum terbalas, percakapan-percakapan kecil mulai tercipta. Hasilnya adalah, perasaan yang semula sekedar terpesona meningkat jadi jatuh cinta.

   Selanjutnya, cinta itu makin berkembang ketika peluang terbuka lebar. Peluang? Iya. Peluang selalu bersama. Entah itu selalu bertemu di kantor yang sama, atau dalam sebuah pekerjaan yang sama, atau bahkan aktivitas dalam circle yang sama. Biasanya, situasi yang seperti itulah yang memicu ‘perasaan terlarang’ itu muncul bahkan berkembang.

  Hal-hal sederhana yang bisa menciptakan semua itu misalnya saja tentang intensitas komunikasi, perhatian, kasih sayang atau….

Perhatian.

   Perhatian yang seperti apa? Sekedar greeting pagi, siang,malam? Mungkin lebih dari itu, setidaknya ketika sedang penat oleh banyak pekerjaan atau masalah, ada teman diskusi yang nyaman, cocok dan tentu menyenangkan. Pastinya begitu, saling mempunyai rasa kan? Mencuri waktu dikala padat pekerjaan, tentu ini akan menjadi saat yang menyenangkan. Walau hanya sekedar berbincang-bincang di sudut salah satu cafe dengan secangkir kopi barangkali. Waktu senggang di hari kerja jadi bisa sangat berkualitas dan dinanti.

Kasih Sayang.

   Kadang, bentuk kasih sayangnya bukan sentuhan fisik yang menjadi pilihan utama, tapi kedekatan secara emosional. Memberi prioritas waktu untuk sebuah pertemuan. Entah itu hanya sekedar berbincang-bincang, atau hang out bareng. Nonton misalnya. Apalagi bila punya kesenangan yang sama, sama-sama senang nonton. Lalu memperbincangkan hal-hal menarik dari film yang barusan ditonton. Tentu ini menjadi moment paling berkesan untuk keduanya. Yah intinya, ketika sedang butuh teman untuk hang out, si dia selalu bersedia menemani, atau meluangkan waktu disela padat aktivitasnya.

Rutinitas

  Seberapa intens komunikasi yang terjadi? Dari masalah ringan sampai berat menjadi topik pembicaraan, baik dalam agenda pertemuan atau cuma sekedar chat messanger. Tidak harus ada ungkapan sayang di dalamnya. Karena hubungan orang yang sudah dewasa kerap kali tidak butuh ucapan yang terdengar basi seperti itu. Bahkan, bisa saja yang menjadi topik pembicaraan adalah keseruan bersama buah hatinya. Apapun itu, bisa menjadi alasan untuk sebuah percakapan.

Berawal dari urusan lidah dan perut.

   Dari yang sering terjadi disekitarku, hubungan itu semua bermula dari datang ke tempat undangan makan bersama, karena kebetulan itu undangan dari teman di circle yang sama. Lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan makan bareng,entah sekedar sarapan soto atau setiap pulang kerja hunting tempat makan. Kemana-mana selalu bersama, dari yang sekedar mencoba menu baru di sebuah tempat makan,sampai akhirnya menjadi partner tetap hunting tempat makan. Kebetulan, sama-sama doyan makan dan mencoba tempat makan baru. Akhirnya, disetiap agenda hangout bersama teman-temanpun, jadi otomatis datang barengan. Sesederhana itu semuanya berawal.

   Hak masing-masing sih kalau mau meneruskan ‘saling suka’ itu, kadang kalau lagi nyaman dalam kondisi seperti itu juga pada gak bisa di nasehatin kan. Malah ujung-ujungnya kita yang ngasih nasehat dibilang sok ikut campur urusan orang. Tragisnya, ada juga yang berbalik menyerang, menjauhi atau memusuhi yang nasehatin sebagai bentuk pertahanan diri.

   Cuma mau ngasih tau aja, kalau ada diantara kamu terjebak situasi seperti itu. Sedikit saran kalau masih mau ‘main cantik’ dan nggak pengen terjerembab sakit hati hehehehe. Beberapa hal yang seharusnya diingat dan dipersiapkan.

