Hello, My Name is Dorris


What do you do with a day that seems to go all wrong? Let it slide and spend the rest of the day wishin’ and hopin’ tomorrow turns out better or take action, it’s time to turn your day around.  Aku memilih opsi yang kedua.

Beberapa waktu lalu aku iseng liat film ‘Hello, My Name Is Dorris’. Ini bukan film yang berat, tapi cukup masuk akal, dalam artian, bisa saja terjadi dalam dunia nyata. Film yang sudah rilis Maret lalu ini genrenya kolaborasi antara Comedy dan juga Drama. Tema yang sederhana, tentang wanita single berusia 60-an bernama Dorris, jatuh cinta terhadap John Fremont, pria teman sekantornya yang berusia jauh lebih muda. Saking jauhnya, mungkin lebih pantas dianggap sebagai cucunya hehehehe

Secara garis besar ceritanya begitu. Dan adegannya juga lebih banyak menampilkan bagaimana usaha Dorris cari perhatian si John.
Diceritakan Dorris ini hanya pernah jatuh cinta sekali dalam hidupnya, itupun saat dia masih berusia 20an, jadi hal yang wajar kalau ketika jatuh cinta lagi disaat usianya sudah tidak muda lagi, jadi seperti exciting, dan merasa kebaikan John itu bentuk cinta juga terhadapnya. Banyak adegan konyolnya Dorris sih, dari salah tingkah setiap kali deket John, bingung cara dandan biar nggak keliatan jadul, sampai nekat jadi hipster sebuah band yang jadi idolanya John demi menyejajarkan posisi, biar keliatan update selera anak muda. Namanya juga mencari perhatian kan.

Kalau lagi pengen nonton film yang gak pake mikir ya film ini bisalah jadi alternatip. Sangat menghibur.

Aku bukan ingin mereview filmnya, karena aku gak jago-jago amat bikin review. Juga bukan ingin membahas tragedy jatuh cintanya Dorris. Tapi aku terkesan pada satu sisi tentang kehidupan Dorris  yang lumayan jelas diceritakan disitu. Dorris, hanya 2 bersaudara dengan adik lelakinya. Adiknya sudah memiliki keluarga sendiri, dan menempati rumah sendiri bahkan sudah sejak muda tidak lagi bersama ibu dan kakaknya. Sementara Dorris, sepanjang hidupnya menemani sang ibu yang sudah sakit-sakitan. Dan tetap menempati rumah itu sampai ibunya meninggal.
Pada satu kejadian, sang adik meminta Dorris meninggalkan atau pindah dari rumah itu karena menurutnya, tidak baik bagi Dorris yang sudah tua harus sendirian di rumah yang besar itu. Tapi tentu saja usul adiknya itu ditolak mentah-mentah oleh Dorris karena rumah itu menyimpan banyak kenangan bersama ibunya. Pertikaian makin meruncing ketika sang adik mendapati rumah itu penuh dengan barang-barang yang tidak berguna. Bahkan istri adiknya ikut-ikutan menegur Dorris dan berusaha keras membuang semua barang yang bertumpuk dan berserakan di dalam rumah besar itu.

Nah…..bagian inilah yang sangat menarik perhatianku.

Dorris ini diceritakan punya kebiasaan sama persis dengan ibunya, senang menumpuk barang. Semua alasannya sama: siapa tau nanti kepake.

Kenapa aku tertarik? Karena itu adalah nyata. Cobalah tanya sama ibu-ibu kalian, ada saja barang yang ditumpuk atau disimpan yang bahkan bertahun-tahun tidak keluar dari lemari atau tidak terjamah sama sekali. Tidak jarang alasannya,”Nggo nduwe nduwe” maksudnya ya yang penting punya lah. Atau alasan paling umum ya seperti Dorris itu,”Siapa tau aku akan pake nanti, entah kapan”. Atau tidak sedikit juga beralasan,”Itu barang kesayangan, banyak kenangan” yaaa semacam itulah. Dengan menumpuk barang bertahun-tahun membuat rumah yang besar dan luas jadi sempit dan terlihat kumuh. Apalagi kalau main taruh aja nggak pake ditata.

