Category: FIKSI

#7HariHalu [01] Bertemu, Dekat lalu Menghilang

Dia pikir dia siapa, pergi begitu saja tanpa peduli bagaimana perasaanku, tidak pernah ada kabar bertahun-tahun, lalu tiba-tiba datang menawarkan cinta seolah-olah selama ini semuanya baik-baik saja.

Pertemuan itu kembali terjadi, setelah aku berhasil menguasai semua perasaanku tentangnya. Seharusnya aku tidak perlu mengaduk-aduk kembali perasaanku. Seharusnya aku tanggapi biasa saja ketika dia menghampiriku, saat aku duduk sendirian menikmati segelas hot chocolate tadi.

“Aku dari tadi melihatmu dari jauh, nyaris aku tidak mengenalimu”.

Mendengar itu tenggorokanku serasa tercekat, dengan hot chocollate ditanganku yang baru berkurang setengah. Aku tidak langsung menjawabnya, sambil menata detak jantungku yang berdegup tak karuan, aku angkat gelasku dan ku arahkan padanya sambil tersenyum. Diapun mengangkat gelasnya lalu meminumnya dengan pandangan mata yang tidak beralih dariku. Sebuah alasan yang tepat untuk membasahi kerongkonganku sebelum aku menjawab pertanyaannya.

“Memang kenapa?” Ah hanya itu kalimat yang berhasil meluncur dari bibirku. Dia tersenyum, mengendikkan bahunya. Sebelum akhirnya mengatakan,”Ya….mmm apa ya….kamu tambah cantik”.
Upss…..nyaris meluncur jatuh gelas dalam genggamanku. Kalau saja tidak segera mengontrol perasaanku. Dan aku ternganga sebelum kemudian tertawa. Tawa yang aku rasakan garing.
Aku memilih tidak menjawab pertanyaan itu. Dan aku tenggelam dalam lamunanku sendiri.

Empat tahun yang lalu, sebuah pekerjaan mempertemukanku dengannya. Intensitas pertemuan dan percakapanan melalui sms, telpon juga chat messangers menggulirkan perasaan yang berbeda. Pertemuan-pertemuan yang terjadi melebar tidak lagi tentang pekerjaan. Bahkan hanya karena alasan sepele, kebetulan sama-sama sedang pengen makan mie ayam, atau sekedar mengisi sisa waktu setelah seharian bekerja dengan duduk di sudut coffeshop, atau bisa saja di angkringan, ngobrol apa saja sampai lupa waktu.
Tema pembicaraanpun bergeser, tidak lagi melulu tentang pekerjaan yang sedang kami lakukan bersama. Bahkan, kami sempatkan sering datang bareng menghadiri undangan acara teman, atau menyaksikan panggung musik. Apa saja.

Sepanjang perjalanan intensitas itu rasanya seperti tidak ada hambatan. Sepertinya semua sempurna. Sehingga aku lupa menjagai hatiku. Lalu tanpa aku sadari, perasaan berbeda itu tidak lagi bisa aku kendalikan. Aku jatuh cinta! Ironisnya, aku tidak ingat sejak kapan perasaan ini mulai hadir. Yang aku tau, aku merasa kehilangan ketika intensitas itu perlahan memudar. Kegelisahan mendera saat balasan dari pesan-pesanku lambat laun berkurang lalu kemudian semakin sering dibiarkan dengan tanda terbaca saja. Tanpa balasan.

Hatiku terluka.

Untuk beberapa saat lamanya, aku mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri,”Mengapa aku harus merasakan kepedihan seperti ini? Dia bukan kekasihku”. Juga pertanyaan lain, “Mengapa aku harus bersedih hanya karena kebersamaan itu hilang?”.

Mengapa??

Hidupku baik-baik saja sebelum kamu datang waktu itu. Hari-hariku cukup menyenangkan sebelum kamu hadir mewarnainya.

I’m just fine before i meet you.

Aku sampai lelah kebosanan dengan semua pertanyaan itu, hingga aku lupa bahwa perasaan itu pernah ada. Semuanya sudah kembali baik-baik, dan aku berharap, tidak akan pernah bertemu kamu lagi. Sampai akhirnya…..

“Hey”.

Aku tergagap mendengar bunyi cangkir hancur berantakan di lantai. Cangkir yang terlepas dari genggamanku, meluncur turun menghantam lantai.

“Oh eh…aduh….ya ampun. Eh maaf…” Kataku gugup sambil salah tingkah memunguti pecahan gelas. Sampai akhirnya pelayan datang membawa pel dan sejenisnya.

“Sudah mbak, biar saya saja. Nanti saya bersihkan”
“Eh nnng…maaf ya mas, anu nggak sengaja”. Aku meminta maaf dengan bingung mau melakukan apa. Sementara dia tertawa melihat tingkahku.

“Hey. Kamu kenapa sih. Aku cuma menegur, karena kamu nggak dengerin aku ngomong eh ternyata malah ngelamun. Haduh…gitu aja sampe mecahin gelas lho” Dia berkata masih dengan sisa-sisa tawanya.

“Eh emang kamu tadi ngomong apa?” Kataku beberapa saat setelah mampu menguasai diri.
“Mmm apa ya, aku malah udah lupa tadi ngomong apa. Lupakan. Gimana kabarmu?”.
“Oh aku? Baik. Kamu?” Tanyaku balik. Aku mengucapkan terimakasih pada pelayan setelah membersihkan lantai dari pecahan gelasku dan memesan minuman kembali. Setidaknya, ada jeda waktu sedikit untuk mengatur detak jantungku kembali normal. Dan terlihat biasa saja di hadapannya.

Dia hanya tersenyum menatapku. Aaah….masih sama senyumnya.

He look as good as the day i met him.

“Maaf ya kalau aku tiba-tiba menghilang waktu itu. Sebenarnya…” Dia menjawab pertanyaanku dengan sebuah statement yang seharusnya, tidak penting lagi buatku. Aku tidak menyela perkataannya yang menggantung. Sengaja aku tatap lekat-lekat kedua matanya. Ada kegugupan kulihat di sana.

“Eh tapi penting nggak sih kalau aku menjelaskan ini ke kamu sekarang?” Tiba-tiba dia balik bertanya. Aku hanya tersenyum sambil mengendikkan bahuku sedikit.
“Ya sudahlah, mungkin ini tidak penting buatmu, tapi aku akan menjelaskan. Jadi waktu itu, aku terpaksa menghentikan kedekatan kita, karena……aku takut makin kuat perasaanku ke kamu”
Aku meledakkan tawaku. Memicingkan mataku dan tersenyum dengan sudut bibirku.

“Ada persoalan yang harus aku selesaikan lebih dulu, sebelum aku yakin dengan perasaanku” Lanjutnya. Aku masih diam tak menanggapi.
“Lalu?” Tanyaku kemudian.
“Yah gitulah. Aku merasa waktu itu seperti tidak nyaman menjalani hari-hariku. Gelisah dengan perasaanku sendiri. Sepertinya aku berharap, dulu kita tidak pernah bertemu. Karena sebelum bertemu kamu, semuanya baik-baik saja. Tapi makin dekat kita, makin besar rasa bersalahku. Dan itu tidak adil buatmu.”.

Aku tertawa sumbang. Sinis mungkin terdengarnya.

“Terserahlah kalau kamu mau membenciku. Tapi aku tidak mau melukaimu lebih jauh. Sementara aku tidak yakin dengan perasaanku….”

I forget just why I left you, I was insane

Basi bung!

“Ah sudahlah…..” Aku memotong pembicaraannya. “Cuma mau menjelaskan itu kan? Oke, aku hargai. Ada yang lain?”
“Ya sudahlah, lupakan yang dulu. Kalau kita coba jalani lagi, gimana?”
“Hah? Maksudnya?” Tanyaku tidak paham dengan apa yang dia katakan.
“Ya….aku pengen serius sama kamu” Katanya mengagetkanku.
“Serius sama aku? Memang kamu cinta sama aku?”
“Ya kita jalani aja dulu, kita bisa sama-sama belajar saling mencintai”

Aku tidak tau harus bereaksi bagaimana. Seharusnya aku bahagia, bukankah ini yang aku harapkan dulu? Tapi mengapa sekarang rasanya berbeda. Debaran itu masih ada, tapi tidak lagi sama seperti dulu. Setelah empat tahun tanpa kabar apa-apa, tidak sengaja bertemu lalu dengan enaknya dia mengajakku serius? Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil berdecak heran. Aku menatapnya lekat-lekat, kemana aja kamu ketika aku berjuang sendiri mengatasi kegelisahanku waktu itu? Dan sekarang, setelah aku bisa melupakanmu, kamu menawarkan yang seharusnya kamu tawarkan sejak dulu.

Sepertinya aku masih belum hilang kesal, tapi…..keraguan menyeruak perlahan. Bagaimana kalau aku terima saja tawarannya? Belajar saling mencintai bukan kesalahan kan? Bukankah dulu aku menangisi kepergiannya?

Aku mengatur posisi dudukku yang rasanya tegang sedari tadi. Belum tau apa yang harus aku putuskan.

“Jadi, gimana?” Tanyanya membuyarkan lamunanku.
“Aku cuma heran, mengapa tiba-tiba kamu ingin serius denganku”. Tanyaku kemudian.
“Sebenarnya, sudah agak lama aku berpikir untuk menghubungimu, tapi masih ragu. Akupun masih perlu meyakinkan perasaanku. Apakah keputusanku ini tepat atau tidak”.
“Sejak kapan kamu merasa bahwa aku adalah pilihanmu yang tepat?”
“Aku belum lama putus dari pacarku. Saat itu aku merasa, aku tidak mencintainya. Aah aku sudah malas menjalin hubungan yang tidak jelas. Aku rasa aku bisa menjalani hubungan serius denganmu, toh kita pernah dekat dulu”.

Mendengar penjelasannya, akhirnya aku sudah tau harus menjawab apa.

“Kamu masih mau di sini? Sepertinya aku harus segera pergi.” Aku berkemas, meminta bil dan bersiap pergi.

Dia tidak berusaha menahanku. Hanya menatapku heran. Aku segera melangkah meninggalkannya sebelum dia bertanya lebih jauh. Harus segera menginggalkan segala omong kosong ini. Dia pikir dia siapa, pergi begitu saja tanpa peduli bagaimana perasaanku, tidak pernah ada kabar bertahun-tahun, lalu tiba-tiba datang dan menawarkan segala sesuatu yang terdengar sudah sangat basi.

Terdengar lagu “Closer” The Chainsmoker yang lagi hits itu mengiringi langkah kakiku menuju pintu.

“Now you’re looking pretty in a hotel bar. I forget just why I left You. I was insane”.

Kepala dipenuhi lirik lagu Closer sampai bertemu taxi yang membawaku pulang. Kuhempaskan tubuhku begitu saja di kursi belakang, sambil menyebut sebuah alamat ke driver. Mataku terpejam mengatur nafasku yang memburu, tapi telingaku sayup mendengar sebuah lagu dari radio di taksi yang aku tumpangi.
Damn! Lagu ini lagi???

Insane……..

—————

Cerita ini bergulir akibat terlalu sering mendengarkan lagu Closer milik The Chainsmoker feat. Halsey. Beberapa hari kepalaku terkunci dengan lagu ini. Awalnya, aku hanya suka dengan musiknya, ringan sangat ‘radio friendly’. Halah!

Lalu mulai ngulik liriknya, dari situ terciptalah sebuah cerita dalam rangka challenge 7 hari menulis cerita pendek berdasarkan lagu, yang aku buat bersama Nuno , #7HariHalu.
Closer adalah single ke-3 milik The Chainsmoker berkolaborasi dengan Halsey, yang sejak peluncurannya sudah mencapai posisi nomer 1 di singles Chart Itunes store di Canada dan Amerika Serikat. Berita baiknya adalah, Closer tmenjadi lagu “HIT” paling tercepat untuk mereka!!

