#7HariHalu [01] Bertemu, Dekat lalu Menghilang


Dia pikir dia siapa, pergi begitu saja tanpa peduli bagaimana perasaanku, tidak pernah ada kabar bertahun-tahun, lalu tiba-tiba datang menawarkan cinta seolah-olah selama ini semuanya baik-baik saja.

Pertemuan itu kembali terjadi, setelah aku berhasil menguasai semua perasaanku tentangnya. Seharusnya aku tidak perlu mengaduk-aduk kembali perasaanku. Seharusnya aku tanggapi biasa saja ketika dia menghampiriku, saat aku duduk sendirian menikmati segelas hot chocolate tadi.

“Aku dari tadi melihatmu dari jauh, nyaris aku tidak mengenalimu”.

Mendengar itu tenggorokanku serasa tercekat, dengan hot chocollate ditanganku yang baru berkurang setengah. Aku tidak langsung menjawabnya, sambil menata detak jantungku yang berdegup tak karuan, aku angkat gelasku dan ku arahkan padanya sambil tersenyum. Diapun mengangkat gelasnya lalu meminumnya dengan pandangan mata yang tidak beralih dariku. Sebuah alasan yang tepat untuk membasahi kerongkonganku sebelum aku menjawab pertanyaannya.

“Memang kenapa?” Ah hanya itu kalimat yang berhasil meluncur dari bibirku. Dia tersenyum, mengendikkan bahunya. Sebelum akhirnya mengatakan,”Ya….mmm apa ya….kamu tambah cantik”.
Upss…..nyaris meluncur jatuh gelas dalam genggamanku. Kalau saja tidak segera mengontrol perasaanku. Dan aku ternganga sebelum kemudian tertawa. Tawa yang aku rasakan garing.
Aku memilih tidak menjawab pertanyaan itu. Dan aku tenggelam dalam lamunanku sendiri.

Empat tahun yang lalu, sebuah pekerjaan mempertemukanku dengannya. Intensitas pertemuan dan percakapanan melalui sms, telpon juga chat messangers menggulirkan perasaan yang berbeda. Pertemuan-pertemuan yang terjadi melebar tidak lagi tentang pekerjaan. Bahkan hanya karena alasan sepele, kebetulan sama-sama sedang pengen makan mie ayam, atau sekedar mengisi sisa waktu setelah seharian bekerja dengan duduk di sudut coffeshop, atau bisa saja di angkringan, ngobrol apa saja sampai lupa waktu.
Tema pembicaraanpun bergeser, tidak lagi melulu tentang pekerjaan yang sedang kami lakukan bersama. Bahkan, kami sempatkan sering datang bareng menghadiri undangan acara teman, atau menyaksikan panggung musik. Apa saja.

Sepanjang perjalanan intensitas itu rasanya seperti tidak ada hambatan. Sepertinya semua sempurna. Sehingga aku lupa menjagai hatiku. Lalu tanpa aku sadari, perasaan berbeda itu tidak lagi bisa aku kendalikan. Aku jatuh cinta! Ironisnya, aku tidak ingat sejak kapan perasaan ini mulai hadir. Yang aku tau, aku merasa kehilangan ketika intensitas itu perlahan memudar. Kegelisahan mendera saat balasan dari pesan-pesanku lambat laun berkurang lalu kemudian semakin sering dibiarkan dengan tanda terbaca saja. Tanpa balasan.

Hatiku terluka.

Untuk beberapa saat lamanya, aku mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri,”Mengapa aku harus merasakan kepedihan seperti ini? Dia bukan kekasihku”. Juga pertanyaan lain, “Mengapa aku harus bersedih hanya karena kebersamaan itu hilang?”.

Mengapa??

Hidupku baik-baik saja sebelum kamu datang waktu itu. Hari-hariku cukup menyenangkan sebelum kamu hadir mewarnainya.

I’m just fine before i meet you.

Aku sampai lelah kebosanan dengan semua pertanyaan itu, hingga aku lupa bahwa perasaan itu pernah ada. Semuanya sudah kembali baik-baik, dan aku berharap, tidak akan pernah bertemu kamu lagi. Sampai akhirnya…..

