Rumah adalah aku dan kamu ~


rumah

Dulu sekali, ketika seva masih belum genap 10 tahun, pernah bilang,”Di rumah yang buruk nggak papa mam, yang penting bisa sama-sama mami terus”. Dan sekarang, kita tidak dirumah yang buruk nak, cuma ngontrak memang, tapi kita bisa bersama-sama.

Setahun berlalu tidak terasa, tau-tau sudah harus mikir bayar kontrakan rumah lagi. Kali ini aku tidak memperpanjang kontrakan yang sekarang, tapi sengaja mencari rumah kontrakan yang baru. Yang lebih minimalis biar gak repot bersih-bersihnya. Mengingat aku tuh sangat pemalas untuk urusan bersih-bersih. Jadi harus cari yang simple aja.
Syukurlah setelah pencarian beberapa bulan, akhirnya nemu juga yang ‘klik’, rumah baru, belu pernah ditempati, semua serba minimalis sampai ke kamar-kamarnya kecil banget. Tak apalah, yang penting Seva seneng dengan rumahnya, pun target utama kita adalah dapur. Dan rumah ini, dapur tidak luas tapi menyenangkan, ini cukup buat alasan untuk aku rajin memasak lagi. Belum juga pindahan seva udah menyusun daftar masakan yang harus aku masak untuk bekal sekolahnya.

“Pokoknya mam, nanti di kontrakan yang baru, mami harus masak buat Seva. Seva gak mau jajan di sekolah lagi, Seva ga mau pusing cari maem siang diluar. Udahlah mahal, belum tentu enak pula. Udah lama nih seva gak makan sayur”.

Jangankan Seva, aku juga kangen masakanku sendiri hohoho
Sudah kebayang sayur lodeh, tempe goreng, sambel, tumis kangkung, sayur bening bayem, bobor daun singkong dan lain lain dan lain lain. Oke. Deal!
Walau merasa aneh dengan tatanan ruang dan posisi kamar. Tapi kami bisa berdamai untuk itu, yang penting dapurnya oke buat masak memasak. Tidak lama lagi.

IMG-20151201-WA0019

Setiap kali adegan pindah rumah, selalu teringat pernyataan seorang teman, dulu banget, saat aku lagi-lagi rempong dengan pindahan. Temanku bilang, “Kamu kok pindah rumah terus sih, kayak kucing aja”. Mendengar itu, sebenarnya aku agak tersinggung, dan rasanya ingin menjawab,”Kalau saja aku bisa membeli rumah sendiri, tentu saja aku tidak akan pindah rumah terus. Dhong ora e”. Tapi kalau aku bilang gitu kan jadi terasa pagob alias sengak banget.

Siapa sih yang mau pindah rumah terus, yang artinya selalu cari kontrakan lagi dan lagi setiap tahun. Siapapun orangnya, pasti memilih punya rumah sendiri dan gak akan pindah-pindah lagi. Tapi untuk memiliki rumah sendiri itu kan ga ada yang gratis kecuali dapet undian entahlah. Atau warisan gitulah. Apalagi sekarang ini, harga rumah gak ada yang murah.

Ada juga komentar teman yang lebih tidak menyenangkan lagi. Ketika aku mengatakan harapanku pengen punya rumah, tapi mengingat kondisi kok sepertinya nyaris tidak ada harapan, si teman dengan enteng menyampaikan ide nya.

“Solusinya cuma satu,menikahlah”. What??!!
“Apa hubungannya rumah dengan menikah? Nggak nyambung”. Protesku.
“Ya adalaaah…nggak nyambung gimana, kalau kamu menikah kan punya rumah”.
“Rumah siapa? Kok bisa?”
“Ya rumah suamimulah, kok rumah siapa”. Udah gila kurasa temenku ini. Aku cuma geleng-geleng kepala heran dengan pendapat temenku yang menurutku tidak masuk akal.
“Carilah suami yang bisa beliin kamu rumah. Atau yang sudah punya rumah, kan kamu jadi punya rumah sendiri to”.
“Heh!! Aku tuh pengen rumah, bukan suami. Ngaco aja deh ngomongnya”.
“Loh apa salahnya”
“Ya jelas salahlah! Kalau emang niatnya mau cari suami, ya intinya suami, gak pake mikir rumah segala. Kalau tujuannya menikah cuma biar punya rumah, itu pemanfaatan namanya”.
“Namanya juga usaha kan, yang penting punya rumah”. TLQ sekali usulannya. Abaikan saja, daripada aku tambah emosi.

Aku rasa, aku bukan satu-satunya orang yang setahun sekali pusing mikir kontrakan, entah itu cari kontrakan baru atau harus membayar kontrakan untuk setahun kedepan. Jadi tidak perlu dibuat susah, dinikmati dan tetap bersyukur masih bisa berada di dalam rumah, meski kontrak hahhaha

Banyak yang merasakan hal sama. Pasti banyak keluarga lain diluar sana yang mengalami kondisi yang sama. Dan yang menurutku agak menggelikan adalah, ketika saling menyahut akan pusingnya cari kontrakan atau membayar kontrakan, semua yang berbincang denganku itu notabene lelaki. Alias bapak rumah tangga. Atau para suami. Lha aku???
Mereka pusing, apalagi aku…..
Mereka loh laki-laki, wajar harus mikirin. Lha aku???

Tidak sepatutnya aku mengeluh, justru seharusnya aku bangga atas keunikanku. Bertahun-tahun aku bisa memikirkan urusan para pria dan bisa nimbrung urun saran dan keluhan di antara mereka. Ketika mereka pusing cari uang untuk bayar kontrakan, bayar SPP, sampai ke segala macam cicilan, sama, aku juga. Aku bisa nyambung berada diantara mereka.
Begitupun ketika aku berada diantara pembicaraan para ibu, pusingnya mereka ngatur anak, ngatur keuangan rumah tangga, atau pusing dengan berbagai tingkah anak-anaknya. Sama. Aku juga.

Aku memikirkan semuanya sendiri.

Jadi buat para ibu, masih suka mengeluh??? Sementara ada suami yang siap mendengar dan membantu memikirkan masalah kalian?
Bukankah seharusnya masih bisa tetap bersyukur, serumitnya masalah yang terjadi, masih ada yang bisa diajak bicara,rundingan, diskusi bahkan juga berkeluh kesah.
Mencomot kata-kata bijak, berdua itu lebih baik daripada sendiri. Katanya sih begitu.

Loh ini tadi kan aku ngomongin soal rumah, kenapa beloknya kesitu ya….
Curhat banget sih kamu J!!

Nggak papa ya nak, kita kontrak rumah dulu. Masih bisa bayar kontrakan rumah aja udah bersyukur.

Shalom,

~jeci~

Advertisements

2 thoughts on “Rumah adalah aku dan kamu ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s