Nggak heran. Emang enak sih lagunya. Buat sedikit goyang-goyang manggut-manggut asik juga. LOL.

 

#7HariHalu – Prolog

#7HariHalu adalah challenge 7 hari menulis cerita pendek berdasarkan lagu, yang aku lakukan bersama seorang teman, namanya Nuno. Membuat tantangan (challenge) untuk diri sendiri menulis cerita pendek? Kenapa tidak! Meski hasilnya tak sebagus tulisan penulis-penulis cerpen atau novel best seller itu. Maklumi saja, masih belajar.

Kadang butuh sebuah tantangan untuk memaksa kita melakukan sesuatu. Soal hasilnya bagus atau buruk, menang atau kalah, itu menjadi urusan belakangan. Yang penting berani mencoba tantangannya aja dulu.

Itulah yang aku lakukan bersama Nuno. Menantang diri sendiri untuk menulis cerita pendek berdasarkan lagu. Kami ini sama-sama sering tidak percaya diri dalam hal-hal tertentu. Nuno misalnya, menurutku dia tulisannya bagus, pandai mengolah kata dalam hal mereview. Tapi kadang masih aja bilang kalau ‘nggak bisa menulis’. Lha apa kabar aku??

Aku pernah membaca cerita-cerita pendek yang ditulis nuno di blognya . Menarik. Dan banyak kejutannya di ending cerita. Beberapa hari lalu, memaksa Nuno untuk menulis cerita lagi, tapi dia mengeluh katanya sudah nggak yakin masih bisa menulis cerita. Karena sekarang dia lebih fokus mengisi blognya dengan berbagai macam review, dari Hotel, Rumah Makan sampai produk apalah entahlah.

Aku tetap memaksa. Karena menurutku dia bagus kalau menulis cerita, kan sayang kalau lantas berhenti. Ah ternyata susah juga memaksa anak satu itu. Alasannya pasti adaaaaa aja, intinya merasa nggak PD. Kalau dia yang aku anggap bisa membuat cerita menarik aja nggak PD, gimana aku? Makin nggak PD dong, wong nulis blog sendiri aja masih embuh banget. Bikin cerita pendek buatku itu PR , apalagi novel. Ide di otak banyak, tapi nggak pernah tau gimana cara memulainya jadi sebuah tulisan.

Hujan dan sinyal yang nggak bagus kemaren, bikin aku bingung mau ngapain. Bosan beberes rumah yang nggak beres-beres juga. Rapih juga nggak, capek mah iya. Aku memutuskan untuk tidur saja. Karena suara hujan yang menimpa seng atap garasi itu kencang sekali suaranya, sungguh bikin berisik. Nggak ada indahnya. Jadilah aku memasang lagu-lagu di laptop. Memilih lagu-lagu baru yang sepertinya aku ketinggalan update. Biar gak kalah updatelah sama anakku heuheuheu….

Sampai di lagu Closer-nya The Chainsmoker, aku tiba-tiba teringat percakapan di kolom komen pathku bersama Chika dan Seva.

“Coba dengerin liriknya deh”.

Apaan sih. Aku tuh mengamati lirik lagu kalau memang ada kasus kusus dengan lagu itu, atau memang penasaran atau pas lagi hearing hahha. Biasanya lebih menikmati lagunya saja. Nggak peduli bagaimana liriknya. Dari obrolan itu lantas aku penasaran, emang ini liriknya gimana sih kok Chika dan Seva heboh bener.

Dengan keterbatasan sinyal, akhirnya berhasil cari lirik lagu itu. Manggut-manggut sambil membayangkan sebuah adegan sesuai dengan lagu itu. Karena dilanda kengangguran yang amat sangat, buka laptop lalu mengalirlah kata demi kata menjadi sebuah tulisan.

Aha! Sebuah cerita pendek. Belum sempurna sih, jadi nanti aku sempurnakan dulu sebelum diposting hehehhe
Dari situ mendadak aku ada ide sebuah challenge menulis. Kayaknya seru nih menantang diri sendiri. Tapi lebih seru lagi kalau ada yang ditantangin. Secara otomatis terlintaslah Nuno di otakku.

Awalnya Nuno keberatan, dengan berbagai alasan tentu. Salah satunya seperti yang selalu aku dengar, nggak percaya diri masih bisa menulis cerita. Sampai akhirnya bujukanku berhasil, setidaknya, dengan melakukan tantangan ini, bisa jadi semacam selingan buat content blognya Nuno, nggak melulu review hahaha.

Dengan sedikit ‘maksa’ munculah nama #7HariHalu, halusinasi maksudnya hahahha
Yess…selama 7 hari kedepan, kami akan tenggelam dalam halusinasi kami masing-masing. Judul-judul lagu sudah ditentukan untuk kami jadikan ide cerita pendek, dari hari pertama sampai hari ke-tujuh. Lagu apa saja itu?

Aaaah…..akan lebih seru kalau langsung dinikmati aja nanti. Biar jadi kejutan.

Basa-basinya udahan dulu yak. Sekedar prolog yang menandai challenge menulis cerita pendek antara aku dan Nuno dimulai. Prolog aja panjaaaang Jeeee……….

#7HariHalu hari pertama adalah Closer – The Chainsmoker feat Halsey. Tunggu di postingan berikutnya, sebentar lagi 🙂

Syalom,

~jeci~

[Bianglala Rinjani] Chapter 4 – Ketika rindu hanya dianggap sebagai titik terendah sebuah harga diri.

Missing someone is a horrible feeling, but knowing that they don’t miss you back is so much worse.