Apa sih yang bisa diharapkan? Mau berharap apa??

   Intinya adalah, jangan terlalu banyak berharap pada seseorang yang sudah memiliki pasangan resmi. Karena sebesar apapun cintamu, tidak akan pernah menjadi pasanganmu yang sebenarnya. Ada saatnya perasaan itu harus berhenti karena sebuah kondisi dimana dia harus kembali pada keluarganya dan tidak memiliki waktu lagi bersamamu. Persiapkan hatimu untuk kondisi itu, yang pasti akan terjadi.

   Yakin tidak akan cemburu dengan keharmonisan keluarganya? Pertanyakan pada hatimu, sekecil apapun, pasti ada rasa cemburu yang menyelinap dalam hatimu. Mungkin kamu bisa saja dengan arogan bilang,”Ngapain aku cemburu?” Lalu, siapkah hatimu ketika sampai pada saatnya kamu harus mengatakan,”Aku tuh siapa sih buat dia? Bukan siapa-siapanya”. Periiih tsaay…..

   Siapkah hatimu bila sewaktu-waktu harus dikesampingkan karena dia memilih bersama keluarganya daripada kamu? Pada awal-awal hubungan itu tercipta, semuanya masih terasa indah. Dimana kamu masih menikmati indahnya diprioritaskan.

Berharap untuk tetap di perhatikan? Jangan lebay deh. Jelas itu besar kemungkinan tidak terjadi. Karena ada yang lebih besar untuk dia perhatikan. Keluarganya.

Berharap untuk tetap disayang? seberapa besar dia bisa berikan itu? seberapa lama dia bisa bertahan melakukan itu??? tidak akan lama……

Syarat dasar berani mengambil keputusan menjalani status seperti itu adalah, kamu sudah memegang sebuah komitmen dalam dirimu sendiri bahwa kamu siap selalu cemburu,siap sewaktu-waktu di kesampingkan,bahkan juga siap sewaktu-waktu ditinggalkan.

   Jadi, apa yang harus ditangisi bila tiba masanya kamu ditinggalkan? Bukankah dari awal sudah tau kondisinya, dan tetap meneruskan rasa jatuh cinta itu. Yang semula hanya nyaman berteman, ujung-ujungnya pakai hati juga.

Bahagia yang kamu dapatkan hanya semu, sesungguhnya, kamu tidak benar-benar bahagia. Hanya merasa bahagia.

Karena, tidak ada yang bisa kamu harapkan lebih dari dia, pahami posisimu, sadari kekuatanmu. Tak ada yang layak untuk dipertahankan dan diperjuangkan.

Masih tetap berdalih bahwa kalian hanya ‘berteman dekat?’ sebagai dalih pembenaran atas hubungan itu? Ataukah hanya untuk menghibur diri sendiri?

Trust me,

“You can never ‘just be friends’ with someone you fell in love with”.

 

Masih Mau Meratapi Mantan Nih??

Air mata yang sia-sia adalah ketika air mata itu jatuh untuk seseorang yang tidak lagi mencintai kita.

 

Salah satu yang bisa didapat dari sosial media adalah bisa tau apa yang terjadi dengan seseorang. Apalagi kalau dia cukup eksis atau nyampah dengan mengupdate setiap apa yang dirasakannya atau apa yang terjadi.
Begitulah yang sering aku tangkap. Menangkap kenyataan dari beberapa orang yang masih terjebak kegalauan atas mantan.
Mantan?? Masih aja trend ya membahas soal mantan. Dan selalu saja ramai kalau sudah bicara tentang mantan hohoho

Segitu susahnya ya melupakan mantan?
Yaiyalah susah, gimana enggak, orang tiap hari kegiatanya kepoin mantan sih. Stalking sana sini, cari tau sana sini, dan selalu demen kalau ada yang cerita abis ketemu si mantan. Senggol curhat deh jadinya.

