Nggak Jahat sih, Cuma Nggak Cinta Aja


Hanya karena tidak mencintai, bukan berarti jahat. Tapi akan jadi jahat bila kamu menanggapi perasaannya bahkan menikmatinya, sementara tidak pernah ada cinta di hatimu untuknya. Bukankah itu namanya memanfaatkan perasaannya? Jangan memberi ruang sedikitpun untuk membuat perasaannya makin bertumbuh bila tidak ada cinta di hatimu.

“Kamu tuh PHP banget sih sama Citra” Sisil tiba-tiba datang menjejeri Doni sambil marah-marah. Doni hanya mengernyitkan dahi sambil melirik ke arah Sisil.

“Kamu tahu kan yang aku maksud?” Sisil masih nerocos tidak berhenti bicara melihat Doni tidak merespon. Doni meletakkan buku yang baru dia baca,”Jujur ya, aku tuh sama sekali nggak paham apa yang kamu bicarakan. Kasih prolog dulu kek, dateng-dateng langsung marah-marah nggak jelas”. Sisil mendengus kesal.

“Nggak jelas??? Nggak jelas gimana, udah jelas-jelas kamu bikin Citra sakit hati.”

Doni mendongak,”Sakit hati? Aku bikin sakit hati Citra? Kok bisa? Memang aku ada hubungan apa sama Citra?”.

Sisil melotot ke arah Doni, seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.

“Kamu sadar nggak sih Don, kalau kamu sudah bikin Citra terluka”.

“Lhoh aku tuh ngapain? Aku beneran nggak ngerti, aku melakukan apa sama Citra? Kenapa juga aku yang disalahkan kalau dia sakit hati. Bisa saja dia sakit hati sama orang lain”.

“Kamu itu nggak punya perasaan bener sih jadi orang.” Sisil tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Lalu dia membuka layar handphonenya dan menunjukkan history chat percakapan Citra dan Sisil kepada Doni.

Doni mengamati percakapan itu sambil sesekali dahinya mengerut. Setelah itu dia kembalikan handphone ke Sisil,”Kok bisa begitu ya?” Doni seperti bergumam. Untuk beberapa saat lamanya mereka larut dalam diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri.

“Sil, tolong tunjukkan salahku dimana. Apa salah kalau selama ini aku baik sama Citra?”. Doni bertanya sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Ya sebenarnya kamu tidak salah kalau baik sama Citra. Tapi kamu sudah memberi harapan sama dia. Kan kamu seperti PHP sama dia. Kamu memberi harapana palsu sama dia.”

“Nah….itu dia yang aku nggak paham. Harapan apa? Aku biasa saja selama ini. Tidak menjanjikan apa-apa dan tidak memberi harapan apapun. kenapa Citra merasa aku memberi harapan sama dia. Aneh”.

“Ya nggak anehlah Don, sikapmu sama dia selama ini membuatnya jatuh cinta. Apa yang kamu lakukan sama dia, membuatnya punya harapan untuk bersamakamu.”

“Tapi aku cuma……” Doni tidak melanjutkan kalimatnya. Dia terlihat bingung akan menjelaskan bagaimana.

“Jadi menurutmu aku jahat sama Citra? Hanya karena aku tidak mencintainya?” Tanya Doni tiba-tiba. “Aku memang selalu baik sama dia, karena dia juga baik sama aku. Dia asik diajak ngobrol, ya nyambung aja aku ngobrolnya. Intinya memang menyenangkan, tapi bukan karena aku mencintainya. Cinta kan nggak bisa dipaksa Sil”. Lanjut Doni.

“Jadi kamu tidak mencintai Citra?” Sisil balik bertanya dan dijawab dengan gelengan kepala Doni.

Sisil menatap mata Doni lekat-lekat, seolah mencari kebenaran di sana.

“Nah kalau aku nggak cinta, tapi berlaku baik sama dia terus aku dianggap PHP? Aku yang salah karena baik? Apa aku harus jahat gitu?”. Doni menjelaskan tanpa diminta. Sisil hanya mendesah, sungguh bukan posisi yang menyenangkan berada diantara keduanya. Doni maupun Citra sama-sama dekat dengannya. Mau menyalahkan siapa? Juga dimana salahnya?