Beberapa hari aku tidak berkomunikasi dengan Rinjani. Hmmm apakabar dia ya. Tiba-tiba aku teringat dia hanya karena sekarang aku duduk di sebuah coffee shop dengan secangkir kopi di tanganku. Ah Rinjani jam segini pasti sedang menikmati kopi buatannya sendiri, kataku sambil melihat jam di pergelangan tanganku. Baru saja aku memegang handphoneku, orang yang mau meeting denganku di tempat ini sudah datang. Ya sudahlah, nanti selesai meeting saja aku menghubunginya, akan aku suruh Rinjani menyusulku kesini. Aku letakkan kembali handphone di atas meja, dan mulai fokus dengan meetingku siang ini.
Dua jam kemudian, selesai urusan pekerjaanku, aku langsung menghubungi Rinjani melalui chat di whastapp.
“Pasti lagi ngopi”
“Iyalaah….jam ngopiku ini”
“Sekali-sekali ngopi siang diluar gitu kek”
“Widih….ngapain kamu? Mau ngajak aku keluar ngopi? Pasti kangen sama aku ya” Balasnya disertai emot ketawa ngakak yang banyak.
“Emang kamu yang gak pernah punya rasa kangen? hahahha dah buruan kesini” Balasku kemudian sambil menyebut tempat ngopiku sekarang.
“Masih lama kan kamu disitu? Tunggu yak”
“Oke”
Nah bener kan. Aku tau betul, sesibuk-sibuknya Rinjani, pasti dia mau menyenggangkan waktunya untuk seorang teman hanya sekedar minum kopi dan ngobrol gak penting.
Tidak butuh waktu lama aku sendirian. Kulihat Rinjani sedang memarkirkan motornya di halaman dan segera masuk mencariku. Aku melambaikan tangan dari tempat aku duduk.
“Ngapain kamu disini siang-siang?” Tanyanya sambil meletakkan ranselnya yang segede bagasi motor itu.
“Tadi ada meeting sama orang. Mau balik ke kantor kok masih panas, terus inget kamu deh. Kayaknya kok kita sudah lama nggak ngobrol ya” Sahutku panjang lebar.
“Halah. Baru juga seminggu”
“Iya ya? Kita sibuk banget apa ya kok chat aja gak pernah” Kami tertawa bareng.
“Kenapa? Kangen sama aku?” Katanya lagi. Aku melotot protes.
“Seneng amat kamu di kangenin? Kamu aja gak pernah kangen sama siapapun kok”
“Loh kok jadi protes sampe situ? Aku kangen jugalah ngobrol sama kamu. Gila-gilaan sama kamu” Dia tertawa sambil menulis pesanan makanannya.
“Ngopi?” Tanyaku.
“Nggak ah. Kan udah ngopi tadi”.
“Aku tau, pasti es teh leci”
“Nah tuh tau” Rinjani tertawa lagi.
Aku senang kalau melihat Rinjani tertawa seperti tanpa beban. Dan kadang kami tertawa untuk hal-hal yang sangat konyol dan tidak penting. Rinjani mudah tertawa untuk hal-hal sepele. Kadang aku malah bingung apa yang dia tertawakan. Tapi dia benar-benar bisa sangat geli atas sesuatu. Dengan versinya sendiri, katanya itu lucu. Suka aneh memang perempuan satu ini. Tapi itulah yang membuat persahabatan kami awet. Rinjani orang yang sangat menyenangkan untuk diajak sharing, apa saja. Segala tema bisa masuk dalam setiap obrolan kami. Bahkan seringkali olok-olokan bodoh yang tidak jelas. Tapi bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak.
“Ngapain aja kamu seminggu ini?” Tanyaku kemudian. Rinjani masih sibuk dengan es teh lecinya.
“Biasa aja. Kamu kan tau aktivitasku. Didepan laptop, ketemu orang, didepan laptop,ketemu orang gitu aja terus sampai hulk warnanya biru” Rinjani terkekeh-kekeh sendiri. Akupun spontan tertawa. Tidak banyak yang tau bahwa Rinjani itu sebenarnya lucu dan konyol. Itu karena kebanyakan, yang bertemu dengannya lebih sering berbicara pekerjaan. Memang sangat serius kalau urusan pekerjaan. Coba berteman dekat dengan Rinjani, pasti hidupnya tidak akan kesepian. Bercanda terus isinya.
Lamat-lamat aku memperhatikan raut wajah Rinjani seperti tidak biasanya. Mendadak murung. Walau dia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku sangat mengenal Rinjani. Pasti ada yang mengganggu pikirannya atau bahkan mungkin hatinya. Tapi Rinjani tidak pernah suka ditanya secara langsung. Pasti dia tidak mau menjawabnya. Aku mulai berpikir keras cara yang paling tepat untuk bertanya.
“Suntuk amat. Banyak kerjaan?”
Rinjani mendesah, lalu tersenyum.
“Nggak juga. Emang aku suntuk ya? Sok tau ah. Kalau aku diem bukan berarti lagi suntuk kan”.
“Non, aku tu kenal kamu bukan sehari dua hari. Masih mau ngelak??” Serangku. Disambut tawa keras Rinjani.
“Bete kenapa kamu?”
“Eh naik apa kamu kesini? Kok aku ga liat motormu?” Rinjani tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang…..sangat tidak penting. Aku tau ini cuma caranya mengalihkan pembicaraan.
“Oh…naek mobil kantor. Panas euy….malas bawa motor” Aku jawab juga pertanyaan tidak pentingnya itu.
“Iya emang. Udah tau panas, nyuruh-nyuruh aku kesini pula” Protesnya.
“Daripada aku ngopi sendirian disini kan?”
“Bilang aja kamu kangen sama aku” Matanya mendelik lucu menggodaku.
“Pengan banget di kangenin ya kamu?” Godaku membalasnya.
“Sekali-sekali lah aku ada yang ngangenin. Biar tau rasanya dikangenin” Katanya tertawa. Ini dia saatnya masuk ke tema percakapan inti, mengulik yang sedang dirasakan Rinjani.
“Iya…iya…kangen deh sama kamu. Apa susahnya bilang kangen. Ehtapi emang aku kangen kok sama kamu. Kamu sendiri? Kangen sama aku nggak?” Skakmat! Tapi bukan Rinjani namanya kalau tidak pandai mengelak.
“Kangen sama kamu? Ngapain? Kangen itu nggak enak!” Rinjani berkata dengan mimik serius.
“Ih siapa bilang gak enak”
“Akulaah!”
“Oh iya sih, kamu kan emang mati rasa” Sahutku sambil menahan senyum. Aku lihat Rinjani mulai membesarkan bola matanya. Aku pikir dia kan marah, ternyata tidak.
“Hahaha…..kalau itu sih, iya sepertinya” Katanya kemudian. Lalu diam. Aku juga diam. Sepertinya AC diruangan ini tidak berfungsi dengan baik, kok aku merasa gerah. Atau aku yang jadi gerah karena percakapan ini? Percakapan absurd tentang Rinjani yang seperti ini memang selalu bikin aku gerah.
“Panas ya? Ini ruangan ber-AC kan?” Rinjani sepertinya merasa kegerahan juga. Lalu mengedarkan pandangan matanya mencari letak AC.
“Eh jangan-jangan, kita aja nih yang kegerahan” Kataku sambil tertawa.
“Bisa jadi. Kamu sih pake membahas masalah kangen segala. Jadi gerah kan” Rinjani malah menyalahkan aku.
“Kamu juga sih, ngapain coba muka suntuk gitu”
“Aku lagi marah dengan diri sendiri, ngapain coba harus kangen sama seseorang” Katanya kemudian, sangat pelan nyaris tidak aku dengar.
“Hah?? Apa?”
“Harus ya di ulang?” Aku kena lemparan tissue Rinjani karena pertanyaan itu.
“Kaget aja, sejak kapan Rinjani yang aku kenal punya perasaan kangen? Tuh kan lagi jatuh cinta” Godaku disambut lirikan tajam Rinjani.
“Justru itu, makanya aku males mau bilang. Nyebelin kan?”
“Nikmatin aja non, jangan ditolak. Bisa merasakan kangen itu artinya kamu masih punya perasaan. Iya kan?” Aku berusaha menghibur Rinjani. Aneh. Kangen kok malah murung. Tapi bukan Rinjani namanya kalau tidak aneh.
“Rindu itu sama sekali tidak menyenangkan. Aku tidak suka”. Aku hanya merespon dengan dahi mengerut.
“Jadi kamu nggak mau kangen sama aku?” Aku mencoba mencairkan suasana.
“Kalau kangen sama kamu itu gampang. Tinggal ngajak kamu ketemuan beres deh”
“Nah, kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama dengan orang yang kamu kangenin itu?”
“Kenapa aku harus bilang? Toh perasaan rinduku tidak berarti buat dia”
“Belum tentu. Coba kamu ajak bertemu, kan rindumu terselesaikan” Saranku.
“Masalahnya, tidak semudah itu”
“Harusnya mudah. Kamu aja yang membuatnya jadi rumit”
“Bukan begitu, aku gak mau diremehkan hanya karena aku merindukannya. Untuk apa aku menyampaikan kerinduanku kalau aku tau bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama? Aku merindukannya sebagai seseorang yang special. Bukan kerinduan sebagai sahabat seperti yang dia mau”.
“Ya udah sih, setidaknya dia masih mau jadi sahabat kamu kan?”
“Meehhhhh……Sahabat? Sahabat yang bagaimana? Kalau sahabat itu ya seperti kamu ini, tanpa aku minta, kamu tiba-tiba ngajak aku keluar. Walau cuma sekedar dengerin cerita konyolmu yang gak penting itu. Masih belum paham aku bentuk persahabatannya akan seperti apa. Entahlah.” Rinjani menjelaskan panjang lebar dengan emosi yang meluap-luap. Seperti biasanya, aku hanya duduk mendengarkan. Karena kadang, Rinjani hanya butuh didengarkan, dia sudah tau apa yang harus dia lakukan.
“Lalu, bagaimana dengan kerjasama kalian?” Tanyaku pelan-pelan takut semakin membuatnya murka.
“Kalau itu sih,nggak ada masalah.Tentu saja aku profesional dalam pekerjaan. Memangnya terus aku jadi memusuhi dia gitu? Ya enggaklaah. Kamu tahu betul bagaimana aku dalam hal pekerjaan kan?” Tanya Rinjani yang ku jawab dengan anggukan.
“Aku akan tetap bekerjasama secara profesional. hanya tidak lagi meneruskan perasaanku. Apapun itu bentuknya, bahkan walau itu hanya sebuah rasa rindu. Sudah cukup. Biarlah dia melanjutkan hidupnya dengan semua permasalahannya. Aku memutuskan tidak akan mengusiknya dengan segala macam yang tidak perlu, apalagi kok cuma masalah rindu. Sangat tidak penting.” Lanjut Rinjani mulai mengatur emosinya. Aku hanya menaikkan alisku.
“Bukankah kamu menyiksa dirimu sendiri kalau seperti itu?”
“Kenapa? Nggaklah. Justru ketika aku merasakan rindu, saat itu juga aku merasa hal itu hanya membuatku lebih rendah dihadapannya. Aku jadi merasa lemah. Itu baru namanya menyiksa diri sendiri. Tidak. Aku tidak mau. I’m Done!” Jelasnya sambil menyeruput minuman di depannya sampai habis. Sepertinya dia sudah lebih lega sekarang.
“Eh kayaknya aku salah berdoa deh” Tiba-tiba Rinjani mengejutkan aku dengan kalimat yang aneh.
“Hah? Kok bisa gitu? Maksudnya apa sih?” Tanyaku heran.
“Iya. Salah berdoa. Aku kan berdoa supaya bisa merasakan rindu. Rindu yang berbeda terhadap seseorang, nah dikabulkan deh”
“Harusnya seneng dong, kan doanya terkabul”
“Ya memang seneng, tapi doaku salah. Ng…..tidak lengkap mungkin”.
“Lalu menurutmu, doa yang benernya gimana?” Tanyaku masih penasaran.
“Harusnya, doaku tuh begini, Tuhan, beri aku rasa rindu terhadap seseorang yang juga merasakan rindu kepadaku. Gitu. Lah ini, Tuhan cuma kasih rasa rindu aja, tapi ke orang yang tidak peduli dengan rasa rinduku. Kan jadinya surem yak” Rinjani terkekeh-kekeh sendiri. Akupun tak tahan untuk tidak tertawa.
“Kadang kesuraman itu hanya perlu ditertawakan. Ya nggak?” Rinjani meminta persetujuanku yang aku tanggapi dengan tawa yang lebih keras.
“Yuk ah balik. Obrolan kita ini sangat konyol, sebelum makin absurd, kita sudahi saja” Rinjani sudah seperti biasanya lagi. Ceria, dan sangat mampu dengan cepat membuat ringan segala seuatu yang tidak mengenakkan hatinya.

Rinjaniii…Rinjani…..kadang aneh, kadang lucu, absurd bener orangnya.
Begitulah sahabatku ini. Aku kadang tidak paham dengan jalan pikiran Rinjani, harga dirinya terlalu besar untuk ditukar dengan perasaan rindu.

~jeci~

[Bianglala Rinjani] Chapter 3 – Jatuh cinta itu, senengnya cuma sebentar. Sakitnya yang lama.

I found it hard to be in love. That’s only because I didn’t want to fall in love. I refused to lower my walls down. I was too afraid of getting hurt.

Sore itu, aku kembali menemani Rinjani, kali ini dia ingin mencari tas yang dia butuhkan. Buat yang tidak terlalu suka mal atau belanja, mungkin akan nyaman menemani Rinjani belanja. Karena dia bukan tipe cewek yang doyan menghabiskan waktu di mal tanpa tujuan. Dia juga tidak suka belanja. Dia membali sesuatu karena dia butuh. Seperti saat ini. Kebetulan aku sedang tidak ada acara, jadi ketika tadi aku berkunjung ke kantornya, dia tiba-tiba bilang kalau pengen cari tas.
“Bukannya masih banyak tas mu” Kataku.
“Mana? Udah pada rusak. Aku mau yang bisa buat bawa laptop juga. Biar praktis” Jawabnya.
“Terus mau beli dimana?” Rinjani menyebut tempat yang menjual tas-tas kusus kesukaannya. “Sibuk gak kamu?” Tanyanya kemudian. Pertanyaan ini biasanya mewakili sebuah permintaan tolong. Seperti itulah Rinjani, jarang secara langsung minta tolong. Kalau aku sudah hafal dengan kebiasaannya.
“Kebetulan lagi kosong, yok aku anterin”. Langsung ku lihat wajah Rinjani sumringah. Bergegas dia membereskan barang-barangnya dan beberapa menit kemudian kami sudah sampai di tempat yang Rinjjani mau. Tidak butuh waktu lama Rinjani menemukan tas yang dia inginkan.
“Mau kemana lagi kamu?” Tanyaku setelah keluar dari toko itu.
“Mmmmm kemana ya….gak ada rencana kemana-mana sih” Jawabnya.
“Ya siapa tau, namanya juga cewek, kan seneng kalau liat mal, biar ga niat beli juga tetep aja jalan-jalan”. Kalimatku langsung disambut tawa Rinjani yang sangat keras.
“Heh!! Baru kenal aku ya?? Sejak kapan aku suka kluyuran di mal??” Protesnya masih dengan tawa renyahnya.
“Yaaa kaliiii ajaa sekarang udah berubah kan” Sahutku juga sambil tertawa.
“Widih….apalah yang bisa membuatku berubah. Nggaklaaah….ke mal itu ya biasa aja, niat banget ngabisin waktu di mal. Bisa migren aku kelamaan di mal”
“Loh…namanya juga lagi jatuh cinta, biasanya kalau orang lagi jatuh cinta itu ada aja yang berubah. Yang tadinya gak suka eh jadi suka, atau sebaliknya”. Tanpa kusangka pernyataanku ini membuat Rinjani melotot tajam dan meninjuku.
“Sembarangan! Siapa yang jatuh cinta? Aku? Sama siapa? Kata siapa? Ngaco aja kalau ngomong. Kalau dapet info tuh cari tau dulu, akurat apa nggak”
“Yaelah neeng, segitunya langsung nyolot. Biasa aja kaliiii”
“Kamu juga sih, asal kalau ngomong” Rinjani merengut.
“Emang kenapa sih kamu selalu denial kalau bahas soal beginian? Jatuh cinta kan hal yang lumrah. Siapa aja bisa jatuh cinta kan. Begitu juga kamu. Apanya yang salah coba” Protesku gak kalah panjang.
“Ya emang ga ada yang salah. Tapi jadi salah kalau itu di tujukan ke aku”
“Memang kenapa?”
“Males ah kalau udah ngebahas beginian”
“Kamu ini aneh”
“Aneh? Ya enggaklaah…apanya yang aneh. Biasa aja” Rinjani makin gusar. Dia berjalan cepat ke arah motorku di parkir. Berdiri diam di dekat motorku sambil menungguku yang berjalan di belakangnya.
“Cepetan napa sih. Lama amat jalannya”
“Idih….jadi marah-marah gitu sih” Rinjani tidak menjawab, langsung duduk di belakangku. Sepanjang jalan kami tak banyak berbincang seperti biasanya. Aku sendiri lebih banyak diam dan berpikir heran. Sangat heran kenapa Rinjani selalu marah setiap kali aku membahas soal jatuh cinta. Mmmm lebih tepatnya, tentang dia dan jatuh cinta. Sudah lama ingin aku tanyakan hal ini. Tapi tidak pernah menemukan momen yang pas. Rasa penasaranku semakin meningkat dengan perdebatan sekilas tadi. Entah karena rasa penasaran itu atau karena memang dari siang belum makan, aku mulai merasa lapar. Tanpa berkompromi dengan Rinjani, aku langsung membelokkan motorku ke sebuah rumah makan. Menurutku, Rinjani juga pasti lapar, buktinya dia tidak protes.