Seharusnya ada tips pantangan untuk yang ingin melupakan mantan. Itu kalau memang ingin melupakan sih. Kebanyakan malah menikmati kenangan mantan walau perih pedih rasanya hahahha

Gini lo,

Kalau memang pernah sangat disakiti oleh mantan, mbok jangan menyakiti diri sendiri dengan kepo sosmednya mantan. Senggang sedikit, langsung buka akun twitternya, liat seru-seruan si mantan sama temen-temennya, langsung nyeri hati. Apalagi kalau ada conversation si mantan dengan gebetan barunya atau bahkan pasangan barunya. Ujung-ujungnya, tutup akun si mantan dengan derai air mata.
Belum lagi kalau si mantan punya akun IG, nggak di gembok pula, gampang banget buat kepoin. Buka-buka dehh gallerynya. Senyum-senyum pas yang dilihat gambar-gambar lucu, lalu straight face pas liat foto si mantan piknik bareng dengan teman-temannya yang kebetulan temenmu juga. Biasanya kan sama kamu perginya, eh kali ini mereka pergi tanpa kamu. Nyesek deh. Belum lagi kalau tiba-tiba sampai pada foto si mantan ngerangkul cewek lain, apesnya, itu pasangan barunya pula. Bukan lagi straight face, udah langsung kelojotan cari shower buat nangis biar ga ketauan. Repot sendiri kan.
Ditambah dengan selalu ‘now playing’ di akun path, eh lagu yang di dengerin galaaaau semua. Terus captionnya comot-comot lirik yang pas. Berasa udah jadi penyair dadakan deh.
Dengerin lagu itu buat menghibur diri, ini malah menenggelamkan diri dalam kegalauan. Tambah kejang-kejanglah jadinya. Abis gitu, eh liat si mantan kasih comment tuh di temen path kamu, bawaannya pengen nyamber aja pasti. Kalau udah gitu kontan baper pasti….
Pliisdeeeh….

Laaahhh?? masih nyimpen percakapan dengan mantan di chat messanger??
Yaelaaaaah…….udah basi juga masih aja dibaca-baca,delete aja napa?
Iya sih udah di delete percakapannya, tapi masih nyantol di history, keingetan dikit langsung bongkar ‘gudang’ di buka lagi. Sama aja bo’ong!!
Kenapa nggak sekalian aja tuh di capture, atau di print dengan font yang guede lalu tempel di semua dinding kamar. Baca-baca deh menjelang dan bangun tidur, biar makin joss nyeseknya.

Nomer kontak mantan emang gak harus langsung di buang sih, baik itu di whatsapp atau pin bbm sekalipun. Tapi bukan berarti setiap waktu mantengin recent update bbm nya si mantan. Kecuali kalau si mantan bukan tipe yang suka gonta ganti status atau DP bbm sih aman lah ya, tapi kalau kebetulan si mantan lagi pasang status baru di bbm nya, apesnya kok statusnya tentang cinta? Jelas dong itu bukan buat kamu. Nah nyesek nggak liatnya? Sapa suruh liat-liat recent updatenya. Udahlah pasang status cinta eh DP nya mendadak ganti juga dengan foto berdua sama yang lain,makin afdol tuh nyerii hatinya. Coba aja kalau nggak percaya. Gitu aja terus sampe patung gupolo bisa jalan.

Setiap pasangan, pasti pernah dong punya tempat makan favorit. Nah ini nih……
Udah tau kalau dateng kesitu pasti keingetan mantan, masih aja bolak-balik kesitu sekedar buat mengenang. Buat apa cobaaa?? Kalau belum bisa lepas dari kenangan mantan, mendingan hindari dulu deh tempat-tempat yang dianggap ‘bersejarah’ itu. Entah itu datang berombongan sama temen apalagi sendirian,nggak usah deh. Cari perkara aja itu namanya. Lebih berperkara lagi, cari tempat duduknya yang biasanya dipake berdua pula. Sedia tissue banyak-banyak aja kalau gitu, jadi kalau pas nangis biar bisa pura-pura kesiram es teh lalu pilek gitu.

