Ribut Terus? Udah Bener Belum Cara Berkomunikasinya?


Masalah komunikasi terbesar adalah kita tidak mendengarkan untuk memahami tapi kita mendengarkan untuk membalas dengan segala asumsi sendiri dan pandangan yang berbeda. Padahal asumsi dan kurangnya komunikasi itu adalah pembunuh nomer satu dari sebuah hubungan.

Apapun bentuk hubungannya, entah itu hubungan cinta atau pekerjaan, yang namanya relationship itu tidak akan pernah lepas dengan yang namanya komunikasi. Komunikasi berperan penting menentukan keberhasilan dari hubungan tersebut. Yang pengen aku bahas sekarang ini tentang komunikasi dalam sebuah hubungan cinta, terutama untuk sepasang kekasih yang sering terlibat pertengkaran hanya karena masalah komunikasi. Bukan seberapa banyak jalinan komunikasinya, tapi seperti apa bentuk komunikasinya.

Bagaimana hubungan cinta seseorang akan berhasil bila tidak adanya jalinan komunikasi yang baik diantara keduanya? Tidak bisa aku bayangkan,seandainya ada hubungan yang salah satunya sulit diajak komunikasi atau bahkan jarang berinteraksi. Hubungan macam apa itu? Aneh menurutku, sebesar apapun cinta di antara keduanya,tanpa komunikasi atau interaksi sama dengan NOTHING!!

Mungkin kalian berpikir bahwa, mana ada hubungan seperti itu, yang namanya orang pacaran itu pastilah berkomunikasi.

Oh iya. Itu benar, tapi komunikasi macam apa dulu itu. Aku beberapa kali mendengar keluh kesah dari yang curhat sama aku, tentang komunikasi ini. Ternyata, banyak juga diantara pasangan-pasangan yang begitu sulitnya berkomunikasi.

Bahkan 9 dari 10 pertengkaran  bisa dipastikan alasannya hanya karena komunikasi yang salah. Tidak nyambung. Yang satu inginnya apa, ditanggapi dengan salah oleh lainnya. Alhasil perdebatan itu berujung pada pertengkaran. Semua hanya karena cara berkomunikasinya yang tidak tepat. Ditambah lagi dengan salah satunya mengabaikan pola komunikasi yang intens. Artinya, kadang tidak terpikir akan untuk mengkomunikasikannya karena dianggap tidak penting. Masalah penting dan tidak inilah kadang memicu perdebatan. Tidak penting menurut satu pihak, tapi bisa jadi sangat penting untuk pihak yang lain.

Contoh sepele.

“Aku udah mau balik dari kantor nih”

“Okay. Take care yak”

Beberapa jam kemudian.

“Kamu udah di rumah? Aku otw kerumahmu”

“Ya belumlah, kan aku sekalian ke cafe A ketemuan sama temenku”

“Loh kok nggak bilang?”

“Udah bilang kaliiii…..kan kemaren aku bilang kalau hari ini mau nongkrong sama temen”

“Iya memang. Tapi kok pas pulang tadi gak bilang”

“Ya aku pikir kamu udah tau, jadi ga kepikiran juga mau ngasih tau lagi”

“Apa susahnya sih Cuma ngasih tau kalau mau langsung kesitu”.

“Duh..gitu aja kok malah jadi ribet sih”.

“Bukannya ribet, tapi kalau misalnya kamu tadi bilang, kan aku langsung nyusulin kamu. Nah sekarang posisinya aku udah hampir deket rumahmu. Kan jauh lagi kalau mau balik ke situ”

“Ya udah sih, nggak perlu kesini kan gak papa. Aku bisa pulang sendiri kok”

“Astaga kamu ini! Aku tau kamu bisa pulang sendiri. Tapi bukan itu yang aku permasalahkan?”

“Lah terus apa? Kan tadi kamu sendiri yang ngeluh karena jauh mau ke cafe ini. Gimana sih”.