Begitu dapet tempat duduk yang nyaman, kami langsung memesan makanan. Rinjani tidak banyak bicara langsung menulis pesanannya.
Sambil menunggu makanan kami datang, akuu tidak melewatkan kesempatan ini buat bertanya.
Aku memandang Rinjani dengan rasa ingin tau yang besar,”Rinjani, mengapa kamu begitu benci jatuh cinta. Bukannya jatuh cinta itu indah?”
Rinjani tersenyum dingin lalu menjawab,”Aku tidak membencinya”.
“Lalu kenapa kamu mesti marah kalau disinggung soal itu”. Aku menatapnya, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya. Aku menunggu. Rinjani tidak bereaksi. Seperti tidak peduli dengan pertanyaanku. Aku biarkan tidak mendesaknya. Kulihat dia memainkan rambutnya, sorot matanya kosong.
“Kenapa?” Aku mengulang pertanyaanku.
“Aku tuh tidak membencinya. Hanya aku tidak menginginkannya”.
“Iya. Kenapa?”
“Menurutku, jatuh cinta itu perasaan yang sia-sia. Dan entah mengapa, aku selalu merasa diriku di posisi rendah ketika jatuh cinta. Atau, aku merasa orang yang membuatku jatuh cinta itu hanya akan menganggapku rendah. Lalu menyepelekanku, lalu merendahkan aku. Lalu menganggap itu perasaan sampah yang harus di hindari. Aku hanya benci merasakan itu ketika aku jatuh cinta. Dan aku tidak mau menjadi rendah hanya karena jatuh cinta. Itu saja”. Jawaban yang panjang itu membuatku tercenung. Aku tidak pernah menyadari bahwa seperti itulah kerumitan hati Rinjani.

“Mmmm….jadi itu yang membuatmu bertahan tidak mau jatuh cinta?” Tanyaku kemudian.
“Kamu tau kan kalau aku tidak mudah jatuh cinta? Sayangnya, setiap kali aku jatuh cinta, selalu pada orang yang tidak bisa menerimanya. Jadi males banget kan”.
“Berarti bukan rasa itu yang salah. Kamu aja yang salah orang”.
“Memang bukan. Tapi rasa itu juga sering tidak bisa di atur mau sama siapa kan? Jadi, bukan salahku juga kalau setiap aku merasa jatuh cinta dengan orang yang salah. langsung aku tolak rasa itu?” Rinjani begitu tegas menyatakan rasa tidak sukanya.
“Aku tidak suka jatuh cinta. Rasanya tidak enak”. Lanjutnya lagi sebelum aku berkomentar.
“Dinikmati ajalah neng kalau lagi jatuh cinta, kadang indah juga loh” Akhirnya aku berkomentar pelan meredakan emosi Rinjani. Rinjani lagi-lagi tersenyum sinis.
“Buat apa? Jatuh cinta itu, enaknya cuma sebentar, sakitnya yang lama”. Kata Rinjani sambil memainkan sendok di piringnya.
“Sepertinya kamu lagi jatuh cinta sekarang. Sama teman barumu itu? Yang kamu bilang ada kerjasama kerjaan sama kamu itu?” Pertanyaanku itu membuat Rinjani makin gusar. Menyorongkan piring yang masih tersisa setengah lebih makananya.
“Obrolan ini bikin aku nggak selera makan” Rinjani menjelaskan tanpa aku tanya.
“Loh kenapa? Pertanyaan gampang lho itu. Kenapa segitu resahnya kamu”
“Okee okee….iya. Benar. Aku jatuh cinta. Dan aku sangat tidak menyukai perasaan ini. Aku tidak suka merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta itu membuat perasaan jadi tergantung, merusak suasana hati. Yang pasti, aku tidak suka dengan segala elemen yang menyertai rasa jatuh cinta”
Weiittsss….sabar buuuuuu” Aku berusaha mencandainya sambil menepuk punggung tangannya. “Jangan keras-keras, pada shock nanti yang dengar” Aku menahan ketawa sambil melihat ke sekeliling kami. Untung kami duduk agak menyempil, tidak diantara keriuhan orang yang nongkrong disini. Rinjani malah memukul tanganku, tapi kali ini ada senyum di wajahnya.
“Sial kamu! Jadi drop kan ini” Rinjani tertawa.
“Kamu juga sih ngomongnya pake emosi. Santai aja kenapa” Aku masih terkekeh geli.
“Habisnya kamu memancing sih” Rinjani mulai bersungut-sungut.
“Geli aja aku denger konsep jatuh cintamu. Dengar Rinjani, sebaiknya kamu nikmati saja rasa jatuh cinta itu. Jangan seserius itu, sadar tidak kalau seperti itu justru kamu malah menyakiti dirimu sendiri?”
“Iya sih, aku tau. Bahkan aku sering merasa, kalau aku jatuh cinta, itu seperti aku memberi peluang untuk dilukai. Melengkapi hati untuk jatuh cinta itu, seperti meramu racun untuk diri sendiri. Tragis ya” Rinjani memelankan suaranya, terdengar hanya sebagai desahan. Aku merasakannya seperti Rinjani melepas semua kesesakannya. Hanya karena jatuh cinta!
“Rinjani, seandainya, jatuh cintamu itu bersambut? Katakanlah, orang yang membuatmu jatuh cinta itu ternyata juga memiliki rasa yang sama denganmu? Apakah kamu juga akan merasa seperti itu?” Tanyaku sangat hati-hati. Rinjani tidak langsung menjawab, ekspresinya datar. Beberapa kali mengubah posisi duduknya. Pandangannya menatap jauh keluar.
“Bisa jadi. Aku sudah tidak memiliki kepercayaan lagi untuk itu. Aku tidak akan membiarkan diriku terseret ketidak berhargaan hanya karena rasa yang aku punya. Cintaku, bukan untuk menempatkan diriku di posisi yang tidak berharga. Aku akan menghargai diriku dan hatiku sendiri. Tidak banyak yang bisa melakukannya kecuali diriku sendiri”.

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala tidak lagi berkomentar. Hanya perkara jatuh cinta, Rinjani membuatnya sangat rumit. Menurutku. Tapi itulah Rinjani.
Rinjani yang terlalu angkuh untuk menukar harga dirinya dengan sebuah rasa yang bernama jatuh cinta.

……tobe continued

~jeci~

[Bianglala Rinjani] Chapter 2 – Tingginya harga diri untuk ditukar dengan sebuah penolakan

One of the worst feelings is being ignored by the person you want to talk to more than anything.

Sore itu ketika aku sedang menikmati obrolan seru dengan Chyntia, temanku yang lain, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Sebuah nama muncul di layar, Rinjani. Hmmm tumben ni anak telpon, biasanya juga teriak-teriak aja di whatsapp.

“Apa non?” Segera aku mengangkatnya.
“Dimana kamu” Seperti biasa, Rinjani tidak pernah berbasa-basi kalau telpon.
“Lagi jalan sama Chyntia”
“Oh. Ya udah kalau gitu”
“Hei…kenapa?”
“Nggak ada. Besok aja. Udah ya” Wah ada yang tidak beres ini dengan Rinjani kalau seperti ini. Biasanya, kalau nadanya datar dan menunda pembicaraan pasti dia akan minta tolong sesuatu atau butuh sesuatu. Aku tahu apa yang harus kulakukan.
“Kamu sekarang dimana?” Segera aku bertanya sebelum Rinjani menutup telponnya.
“Coffeshop seberang jalan deket kantorku”
“Oke. Tunggu sebentar ya, aku susul kesana”
“Eh nggak usah, kamu kan lagi sama Chyntia. Besok aja gakpapa kok”
“Bye”
Lebih baik langsung aku tutup telponnya, karena kalau ditanggapi, lebih panjang urusannya.
“Chyn, aku anter kamu pulang ya” Kataku kemudian kepada Chyntia.
“Ada apa dengan Rinjani? Rinjani kan tadi yang telpon?” Tanya Chyntia seperti kuatir.
“Iya. Rinjani. Ah biasalah, dia mau minta tolong sesuatu. Tau kan gimana Rinjani? Dia tu nggak pernah mau bilang langsung kalau butuh sesuatu. Harus aku sendiri yang ngerti kalau dia minta bantuan” Aku menjelaskan, disambut tawa Chyntia yang sudah sangat maklum dengan sifat Rinjani.
“Dia kan emang gitu, kalau bisa aja pasti udah dia lakukan sendiri. Nggak mau ngrepotin orang. Ya udah sana, disusul aja. Aku bisa pulang sendiri, gak usah dianterlah”
“Eh ya jangan, aku anter aja. Repot tau kalau harus pesen taksi” Kataku tidak memberi kesempatan Chyntia pesan taksi, langsung menggandengnya masuk ke mobilku.
Tidak lama kemudian aku sudah duduk dihadapan Rinjani yang asik dengan laptopnya.
“Kerjaaaaa terus. Piknik sana! Biar gak bete” Aku tutup laptopnya.
“Sial!! Dateng-dateng bikin rusuh kamu” Rinjani mendelik. Aku tertawa melihat ekspresi Rinjani yang lebih keliatan lucu daripada nyeremin kalau sedang sewot seperti itu.
“Kesepian ya, kok tumben pake telpon aku segala tadi” Kataku sambil memanggil pelayan. Rinjani hanya mendengus lalu membuka laptopnya kembali.
“Aku udah disini loh,malah dicuekin. Kalau mau kerja di kantor aja non”
“Mana Chyntia? Kok nggak kamu ajakin kesini sekalian?” Rinjani tidak menanggapi gurauanku.
“Udah aku anter pulang, ada acara katanya” Terpaksa aku berbohong, kalau aku tidak bilang seperti itu, Rinjani pasti malah ngomelin aku habis-habisan.
“Jangan-jangan kamu paksa dia pulang. Waaah jahat kamu, kan aku udah bilang, aku tuh nggak apa-apa, iseng aja tadi telpon kamu. Harusnya kamu tetap sama Chyntia, bukannya kamu senang ya kalau lagi sama dia?” Nah kan….ngomel kan….
“Haduh apaan sih kamu, dibilangin dia kebetulan juga akan ada acara. Ya udah aku anterin pulang sekalian. Lagian, apa deh pake bilang aku seneng segala” Gantian aku yang ngomel.
“Yeee….kaya aku nggak tau aja kalau kamu lagi naksir Chyntia. Sama aku pake rahasia segala sih kamu” Rinjani menertawakanku. Memang susah menyembunyikan sesuatu dari Rinjani, entah dia itu semacam cenayang, walau nggak diceritain pun pasti aja tau. Makin aku menghindar, makin keras Rinjani memaksaku jujur. Lebih baik terus terang saja.
“Kalau udah tau, ya udah, buat apa aku jelasin lagi” Kataku berdiplomasi.
“Jadi bener? Terus udah sampai mana pendekatannya? Udah keliatan belum hasilnya?” Rinjani memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan sulit dijawab. Aku mendesah.
“Ya gimana ya. Masih gitu-gitu aja. Keliatannya Chyntia asik-asik aja kalau sama aku, tapi aku belum bisa memastikan kalau dia juga suka sama aku. Udah ah, kok malah membahas soal aku sih. Kamu sendiri kenapa?”
“Udah berapa lama kamu intens mendekati dia? Dia tau nggak kalau kamu suka sama dia?” Tanya Rinjani lagi. Duh apa sih ini orang, detil banget kalau tanya.
“Baru beberapa bulan ini kok intensnya. Kan kamu juga selalu tau setiap aku pergi sama Chyntia. Sebenarnya, aku sudah menunjukkan sikap yang tidak biasa ke dia. Dia juga tidak pernah menolak kalau aku ajak jalan. Ya sudahlah yaa dinikmati aja dulu”
“Hmmm……” Rinjani menggeser laptopnya, lalu menatapku.
“Kenapa? Kok gitu reaksimu?”
“Kamu harus memastikan perasaannya. Tidak pernah menolak ajakanmu jalan belum berarti dia ada hati juga sama kamu” Aku terdiam. Bener juga kata Rinjani ini.
“Kalau menurutmu?” Aku balik bertanya. Rinjani mengerutkan dahi, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lagi-lagi sorot matanya menatap seperti menyelidikiku.
“Kalau memang kamu yakin dengan perasaanmu, dan menurutmu dia meresponmu positif ya berarti kamu harus segera mengatakan sama dia. Kan udah keliatan jelas kalau dia sepertinya juga punya perasaan yang sama dengan kamu. Nunggu apa lagi?”.
“Gitu ya”.
“Iyalah. Kecuali kalau selama ini Chyntia seperti ogah-ogahan kalau diajak jalan sama kamu. Atau malah banyak menolaknya. Kalau seperti itu, menurutku tidak perlu kamu teruskan perasaanmu. Lupakan dia, anggep temen aja”.
“Kok begitu? Kan aku belum nembak, masak udah nyerah duluan”. Sanggahku.
“Kalau aku sih begitu. Buat apa berjuang untuk sesuatu yang sudah ketauan tidak ada hasilnya”. Pernyataan Rinjani ini membuatku kembali berpikir serius tentang bagaimana Rinjani yang sebenarnya. Menurutku, yang penting berjuang dulu, hasilnya mau bagaimana ya lihat aja nanti. Itu menurutku. Tapi aku tidak mengatakan protesku itu kepada Rinjani. Sepertinya, dia punya alasan sendiri mengapa berkata seperti itu.
“Ah kamu kan selalu seperti itu. Optimis dikit kenapa sih” Kataku akhirnya. Rinjani hanya tertawa sedikit sinis terdengarnya.
“Sekarang begini deh, misalnya kamu dengan orang yang kamu suka itu. Siapa tuh namanya?” Kataku kemudian, dijawab dengan tepisan tangan Rinjani seolah mengatakan bahwa itu tidak perlu dibahas. Tapi aku tetap membahasnya, karena ini berhubungan dengan rasa penasaranku atas pernyataannya tadi.
“Aku tanya sekarang, contoh sepele, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa dia menolak ajakanmu? Sedangkan memintapun kamu tidak pernah”. Aku bertanya kepada Rinjani.
“Meminta??” Rinjani tersenyum sumbang. Cenderung sinis.
“Iya, meminta. Bukankah kamu harus memintanya lebih dulu baru tau ada penolakan atau tidak?” Rinjani tidak langsung menjawab. Melirik tajam ke arahku masih dengan senyum sinis khasnya. Lalu mengeluarkan tawa yang sungguh tidak enak di dengar.
“Jangankan meminta, bahkan bertanya pun aku tidak mau” Jawabnya.
“Yaa….minimal bertanya, mau nggak kamu ajak nongkrong misalnya. Sekedar bertanya saja kalau memang kamu tidak mau meminta”. Aku mendesaknya. Rinjani tertawa sangat keras, lalu bertanya,”Apa?? Bertanya?? Meminta??” Secara mendadak raut wajah Rinjani berubah, dingin dan keras.
“Tidak akan pernah. Aku tidak mau meminta, yang aku sudah tau bahwa aku tidak akan mendapatkannya. Aku tidak mau bertanya dengan sebuah pertanyaan yg aku tau jawabanya adalah tidak”.
Pernyataan panjang yang membuatku terdiam. Mencerna apa yang dia katakan. Kami sama-sama diam, aku tidak tau harus menjawab apa atau mengatakan apa. Akhirnya aku tenggelam dengan gadgetku sendiri. Dan kulirik Rinjani masih diam tak bergeming dari posisinya. Membuka kembali laptopnya, lalu menenggelamkan perhatiannya pada pekerjaannya. Sepertinya, percakapan ini tidak terlalu mempengaruhinya. Atau sudah sedemikian datar hatinya. Wajahnya seperti tidak berekspresi. Hanya kadang kulihat beberapa kali dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Aku mengambil gelas minumanku, menatap sekeliling tempat dimana kami berbincang. Sebuah cafe sederhana, dengan banyak kalimat qoute di seputar dindingnya. Lebih banyak bicara tentang kopi. Ku lihat banyak kursi yang masih kosong. Hanya satu atau dua rombongan yang asik bercanda. Cukup nyaman sebagai tempat yang senang keheningan. Terdengar musik yang mengalun pelan dari ruangan depan. Lagu yang sudah sering aku dengar. Dan tanpa sadar aku ikut bersenandung.
Tatapan mataku kembali menuju Rinjani. Yang masih dengan posisi sama. Heran, nggak capek apa kayak gitu terus. Aku mengurungkan niat bersuara, sepertinya dia sedang asik dengan pekerjaannya. Walau sebenarnya, banyak pertanyaan di otakku, tentang Rinjani, tentang pernyataan-pernyataannya. Tentang pola pikirnya. Tentang…..