Paling susah memang menghindari mantan kalau circle pertemanan kebetulan sama.
Menghindar ketemu mantan masih bisa, tapi masak harus menghindar dari teman-temannya?? Sebaiknya sih memang tidak perlu sampai begitu. Tapi kalau kenyataannya bila bertemu mereka membuatmu makin miris, nggak ada salahnya sedikit menyingkir. Bukan berarti memusuhi mereka sih, hanya sekedar melipir sejenak sampai suasana hatimu stabil. Jangan malah sengaja mencari-cari mereka hanya buat sarana kamu mau curhat. Hadeeehhhhh….
Sekali dua kali teman-temanmu dengan senang hati mendengarkan, bahkan memberi saran mungkin, tapi kalau setiap pertemuan selalu curhat? Lama-lama juga pada males. Beneran loh….

Apapun itu, jangan dengan sengaja melakukan hal-hal yang akan menambah perih luka hatimu. Perpisahan yang terjadi dengan mantan, apalagi kalau kamu lagi cinta-cintanya eh dia malah memilih orang lain, itu memang sangat menyakitkan. Tapi mau berapa lama kamu menenggelamkan diri dengan rasa sakit seperti itu? Kenyataannya, orang yang kamu ratapi sudah berbahagia dengan orang lain. Satu hal ini saja, sudah layak menjadi alasanmu untuk tidak lagi bergelimang air mata menangisi kepergiannya. Mau sampai nangis darah sekalipun, tidak akan membuatnya kembali. Permasalahan terbesar bukan karena si mantan sudah bersama orang lain, tapi karena rasa cintanya sudah tidak lagi menuju kepadamu. Ketika dia memilih orang lain untuk kebahagiaannya, sudah saatnya kamu menyadari bahwa cintanya sudah bukan untukmu lagi.

Air mata yang sia-sia adalah ketika air mata itu jatuh untuk seseorang yang tidak lagi mencintai kita.

Jadi, masih mauu meratapi mantan nih???

Shalom,

~jeci~

 

Percakapan Kecil Dari Masa Lalu – Pernyataan Cinta yang Sangat Terlambat

Ada saatnya, orang-orang yang pernah berarti di masa lalu tiba-tiba muncul setelah lama kita lupakan. Ada yang lantas jadi sangat menyebalkan, atau menjadi sebuah pertemanan yang asik. Mungkin di awal terasa menyenangkan bisa bercerita banyak hal menarik yang tersimpan sekian lama, tiba-tiba berhamburan seperti membongkar kotak usang.

Tapi buatku, sama sekali tidak berarti apa-apa. Tidak senang, tidak juga sebal. Biasa saja, karena mereka yang sudah berderet di ruang masalaluku, akan tetap berdiam disana. Tidak akan pernah masuk kedalam ruangku saat ini. Meski begitu, aku tidak perlu megusir mereka ketika datang menghampiriku. Mereka menyapa dan mengajakku bicara, aku tanggapi. Bila tidak menghubungiku, aku tidak akan pernah mencari. Sesederhana itu. Continue reading “Percakapan Kecil Dari Masa Lalu – Pernyataan Cinta yang Sangat Terlambat”

#JustSaying

When taurus is finally tired or trying, they will just leave. No fight, no argument, and sometimes not even goodbye.

 

Aku tertegun dengan kalimat,”Cuma gitu aja komentarmu? That’s it? Just cool? ”
Aku cuma membalas dengan icon smile. Lalu dia melanjutkan,”Not you’re the hottest ever. Yang aku tau, kamu selalu bersemangat setiap ngobrol sama aku. Selalu panjang-panjang jawabanmu. Kenapa sekarang kamu membalas chat ku hanya dengan kata-kata pendek. Itupun kadang aku seperti harus memaksa kamu membalasnya”.
Aku tersenyum simpul membaca deretan kalimat panjangnya itu. Rasanya pengen menjawab dengan kalimat panjang juga,”Itu duluuu…ketika aku masih punya hati sama kamu, ketika aku masih mau susah payah menciptakan interaksi buatmu. Itu dulu….sewaktu aku….aaaaaah malas!!
Akhirnya aku cuma membalasnya dengan satu kata,”I’m sorry”.
Esok harinya, dia memberi emot sedih untuk menjawab perkataan maafku. Aku? Hanya membacanya. Tidak lagi ku balas.

