Adventures are the best way to learn


adventure

 

 

Sometimes, you just need to take a new path to reach your destination.

Melengkapi postingan ke-25 ini, target yang aku buat sendiri untuk content blogku, mungkin aku akan menarik waktu kebelakang. Mencatat kembali banyak hal yang mewarnai tahun 2015 ini.
Aku mengistilahkan tahun 2015 ini sebagai tahun yang berwarna, tahun penuh gejolak, tahun yang grafiknya melesat naik, juga tahun penuh petualangan dan pengalaman baru. Baik itu tentang pengalaman hidup,aktivitas, maupun hati *tssaah.

Tahun 2015 ini semacam tahun titik tolak sebuah perubahan. Perubahan untuk diriku sendiri. Tahun 2014, aku tidak membuat resolusi apapun untuk tahun 2015. Begitulah, tetap dengan prinsip let it flow, alias jalani aja. Tapi yang tanpa rencana bahkan direncanakan, semua hal baik terjadi begitu saja.
Diawali dengan keseriusanku kembali incharge di sebuah radio. Ngantor dengan jam kerja selayaknya kantoran, nine to five, walau pada prakteknya, seperti yang selalu terjadi dari dulu, tidak pernah pulang tepat waktu sesuai jam kerja. Seringnya pulang lebih larut. Bukan sekedar karena banyak kerjaan sih,lebih tepatnya, sangat menikmati pekerjaanku sebagai Music Director yang secara nyata membuat daily playlist. Itu kesibukan yang sangat membahagiakan.
Lepas dari segala pernak-pernik yang terjadi. Konflik disana-sini, tapi dengan menyadari bahwa, begitulah ritme dalam pekerjaan membuatku bisa mengesampingkan semuanya. Toh masih banyak yang bisa aku nikmati. Setahun penuh aku bekerja lebih dari 12 jam, pagi jam kantor di radio, selanjutnya bergegas kekantor keduaku, Maliome Hackerspace.

Di tahun 2015 ini juga aku baru menemukan bahwa, yang selama ini aku anggap sebagai ‘goal’ itu ternyata salah. Bertahun-tahun aku memegang erat sebuah prinsip bahwa ‘goal’ ku dalam karir di radio adalah ketika aku bisa total memaksimalkan kemampuanku di radio. Betapa aku menyimpan rasa penasaran itu sekian lama, nyaris sepanjang karirku di radio. Tapi, semakin mendekati prosesnya, semakin aku ragu bahwa itulah ‘goalku’. Pun aku tidak lagi memiliki keyakinan yang besar seperti sebelumnya. Sepanjang 25 tahunperjalananku di radio, sampailah aku pada puncak titik jenuh. Akhirnya, aku bisa jenuh juga. Bukan jadi tidak suka, hanya sekedar ingin ‘menghirup udara segar lainnya’.
Dengan berat hati, aku memutuskan untuk off sementara dari dunia radio. Mudah??? Tentu saja tidak. Pergumulan dahsyat terjadi ketika harus mengambil keputusan. Tapi bila akhirnya disudutkan pada situasi ‘tidak bisa memilih’, akhirnya aku mengambil pilihan untuk ‘tidak memilih’. Maksudnya begini, Radio dimana aku berkarya selama satu tahun belakangan ini mengalami kondisi harus berpindah kepemilikan, dan kalau aku harus memilih off, sebenarnya bukan karena pilihanku. Pada mulanya, ada rasa pedih dan sedih yang amat sangat, tapi bila ternyata aku tidak bisa lagi berjuang mengubah keadaan, pilihannya hanya, menerima keadaan itu dengan berbesar hati.
Mengambil sisi positip dan tetap bersyukur dalam kondisi tidak menyenangkan itu bukan hal yang mudah. Tapi itulah yang harus aku lakukan, disela kesedihanku ‘dipaksa’ off dari radio, aku bersyukur bahwa aku masih punya Listeno. Yang semula Listeno hanya side job, bergeser posisi menjadi main job.