“Hey”.

Aku tergagap mendengar bunyi cangkir hancur berantakan di lantai. Cangkir yang terlepas dari genggamanku, meluncur turun menghantam lantai.

“Oh eh…aduh….ya ampun. Eh maaf…” Kataku gugup sambil salah tingkah memunguti pecahan gelas. Sampai akhirnya pelayan datang membawa pel dan sejenisnya.

“Sudah mbak, biar saya saja. Nanti saya bersihkan”
“Eh nnng…maaf ya mas, anu nggak sengaja”. Aku meminta maaf dengan bingung mau melakukan apa. Sementara dia tertawa melihat tingkahku.

“Hey. Kamu kenapa sih. Aku cuma menegur, karena kamu nggak dengerin aku ngomong eh ternyata malah ngelamun. Haduh…gitu aja sampe mecahin gelas lho” Dia berkata masih dengan sisa-sisa tawanya.

“Eh emang kamu tadi ngomong apa?” Kataku beberapa saat setelah mampu menguasai diri.
“Mmm apa ya, aku malah udah lupa tadi ngomong apa. Lupakan. Gimana kabarmu?”.
“Oh aku? Baik. Kamu?” Tanyaku balik. Aku mengucapkan terimakasih pada pelayan setelah membersihkan lantai dari pecahan gelasku dan memesan minuman kembali. Setidaknya, ada jeda waktu sedikit untuk mengatur detak jantungku kembali normal. Dan terlihat biasa saja di hadapannya.

Dia hanya tersenyum menatapku. Aaah….masih sama senyumnya.

He look as good as the day i met him.

“Maaf ya kalau aku tiba-tiba menghilang waktu itu. Sebenarnya…” Dia menjawab pertanyaanku dengan sebuah statement yang seharusnya, tidak penting lagi buatku. Aku tidak menyela perkataannya yang menggantung. Sengaja aku tatap lekat-lekat kedua matanya. Ada kegugupan kulihat di sana.

“Eh tapi penting nggak sih kalau aku menjelaskan ini ke kamu sekarang?” Tiba-tiba dia balik bertanya. Aku hanya tersenyum sambil mengendikkan bahuku sedikit.
“Ya sudahlah, mungkin ini tidak penting buatmu, tapi aku akan menjelaskan. Jadi waktu itu, aku terpaksa menghentikan kedekatan kita, karena……aku takut makin kuat perasaanku ke kamu”
Aku meledakkan tawaku. Memicingkan mataku dan tersenyum dengan sudut bibirku.

“Ada persoalan yang harus aku selesaikan lebih dulu, sebelum aku yakin dengan perasaanku” Lanjutnya. Aku masih diam tak menanggapi.
“Lalu?” Tanyaku kemudian.
“Yah gitulah. Aku merasa waktu itu seperti tidak nyaman menjalani hari-hariku. Gelisah dengan perasaanku sendiri. Sepertinya aku berharap, dulu kita tidak pernah bertemu. Karena sebelum bertemu kamu, semuanya baik-baik saja. Tapi makin dekat kita, makin besar rasa bersalahku. Dan itu tidak adil buatmu.”.

Aku tertawa sumbang. Sinis mungkin terdengarnya.

“Terserahlah kalau kamu mau membenciku. Tapi aku tidak mau melukaimu lebih jauh. Sementara aku tidak yakin dengan perasaanku….”

I forget just why I left you, I was insane

Basi bung!

“Ah sudahlah…..” Aku memotong pembicaraannya. “Cuma mau menjelaskan itu kan? Oke, aku hargai. Ada yang lain?”
“Ya sudahlah, lupakan yang dulu. Kalau kita coba jalani lagi, gimana?”
“Hah? Maksudnya?” Tanyaku tidak paham dengan apa yang dia katakan.
“Ya….aku pengen serius sama kamu” Katanya mengagetkanku.
“Serius sama aku? Memang kamu cinta sama aku?”
“Ya kita jalani aja dulu, kita bisa sama-sama belajar saling mencintai”

Aku tidak tau harus bereaksi bagaimana. Seharusnya aku bahagia, bukankah ini yang aku harapkan dulu? Tapi mengapa sekarang rasanya berbeda. Debaran itu masih ada, tapi tidak lagi sama seperti dulu. Setelah empat tahun tanpa kabar apa-apa, tidak sengaja bertemu lalu dengan enaknya dia mengajakku serius? Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil berdecak heran. Aku menatapnya lekat-lekat, kemana aja kamu ketika aku berjuang sendiri mengatasi kegelisahanku waktu itu? Dan sekarang, setelah aku bisa melupakanmu, kamu menawarkan yang seharusnya kamu tawarkan sejak dulu.