Aku pernah mengingatkanmu, aku tidak akan berhenti memberi kesempatan sampai aku merasa sudah waktunya berhenti. Karena aku sudah sangat malas membuang energy perasaan buat orang yang gak jelas perasaannya ke aku. Ngapain? Macam udah segitu hebatnya kamu sampai harus aku pikirkan. Gak penting.

Dan aku tak perlu memakimu untuk berhenti. Juga tak perlu dengan pernyataan apapun ketika aku benar-benar pergi. Bahkan mungkin kamu tidak akan permah menyadarinya bahwa aku sudah tidak lagi bersamamu.
Mungkin saat itu kamu berpikir, itu biasa dan akan baik-baik saja. Parahnya lagi, kamu berpikir, aku tidak akan berubah. Masih sama dengan perasaan yang dulu. Pemikiran yang tolol! Salah besar, tuan.

Sehingga berapa lama berikutnya, dia mencariku dengan keceriaan seperti biasa. Mencoba mengingatkanku akan hal-hal menyenangkan yang pernah terjadi. Tak ketinggalan dia menyertakan pernyataan rindunya kepadaku.
Kamu tau apa reaksiku? Seandainya kamu berada tepat di depanku, kamu akan melihat aku hanya mendengus dengan ujung bibir tertarik ke atas sedikit. Sinis.
Maaf tuan, sudah terlambat untuk semuanya itu. Kamu sudah melewatkan kesempatan yang aku pernah berikan. No more chance.
Tapi aku tidak sekejam itu. Aku masih bisa memberikan reaksi yang cukup sopan. Setidaknya, balasan-balasan singkatku itu masih bisa dianggap sebuah bentuk aku menghargainya.
Apa yang dia lakukan toh tidak ada apa-apanya. Jadi tidak perlu sampai aku tidak mau mengenalnya.

Ini salah satu dari contoh kasus. Yang lainnya? Gak terlalu penting lagi.
Who’s next ‘the kemaki’s person’??

Makanya, kalau lagi merasa di senengin ki rasah kemaki!
Udah dibilangin, perasaan cintaku tuh cuma berumur 3 bulan, kalau selama itu gak di pelihara ya hangus. Lewat masa berlakunya. Paham??!! Oke. Paham ya??!

Ini berlaku dalam kasus apapun. Bila suatu ketika aku sedang berbaik hati dan memberi banyak perhatian dan loyalitasku,sedikit saja tidak dihargai atau di abaikan. Maka tidak akan ada toleransi itu lagi. Cukup beberapa kali saja aku melakukannya. Setelahnya, jangan harap aku akan berlaku sama. Pasti akan aku hitung.

Hidup itu harus timbal balik.Biar seimbang. Bukan berarti selalu ada pamrih. Tapi bagaimana saling menghargai aja. Jangankan soal pekerjaan, cuma rasa kangen aja pake effort kok.

Apalagi menahan kangen sama orang yang gak ngangenin kita huahahahhaha…

Karepmulah J……

Selamat tidur,

Shalom

~jeci~

Bahkan jatuh cintapun ada expired nya

I can be in love with you today, and one day, I could act as if I have never loved you before.

Mungkin buat sebagian orang, prinsipku akan sebuah rasa yang namanya ‘jatuh cinta’ itu tidak umum. Dimana aku selalu mempunyai target waktu sendiri untuk merasakan itu. Iya. Seharusnya, jatuh cinta itu ada batasan waktunya, ada kadaluarsanya, ada masa expired nya.
Aku selalu menanamkan itu di dalam kepalaku. Karena jatuh cintaku itu dimulai dari sel kelabu bernama ‘otak” baru kemudian, bila aku anggap layak untuk aku berikan rasa itu, aku menyalurkan pikiran jatuh cintaku itu ke hati. Lalu, jatuh cintalah aku. Dan selanjutnya, aku akan menikmatinya selama kemungkinan rasa jatuh cinta itu terpelihara. Bila akhirnya, rasa jatuh cinta itu tetap menjadi rasa yang hanya milikku, tanpa sambutan hangat dari yang aku berikan rasa. Aku akan menyimpan rasa itu tidak lebih dari 3 bulan. Masa 3 bulan itu udah termasuk bonus perpanjangan waktu heuheuheu….
Iya. Jatuh cintaku expirednya cuma segitu aja masanya. Setelah itu, ya biasa lagi, sangat bisa bersikap seolah-olah aku gak pernah punya rasa itu. Bahkan yang bersangkutan pun bisa aja malah gak menyadari sama sekali. Bodo amat 😄😄😄