Rinjani. Betapa aku mengaguminya. Wanita yang aku kenal sangat tegar dalam mengatasi hidupnya yang tidak selalu indah. Aku tau persis bagaimana dia melewati segala permasalahan hidupnya. Kegagalan cintanya berkali-kali. Mungkin itu yang membuatnya mengeraskan hati untuk tidak peduli lagi dengan yang namanya cinta. Hhhh…..tanpa sadar aku mengeluarkan desahanku. Rinjani menatapku dengan kening berkerut. Tanpa bicara dia menyingkirkan laptop dari hadapannya. Memperbaiki posisi duduknya. Lantas menatapku lama. Sungguh aku tidak tau apa yang ada dalam pikirannya.

“Karena aku sudah sangat tau bahwa dia tidak menginginkanku. Lalu, untuk apa sebuah pertanyaan dan permintaan sia-sia yang aku sudah tau jawabanya? Sehalus-halusnya bahasa penolakan, penolakan adalah penolakan. Sebaik-baiknya sebuah alasan, penolakan tetaplah penolakan. Jangan merendahkan diri sendiri deh”. Dengan tiba-tiba Rinjani menjelaskan, seolah tau bahwa dalam diamku ada pertanyaan itu di dalam kepalaku.

Begitulah Rinjani, harga dirinya terlalu tinggi untuk ditukar dengan sebuah penolakan.

…..tobe continued

~jeci~

[Bianglala Rinjani] Chapter 1 – Prolog

Bersyukurlah bila memiliki seseorang yang menginginkanmu selalu berada bersamanya. Yang bisa menerimamu apa adanya. Yang mau melakukan apapun untuk membuatmu tertawa dan yang mau mengasihimu apapun yang terjadi. Begitulah yang namanya sahabat.

     Adalah Rinjani, sahabatku, sosok wanita yang hidupnya keliatan santai. Easy going, praktis gak suka ribet, penggila kerja, sembarangan apa adanya. Untuk ukuran wanita, sangat tidak wanita banget kurasa. Tidak pernah pusing dengan make up, tidak suka belanja, lebih suka nongkrong di warung kopi berjam-jam bahkan sendirianpun tidak masalah. Mandiri? Tentu saja dia sangat mandiri. Paling tidak suka tergantung dengan orang lain, karena prinsipnya adalah, dia sendiri tidak suka bila orang lain tergantung sama dia. Kadang aku berpikir, jangan-jangan dia itu lelaki yang terjebak dalam tubuh wanita. Bagaimana tidak, pola pikirnya sangat jauh dari wanita kebanyakan, lebih banyak logikanya dari pada perasaannya. Malah mungkin perasaannya sudah mati kurasa. Eh kalau ini sih berlebihan. Tidak seperti itu juga, karena kadang dia masih bisa merasa sedih bahkan galau. Apalagi kalau lagi kumat jiwa kewanitaannya, bisa uring-uringan tanpa sebab atau sedih yang tidak jelas juga apa masalahnya.

     Tapi buatku, dia adalah sahabat yang unik. Fleksibel untuk urusan apapun. Partner sharing yang asik dalam segala hal. Kadang konyol, kadang bisa sangat serius. Aku mungkin satu-satunya orang yang paling dekat dengannya, setahuku, hanya aku yang mengetahui semuanya tentang dia. Dari hal paling remeh sampai yang paling berat tentang dia, aku mengetahuinya. Apakah dia pemilih? Oh tidak, dia tidak pernah memilih teman, yang aku tau dia memiliki banyak teman di segala penjuru. Tidak peduli profesinya apa dan seperti apa, dia selalu menyambut pertemanan dengan sangat terbuka. Hanya saja, untuk orang yang dia sebut sebagai sahabat, dia memang sangat memilih. Dia bukan tipe wanita yang mudah mengobral masalah pribadinya kepada sembarang orang. Hanya kepada orang yang dia percaya, dia bisa menceritakan tentang hidupnya. Sebaliknya, dia sangat tertutup untuk hal itu. Kecuali ada yang bertanya, dia akan menjawab apa adanya. Dia orang yang sangat terbuka, tidak suka berahasia apalagi drama, dia sangat membenci itu. Menurutnya, hidup kebanyakan drama itu bikin ribet sendiri. Itu salah satu yang aku suka dari Rinjani. Selama itu tidak merugikan orang lain, dia tidak peduli orang akan menilai dia bagaimana dan seperti apa. Satu hal lagi, dia sangat pandai menempatkan diri. Dia bisa sangat resmi, atau sebaliknya, bisa bertingkah bodoh dan banyak bercanda. Tergantung dia sedang berada dimana dan dengan siapa.
Paling menarik adalah kalau bicara tentang cinta dan hati, aku yang jadi sahabatnya saja sering tidak begitu paham dengan pola pikirnya untuk masalah itu.
“Makanya, kalau jatuh cinta tuh dari otak dulu, jangan langsung pake hati. At least, kalau proses cinta tidak mulus sesuai harapan, nggak kelamaan sakit hatinya” Katanya suatu kali. Konsep yang aneh menurutku.
“Pendekatan terus kamu, kapan jadiannya?” Rinjani pernah bertanya itu, ketika aku tidak juga kunjung mengikat wanita yang aku cintai.
“Namanya juga pendekatan sama cewek, pelan-pelanlah, biar nggak kabur kalau terlalu agresip” Jawabku waktu itu.
“Cewek itu, kelamaan pendekatannya juga bisa kabur. Hari gini cewek nggak butuh waktu lama buat diajak jadian, kalau dia juga tertarik sama kamu, begitu kamu ajak jadian pasti maulah”. Bantahnya. Tapi tentu saja aku tidak sependapat dengan Rinjani.
“Ya nggak bisa gitu dong, cewek kan biasanya butuh proses” Aku mendebat pendapatnya.
“Iya memang butuh proses, tapi nggak kelamaan juga kali broo. Kelamaan dapet kepastian, kesamber orang loh. Cewek sekarang tuh praktis, instan, menyesuaikan dengan era digitallah. Mana yang memberi kejelasan lebih dulu, itu yang diambil. Coba aja kalau nggak percaya”. Katanya lagi, tidak putus asa meyakinkan aku. Sial! Lama-lama kepikiran juga omongannya. Yang tadinya aku santai aja, jadi gelisah. Jangan-jangan bener yang dibilang Rinjani. Memang sering aneh, tapi sering bener juga.
Dan menyebalkan adalah ketika apa yang dikatakan Rinjani itu benar, baru saja aku berniat menyatakan keseriusanku, ternyata wanita yang sedang aku dekati itu sudah digandeng orang lain.
Pengen rasanya berteriak dan melempar bom pada Rinjani. Rinjani, kamu benar!!

Begitulah Rinjani. Kepedihan dan luka yang dia alami membuatnya terlalu banyak perhitungan, ukuran dan timbangan bila bicara soal hati.

……..tobe continued

~jeci~

Buat apa memeluk seseorang bila harus melepaskannya…

Kadang sebuah pelukan itu hanya memiliki arti tak lebih dari sekedar penghiburan dari, “Semuanya akan baik-baik saja, walau sebenarnya tidak”.

