Mencintai Orang Yang Sudah Punya Pasangan Itu Nggak Salah.


Iya memang nggak salah. Yang namanya cinta itu kadang datang dengan sangat tidak sopan dan tidak tau diri memang.

 

   Dilarang tak bisa, dipaksapun apalagi, makin tidak bisa. Munculnya pun kadang tidak tepat. Tidak tepat waktu, juga tidak tepat kepada siapa. Begitupun perasaan cinta terhadap seseorang yang sudah punya pasangan. Pasangan resmi pula. Salah? Tentu tidak. Sah-sah aja, namanya juga jatuh cinta.

Tapi, akan menjadi salah dan masalah bisa perasaan itu bukan saja terus dipelihara tapi diwujudkan.

Bagaimana bisa lantas diwujudkan? Mengapa tidak?

Cinta itu bisa lantas terwujud bila mendapat respon positive dari yang bersangkutan.

   Awalnya sekedar jatuh suka atau simpatik, tidak terlalu menjadi pikiran sebelum ada sinyal positive. Ibarat kata, gayungpun bersambut. Senyum terbalas, percakapan-percakapan kecil mulai tercipta. Hasilnya adalah, perasaan yang semula sekedar terpesona meningkat jadi jatuh cinta.

   Selanjutnya, cinta itu makin berkembang ketika peluang terbuka lebar. Peluang? Iya. Peluang selalu bersama. Entah itu selalu bertemu di kantor yang sama, atau dalam sebuah pekerjaan yang sama, atau bahkan aktivitas dalam circle yang sama. Biasanya, situasi yang seperti itulah yang memicu ‘perasaan terlarang’ itu muncul bahkan berkembang.

  Hal-hal sederhana yang bisa menciptakan semua itu misalnya saja tentang intensitas komunikasi, perhatian, kasih sayang atau….

Perhatian.

   Perhatian yang seperti apa? Sekedar greeting pagi, siang,malam? Mungkin lebih dari itu, setidaknya ketika sedang penat oleh banyak pekerjaan atau masalah, ada teman diskusi yang nyaman, cocok dan tentu menyenangkan. Pastinya begitu, saling mempunyai rasa kan? Mencuri waktu dikala padat pekerjaan, tentu ini akan menjadi saat yang menyenangkan. Walau hanya sekedar berbincang-bincang di sudut salah satu cafe dengan secangkir kopi barangkali. Waktu senggang di hari kerja jadi bisa sangat berkualitas dan dinanti.

Kasih Sayang.

   Kadang, bentuk kasih sayangnya bukan sentuhan fisik yang menjadi pilihan utama, tapi kedekatan secara emosional. Memberi prioritas waktu untuk sebuah pertemuan. Entah itu hanya sekedar berbincang-bincang, atau hang out bareng. Nonton misalnya. Apalagi bila punya kesenangan yang sama, sama-sama senang nonton. Lalu memperbincangkan hal-hal menarik dari film yang barusan ditonton. Tentu ini menjadi moment paling berkesan untuk keduanya. Yah intinya, ketika sedang butuh teman untuk hang out, si dia selalu bersedia menemani, atau meluangkan waktu disela padat aktivitasnya.

Rutinitas

  Seberapa intens komunikasi yang terjadi? Dari masalah ringan sampai berat menjadi topik pembicaraan, baik dalam agenda pertemuan atau cuma sekedar chat messanger. Tidak harus ada ungkapan sayang di dalamnya. Karena hubungan orang yang sudah dewasa kerap kali tidak butuh ucapan yang terdengar basi seperti itu. Bahkan, bisa saja yang menjadi topik pembicaraan adalah keseruan bersama buah hatinya. Apapun itu, bisa menjadi alasan untuk sebuah percakapan.

Berawal dari urusan lidah dan perut.