Aku merasa perlu membentuknya demikian. Mengapa??
Karena aku gak mau menjadi bodoh (LAGI dan LAGI) dengan memelihara rasa cinta berkepanjangan untuk orang yang tidak bisa menerimanya.
Karena aku tidak mau merasakan sakit hati terlalu dalam untuk sesuatu yang dangkal.

Aku sering hanya tersenyum ketika mendengar keluhan teman yang terpaksa harus sakit hati karena cintanya tak bersambut. Buatku ya bodoh aja sih, udah tau cintanya cuma sebelah, kok masih dipertahankan.
Makanya, jatuh cinta tuh pake strategy. Jatuh cinta itu harus di barengi dengan management hati yang bener.

Menurutku, perlu hal itu dilakukan ketika kita jatuh cinta terhadap seseorang. Bukan jahat. Tapi itu untuk melindungi hati kita sendiri dari rasa kecewa dan terluka.

Jatuh cinta itu harus dibarengi dengan persiapan sakit hati. Ibaratnya, kalau mau nyelem ke laut itu ya pake perlengkapan yang layak. Biar tetep bisa bernafas, dan bisa berenang kembali ke permukaan dengan sukses. Gak pake sesak nafas dan semaput hohoho

Begitupun dengan menyatakan cinta. Jangan buru2 dulu bilang cinta kalau belum keliatan bener dari pihak sana juga punya perasaan yang sama.
Siapa tau dia cuma baik aja. Baik tok loh bukan baik karena cinta juga. Atau mungkin dia saat tersenyum dan nice itu karena merespon selayaknya karena kamu juga baik dan nice sama dia. Belum tentu dia juga merasakan hal yang sama dengan kamu.
Kalau menurutmu dia keliatannya kaya memang mau dan bener-bener pengen jalan sama kamu. Tiba-tiba, dia berbalik arah ketika kamu menyatakan keseriusan langkah jalanmu, ya bisa aja dia waktu itu cuma khilaf. Cuma sekedar menikmati kebaikanmu tapi tidak ingin lebih jauh terikat.
Semuanya perlu dipastikan dulu. Maklum sih ya, yang namanya lagi jatuh cinta tuh kayak…mmm gak pengen melewatkan kesempatan. Namanya juga cinta. Tapi kalau tanpa perhitungan yang matang? Lha yo selamat babakbelur *emot ngakak*
Jatuh cinta tanpa perhitungan itu, sakit hatinya kayak terjun dari papan yang tinggi ke kolam renang yang dikira kolamnya dalem dan airnya banyak, ternyata pas sampe bawah kolamnya bocor, air menyusut. Glodak deh kepala benjut kan hahahaha
Ilustrasi yang aneh.

Kalau mau jatuh cinta, ya jatuh cintalah tanpa ekspektasi yang ketinggian. Cukup dinikmati aja sendiri rasa itu. Minimal, buat rasa rasa bahagia ajalah dulu. Sambil cek ombak. Kalau ombaknya gede dan mau nekat nglawan ombak ya pakailah amunisi yang cukup. Jadi gak ngos-ngos’an balik ke tepian. Itu kalau mau nekat.

Kalau aku sih ogah. Ngapain? Buat apa? Udah ketauam ombaknya ngelawan, kok buang2 energy untuk melawan arus. Dapetnya capek dan sakit hati doang, berhasil mah enggak.