          Dalam sebuah diskusi yang panjang, akhirnya sebuah keputusan kami ambil. Kami harus menghentikan semua yang pernah kami jalani bersama. Jangan pertanyakan tentang cinta, karena kami berdua sama-sama tau bahwa cinta yang kami miliki sangat besar dan kuat. Tapi cinta itulah yang akhirnya memisahkan kami.
“Kamu yakin bisa melewati semua ini?” Tanyaku memecah kesunyian diantara kami.
“Masih perlukah ada pertanyaan itu? Kita berdua tau bahwa ini bukan soal yakin bisa atau tidak”.
Aku mendesah. Entah mengapa, walau keputusan itu sudah terjadi, tapi aku masih berharap hasil yang lain.
“Apa lagi yang bisa kita bahas? Tidak ada lagi karena semua sudah berakhir”. Katanya pelan.
“Iya memang, tapi apakah….”
“Sudah cukup! Jangan ada lagi harapan apapun” Dia memotong kalimatku tanpa ampun sambil mengibaskan tangannya. Akupun hanya mendesah, sekelebat rasa sakit dan marah bercampur menyesak dadaku.
“Itulah egoisnya kamu” kataku datar. Tak kusangka kalimat ini kembali menyulut pertengkaran.
“Aku? Egois? Bukankah kamu yang menghendaki ini? Kenapa aku jadi yang egois?” Balasnya setengah menahan emosi. Aku sebentar terdiam. Mencoba memilih kalimat yang tepat agar nada tinggi diantara kami meluruh.
“Bukan aku. Tapi keinginanmulah yang membuatku harus memutuskan ini”. Aku melihat bola bening mulai meluncur keluar dari bola matanya. Bola mata bening dan indah yang sangat aku sukai. Dan aku sudah membuatnya basah oleh air mata. Aku menggenggam jemarinya yang sedari tadi sibuk meremas tissue. Aku berkata pelan, “Sayang, bila kamu tegar dengan keputusan ini, seharusnya kamu tidak menangis”.
“Adakah orang paling ego diantara kita sehingga harus memutuskan perpisahan hanya karena saling mencintai?” Aku terhenyak dengan kalimat yang dia luncurkan.
“Kamu tahu betul yang aku inginkan. Keinginanku sangat sederhana, melupakan kesalahanku dan kita bisa memulai semuanya dari awal. Itu saja”. Perlahan aku mengusap air matanya dan menyibak helai rambut yang menutupi wajahnya.
“Sederhana?! Sederhana menurutmu, tapi melupakan kesalahanmu itu hal besar menurutku. Dan kamu juga tahu betul bahwa aku tidak bisa!” Nada suaranya kembali meninggi. Aku memperbaiki posisi dudukku, mulai gelisah. Memandangnya perih. Kembali aku merutuk diriku sendiri atas kesalahan yang pernah aku buat. Menurutku, itu hanya kesalahan kecil. Menurutku.
Kejadian itupun sudah lama, aku pikir tidak akan ada masalah. Aku sangat mencintainya, dia tau itu. Aku hanya sedikit memberi perhatian pada seseorang. Ya….mmm wanita. Aku menganggapnya hanya teman dekat. Seorang teman yang membuatku nyaman setiap bersamanya. Memang sih, hal itu membuat aku lebih asik pergi bersamanya. Tapi bukan berarti aku mencintainya. Cintaku hanya untuk kekasihku. Hal yang tidak kusadari adalah, bahwa kedekatanku itu berujung pada rasa jatuh cinta teman wanitaku ini kepadaku. Aku baru tau setelah mulai ada yang janggal, kecemburuan-kecemburuan kecilnya ketika aku tidak bisa pergi bersamanya karena aku harus menemani kekasihku. Awalnya aku anggap semua itu hanya bercanda. Aku biasa saja menanggapinya bahkan kadang aku ceritakan hal yang aku anggap konyol ini kepada kekasihku. Dia juga biasa saja menanggapinya. Tapi aku ingat, dia pernah berkata,”Hati-hatilah…kasian kalau dia jatuh cinta beneran sama kamu”.
Saat itu, aku hanya tertawa mendengar perkataan kekasihku itu. Dan aku jawab,”Ya gak mungkinlah, kan aku sudah punya kamu. Cintaku kan cuma buat kamu”. Disambut renyah tertawanya sambil meninju pelan perutku,”Aih bisa gombal juga kami. Eh tapi ini serius loh. Hati-hati. Kalau kamu ga mencintai dia, ya jangan bikin dia jatuh cintalah”.
Buatku, kata-katanya ini gak masuk akal. Kenapa dia jadi seserius ini menanggapinya.
Tapi tidak lama kemudian, aku mulai menyadari bahwa yang dia katakan ada benarnya. Teman dekatku ini mulai semakin nyata menampakkan perhatiannya. Bahkan sepertinya berlebihan. Lebih dari perhatian kekasihku sendiri. Waktu itu, aku tidak ambil pusing dengan peringatan kekasihku. Toh aku tidak selingkuh. Aku hanya menikmati perhatian dari teman dekatku ini.
Apanya yang salah? Menurutku waktu itu.
Semuanya mengalir, sampai aku mulai gelisah sendiri. Karena semuanya jadi serba ribet. Aku jadi selalu mematikan telpon genggamku setiap kali aku jalan dengan kekasihku. Hanya karena tidak mau ribut dengan kekasihku. Iya. Ribut. Karena seringkali temanku ini tiba2 telpon dan bicara hal-hal tidak penting ketika aku sedang bersama kekasihku. Atau chat yang tidak pernah berhenti sehingga membuatku sibuk membalas chatnya padahal aku sedang quality time dengan kekasihku. Akhirnya, kekasihku mulai terganggu. Dan akupun.
Tapi entahlah, mengapa aku tidak bisa tegas menjauhi teman dekatku ini. Dia baik sekali. Rasanya aku tidak tega. Aku tidak memutuskan untuk menghindar, tapi malah seringnya jadi sembunyi-sembunyi dari kekasihku,tidak lagi bisa santai dan cuek seperti biasanya. Itu bukan karena aku merasa berbuat salah, cuma males ribut. Ya karena menurutku memang aku tidak salah.
Yang terjadi adalah teman dekatku ini lagi pengen curhat atas masalah-masalahnya, dan dia merasa nyaman curhat sama aku. Jadi apa salahnya kalau aku menjadi teman curhatnya? Lalu, dia sering tidak punya teman jalan, dan aku sering juga pengen keluar jalan tapi lagi ga ada temen, pas kekasihku juga sedang sibuk. Ya sudah, apa salahnya kalau kami sekedar nongkrong dan ngobrol gitu. Dimana salahnya coba? Mengingat itu semua, bikin aku emosi dengan keputusan ini. Kekasihku tidak bisa menerima apa yang aku lakukan. Sementara menurutku, aku tidak melakukan kesalahan.
Kenapa wanita sensitif dan rumit banget sih. Aku menggeram. Gemas, jengkel, sedih…entah apalagi rasanya. Begitu keras kepalanya wanita yang aku cintai ini.
Aku menatapnya dengan segenap kepedihan dan penyesalan. Ini adalah pertemuan terakhir kami. Dan untuk yang terakhir kali aku memohon,”Haruskah kita menyudahi semuanya? Bukankah kau mencintaiku?”
“Aku sangat mencintaimu. Tapi sepertinya memang tidak ada yang bisa dipertahankan. Bagaimana aku bisa memaafkanmu? Bahkan kamu tidak merasa semua yang kamu lakukan itu adalah sebuah kesalahan”.
“Okee…oke….aku bersalah. Maafkan aku”.
“Terlambat. Buat apa kamu minta maaf kalau itu hanya karena aku yang memintanya. Berarti sebenarnya, kamu tetap tidak merasa itu salah kan? Kamu tidak pernah mengerti dimana letak kesalahanmu”.
Aku lagi-lagi hanya mendesah panjang. Harus beginikah endingnya? Dalam hati kecilku, ada pergolakan antara sangat menyesal juga sangat marah, kecewa dan sangat sedih. Aku tidak pernah menyangka kalau hal yang menurutku sederhana itu, akhirnya membuat aku harus kehilangan orang yang aku cintai dengan cara seperti ini. Aku sangat menyesal.
“Bukankah sudah aku jelaskan panjang lebar kenyataannya bagaimana? Aku harus menjelaskan seperti apa lagi?”. Aku mulai putus asa.
“Tidak ada. Dan tidak perlu lagi. Semuanya sudah cukup jelas. Bukankah tadi kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan kita? Jadi untuk apa lagi kita berdebat. Aku mau pulang”.
Dia berdiri dari tempat duduknya. Membereskan tasnya dan beranjak pergi.
“Sudah? Begini saja selesainya?” Aku meraih tangannya ketika dia berjalan melewatiku. Dia berhenti dan hanya memandangku lekat. Aku melihat lagi butiran airmata yang siap jatuh.
“Aku sangat mencintaimu”. Hanya itu yang mampu aku ucapkan dengan nada bergetar. Menahan semua gejolak dalam dadaku. Sekian detik aku menunggu reaksinya. Dadaku berdebar sangat kencang. Kugenggam erat jemarinya, seperti tak ingin ku lepas. Pelan dia melepaskan genggamanku, lalu memelukku erat. Sangat erat.
“Selamat tinggal. Jaga dirimu baik-baik”. Ucapnya perlahan disela isak tangisnya. Dan dia berlalu meninggalkan aku yang berdiri terpaku, tanpa sempat mengatakan sepatah katapun.
“Buat apa pelukan ini, kalau akhirnya hanya untuk kau lepaskan”. Lirih aku berucap, tapi tak pernah didengarnya.

Sebuah pelukan dalam pertemuan itu menyenangkan. Terlebih bila kita merasa sangat merindukannya. Entah itu teman, sahabat, keluarga atau siapapun, bahkan pasangan. Hal yang menyedihkan itu adalah sebuah pelukan yang menandakan perpisahan. Perpisahan karena jarak tempat. Atau perpisahan untuk hati yang harus berjarak.
Karena pelukan tidak selamanya berarti kebahagiaan. Kadang pelukan itu tak lebih dari sekedar penghiburan dari, “Semuanya akan baik-baik saja, walau sebenarnya tidak”.

Oktober 2015

~Jeci Gracietta~

Never Play The Game Without Knowing The Rules

“Kamu bermain-main tanpa mengerti aturan permainannya, akhirnya nyesel sendiri. Jadi, jangan pernah mencoba memasuki arena permainan tanpa kamu ngerti bagaimana aturan mainnya” Don’t play the game without knowing the rules,dude!

Pohon rindang dimana aku sedang duduk dibawahnya, bergoyang ranting dan daunnya tertiup angin. Meniupkan serpihan rambut yang sedikit menutupi wajahku. Kepenatan seharian ini seperti ikut berhembus sirna. Sangat menenangkan, duduk menghadap lapangan rumput yang luas. Tidak banyak orang berlalu lalang yang mengganggu kesenanganku menikmati senja disini. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, sebuah pesan di whatsapp datang dari dia yang beberapa hari ini intens berkomunikasi denganku. Aku menatap layar handphone sambil tersenyum sebelum membukanya.

“Nonton yuk, ada film bagus nih”
“Boleh aja,ketemu disana? Atau gimana?”
“Ketemuan disana aja deh dari pada ribet”
“Okay”
Aku hanya punya sedikit waktu lagi sebelum malam datang melepaskan senja yang indah ini. Dan akupun beranjak pergi memenuhi ajakan nonton film malam ini.