Sepertinya aku masih belum hilang kesal, tapi…..keraguan menyeruak perlahan. Bagaimana kalau aku terima saja tawarannya? Belajar saling mencintai bukan kesalahan kan? Bukankah dulu aku menangisi kepergiannya?

Aku mengatur posisi dudukku yang rasanya tegang sedari tadi. Belum tau apa yang harus aku putuskan.

“Jadi, gimana?” Tanyanya membuyarkan lamunanku.
“Aku cuma heran, mengapa tiba-tiba kamu ingin serius denganku”. Tanyaku kemudian.
“Sebenarnya, sudah agak lama aku berpikir untuk menghubungimu, tapi masih ragu. Akupun masih perlu meyakinkan perasaanku. Apakah keputusanku ini tepat atau tidak”.
“Sejak kapan kamu merasa bahwa aku adalah pilihanmu yang tepat?”
“Aku belum lama putus dari pacarku. Saat itu aku merasa, aku tidak mencintainya. Aah aku sudah malas menjalin hubungan yang tidak jelas. Aku rasa aku bisa menjalani hubungan serius denganmu, toh kita pernah dekat dulu”.

Mendengar penjelasannya, akhirnya aku sudah tau harus menjawab apa.

“Kamu masih mau di sini? Sepertinya aku harus segera pergi.” Aku berkemas, meminta bil dan bersiap pergi.

Dia tidak berusaha menahanku. Hanya menatapku heran. Aku segera melangkah meninggalkannya sebelum dia bertanya lebih jauh. Harus segera menginggalkan segala omong kosong ini. Dia pikir dia siapa, pergi begitu saja tanpa peduli bagaimana perasaanku, tidak pernah ada kabar bertahun-tahun, lalu tiba-tiba datang dan menawarkan segala sesuatu yang terdengar sudah sangat basi.

Terdengar lagu “Closer” The Chainsmoker yang lagi hits itu mengiringi langkah kakiku menuju pintu.

“Now you’re looking pretty in a hotel bar. I forget just why I left You. I was insane”.

Kepala dipenuhi lirik lagu Closer sampai bertemu taxi yang membawaku pulang. Kuhempaskan tubuhku begitu saja di kursi belakang, sambil menyebut sebuah alamat ke driver. Mataku terpejam mengatur nafasku yang memburu, tapi telingaku sayup mendengar sebuah lagu dari radio di taksi yang aku tumpangi.
Damn! Lagu ini lagi???

Insane……..

—————

Cerita ini bergulir akibat terlalu sering mendengarkan lagu Closer milik The Chainsmoker feat. Halsey. Beberapa hari kepalaku terkunci dengan lagu ini. Awalnya, aku hanya suka dengan musiknya, ringan sangat ‘radio friendly’. Halah!

Lalu mulai ngulik liriknya, dari situ terciptalah sebuah cerita dalam rangka challenge 7 hari menulis cerita pendek berdasarkan lagu, yang aku buat bersama Nuno , #7HariHalu.
Closer adalah single ke-3 milik The Chainsmoker berkolaborasi dengan Halsey, yang sejak peluncurannya sudah mencapai posisi nomer 1 di singles Chart Itunes store di Canada dan Amerika Serikat. Berita baiknya adalah, Closer tmenjadi lagu “HIT” paling tercepat untuk mereka!!

Nggak heran. Emang enak sih lagunya. Buat sedikit goyang-goyang manggut-manggut asik juga. LOL.

 

Advertisements

2 thoughts on “#7HariHalu [01] Bertemu, Dekat lalu Menghilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s