“Iya memang. Maksudku, kalau tadi kamu bilang kan gak sampe kayak gini”

“Aku udah pamit loh ya tadi. Kemaren juga udah ijin mau nongkrong sama temen-temen. Terus aku lagi ini yang salah?”

“Kamu kebiasaan selalu begitu. Menyepelekan hal-hal kecil”.

“Ya ampuuun…..kok jadi panjang ya pake nyalahin kebiasaanku segala”.

“Memang kamu selalu begitu kan? Padahal aku sudah sering mengingatkan soal komunikasi dari hal-hal yang sepele. Masih aja kamu lakuin”.

“Gila ya. Masalah sepele aja jadi ribut gini”.

“Sepele? Jadi menurutmu ini masalah sepele? Itulah kamu, semuanya dianggap sepele. Bahkan sampe menyepelekan bagaimana menghargai orang lain”.

“Cuma masalah aku lupa nggak ngabarin kamu kalau langsung ke sini doang langsung kamu anggap aku nggak menghargai kamu. Ya nggak gitu juga dong. Aku kan sudah ijin kemaren, semuanya harus pake ijin katamu. Itu sudah aku lakukan. Masih aja salah”.

“Ini bukan soal ijin!”.

Blaaar…….

Panjang. Iya. Perdebatan itu menjadi sebuah pertengkaran, lalu jadi panjang dan lebar kemana-mana. Dan itu semua hanya masalah kecil sebenarnya, tidak terbiasa menyampaikan hal-hal yang terlihat sepele. Itu saja. Apakah hanya salah satu yang salah? Menurutku, keduanya salah. Mengapa begitu?

Begini.

Dari contoh kasus tersebut, semua bermula dari sama-sama lupa. Yang satu lupa ngasih tau bahwa dari kantor langsung ke tempat nongkrong. Yang satunya juga lupa kalau sore itu kekasihnya ada agenda nongkrong dengan teman-temannya. Kalau saja kekasihnya dari awal sudah menyampaikan, simple saja misalnya,”Aku sekalian ke tempat nongkrong nanti sebelum pulang”, tentu saja pertengkaran itu tidak akan terjadi, karena sang kekasih akan langsung menjemput kekasihnya di tempat nongkrong tidak langsung ke rumahnya. Hanya karena mis komunikasi sederhana, kejutan yang sudah dipersiapkan sang kekasih buyar seketika. Bisa saja dia berencana langsung ke rumah kekasihnya untuk memberi kejutan dengan hati berbunga-bunga. Drop langsung hanya karena masalah komunikasi. Sepertinya kesalahan terjadi pada kekasih yang tidak memberitahu lebih dulu. Tapi selanjutnya, sang kekasih juga menjadi salah karena, memperpanjang masalah itu tidak pada tempatnya. Itu karena kejengkelan hatinya, atau buyar suasana hatinya karena kejutan yang akan dia berikan gagal. Emosi. Terpancing emosi sehingga tidak lagi bisa berpikir jernih untuk segera mencari solusi, yang ada membahas masalah itu sampai panjang. Padahal, kondisi seperti itu, bila saja ditanggapi dengan sedikit santai walau jengkel setengah mati, bisa segera mencari solusi. Misalnya dengan cara begini:

“Oh iya ya aku kok lupa kalau kamu mau nongkrong sama teman-temanmu. Masih lamakah?

Yang disana tentu akan merespon dengan asik juga.

“Aaaah aku juga lupa tadi nggak ngasih tau dulu kalau langsung kesini. Maaf ya. Mungkin sejam lagi aku udah bisa pulang kok”

Secara otomatis tanpa disuruh, sang kekasih akan langsung minta maaf atas kekeliruannya. Dan ini lebih menyejukkan hati. Dibanding dengan langsung memberondong dengan segala macam tuduhan dan kekesalan. Selanjutnya bisa membuat agenda yang lain.

