Lifestyle

#4 Kamu anak Twitter, IG atau FB?


Kamu anak twitter, IG atau FB?

Ketiga platform itu cukup hits sebagai media sosial untuk berinteraksi secara personal. Bisa ngobrol atau cuma sekedar komentar gak penting.

Sempat ramai pada pindah jadi ‘anak path’ waktu platform itu masih hits. Tapi sebelum path kukutan alias tutup, aku udah jauh lebih dulu uninstall aplikasinya, bukan dengan alasan kusus, cuma merasa bosan dan udah ga nemu asiknya lagi.

Aku nggak bakal menjelaskan apa itu media sosial, atau apa aja macem bentuknya. Terlalu serius buatku menjelaskan itu. Tapi aku cuma menyoroti yang cukup berpengaruh dalam keseharianku.

Berawal dari Yahoo Messanger

Ini perkenalanku dengan media sosial. Ketika aku masih gak paham apa itu internet dan kegunaanya. Nggak ngerti apa itu email, tapi terpaksa harus bikin karena butuh berkomunikasi dengan seseorang yang dulu berada di tempat yang sudah lebih maju dari tempat aku berada. Di sana sudah pake handphone yang komunikasinya bisa pake email, aku yang cuma ngerti sebatas telpon umum harus berkenalan dengan internet, dan diajarin bikin email. Akhirnya dari email itu, bisa ngobrol pake chat messangernya. Bertahun-tahun kemudian, aku baru ngeh kalau itu bisa buat memperlancar pekerjaan. Dan memang betul, selain pekerjaan lancar tanpa harus telpon, dari YM juga aku bisa berinteaksi lebih akrab dengan teman-teman di banyak kota. Dulu sih aku mana tau kalau YM itu semacam media sosial fufufufu

Setelah sedikit ‘melek’ internet.

Facebook – Aku beruntung dengan pekerjaan yang mengharuskan berinteraksi dengan banyak orang, udah gitu bikin aku gak terlalu kudet bangetlah. Jadi ngerti mainan Facebook juga, ternyata dari media sosial yang ini sangat bermanfaat buat berbagi kenangan dengan temen-temen Music Director seluruh Indonesia. Paling seru kalau sehabis event tahunannya Music Director yang namanya National Radio Day, pasti mantengin FB karena bakal banyak foto-foto kemeriahan kami di share sama teman-teman.
Sempet beberapa saat ga buka-buka FB walau ga sampai deactive akun, gara-gara pening liat status serem-serem waktu pilpres 2014 lalu hahahha

Twitter – Selain aktif di FB, aku juga mulai kenalan sama Twitter. Semakin menemukan keasikannya di platform ini, jadi sedikit mengabaikan FB. Sama seperti di FB, di twitter mulai bertemu dengan lebih banyak teman. Bukan saja sesama profesi, tapi jadi sering ngobrol dengan teman-teman musisi yang aku kenal. Lebih personal dibanding FB menurutku. Selain itu, jaman musim yang namanya status galau, ya jelaslah aku manfaatkan baik-baik. Mungkin kalau buka-buka status Twitter tahun 2011 – 2013 lah kira-kira, banyak status ‘sok’ bijak di sana. Tapi, lebih daripada itu, lewat Twitter aku bertemu dengan orang-orang yang asik. Lintas komunitas. Berbagai macam profesi. Semuanya asik, dan celotehan mereka di Twitter jadi hiburan menarik buatku. Sampai sekarang akunku masih aktif, sudah jarang update cuma lebih sering scroll timeline aja. Masih banyak yang menarik kok, lucu-lucu pula. Satu lagi, selalu muncul istilah-istilah atau bahasa-bahasa antik di Twitter. Yang kalau itu dilakukan di FB atau IG, bakal ada note “Cuma anak Twitter yang paham”. Gitu.

Path – Ketika muncul Path, rame-rame anak Twitter dan Facebook beralih meramaikan Path. Dari yang cuma iseng, sampai yang bener-bener meninggalkan Twitter dan Facebook lalu sangat eksis di Path. Pernah kejadian, ketika Path down, anak Path rame lagi muncul di Twitter, terus anak Twitter bilang, “Path lagi down ya, pantesan aja anak Path banyak yang lari ke Twitter lagi”. Kurang lebih seperti itulah. Lucu aja aku liat ceng-ceng’annya mereka. Sayangnya, platform itu tidak berlangsung lama hitsnya, lama-lama sepi juga. Kalau aku intip FB, ternyata banyak yang kembali ke Facebook, sebagian kembali ke Twitter yang sempat sepi. Yhhaaaaa…FB dan Twitter rame lagi.

Instagram – Kalau Instagram? Tentulah aku punya juga, udah lama juga, lumayan eksis juga ternyata ngeliat jumlah postinganku, lebih banyak dari jumlah followerku hahahha
Tapi aku bukan yang addict banget sampai memikirkan tampilan feednya. Posting ya posting aja. Kadang tidak peduli hasil gambarnya, yang penting captionnya *halah

Masih banyak sih bentuk media sosial yang lain. Tapi aku sekedar punya dan asal liat-liat aja.

Masih merasa pentingkah punya media sosial?

Buatku sih masih penting.
– Masih bisa menjadi media hiburan dan informasi, nggak kudet dengan yang sedang terjadi.
– Setidaknya, masih bisa tau keadaan teman-teman. Ketika masih ada status-status teman-teman sliweran di timelineku, aku masih bisa bilang,”Oh si ini sekarang usaha ini, oh si itu sekarang begini, oh dia sehat-sehat aja, aduh itu temenku sakit apa semoga cepat sehat”. Walau tidak berinteraksi secara langsung, aku senang bisa tau kabar terkini mereka.
– Sampai sekarang, media sosial masih memegang peran penting sebagai sarana berpromosi. Apapun bentuknya. Apalagi yang punya usaha online shop waaaah….hari gini tidak memanfaatkan media sosial? Sayang bangetlaaah….

Buat musisi yang mau populer? Kencengin aja digitalnya…..

Mau digunakan sebagai hal yang positif atau negatif, ya kita sendiri yang mesti bijak memilih.

Gitu aja sih…

 

Syalom,

~mommyjeci~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s