Begitulah yang sering terjadi. Ada banyak sisi yang bisa dilihat, bagaimana itu bisa terjadi,tergantung juga dari sisi mana kita memandangnya. Banyak yang berbicara tentang kasus PHP menilik dari kejadian yang dialami si korban. Atau yang merasa menjadi korban. Tapi, bagaimana bila melihatnya dari sisi yang dianggap pelaku PHP? Karena tidak semuanya itu tepat bila dianggap sebagai orang yang memberi harapan palsu.

Dari cerita tentang Doni dan Citra, yang terjadi di antara mereka sebenarnya hanya sebuah kebiasaan bersama-sama. Saling merasa nyaman berinteraksi. Pertemanan itu sangat menyenangkan bagi keduanya. Tentu saja menjadi tidak nyaman dan menyenangkan bila salah satunya lantas terjebak memakai perasaan lebih atau jadi jatuh cinta. Karena ternyata, sikap welcome dari Doni atas hubungan pertemanan itu ditanggapi berbeda oleh Citra. Begitulah cinta yang kadang datang karena sebuah kebiasaan bersama. Tanpa direncanakan dan diinginkan keduanya, perasaan suka perlahan bisa menjadi cinta. Bila itu dirasakan oleh keduanya, tentu tidak akan menimbulkan masalah pelik. Bisa saja lantas jadian lalu akan menjadi pasangan yang asik dan saling mencintai. Tapi bagaimana bila perasaan itu hanya tumbuh pada salah satu saja? Perasaan sayang dan perhatian sebagai teman, meluluhkan dan bisa membuat jatuh cinta, ini menjadi sangat merepotkan.

Pertemanan yang asik itu, selanjutnya akan kehilangan keasikannya.

Bagaimana tidak? Doni yang masih ingin tetap baik, karena memang Citra sangat menyenangkan untuk dijadikan teman, tentu dia tidak ingin semakin melukai hati Citra, dengan langsung pergi menghindar begitu saja ketika tau bahwa Citra mencintainya, tapi disisi lain, bila Doni tetap bersikap sama, baik itu waktunya yang selalu tersedia buat Citra, atau tetap menjadi pendengar setia ketika Citra butuh teman untuk sekedar berbagi keluh kesah,justru memunculkan rasa kuatir akan semakin menumbuhkan harapan yang besar pada Citra. Serba salah kan?

Jadi, tidak tepat juga kalau kasus seperti Doni ini, lantas Doni dianggap si Pemberi Harapan Palsu ketika Doni memilih untuk mulai menjaga jarak atau sedikit mengurangi intensitas bertemu dengan Citra?

Sebagai sisi orang yang tidak mencintai, Doni merasa tidak memberi harapan apapun kecuali merespon positive pada pertemanan yang terbentuk dengan Citra. Sementara Citra, karena kecewa dan terluka tidak mendapatkan perasaan yang sama lantas merasa kebaikan Doni itu sebagai sebuah harapan yang palsu.

 Di posisi manakah kamu? Sebagai Doni? Atau sebagai Citra?

Bila posisimu sebagai Doni, tidak perlu merasa bersalah ketika harus merenggangkan intensitasmu. Bukan berarti kamu harus lari menjauh bahkan menghindari untuk tidak berteman lagi. Akan lebih menyakitkan, bila kamu menanggapi perasaannya bahkan menikmatinya, sementara tidak pernah ada cinta di hatimu untuknya. Bukankah itu namanya memanfaatkan perasaannya? Jangan memberi ruang sedikitpun untuk membuat perasaannya makin bertumbuh bila tidak ada cinta di hatimu. Tegas dalam bersikap itu lebih penting, untuk menjaga supaya tidak makin melukainya.

Bila posisimu sebagai Citra, ketahuilah bahwa tidak selamanya orang yang selalu ada buatmu itu mencintaimu. Juga tidak selalu terjadi bahwa orang yang selalu membuatmu tersenyum ketika kamu bersedih itu adalah bentuk harapan yang dia berikan padamu. Berbesarlah hati bila pada akhirnya, dengan mengetahui perasaanmu, dia memilih untuk membuat jarak kedekatan denganmu. Karena memang itulah yang seharusnya dia lakukan agar tidak makin melukaimu. Berdamailah dengan diri sendiri untuk bisa menerima kenyataan, bukan lantas menghakiminya sebagaii orang yang sudah memberi harapan palsu padamu.

Memang tidak mudah untuk tetap berteman baik dan masih tetap asyik seperti sebelumnya bila masih ada rasa cinta dihatimu untuknya.

You can never “just be friends” with someone you fell in love with.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s