Mendapatkan cinta dari seseorang memang butuh perjuangan, butuh effort. Tapi diperhitungkan juga, layak gak dia mendapatkan perjuanganmu. Berjuanglah untuk yang sudah jelas layak diperjuangkan, misalnya, memang dia juga beneran punya rasa yang sama dan butuh pembuktian. Nah itu kan enak. Kalau udah seperti itu ya apapun caranya harus dilakukan. Namanya juga cinta kan.

Intinya, jatuh cinta itu nikmatilah untuk kebahagiaan diri sendiri aja dulu. Jadi, kalau dapet balesan, itu bonus. Kalau enggak, ya gak papa juga. Kan yang penting diri sendiri udah dibahagiakan dulu. Kalaupun ga bersambut ya gak perlu sakit hatilah.

Gitu lo.
Ini sebenernya tips jatuh cinta yang embuh banget sih. Tapi kalau bisa dilakukan, gak ada tu yang namanya kegalauan karena sakit hati cinta ditolak. HAHAHAHAHA
Terus jangan lupa, kasih batas waktu. Jatuh cintapun bisa expired.

Jadi, buat kamu yang merasa aku jatuh cinta-in. Gak perlu panik dan merasa bakal menyakitiku. Santai aja. Duduk, anteng, rileks, nikmati segala bentuk rasa sayangku. Nanti juga akan berhenti sendiri. Itu kalau rasaku tak bersambut. Kalau bersambut ya, tinggal di maintain aja heuheuheu

Rasa suka dan jatuh cintaku kepada yang tidak memiliki rasa yang sama itu hanya sebatas airplay lagu baru di program new entry. 3 bulan doang. Abis itu udah masuk ke program hits player alias recurrent. Abis masa berlaku blow up nya hohoho…..

Note:

Semua orang pernah melakukan hal bodoh, dan semua yang tertulis disini karena aku pernah menjadi orang yang bodoh sebodoh bodohnya untuk urusan cinta. Tapi, masak ya mau bodoh terus sih, naik kelas dikitlah….rodho pinter sitik hahahha

Jadi, kepada kamu…kamu..kamu dan entah kamu siapa lagi,terimakasih sudah memanfaatkan kebodohanku. hookyaaaa!!!!!

Shaloom,

~jeci~

Salah itu biasa, kalau berkali-kali itu pilihan.

Semua orang pasti pernah membuat kesalahan, meski itu satu kali dalam hidupnya.

Iya. Mungkin hanya satu kali. Sementara aku? Berkali-kali. Sedungu itukah aku? Katanya kalau melakukan kesalahan berkali-kali itu semacam keledai. Tapi itukan di lubang yang sama. Atau hal yang sama.
Aku sih emang berkali-kali, tapi bukan hal yang sama. Tidak selamanya itu sebuah kedunguan, hanya sering membuat keputusan dan melakukan sesuatu yang salah karena ketidak tahuan.

Ada beberapa cara orang menyikapi sebuah kesalahan.
Menyesali itu berkepanjangan, sampai stress dan depresi dan lupa cara menyelesaikannya.
Tidak peduli dan akan melakukan kesalahan yang sama, berulang-ulang.
Atau belajar dari semua kesalahan, meneliti dimana letak kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

Aku adalah orang yang pernah melakukan ketiganya. Pernah menjadi orang paling dungu dan sangat bebal juga menyebalkan.

Apakah ada kata terlambat untuk memperbaikinya. Bisa jadi sangat terlambat. Bahkan saking terlambatnya, sudah tidak bisa lagi diperbaiki.
Tapi, bukan berarti lantas terus menerus melakukan kesalahan-kesalahan itu.
Menyesal sudah melakukan itu, memang iya. Tapi bagaimana rasanya hidup dengan terus menerus menyesali kesalahan yang sudah diperbuat.

Aku memilih beberapa cara untuk mengatasinya. Salah satunya, dengan menghitung semua kesalahan2 itu (yang sebenarnya sih ga bisa dihitung, saking banyaknya) setidaknya, kesalahan-kesalahan yang dianggap besar dan berakibat besar. Dari situ, pelajari letak kesalahannya, lantas menggaris bawahi point2 solusinya.
Yang sudah tidak bisa di benahi. Ya sudah tinggalkan. Tidak perlu terus menerus di sesali, tinggal menyikapi saja bagaimana seharusnya.