   Dari yang sering terjadi disekitarku, hubungan itu semua bermula dari datang ke tempat undangan makan bersama, karena kebetulan itu undangan dari teman di circle yang sama. Lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan makan bareng,entah sekedar sarapan soto atau setiap pulang kerja hunting tempat makan. Kemana-mana selalu bersama, dari yang sekedar mencoba menu baru di sebuah tempat makan,sampai akhirnya menjadi partner tetap hunting tempat makan. Kebetulan, sama-sama doyan makan dan mencoba tempat makan baru. Akhirnya, disetiap agenda hangout bersama teman-temanpun, jadi otomatis datang barengan. Sesederhana itu semuanya berawal.

   Hak masing-masing sih kalau mau meneruskan ‘saling suka’ itu, kadang kalau lagi nyaman dalam kondisi seperti itu juga pada gak bisa di nasehatin kan. Malah ujung-ujungnya kita yang ngasih nasehat dibilang sok ikut campur urusan orang. Tragisnya, ada juga yang berbalik menyerang, menjauhi atau memusuhi yang nasehatin sebagai bentuk pertahanan diri.

   Cuma mau ngasih tau aja, kalau ada diantara kamu terjebak situasi seperti itu. Sedikit saran kalau masih mau ‘main cantik’ dan nggak pengen terjerembab sakit hati hehehehe. Beberapa hal yang seharusnya diingat dan dipersiapkan.

Apa sih yang bisa diharapkan? Mau berharap apa??

   Intinya adalah, jangan terlalu banyak berharap pada seseorang yang sudah memiliki pasangan resmi. Karena sebesar apapun cintamu, tidak akan pernah menjadi pasanganmu yang sebenarnya. Ada saatnya perasaan itu harus berhenti karena sebuah kondisi dimana dia harus kembali pada keluarganya dan tidak memiliki waktu lagi bersamamu. Persiapkan hatimu untuk kondisi itu, yang pasti akan terjadi.

   Yakin tidak akan cemburu dengan keharmonisan keluarganya? Pertanyakan pada hatimu, sekecil apapun, pasti ada rasa cemburu yang menyelinap dalam hatimu. Mungkin kamu bisa saja dengan arogan bilang,”Ngapain aku cemburu?” Lalu, siapkah hatimu ketika sampai pada saatnya kamu harus mengatakan,”Aku tuh siapa sih buat dia? Bukan siapa-siapanya”. Periiih tsaay…..

   Siapkah hatimu bila sewaktu-waktu harus dikesampingkan karena dia memilih bersama keluarganya daripada kamu? Pada awal-awal hubungan itu tercipta, semuanya masih terasa indah. Dimana kamu masih menikmati indahnya diprioritaskan.

Berharap untuk tetap di perhatikan? Jangan lebay deh. Jelas itu besar kemungkinan tidak terjadi. Karena ada yang lebih besar untuk dia perhatikan. Keluarganya.

Berharap untuk tetap disayang? seberapa besar dia bisa berikan itu? seberapa lama dia bisa bertahan melakukan itu??? tidak akan lama……

Syarat dasar berani mengambil keputusan menjalani status seperti itu adalah, kamu sudah memegang sebuah komitmen dalam dirimu sendiri bahwa kamu siap selalu cemburu,siap sewaktu-waktu di kesampingkan,bahkan juga siap sewaktu-waktu ditinggalkan.

   Jadi, apa yang harus ditangisi bila tiba masanya kamu ditinggalkan? Bukankah dari awal sudah tau kondisinya, dan tetap meneruskan rasa jatuh cinta itu. Yang semula hanya nyaman berteman, ujung-ujungnya pakai hati juga.

Bahagia yang kamu dapatkan hanya semu, sesungguhnya, kamu tidak benar-benar bahagia. Hanya merasa bahagia.

Karena, tidak ada yang bisa kamu harapkan lebih dari dia, pahami posisimu, sadari kekuatanmu. Tak ada yang layak untuk dipertahankan dan diperjuangkan.

Masih tetap berdalih bahwa kalian hanya ‘berteman dekat?’ sebagai dalih pembenaran atas hubungan itu? Ataukah hanya untuk menghibur diri sendiri?

Trust me,

“You can never ‘just be friends’ with someone you fell in love with”.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s