Lalu, apa itu Listeno? Disinilah petualangan dan pengalaman baru dimulai.
Sedikit menjelaskan, Listeno adalah sebuah startup aplikasi audio book di playstore. Salah satu startup milik Maliome Hackerspace. Simplenya adalah, aplikasi buat mendengarkan buku. Buku kok didengerin sih? Bukankah seharusnya buku itu dibaca, mau fisik ataupun ebook tetep aja yang namanya buku itu dibaca. Yap! Tidak salah memang.
Tapi apa sih yang tidak bisa dibuat mungkin dari kata tidak mungkin di era digital ini. Kemajuan teknologilah yang membuat buku itu bisa di dengar.
Sebenarnya, audio book itu sendiri bukan hal yang baru. Tentu saja sebelumnya sudah banyak bermacam-macam versi audio book. Bedanya disini, Listeno adalah audio book yang tersedia dalam bentuk aplikasi di smartphone.

Mengapa aku menyebut di Listeno ini sebagai petualangan dan pengalaman baru?
Karena disinilah aku tidak sengaja ‘kecemplung’ di dunia digital yang sebelumnya sama sekali tidak aku pahami. Tidak secara langsung aku belajar tentang IT, tapi setidaknya, dengan aku setiap hari berkumpul dengan orang-orang IT di kantorku, sehingga mau tidak mau aku mulai mengerti. Tidak banyak sih, tapi minimal agak ‘ngeh’ dikit. LOL.
Aku bergabung dengan Listeno beberapa saat sebelum aku masuk ke radio Kotaperak, radioku yang terakhir kemaren. Jadi memang sebenarnya, bukan karena aku keluar dari radio lalu ke Listeno, justru sebaliknya, aku sudah di Listeno dulu baru ke radio.

Sebuah moment yang tepat menurutku, ketika aku sampai pada titik jenuh, lalu radio off, ini seperti membuka peluang buatku fokus ke dunia yang baru.
Di Listeno sendiri, jobdes ku sebagai Content Manager, bukan hal baru sebenarnya karena tidak jauh dengan dunia olah suara yang bertahun-tahun aku tekuni selama di radio. Yess….NARATOR.
Sebagai aplikasi audio book, tentu harus ada yang membacakan buku. Disinilah tugasku, sebagai narator sekaligus mengorganize para narator, ditambah bertanggungjawab atas penyediaan buku dalam hal ini harus berhubungan dekat dengan para penerbit. Sebagai narator, bukan pengalaman baru, tapi sebagai orang yang harus bernegoisasi dengan para penerbit ini jelas hal baru.
Inilah salah satu yang aku sebutkan sebagai sebuah pengalaman baru, aku tak ubahnya seorang marketing atau PR yang harus presentasi dan membuat para relasi (dalam hal ini penerbit) bekerjasama. Owww ini bukan perkara mudah buatku.

Hal pertama yang harus aku lakukan adalah, mengubah mindsetku. Bagaimana harus menempatkan diri dalam posisi ‘membutuhkan’, demi kesediaan content, aku harus menurunkan ego, inilah perkara tersulit yang harus aku taklukkan. Tentu saja aku belajar dari banyak teman yang canggih sebagai marketing. Mempelajari ilmu mereka untuk aku terapkan dalam pekerjaanku ini. Belajar dan terus belajar. Belum terlambat untuk belajar bukan?Salut aku sama teman- temanku yang selama ini konsisten menjadi marketing di perusahaannya. Kok mereka pada bisa ya…..

Aku yang selama ini selalu menolak keras, karena aku merasa tidak mampu, bila ditawari menjadi seorang marketing, apapun produknya, tapi di Listeno sebaliknya yang terjadi, aku merasa tertantang. Meski tidak mulus dalam perjalanannya, sering juga tertimpa rasa putus asa tapi passion yang besar membuatku mau belajar melakukan itu.

Sempat aku merasa ‘tersesat’ berada disini, tapi dari ketersesatanku ini justru aku menemukan banyak hal yang menarik untuk aku kerjakan. Kesukaanku menulis kembali seperti mendapat tempat disini. Akhirnya, aku punya kesempatan dan banyak waktu untuk belajar menulis.
Keseruan yang lainnya? Banyak banget!!

Aku mulai jatuh cinta dengan aktivitasku yang sekarang ini. Tapi bukan berarti darah ‘R’ ku sudah mati. Tidak. Broadcasting, Music Director sudah mengalir dalam darahku. Ada saatnya nanti,aku akan kembali ketempat dimana aku berasal.

I am grateful that I am open to new experiences and adventures, and because of that I can expose my capacity.

Terimakasih 2015!! I’m so blessed!!

Shalom,

~jeci~

Advertisements

2 thoughts on “Adventures are the best way to learn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s