Bersyukur Untuk Hari Ini


masakanku hari ini

“Being strong doesn’t always mean you have to fight the battle. True strength is being adult enough to walk away from the nonsense with your head held high”

Aku menemukan kalimat yang pas untuk ‘quote of the day’ di hari pertambahan usiaku hari ini.  Mengapa pas? Karena kalimat itu seperti mengingatkanku pada prinsip yang aku tanamkan pada diriku sendiri sejak 2 tahun belakangan ini. Termasuk sampai dengan hari ini.

Sore tadi, di sela-sela keriuhanku merespons ratusan ucapan dari teman-teman di sosial media, termasuk setelah berkeringat mondar-mandir di kantor menyiapkan makan siang yang sederhana sebagai ucapan syukurku, sempat bercakap-cakap dengan content writer Listeno yang nota bene cewek. Bermula dari keluhannya atas masalah keperempuanan yang mengganggu, dimana aku juga pernah mengalaminya, selain aku menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter yang aku anggap cocok, akupun sharing tentang permasalahan hidup dan bagaimana aku menyikapinya.

Segala macam penyakit dari yang sederhana sampai yang parah, kadang bersumber dari stress atau bahkan depresi. Terutama aku, sangat rentan terhadap masalah psikis. Kalau cuma masalah telat makan atau salah makan atau kurang istirahat, masih tidak terlalu mempengaruhi tubuhku tapi kalau sudah masalah hati dan pikiran, kontan tanpa perlu waktu lama sudah bereaksi cukup dahsyat terhadap tubuhku. Dari yang migren, maag akut sampai yang sepele, bersin dan biduran!

Itu permasalahan dari aku kecil sebenarnya, dulu banget, tiap aku sakit, ibu dan saudara- saudaraku tidak bertanya,”Sakit apa?” tapi pertanyaannya adalah,”Kamu lagi mikir apa?” atau “Kamu lagi punya masalah apa?”.

Sampai masalah paling parah yang menurutku puncak dari segala permasalahan hidupku terjadi
3 tahun yang lalu. Permasalahan bertubi-tubi, yang biasanya aku bisa menyelesaikan satu persatu, kali itu sama sekali tidak bisa terselesaikan, makin banyak dan menumpuk. Bukan masalah-masalah kecil yang bertumpuk lalu jadi besar, tapi masalah yang sudah sangat besar ditambah dengan masalah-masalah besar lainnya. Aku bukan lagi stress, tapi depresi tingkat tinggi. Hanya saja, aku tidak bisa mengutarakannya dengan gamblang kepada orang lain,boro-boro mau curhat, cerita aja nggak bisa. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, ketika masalah itu besar, justru aku tidak bisa bercerita pada siapapun. Kalau aku masih curhat sana-sini, itu malah berarti masalah yang sangat sepele. Kebiasaan itu membuat kepala seperti tertimpa patung gupolo yang gede banget itu, karena selalu berpikir keras mencari penyelesaiannya. Dada menjadi sesak karena memendam semua masalah sendiri, tanpa bisa share ke orang lain. Buatku, masalahku tidak selamanya orang akan mengerti, dan tidak selalu orang bisa membantu menyelesaikannya. Jadi buat apa bercerita? Sungguh sebuah prinsip yang sangat ‘ego’ aku rasa. Tapi begitulah aku, seperti orang yang selalu melihat bahwa aku selalu ceria, penuh tawa dan banyak bicara. Sesungguhnya, bila itu aku lakukan, adalah salah satu caraku untuk tetap merasakan bahagia, tanpa harus curhat kesana kemari memohon belas kasihan. Tapi setiap orang punya cara yang berbeda bukan? Jadi aku tidak juga lantas menyalahkan atau memandang rendah orang yang mampu curhat sama orang lain. Karena aku tidak bisa melakukan itu.

