Lifestyle

Mendingan Mikir Mau Masak Apa, Daripada Mikir Mau Makan Apa.


Beberapa waktu lalu, di sosial media ku rame banget postingan tentang, bisa dapet apa dengan uang seratus ribu? Banyak yang menanggapi positip dengan mengatakan “Ya dapet banyaklah, masih bisa dapet bayem, kangkung dll”. Yang sinis juga banyak.

Menurutku, dapet banyak atau gak dapet apa-apa itu ya tergantung kita membelanjakan uang itu dimana dan untuk apa. Misalnya, belanja sayuran tapi di supermarket, ya dapet dikit. Atau belanjanya untuk minyak 2 liter, bawang merah+putih masing- masing sekilo, kentang sekilo, beras 2kg, gula pasir sekilo, atau sembako yang lainnya masing-masing sekilo…ya iyalaaah cuma
dapet itu doang. Jatah beli sembako sama belanja harian harus dibedakan dong.

Jatahku belanja sayur mingguan adalah Rp 100.000,-

Selama aku tinggal di Jakarta, aku jadi bisa mengukur berapa belanja harianku. Belanja harian, artinya itu pengeluaran tetap sehari-hari yang gak jauh-jauh dari makan. Karena aku paling males kalau waktunya makan tapi masih pusing mikir “Mau makan apa, beli dimana”. Mending aku mikir, “Mau masak apa”. Dengan fasilitas dapur di kost, walau sederhana tapi cukuplah buat masak sehari-hari . Jadi, aku memilih repot masak dulu sebelum berangkat kerja, daripada sudah di kantor lalu nahan laper hanya karena ga tau mau makan apa.

Nah karena lebih seneng masak sendiri, jadi awal di kost, searchinglah aku tempat belanja sayuran. Akhirnya, aku menemukan bapak tukang sayur ga jauh dari kost, bahkan ada juga pasar yang pake jalan kaki doang juga nyampe.
Sebulan 2x aku ke pasar sayur, kusus beli yang jarang ada di tukang sayur, misalnya daging, telur, ikan dll. Soalnya kalau keseringan ke pasar, bisa over budget, apa aja pengen dibeli karena banyak pilihan hohoho
Demi menjaga pola dari hidup boros, aku siasati dengan selang seling ke tukang sayur. Dengan pilihan sayur yang terbatas, kalau di tukang sayur bisa lebih hemat. Karena aku cuma sempet belanja tiap weekend, jadi aku belanja sekalian banyak buat masak seminggu. Budgetnya? Seratus ribu rupiah.

Dengan jatah seratus ribu rupiah, aku sudah kalap liat banyak sayuran yang bisa aku beli. Biasanya, aku pasti beli bayem, kangkung, sawi putih atau caisin, labu siam, kacang panjang, tempe+tahu, terong dan bumbu-bumbu dapur yang dirasa stok udah mau habis. Paling selang seling dengan sayuran yang kebetulan pas lagi ada di tukang sayur, misalnya brokoli, daun singkong, daun
pakis ya pokoknya sayur-sayuran yang kadang ada kadang enggak deh.

Dapet kok semua itu dengan seratus ribu, dan kulkas udah bisa langsung penuh dengan sayuran, stok untuk seminggu masak. Kadang ketika belanja, aku udah mbayangin senin masak apa, selasa masak apa dan seterusnya. Jadi belanjaanku ya aku sesuaikan dengan jatah masak harian.

Budget belanja tambahan.

Kalau mau beli beras, minyak, terigu dll atau bumbu-bumbu dapur sebagai pelengkap, biasanya aku membudgetkan sendiri diluar belanja sayuran. Kenapa? Ya karena pasti gak cukuplah kalau cuma dengan uang Rp 100.000,- hehehe

Untuk belanja yang seperti itu, biasanya aku jatah sebulan sekali, jadi masuknya ya di belanja bulanan. Aku menganggarkan Rp 500.000,- untuk belanja bulanan. Sudah pasti termasuk di dalamnya adalah beras, minyak goreng, gula pasir, gula merah dll plus kebutuhan kamar mandi, dari sabun mandi sampe sabun cuci.

Kadang malah kalau sabun mandi dll itu ga harus sebulan sekali beli, bisa 2 bulan sekali baru beli lagi. Toh aku dan seva gak seboros itu sampe tiap bulan beli shampoo. Yang paling boros kalau belanja bulanan itu ya kebutuhan seva. Dia itu suka bermacam- macam sereal, yoghurt, susu, keju, kornet, sosis, nugget dan sejenisnya. Udah bisa ditebak kan harganya berapa. Nggak ada
yang murah juga hehhee

Biaya hidup murah atau mahal itu, relatif.

Biaya hidup di Jakarta itu mahal!! Iya itu pasti. Apalagi kalau hedon, keluar masuk resto atau mal hehehe
Untungnya, aku kok gak terlalu doyan masakan-masakan resto mahal. Apalagi yang nama menunya aja aku susah bacanya, milih sayur lodeh aja aku mah. Untungnya juga aku ga doyan daging- dagingan, jadi ya gak pernah juga pengen makan steak atau apapun yang berbahan dasar daging. Ternyata lidahku ini cukup bersahabat dengan tema murah meriah hohoho

Dengan kencengnya yang aku dengar tentang biaya hidup mahal di Jakarta, bikin aku belajar menyiasati uang belanja. Caranya? Ya masak sendirilah.
Ini tips menyiasati budget mepet, masak sendiri, bawa bekal ke kantor, Itu udah bisa memangkas separo dari kebutuhan hidup sebulan. Sesekali ajalah makan di luar, terutama kalau ada meeting di luar kantor. Kalau kesibukan tiap hari selalu ada meeting di luar kantor, ya siasati aja, jam makan pertama, makan bekal, makan yang kedua di luar. Gitu.

Ehtapi ini tidak berlaku sih buat yang mungkin gak bisa masak atau
tidak memungkinkan untuk masak.

Jadi tips hemat ini sementara masih berlaku untuk diriku sendiri
hehehe

 

Syalom,

~mommyjeci~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s