Memulai Itu Gampang, Konsistennya Yang Susah


Punya konsep dan ide tanpa dibarengi dengan keberanian mewujudkan, sama saja dengan memberi peluang orang lain menjalankannya. Tanpa kita.

Puding Coklat

   Ini bukan sekedar quote atau kata bijak, ini rekaanku sendiri ketika aku merasa selalu seperti itulah yang terjadi. Dari dulu punya konsep dan ide pengen bikin ini dan itu, dari semua yang banyak itu, beberapa ada yang benar-benar diwujudkan ada yang tinggal wacana. Tapi kalaupun diwujudkan, terlantar sampai di ‘halaman depan’ saja. Alias, mulai doang tapi setengah-setengah digarap atau malah dibiarkan teronggok tidak digarap sama sekali.
Akhirnya, ketika orang lain yang mewujudkannya dan berhasil, aku cuma bisa bergumam “Aku pernah punya rencana bikin itu, tapi ragu-ragu lalu nggak pernah dimulai. Ternyata bisa jalan juga kalau diseriusi”. Tapi itu milik orang lain. Bukan milikku. Milikku? Ya tinggalah jadi wacana saja.

  Kadang aku berpikir, apakah mentalku memang mental ‘karyawan’ alias selamanya akan bekerja sama orang dan gak bakal bisa menjadi ‘bos’ lewat usaha sendiri. Cukup mengganggu pikiranku pernyataan itu. Karena sebenarnya, aku bisa melakukan beberapa hal, yang kalau saja aku mau seriusin, ya akan menjadi sesuatu yang besar. Tapi mengapa aku tidak pernah punya nyali untuk memaksimalkan itu. Sehingga sampai sekarang, aku masih berstatus ‘karyawan’.

   Tentu saja menjadi karyawan bukan sesuatu yang salah. Karena dimanapun aku bekerja, apapun yang aku kerjakan, menjadi karyawan dalam hal apapun selama itu aku minat dengan bentuk pekerjaannya dan aku mampu melakukannya, aku sangat menikmatinya. Karena kecilnya nyali tersebut membuatku sulit keluar dari zona amanku saat itu. Off dari radio. Karena aku merasa, kemampuanku hanya disitu, aku merasa tidak pandai, tidak hebat dan tidak istimewa. Sampai akhirnya aku dengan desakan keadaanku di radio membuatku nekat memutuskan hijrah dari dunia radio ke dunia yang berbeda. Disinilah aku, bersama team yang luar biasa di dunia digital, sebuah startup buku suara atau audio book yang bernama Listeno.

   Banyak yang mengubah pola pikirku setelah berada ditempat yang baru. Mungkin bisa jadi karena tersalurkan atmosfir ‘hal-hal’ baru di sekitarku. Hampir setiap hari aku mendengar obrolan tentang ide ini dan itu, menciptakan ini dan itu. Orang-orang hebat di sekitarku mempengaruhiku untuk berani (seperti mereka) menciptakan sesuatu.
Nah…..dari sinilah semuanya berawal. Dari sebuah obrolan sepele di tempat favoritku, pinggir kolam kecil depan studio Listeno pada suatu waktu, aku seperti mendapat ‘suntikan’ semangat untuk melanjutkan dan memaksimalkan kepiawaianku (halah) membuat kue. Bukan sekedar membuat tapi gimana caranya kue-kue itu menghasilkan.

   Membuat kue? tentu saja aku sangat PD melakukannya, tapi menjual?? Hohohoho aku nyerah! Dari dulu permasalahanku disitu, ketidak mampuanku menjadi marketing untuk produkku sendiri! Ya. Aku merasa sangat tidak bisa jualan. Aku hanya bisa produksi.

Produksi berlimpah tanpa penjualan? Bagaimana itu akan menjadi sebuah bisnis? Itu namanya pesta!

   Kalau niatnya berbisnis, atau usaha walau kecil-kecilan, tentu harus ada strategi marketingnya disitu. Itulah sebabnya kenapa selama ini aku tidak pernah bisa mewujudkan ideku, keinginanku, bahkan impianku. Siapa yang mau jualin produkku??

   Duluuu banget, semasa seva masih bayi, saat dimana aku lebih banyak di rumah dan berkreasi macam-macam kue, sampai akhirnya aku menemukan kue-kue apa yang menjadi favorit / andalan untuk aku bikin. Mulailah aku berkreasi dengan bikin bermacam-macam puding, brownies dan cookies. Sempat banyak pesenan sih dulu….duluuuuuuu *lol*
Dari situ aku pernah punya semacam angan-angan bikin ‘house of pudding, brownies and cookies’ di Jogja. Iya bener, dulu itu aku sudah punya sasaran tempat yang aku inginkan. Jogja. Padahal saat itu aku masih di Magelang, entah kenapa kok kuat sekali pengen bikin di Jogja. Mungkin dulu aku merasa, belum banyak toko-toko kue besar di Jogja, apalagi semacam breadtalk gitu, jauuuhhhh…..belum ada! Tapi ya itu cuma angan-angan yang aku keep jauh banget disudut pikiranku. Sampai lupa bertahun-tahun bahwa aku pernah punya impian itu.

   Tahun 2014, itu pertama kali aku mulai lagi bikin kue setelah lebih 10 tahun tidak menyentuh peralatan kue sama sekali. Lumayan sih responnya. Seandainya saja, aku tidak lantas berhenti dan fokus meneruskan usaha itu, bisa saja saat ini aku sudah punya tempat sendiri untuk display kue-kueku hahahha *duh mimpi*. Yah begitulah, kemudian berhenti lagi bikin kue dengan berbagai macam alasan, dari modal, tempat, waktu dan lain-lainnya menjadikanku berhenti (lagi).