Karena hal inilah, aku sampai jatuh sakit cukup lama, dan sakitku pun tidak ringan. Berobat ke dokter,malah dokternya yang bingung karena aku tidak bisa menjelaskan bagian mana yang sakit. Alhasil, cuma dikasih vitamin dan obat maag besertasaran,”Jangan stress ya bu”. Sudah itu
saja. Akhirnya, dikit demi sedikit aku memampukan diri untuk berdamai dengan semua hal yang membuatku sesak tersebut. Diawali dengan menyingkirkan kemarahan pada banyak hal, banyak orang juga banyak kondisi yang aku anggap tidak ‘bersahabat’ dengan diriku. Dimana sebelumnya, aku menganggap diriku kuat karena bisa ‘bertempur’ dengan mereka yang membuatku marah dan tidak bahagia itu. Ternyata aku salah, karena kekuatan seseorang bisa dilihat dari bagaimana kedewasaannya untuk berdamai dengan diri sendiri dan bisa menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan. 

Kembali ke obrolanku dengan Ayoe tadi, aku mengatakan bahwa, sejak aku menderita sakit yang justru merugikan aku sendiri, aku tidak pernah mau lagi dibuat stress oleh orang lain, juga keadaan. Karena sekecil apapun masalah kalau itu dibuat stres, pasti timbulnya akan ada saja penyakit yang menyertai.

Siapapun pasti tidak ingin stress, tapi kadang, stress itu datang tanpa kita sadari. Mungkin masalah yang kita hadapi itu tidak terlalu besar, dan kita bisa menganggap sepele. Tapi diam-diam, alam bawah sadar kita itu mengendapkan permasalahan itu dan terus tertampung disana. Jadi sebenarnya, masalah itu belum selesai, akhirnya menimbulkan stress yang tidak kita sadari.

Dari semua itu, mulailah dengan menyingkirkan masalah-masalah yang tidak penting untuk dipikirkan. Penting atau tidaknya masalah itu, hanya diri kita sendiri yang tau ukurannya. Kalau misalnya tidak menghasilkan apa-apa yang positip, ngapain juga harus kita pikirkan banget-banget.

Kalau aku, sudah mulai menolak kuat-kuat hal-hal yang sekiranya akan membuatku sakit hati atau kecewa atau tidak menyenangkan. Misalnya, aku paling jengkel kalau janjian sama orang yang tidak serius, alias sering hanya wacana, jadi aku tidak akan pernah mau membuat janji sama mereka. Daripada aku jengkel kan? Kecuali kalau itu ada hubungannya dengan pekerjaan yang mau nggak mau harus membuat janji dengan orang lain, dibuat santai aja mindsetnya. Ketika janjian selalu dibatalkan atau harus bikin agenda ulang, ya tidak masalah, anggep aja itu bagian dari pekerjaan. Gak perlu dibuat jengkel atau pusing. Bikin penyakit aja.

Itu contoh sepelenya, atau ketika mendengar sesuatu yang buruk tentang kita dari orang lain, ya direnungkan aja, bener nggak memang seperti itu, kalau memang tidak ya biarkan orang akan bicara apa, toh tidak mempengaruhi penghasilan kita atau tidak merugikan kita secara finansial. Beda sih kalau yang menganggap buruk kita adalah orang yang menggaji kita, nah perlu diklarifikasi kalau memang tidak seperti itu kejadiannya.

Aku sekarang lebih berpikir simple dalam hal itu, tidak semua orang menyukai kita atau menganggap kita baik. Itu hak mereka, kita tidak bisa memaksa mereka untuk menyukai kita. Begitu juga sebaliknya, selama kita tidak merugikan orang lain, persetan aja orang mau bicara apa tentang kita. Itu aja sih prinsipnya.

Easy going, itu kadang diperlukan. Dengan begitu, kita tidak akan mudah marah dan tersinggung untuk hal-hal sepele.

Nggak perlu jadi orang yang ribet, kalau memang kita tidak bisa mengikuti sebuah ajakan teman karena sedang malas atau enggan, daripada terpaksa ikut hanya karena rasa ‘nggak enak sama temen’ ya gak perlu dipaksakan. Better terus terang aja kalau sedang tidak ingin pergi dengan alasan atau tidak perlu pakai alasan. Karena melakukan hal yang terpaksa itu hanya merugikan diri sendiri. Kalaupun memang terpaksa harus pergi, ya konsistenlah, artinya, keputusan untuk pergi toh kita buat sendiri walau terpaksa, jadi nikmatilah semuanya. Jangan bersungut-sungut yang hanya akan mengganggu mood orang lain.