Part ini, mengingatkan bagaimana aku juga selama ini. Sering menumpuk barang.

Sebenarnya, aku bukan orang yang seneng beli-beli kalau nggak memang butuuh. Tapi kalau aku merasa perlu ya gimana caranya harus beli. Nah disitulah masalahnya, aku menambahkan barang tanpa mengurangi barang yang ada. Dan itu berlangsung selama bertahun-tahun. Pun, aku selalu awet kalau punya barang. Ya itu tadi, nambah aja terus tapi gak pernah ngganti. Jangan heran kalau barangku setiap pindahan selalu tambah banyak. Yang tadinya satu kali angkut cukup, jadi kudu dua kali angkut.

Sepertinya, alasanku tidak jauh berbeda dengan para ibu lainnya, “Sayang ah kalau mau dibuang, siapa tau nanti kepake” atau “Belum ada gantinya, biarin ajalah”. Akhirnya, terkumpullah barang-barang besar seperti lemari pakaian,aku beli tahun 2007 lalu. Rak CD yang gede banget, buffet kecil buat TV, meja makan berikut 4 kursinya, aku beli tahun 2011. Buffet yang panjang, gede dan berat, sudah aku punya sejak seva bayi, berarti sekitar tahun 1998. Meja kerja ada 2, satu meja komputer kubeli tahun 2013, yang satunya meja tulis simple dan enteng kubeli tahun 2011. Meja rias kaca kecil (udah 2 tahun ini ga kepake) yang aku punya sejak tahun mmmm 1997 kayaknya. Lalu kulkas, ini juga awet banget, aku beli kalau ga salah tahun 2008, masih bagus nggak pernah bermasalah. Terus ada kompor! Nah ini paling bersejarah, aku beli sekitar tahun 2006 atau 2007 lah, beneran seumuran seva, tapi herannya, masih awet dan apinya juga masih bagus. Itu barang-barang besar, belum ditambah kasur besar dan kasur kecil, baju-baju yang entah berapa box itu, juga barang2 dapur plus pernak pernik bejibun banyaknya.

Hhhhhh….setelah bertahun-tahun barang itu ikut kemanapun aku pindahan, maklum, belum punya rumah jadi tiap tahun pindah kontrakan, sekarang aku pusing liat barang-barang itu.

Seperti juga Dorris yang di akhir cerita, bersamaan dengan kesadarannya bahwa jatuh cinta terhadap John adalah sebuah kekeliruan dan kemustahilan, Dorris juga tambah stress liat barang yang memenuhi rumahnya. Akhirnya, Dorris mengikuti saran sahabatnya untuk,”Move on”. Bukan hanya dari masalah cintanya, tetapi juga dari barang-barang masa lalunya. So, bebersih rumahlah dia.

Begitu juga aku, yang sebulan ini sudah merasa pusing dan empet liat barang-barang di kontrakanku. Sebelum aku menonton film tentang Dorris ini, aku sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk ‘membuang’ barang-barang itu.

Iya. Banyak alasan yang membuatku ingin melakukan itu, dari alasan yang bisa dijelaskan sampai alasan yang terlalu sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Aku hanya ingin ‘bebas’ dari semua itu. Aku ingin benar-benar menikmati ‘sendiri’ tanpa beban. Karena sesungguhnya, aku kontrak rumah alasan terbesarku adalah barang-barangku tidak cukup kalau aku hanya menyewa satu ruangan yang namanya KAMAR. Jadi, aku mulai bergerak menjual barang-barang itu satu persatu.

Ibarat sebuah gadget, hidupku perlu mengalami yang namanya ‘reset’.

Beneran harus dibuat ‘kosong’ tanpa isi. Agar lebih ringan proses recoverynya. Lalu kemudian, mengisi dengan yang baru satu persatu bila perlu. Akhir tahun, adalah waktu yang tepat untuk refleksi dan bebenah diri.

Sometimes, you just need a break. Alone. To figure out everything.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s