Aku melihat jam di pergelangan tanganku, sepertinya aku kecepetan datang, karena masih panjang waktu film yang kami inginkan. Tidak masalah buatku, karena aku masih bisa duduk di cafe sebelah dan menikmati hot chocolate kesukaanku. Tanpa aku sadari, senyum tipis menghiasi wajahku ketika mengingat kedekatanku yang tiba-tiba dengannya. Sering bertemu, tanpa pernah berccakap-cakap dalam waktu yang lama. Hanya saling menyapa dan kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sampai pada suatu hari, kami bertemu tanpa sengaja yang membuat kami saling bercerita panjang dan seru. Sejak itu, dimulailah intensitas komunikasi kami. Dari obrolan tidak jelas sampai yang mendekati serius. Saat itu, aku hanya berpikir, sepertinya dia salah orang yang akan di dekati. Karena dia belum mengetahui banyak tentang aku. Dan tidak pernah tau bahwa terlalu banyak kerumitan dalam kepalaku dalam sebuah hubungan. Settingan mindset, peraturan hati dan sejenisnya. Tidak. Dia tidak akan pernah tau dengan kesederhanaan berpikirnya.
Mau bermain?? Seharusnya dia ketahui dulu dengan siapa dia akan bermain. Juga harus mengetahui dulu peraturannya.
Aku mencoba menjelaskan dengan samar, tapi sepertinya, itu malah membuatnya makin penasaran. Baiklah. Mari kita bermain. Aku ikuti dulu permainanmu.

Lamunanku berhenti ketika melihat seseorang sibuk mencari-cari. Aku lambaikan tanganku,dia menghampiri dengan tersenyum dan menjabat tanganku seperti biasa.

“Udah lama nunggu?”
“Nggak juga, hot chocolateku belum habis kok” Aku tertawa. Tidak lama kami fokus dengan film yang kami tonton.

Setelah selesai, sepertinya aku tidak ingin segera pulang. Sayang rasanya bertemu cuma sebentar.
“Laper gak? Makan dulu yuk?” Kami sepakat memakai satu kendaraan supaya gampang. Sepanjang perjalanan, percakapan kami tidak pernah berhenti. Ada saja yang kami perbincangkan. Okee…..ini akan jadi hal yang tidak aku suka, karena aku bisa benar-benar jatuhcinta. Jangan sampai pakai hati ya….ini biasa aja kokk. Aku menghibur diriku.
Sambil menunggu pesanan makanan kami, masih ada saja tema yang kami obrolkan. Dia lebih banyak bertanya tentang diriku, hidupku, cerita cintaku bahkan hatiku. Aku bercerita sebatas yang dia perlu tahu saja. Karena aku harus percaya dulu dengan siapa aku akan bercerita. Tidak semudah itu orang bisa menggali tentang aku yang sesungguhnya. Tapi entah kenapa, dia seperti punya daya tarik sendiri, mampu membuka perlahan dinding yang aku bangun sangat tebal selama ini. Aku bisa santai menceritakan banyak hal. Tentang segala luka yang pernah ada, tentang banyak kegagalan dalam perjalanan cintaku. Dan banyak hal lainnya.

“Kamu sadar nggak kalau kamu sudah mencari perkara sama aku” Tanyaku tiba-tiba saat kami sibuk dengan makanan kami masing-masing.
“Kok cari perkara sih? Emang aku salah apa?”
“Nggak ada, cuma kamu berani-beraninya bertanya tentang aku seperti itu”
Dia tertawa,”Loh, aku tuh penasaran sama kamu”
“Kenapa? Emang apa yang membuatmu penasaran?”
“Ya apa ya. Kamu tu menarik. Cerita sama kamu tu menyenangkan. Banyak hal yang aku baru tau tentang sesuatu. Dan prinsip-prinsipmu dalam menyikapi hidup itu seperti tidak biasa. Ya seru aja. Jadi aku penasaran”.
“Oooo…jadi cuma penasaran ya hmmm”
“Eh emang salah ya kalau aku penasaran?”
“Nggak. Cuma bahaya. Nanti kalau aku jatuh cinta gimana?” Aku mengatakan itu dengan nada bercanda.
“Wah jangan dong. Nyaman aja boleh. Kan kamu bilang, jangan terlalu pakai hati, nanti sakit” Sial!! Dia mengembalikan pernyataanku. Fine!!
“Emang kamu nyaman sama aku?”
“Iya, aku nyaman sama kamu. Eh…kamu nggak pengan menjalin hubungan lagi dengan orang lain? Masih bisa jatuh cinta kan?” Pertanyaannya yang tiba-tiba seperti menohokku. Untuk menjawab ini, aku butuh waktu diam beberapa menit. Tidak spontan seperti biasanya. Apa yang harus aku jawab? Aku sendiri tidak tau pasti apa jawabannya.
“Kalau bilang nggak pengen, kok kayaknya aku menipu diri sendiri ya. Tentulah aku pengen juga. Tapi gimana, kalau emang belum ada?”
“Belum ada yang bisa bikin kamu jatuh cinta lagi?”
“Bisa jadi”
“Kamu kok rumit ya kayaknya”
“Tergantung. Emang agak rumit sih kalau soal hati” Aku tertawa sendiri.
“Atau kamu susah buat jatuh cinta lagi?”
“Sebenernya, aku tu mudah kok jatuh cinta. Yang sulit menemukan orang yang bikin aku mudah jatuh cinta itu” Jawabanku sepertinya agak rumit buat dia. Aku lihat, dia seperti berpikir, mungkin mencerna maksudku itu.
“Kamu menutup hati banget mungkin”
“Ah nggak juga, hatiku selalu terbuka lebar kok. Tapi belum ada aja yang benar-benar ingin masuk. Biasanya ya cuma kayak kamu gini”
“Kayak aku gimana sih?”
“Ya kayak kamu gini, cuma iseng, coba-coba, ibaratnya, cuma ngintip-ngintip dalam hatiku. Baru mau nyentuh hatiku eh udah pergi lagi dengan alasan beda-beda”
“Wah kamu ini. Bahasamu rumit kali kaaaak” Dia tertawa dan menepukku sangat keras.
“Woy! Sakit tau” Aku meringis.
“Halah cuma segitu doang, sakit mana dengan ditinggalin sama orang yang dicintai?” Sindirnya tajam. Lalu kami tertawa keras.
“Kalau gitu, tepuk lagi yang keras deh, gak papa sakit digebuk kamu daripada ditinggalin kamu” Buseet!! Kata-kata menjijikkan itu keluar begitu saja. Tapi aku bercanda sebenernya.
“Emang kamu mencintai aku? Sembarangan ngomong deh” Jawabannya juga sembarangan.
“Ya nggaklah kalau cinta sama kamu. Nyaman aja cukup. Justru itu bahayanya. Cinta itu nggak penting. Justru yang paling berbahaya itu rasa nyaman”.
“Masak sih?”
“Iya loh, cinta itu belum tentu bikin nyaman, tapi kalau awalnya udah nyaman, seketika itu juga bisa jatuh cinta. Makanya, jangan deket-deket, nanti aku jatuh cinta” Mendengar ini, dia langsung menolehku dengan ekspresi yang menunjukkan keheranan.
“Mau deket-deket terus aaah biar kamu jatuh cinta” Dia menggodaku. Aku tau ini hanya bercanda. Akupun tidak menanggapi serius.
“Udah ah, yok pulang. Kelamaan disini sampe warungnya udah mau tutup tuh” Aku membelokkan tema dengan sangat mulus, karena memang aku lihat pengunjung di tempat makan ini sudah mulai sepi. Tertolong deh,jadi bisa menghindar dengan indah hehhehe
Sepanjang perjalanan pulang, kami masih bercakap-cakap dengan banyak tema. Sepertinya, tidak ingin segera mengakhiri malam ini. Sigh.

Malamku mulai terganggu. Tidak lagi seperti biasanya, tanpa memikirkan siapapun, bisa langsung tidur. Aku mulai merasakan kegelisahan dalam hatiku. Aku berusaha membantahnya. Aku sangat mengenal dengan perasaan ini. Sebuah perasaan yang sudah sangat lama aku matikan. Sungguh aku tidak menginginkan perasaan ini kembali lagi. Dia sudah mengusik ketenanganku. Dia tidak akan menyadari perbuatannya. Sesederhana itulah cara untuk membuatku jatuh cinta.

Tidak butuh waktu lama untukku jatuh cinta. Jatuh cintaku tidak perlu banyak proses. Sesederhana dia meluangkan waktunya untuk bercakap-cakap denganku. Sesederhana perhatiannya atas cerita-ceritaku. Hanya dengan cara yang sederhana.
Aku tidak pernah berharap lebih atas seseorang. Cukup aku merasakannya sendiri. Jatuh cinta ini hanya milikku. Bahkan aku harusnya berterimakasih kepadanya yang membantuku menemukan perasaan ini kembali. Artinya, hatiku belum membatu. Masih bisa jatuh cinta.

Hari kesekian.
Berawal dari percakapan biasa di whatsapp. Dia tiba-tiba meminta maaf atas percakapan di malam itu.
“Kenapa harus minta maaf?”
“Ya aku merasa berlebihan. Aku udah punya pacar. Jadi kayaknya kita nggak bisa deket-deket lagi”
Aku tercenung sejenak menatap layar handphone yang terpampang chat nya. Hmmm…..perasaanku mulai nggak enak. Kenapa harus ada pernyataan itu? Kenapa tidak bisa biasa aja. Enjoy aja. Toh aku tidak pernah berharap banyak.
“Aku takut nanti kebablasan. Aku takut dengan diriku sendiri kalau jadi gak kontrol lagi. Aku harus menjaga peraaan orang yang bersamaku” Whatsappnya datang lagi sebelum aku sempat membalasnya. Aku mendesah. Harus jawab apa coba. Berkali-kali aku mengetik, delete lagi, mengetik lagi, delete lagi. Begitu terus.
“Sudahlah. Biasa aja sih. Aku tau kok kamu udah punya pacar. Kan aku juga bilang kalau aku gak butuh sesuatu yang serius. Sekedar kita bisa ngobrol dan ketemu aja udah asik kok” Akhirnya aku memilih itu yang aku anggap sebagai kalimat yang pas menanggapi whatsappnya.
“Iya sih, tapi aku juga takut kalau kamu kebablasan perasaanmu. Kalau nanti kamu pake hati beneran gimana. Mending nggak usah diterusin aja ya”.
“Okay. As by request”.
Done. Aku menekan tombol off dalam hatiku. When i’m done. I’m Done. Itu prinsipku.
Aku tidak membalasnya lagi. Buatku, pernyataannya itu menyudahi semuanya. Ada rasa tersinggung dan jatuh harga diriku. Susah dijelaskan. Yang pasti, harga diriku terusik.
Belum selesai aku menenangkan hati dan pikiranku, dia sudah mengirim pesan kembali di whastappku.
“Kamu dimana? ketemuan yuk dimana gitu”
Aku tersenyum. Ini apa sih maksudnya……
“Oke, sebentar lagi ya”

Akhirnya, pertemuan itu terjadi kembali. Aku membiarkan dia menemukan jawaban atas rasa penasarannya. Aku memberikan apa yang dia inginkan. Walau aku tau, ini sedikit menggores hatiku. Tidak apa-apa. Aku juga ingin tau, sejauh mana rasa penasaraannya atas diriku. Dan aku juga sangat tahu, bahwa setelah ini dia akan menyatakan penyesalannya kembali. Dan akan menyudahi kembali. Lets play the game,dude!

“Thanks for tonight. Aku bingung. Sepertinya ini akan jadi yang pertama dan terakhir. Entahlah, kok aku seperti ini. Galau nih”

Sebaris kalimat di whatsapp dari dia setelah pertemuan. Seperti dugaanku. See?? Benar kan?? Dan aku hanya menjawab simple.