   Setelah setahun lebih tidak menyentuh dapur, aku kembali rindu bikin kue-kue lagi. Mulailah aku meng-create resep yang sudah aku punya. Aku perbaiki sana sini sampai aku menemukan formula yang pas untuk cookiesku. Setelah aku rasa perfect, aku mulai woro-woro di sosmed bahwa aku bikin kue lagi. Ahhh diluar ekspektasi, ternyata banyak yang memesan kueku. Apalagi momentnya pas, pas menjelang lebaran. Lalu, setelah itu…..apakah aku akan berhenti lagi? Aku mulai merasa sayang untuk berhenti, dan banyak masukan positif yang aku dengar menyemangatiku untuk tetap melanjutkan bahkan memaksimalkan varian yang lain. Yayayayaya…..aku mulai berpikir untuk tidak berhenti, tapi justru menambahkan produk yang lain. Ya sudah pastilah aku kembali berkreasi dengan puding dan brownies, andalanku!

Bananas Chocolate Muffin

Brownies Coklat Keju

Oke. Aku siap berjibaku di dapur kembali. Tapi kembali muncul pertanyaan besarku, momok yang selama ini menjadi penghalang niatanku serius dengan usaha kuliner ini, MARKETING!

Siapa yang akan menjual semuanya nanti?

   Sampai saat ini, aku masih merasa tidak expert jualan. Dan pertanyaanku itu dijawab oleh seorang teman yang sangat baik karena akhirnya malah semangat membantuku memulai, dia bilang begini,”Bukan mami yang jualan, tapi teman-teman mami”. Kok bisa? “Ya bisalah, kan selama ini mami dapet orderan kue juga karena teman-teman mami ikut ‘jualan’ secara tidak langsung, dengan mereka cerita atau posting di sosmed akhirnya yang lain jadi ikut pesan dan seterusnya dan seterusnya”. Hmmmmm iya juga ya….jadi manteb nih? “Ya udah sih mam, manteb aja wong kue-kuenya mami enak kok. Udah banyak lho yang mau bantuin mami, kook mami masih ragu aja”.

   Setelah aku renung-renungkan, selama ini memang banyak teman-teman dan orang-orang disekitarku yang menyemangatiku. Bukan hanya memberi support, tapi juga ngelarisin kue-kueku hihihi haruskah aku sia-siakan semua itu? Kok sayang ya….

Nastar

   Begitulah, akhirnya aku dibantu seorang teman baik yang lainnya, bisa beli bahan-bahan kue, siap membuat kue-kue yang enak. Bukan cuma itu, tapi juga ikut memikirkan konsep dan strateginya akan seperti apa, mikirin nama brandnya juga hahaha oh iya, untuk brand, sebenarnya aku sudah punya dulu, namanya @sceivabrand, tapi ya gitulah…yang punya nama sekarang protes,”Mbok jangan pake nama itu mam”. Dengan alasan, namanya Sceiva itu nanti orang susah nyebutnya. Hhhhh…..oke baiklah. Pusing lagi kan cari-cari namanya.

   Dari beberapa nama yang muncul, akhirnya aku memutuskan sebuah nama yang aku pilih untuk nama brand kueku ini. Namanya adalah MELSWIT. Itu nama dari sekian banyak corat-coretan nama yang aku bikin, sepertinya gampang disebutnya, dan yang pasti di INSTAGRAM BELUM ADA YANG PAKE NAMA ITU hahahahha penting banget yaaaaa……

melswitlogo

Melswit, bisa berarti melted dan sweet. Itu cukup menjelaskan rasa kue-kue yang aku bikin. Sesederhana itu saja artinya.

   Semoga aku bisa konsisten dengan yang akan aku mulai ini *akhirnya terwujud juga setelah puluhan tahun ide itu nyaris terkubur*. Ini baru awal, masih panjang perjuangan, karena ratusan orang diluar sana juga membuat produk yang sama. Tapi katanya, kalau setiap akan membuat usaha selalu berpikir gitu, kita tidak akan pernah memulainya. Dan itu benar. Katanya lagi, rejeki itu masing-masing, tergantung niat dan usaha kita. Kata orang bijak sih seperti itu hehehe. Belum lagi dengan mikirin kalau rugi atau hal-hal lainnya. Bikin drop dan ga berani melangkah. Tapi kata orang bijak lagi, kalau nggap pernah rugi ya berarti nggak pernah bisnis. Oke baiklah, mari segera saja dimulai 🙂

   Setelah memantapkan hati, lantas, pikiranku melesat jauh, bila aku berhasil merintis usaha ini, bila aku bisa mempertahankan usaha kuliner ini, semata-mata bukan hanya jadi milikku. Tapi semuanya ini aku lakukan untuk nantinya aku wariskan kepada anak semata wayangku yang juga punya hobi dan keinginan yang sama, membuat kue dan punya usaha kuliner sendiri.

   Apa lagi yang aku punya untuk aku berikan kepada anakku? Tidak ada. Hanya inilah yang bisa aku lakukan untuk anakku. Untuk masa depannya. Semoga Tuhan dan alam semesta merestui. Amin.

Di order kuenya ya sist :))))

Note:

Terimakasih Chika dan Ndik atas bantuan dan dorongan semangatnya. Semangat!

Syaloom,

~jeci~

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s