Selalu bersyukur, ini penting, karena kalau kita tidak pernah bisa bersyukur untuk hal-hal yang sepele, betapa mengerikan hidup kita. Isinya hanya keluhan dan keluhan. Sebagai manusia biasa ya pastilah selalu merasa kurang, tapi kalau itu disikapi dengan selalu mengeluh dan bersungut-sungut, seberapa besar yang kita dapatkan tidak akan membahagiakan juga. Nikmati setiap prosesnya, sekecil apapun yang kita terima tetaplah bersyukur. Memang, sungguh lebih mudah bersyukur ketika kita tercukupi apa yang kita inginkan, tapi mampukah kita bersyukur untuk kondisi terpahit dalam hidup kita? Karena hidup itu selayaknya dinamis, ada cukup ada kurang kadang bahagia kadang sedih, jalani saja dan mengucap syukurlah kita masih diberi hidup dan kekuatan untuk menghadapinya. Bukankah itu hal yang luar biasa yang patut kita syukuri?.

Dan, diatas segala kesulitanku, aku mengucap syukur untuk banyak hal bahkan yang terkecil. Aku bersyukur berada di tempat kerja yang menyenangkan, dengan pekerjaan yang aku sukai. Ngomongin kurang, selalu aja ada kurangnya, tapi tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Lalu, aku bersyukur masih memiliki teman yang banyak, entah itu yang selalu ketemu setiap hari atau hanya bercengkerama di dunia maya. Baik teman yang menyenangkan maupun tidak, semua adalah teman. Bahkan yang tidak menyukai akupun tetap aku anggap sebagai teman. Hak mereka untuk tidak menyukai aku. Juga aku bersyukur masih bisa dibuat marah oleh satu atau dua orang teman, karena itulahromantika berteman. Tidak selalu cocok dan akur. Yang penting (berusaha) untuk tidak merugikan mereka.

Aku bersyukur atas kesehatan walau kadang ada saja yang membuat tidak nyaman, tapi aku masih tetap bersyukur aku sehat. Masih bisa bekerja dan beraktivitas. Semoga selalu sehat. Kalaupun ada kesakitan dalam tubuhku, aku anggap peringatan untukku beristirahat.

Begitupun aku bersyukur bertambah tua hari ini, dengan usia yang tidak lagi muda, masih memiliki energy yang besar untuk berkarya. Tidak memungkiri, kadang ada keluh menyisip dalam hati, seharusnya, di usiaku saat ini, bukan waktuku bekerja keras. Seharusnya begini, seharusnya begitu….
Aaah…..sungguh sebuah pikiran yang meracuni tubuh. Tidak perlu. Karena, kalau sampai di usiaku seperti ini masih bekerja keras, itu karena ‘pilihanku’ di masa lalu. Mengeluh bukan pilihan yang tepat, bahkan aku tidak memberi ruang sedikitpun untuk aku bisa mengeluh. Nggak sempat. Kerja dan kerja. Aku masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan, dan itu sebuah anugerah yang luar biasa, jadi mengapa tidak dipergunakan dengan semestinya.

Terimakasih untuk usia menjelang setengah abad. Juga bersyukur masih terlihat bugar, segar dan cantik *ahahahha puji aja sendiri J*
Itulah kebanggaanku satu-satunya, tua dalam angka, tapi muda dalam keseharian.

Selamat ulang tahun kepada diriku sendiri, mana kado untuk diri sendiri? Aaaahh….aku terlalu mahal merencanakan kado untuk diri sendiri, masih juga berkat belum tercukupi untuk memenuhinya. Tak apalah. Mungkin lain kali. Nabung lagi hehehe

Setidaknya, hari ini aku menghadiahi diri sendiri dengan melaunching music webblog ku yang bertahun-tahun terbengkelai, iniradio.com semoga hadiah ulang tahunku ini bisa berguna buat banyak orang nantinya.

Terimakasih ratusan teman yang sudah mengucapkan dan mendoakan banyak hal baik hari ini. Aku amin-kan semuanya. Semoga Tuhan mendengar 🙂

Akhirnya, terimakasih Tuhana sudah memberiku kesempatan hidup dan berkarya sampai dengan hari ini. Puji Syukur tak terhingga untuk itu.

Syalom,

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s