“Ya sudah kalau gitu nanti ngabarin aja kalau udah mau pulang. Aku mau mampir ke mal deket rumahmu sekalian cari sesuatu”.

Case close. Tidak ada perdebatan, tidak ada pertengkaran. Tapi hal sepele tersebut bukan berarti lantas diabaikan. Bisa menjadi topik pembicaraan kalau sudah bertemu dalam suasana enak, dan dibahas secara baik-baik. Tentu hasilnya akan berbeda dengan yang pertama.

Jadi sebenarnya, kunci utama bisa membentuk komunikasi yang baik adalah, bagaimana kita merespon permasalahan itu. 

Selain masalah komunikasi yang tidak tepat dalam sebuah kasus. Bisa juga sebuah hubungan akan menjadi berkurang chemistrynya ketika intensitas tidak terjaga. Setiap orang mungkin punya prinsip yang berbeda dalam sebuah hubungan, salah satunya mungkin berprinsip tanpa rutinitas percakapan selama masih bisa menciptakan kenyamanan diantara keduanya itulah cinta.

Well….lantas aku berpikir, bagaimana bisa ada kenyamanan bila tanpa interaksi yang intens? Apa yang didapat ketika bersama-sama tapi tanpa obrolan? Satu hal yang aku pahami adalah,“Rasa cinta itu perlu dipelihara, bukan cuma sekedar ditanam lalu tumbuh dengan sendirinya, dan sarana untuk memelihara rasa itu dengan sebuah interaksi”.  Tanpa adanya komunikasi/interaksi rasa cinta yang sudah ada itu bisa menguap dengan sendirinya.

Suatu kali seorang teman mengatakan kalau dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Aku sempat heran, karena aku mengenal siapa yang membuatnya jatuh cinta. Aku hanya bertanya,”Kok bisa? Bukannya selama ini kalian sekedar saling sapa kalau bertemu? Kalian sudah lama kan kenalnya? Kok nggak dari dulu jatuh cintanya?” Semburan pertanyaan itu dia jawab dengan sebuah kalimat sederhana,”Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya kami jadi sering berinteraksi”. Sudah begitu saja.  Interaksi disini bukan dalam bentuk pertemuan demi pertemuan, tapi komunikasi. Mereka selalu berkomunikasi dalam bentuk apapun, bahkan kadang obrolan sederhana tanpa makna dalam. Dan komunikasi itu dilakukan oleh kedua pihak, bukan salah satu saja yang selalu memulai komunikasi. Begitulah, bahkan sebuah komunikasi yang sederhana mampu membuat seseorang saling merasa nyaman dan jatuh cinta.

Aku bukan mau menghakimi bahwa tidak berkomunikasi itu adalah sebuah kesalahan….tapi coba dipikirkan deh,pasti hampir semua kesel ketika chat maupun sms terabaikan. Yang Cuma sekedar teman saja bisa kesel, apalagi kalau itu adalah pacar. Kalau makin lama komunikasi itu makin berkurang, atau hanya salah satu pihak yang selalu berinisiatif memulai, bisa dijamin sudah terjadi perasaan yang berbeda diantaranya.

Hal yang sederhana sebagai bentuk dari menghargai orang lain adalah membalas atau merespon pesan-pesannya. Simplenya gini deh, ketika orang mengirim pesan buat kita, prosesnya adalah : memikirkan, mencari nama yang akan dihubungi, dua hal itu saja bisa dikatakan ada niat. Ga mungkin menghubungi seseorang tanpa memikirkannya lebih dulu. Sederhana kan? Masihkah komunikasi menjadi salah satu yang penting buatmu?

KOMUNIKASI adalah bentuk menghargai orang lain. Belajar mendengar, mempelajari dan memahami seperti apa orang yang kita ajak berkomunikasi. 

Mari menyelesaikan masalah dengan memperbaiki cara BERKOMUNIKASI.

Syalom

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s