“It’s Okay. Aku udah tau kok. Kalau kamu cuma penasaran”
“Sepertinya sih iya, aku cuma penasaran. Dan kalau masih penasaran tuh rasanya belum puas. Padahal kalau udah ketemu jawabannya, ya udah. Gitu aja”
“Iya, aku tau. Semoga malam ini semuanya menjawab rasa penasaranmu”.
“Sudah”.
“Puas kan? Udah nggak penasaran lagi kan?”
“Maaf ya. Kok rasanya aku jadi nyesel. Kenapa jadi gini”
“Nggak perlu minta maaf. Bukan salahmu. Aku yang memberi peluang untuk kamu masuk dan menuntaskan rasa penasaranmu”
Lalu dia bercerita banyak hal tentang rencana besarnya dengan yang bersamanya sekarang. Dan berulang kali minta maaf. Hanya sebaris kalimat yang aku berikan atas permintaan maafnya.
“Never Play The Game Without Knowing The Rules”.
“Maksudnya apa itu?”
“Ya seperti itu, kamu bermain-main tanpa mengerti aturan permainannya, akhirnya nyesel sendiri. Jadi, jangan pernah mencoba memasuki arena permainan tanpa kamu ngerti bagaimana aturan mainnya. Paham kan?”
“Oh….mmm iya. Maaf ya. Are you okay?”
“I’m Okay. Its okay to be not okay” Diakhiri dengan emoticon smile.

I Ussually give people CHANCES than they deserve. Once i’m done, I’m DONE!!

——–

Hanya sebuah cerita pendek yang sangat pendek. Terinspirasi dari curhatan seorang tokoh yang tidak bisa disebutkan namanya 🙂

Shaloom

~jeci~

#13HariNgeblogFF [8] Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

kadang,untuk bisa merasakan cinta yang sesungguhnya dengan menurunkan kadar ego

“Ntar malem jadi kan ngumpul?” Rinjani belum menjawab pesan dari Andi yang mempertanyakan kepastian acara nanti malam.

Bukan tidak mau menjawab,hanya bingung mau jawab gimana. Agenda ngumpul malam nanti itu ide dari Samudra minggu lalu,bukan sebuah acara resmi,cuma pengen nongkrong bareng rame-rame dengan temen-temen circle mereka.
Walau agendanya tidak terlalu penting,tapi biasanya,kalo ajakan ngumpul itu dari Rinjani atau Samudra, pasti semua bersemangat mencari waktu yang pas biar bisa dateng.Tapi gimana ini.

Rinjani hanya memandang pesan di HP nya itu dengan tatapan kosong. Gimana aku harus ngomong,sementara Samudra aja entah gimana kepastiannya. Rinjani mendesah.

“Coba kamu sms Samudra deh,kalo dia jadi,ya sudah ayo,tentukan tempatnya” Akhirnya Rinjani menemukan kalimat paling pas untuk menjawab pesan Andi.

“Yaah..kenapa aku yang harus nanya,bukannya kalian yang ngajakin kita ngumpul…gimana sih”

 Duh….gak mungkin kan aku harus bilang sama Andi kalo lagi ribut sama Samudra. Rinjani mulai resah.

“Udahlah gak usah mbantah,sana buruan sms Samudra,ntar ngabarin ya” balas Rinjani tanpa kompromi.

Rinjani gelisah menunggu kabar dari Andi. Seminggu setelah pertengkaran di penginapan lalu,tidak ada komunikasi diantara Rinjani dan Samudra. Rinjani bertahan untuk tidak menghubungi lebih dulu. Selain gengsi,sepertinya itu cukup untuk menjagai hatinya agar tidak lebih terluka lagi. Setiap kali ingin menulis pesan,delete lagi,menulis,delete lagi. Malas rasanya harus selalu bertengkar.
Rinjani menggenggam erat HP seolah-olah Samudra ada disitu. Berulang kali matanya tertuju ke layar HP. Berharap ada pesan yang menyenangkan.

Ah ya sudahlah,kalau memang tidak ada kabar dari Samudra,berarti agenda nanti malam dibatalkan saja. Rinjani mulai mengambil keputusan. Perhatiannya kembali fokus pada pekerjaan di layar komputernya. Untuk sesaat, Rinjani berhasil mengesampingkan pikirannya tentang Samudra.

Masih belum ada berita apa-apa sampai menjelang sore. Biasanya, Rinjani tidak terlalu buru-buru untuk pulang. Tapi kali ini sepertinya semangatnya bekerja menguap. Diapun mulai berkemas. Menutup semua file yang terbuka di komputernya. Membereskan meja kerjanya. Dan siap-siap untuk pulang.

“Tumben beberes cepet” Indah yang juga sedang berkemas meledeknya. Rinjani hanya tersenyum tanpa suara.
“Heh! Lagi kesambet ya…biasanya cerewet,ngapain sih kamu beberapa hari ini kayak salah makan gitu. Dieeeem aja” Indah mulai mengintrograsi.

“Emang kenapa?Biasa ajalah”
“Dih….jawabanmu itu aja gak biasa,apanya yang biasa” Indah merasa gak puas dengan jawaban Rinjani yang terdengar malas-malasan.
“Cuma lagi males aja. Mumet gak punya duit” Rinjani tertawa sambil berdiri dan melangkah keluar ruangan kerjanya. Masih sempat dia dengar teriakan Indah.

” Halaaah paling ribut lagi kan sama Samudra”.

Brengsek ah. Indah memang selalu iseng. Rinjani senyum-senyum sendiri sambil menuntun sepeda motornya keluar parkiran.
Okay,jadi ini aku harus kemana?pulang?atau…..aaaah coba kalo gak lagi ribut sama Samudra,pasti udah bikin janji.
Opss….!! Rinjani menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Seolah membantah apa yang sedang dipikirnya.

Tiba-tiba dia menepi dan berhenti. Sudah tidak bisa lagi menahan keinginan untuk menghubungi Samudra. Pelan-pelan dia keluarkan HP dan mulai mengetik sebuah pesan. Pesan sudah siap dikirim. Tapi Rinjani masih termangu. Delete. Rinjani mengurungkan niatnya dan memasukkan kembali handphonenya kedalam tas.

Enggak deh kalo aku harus menghubunginya. Kan dia yang bikin masalah. Dia aja gak mikirin aku,kenapa aku masih mikirin dia. Kali ini pertengkaran terjadi di otak dan hati Rinjani. Antara gengsi menghubungi duluan,dan sangat ingin tau tentang Samudra.
Dan Rinjani memantapkan untuk tidak akan menghubungi Samudra lebih dulu. Siapa tau Samudra butuh sesuatu lantas akan menghubunginya. Ternyata,Rinjani tidak bisa menolak kata hatinya,masih berharap Samudra mengajaknya bertemu.

Rinjani seperti enggan mau pulang,ketika dilihatnya sebuah tempat ngopi disisi jalan,dia membelokkan motornya dan segera mencari tempat yang tepat untuk menikmati kegelisahannya dengan secangkir cokelat panas.

Cangkir berisi cokelat panas itu tidak segera dia minum. Pandangan Rinjani kosong sambil memegang cangkir itu dengan kedua telapak tangannya. Pikirannya melayang kemana-mana,dengan satu tokoh: Samudra.

Suara Jessie J dari handphonenya membuyarkan lamunannya. Segera dia angkat tanpa melihat nama yang muncul.

“Ya? Oke” Rinjani menutup percakapan dengan senyum dibibir setelah menyebutkan keberadaannya.
Tidak lama,seorang laki-laki,tidak terlalu tampan tapi menarik. Duduk dihadapannya.

“Maaf,masih merepotkanmu,bisa bantu kan??” Rinjani tersenyum. Untuk seorang Samudra,apa sih yang enggak.
“Iya,nanti aku bantu. Kirim ke emailku aja apa yang kamu butuhkan,besok aku cariin” sambut Rinjani menanggapi permintaan Samudra untuk menyediakan kebutuhan pesta kejutan ulangtahun Cahaya. Kekasih Samudra.

#13HariNgeblogFF hari ke-8

#13HariNgeblogFF [7] Cintaku Mentok di Kamu

Hanya ada kamu dan aku,tidak pernah menjadi kita

Plaaakkk!!!!
Sebuah tamparan keras dari Rinjani mendarat di pipi Samudra. Sesaat setelah kalimat,” Maaf,aku memilih untuk melukaimu ” keluar dari bibirnya. Sementara Rinjani,gemetar menahan amarah. Guratan di wajahnya mengeras,sorot matanya nanar. Tidak ada airmata.
Setelah itu mereka terdiam. Sunyi. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Suara bising kendaraan terdengar sangat kencang di depan mereka. Rinjani terpaku memandang kedepan. Seolah tiba-tiba tak ada makhluk lain disitu kecuali mereka. Setelah tersadar dari lamunanya,Rinjani mencoba menatap wajah Samudra yang tertunduk dihadapannya. Berusaha mencari jawaban dari kedua bola mata Samudra. Tapi tidak berhasil karena tidak sedetikpun Samudra menegakkan kepalanya. Hanya sebatang rokok ditangan yang bisa menggambarkan kegelisahannya.
Mungkin lebih setengah jam mereka sama-sama berdiam diri. Duduk berhadapan di teras penginapan tempat mereka menemani tamu dari Jakarta berlibur di Kaliurang.
Sampai kemudian terdengar suara Randu dan Ranting dari ruangan sebelah.

“Eh…kalian,kami pergi dulu ya” Keliatan sekali Randu kikuk melihat Rinjani dan Samudra dalam posisi seperti ini. Samudra tidak bergeming, hanya Rinjani yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka. Selanjutnya,pandangan Rinjani beralih ke laki-laki di depannya yang masih dengan posisi yang sama.

“Lalu,menurutmu,apa yang lebih pantas aku lakukan?” Tanya Rinjani memecah kesunyian. Belum ada jawaban,kecuali gelengan kepala Samudra. Dia memperbaiki posisi duduk. Kali ini bersandar dengan menengadahkan kepalanya,seolah menahan airmata yang akan jatuh.

“Aku tidak mungkin memilihmu” Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar. Lirih.
“Tapi aku tidak akan meninggalkanmu” lanjutnya.
“Lalu??”
“Entahlah,aku bingung. Aku hanya ingin punya seseorang yang bisa disebut pacar. Tapi itu bukan kamu” katanya kemudian.

Airmata yang dengan susah payah di tahan akhirnya mengalir deras. Rinjani menangis sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sementara Samudra semakin jengah. Tidak bisa menutupi kegelisahannya.

Tiin!! Tiiinn!!!
Tiba-tiba suara klakson mobil yang dikendarai Randu memecah kebekuan diantara mereka. Rinjani segera mengusap airmatanya dengan tissue dan mengatur emosi supaya terlihat oleh mereka tidak terjadi apa-apa. Ini adalah masalah Rinjani dan Samudra. Tak boleh siapapun yang mengetahuinya.

“Haii…kalian,ya ampuuun….masih disitu aja. Bantuin dong” teriak Randu dari dalam mobil. Disambut suara Ranting yang cempreng ikutan ngomel,”Iya nih,bukannya bantuin angkat2 kek,malah kayak patung aja kalian bedua disitu. Buruan sini”

Tidak ada waktu buat Rinjani dan Samudra meneruskan pembicaraan itu lagi. Buru-buru membaur bersama Randu dan Ranting,ikutan sibuk mengeluarkan belanjaan dari dalam mobil.

Ini bukan liburan Rinjani,tapi Rinjani hanya menemani kedua temannya dari Jakarta itu dengan menyewa sebuah penginapan di wilayah Kaliurang. Dan Samudra ikut bersama Rinjani,tapi akhirnya,justru dia yang lebih sering sibuk membantu teman-teman Rinjani ketika mereka butuh bantuan selama liburan disini. Itulah mengapa,Rinjani selalu mengajak Samudra setiap kali dia mempunyai acara diluar pekerjaannya. Karena Samudra sangat friendly dengan siapa saja walau sebelumnya tidak dia kenal.

Selama dua hari di Kaliurang,Rinjani dan Samudra tidak lagi membahas apapun,selain karena tidak ada kesempatan juga tidak ingin merusak suasana liburan Randu dan Ranting.  Rinjani sangat menyesal,pertengkaran ini terjadi di waktu yang sangat tidak tepat.

Percakapan tentang Samudra dan Rinjani terhenti. Seperti juga cinta Rinjani yang mentok,hanya kepada Samudra.