Intinya adalah, bagaimana bisa bijak belajar dari kesalahan. Gak perlu cari pembuktian dari orang lain deh. Biarkan orang akan menilai bagaimana. Yang terpenting, bagaimana dengan diri sendiri aja. Jangan berubah atau mengubah sesuatu hanya untuk membuktikan kepada orang lain. Tapi berlakulah itu untuk kebaikan diri sendiri.

Aku sering menceritakan kesalahan2ku di masa lalu kepada siapapun yang curhat. Bukan karena mau curhat balik. Tapi dengan mengatakan itu, aku cuma pengen menyampaikan, belajarlah dari kesalahanku.
Sayangnya, ada beberapa yang tidak menganggap itu benar. Sehingga, harus kejebles dulu baru bilang,”Yang di bilang kamu itu bener”.

Kandyianiok ra percoyo. Nek rung kejebles mesti rung kapok.

Biasa begitu kan?

Sama 😄😄😄

Ayamkah? Atau telurkah yang salah??

Semua memiliki kebenaran menurut versi masing-masing. Bisakah melihat dari banyak sisi sehingga tidak dengan mudah hanya bisa menyalahkan orang lain??

Kisah ayam dan telur

Ayam menyalahkan telur, kenapa gak bisa menetas sendiri. Telur menyalahkan ayam, kenapa harus menetas kalau dengan bentuk telur aja tetep bisa bermanfaat.

Ayam menyalahkan telur, kenapa harus menetas kan jadi telur aja tetep bisa dijual. Telur menyalahkan ayam, kenapa di erami, coba kalau nggak kan tetep jadi telur.

Pertanyaannya: siapakah yang bersalah??

Seharusnya, tidak perlu ada pertikaian saling menyalahkan. Karena semuanya tetap bisa jadi benar. Semua benar dengan versi masing-masing. Dan tidak ada yang salah karena bila ditempatkan pada sisi yang positip, apapun yang terjadi, masih bisa bersyukur. Setidaknya, ketika ada kondisi telur tidak menetas, masih bisa dijual, masih bisa di goreng dll. Kalaupun menetas jadi anak ayam, bisa dirawat dan akan menambah jumlah ayam. Bila sudah besar, bisa dipotong untuk dijadijan gulai atau dijadikan indukan lagi.
Lalu?? Kenapa harus melihat sisi negative kalau ketika itu dibalik, ada sisi positive yang lebih bermakna??

Bukankah itu semacam sebuah ilustrasi dari kehidupan sehari-hari?

Seringkali, kita terlalu sibuk menyalahkan. Karena pada dasarnya, menyalahkan orang lain itu pekerjaan paling mudah di dunia ini. Enak banget. Gak perlu pake belajar atau sekolah tinggi, bakat ‘menyalahkan orang lain’ itu sudah tertanam pada diri setiap orang.
Hanya saja, apakah bakat ini perlu dikembangkan? Atau, perlu di create menjadi sebuah motivasi untuk meraih hasil yang lebih baik??
Semua pilihan ada pada diri kita sendiri.

PR terbesar adalah, bagaimana menyikapi dengan bijak ketika disalahkan atas sebuah pekerjaan atau masalah. Mampukah kita menelaah lebih jauh dan menanggapi secara tenang dan mencari penyelesaian? Atau, balik menyalahkan dan tidak akan pernah selesai sehingga lupa pada tujuan akhirnya??

Mau pilih yang mana?

Kalau aku, memilih 3 langkah.

Pertama, menyimak dan mencoba mencari cara membenahi yang katanya ‘salah” itu.
Kedua, kalau masih disalahkan juga, akan berusaha bertanya ‘menurut anda, bagaimana yang benar? Karena benar menurut saya belum tentu benar menurut anda. Jadi saya akan melakukan yang benar menurut anda’.
Ketiga, kalau ternyata masih disalahkan juga, cuma akan bilang,’Silahkan dikerjakan sendiri, karena hanya anda yang bisa melakukan dengan benar’. S E L E S A I.