Percakapan Kecil Dari Masa Lalu – Pernyataan Cinta yang Sangat Terlambat


Ada saatnya, orang-orang yang pernah berarti di masa lalu tiba-tiba muncul setelah lama kita lupakan. Ada yang lantas jadi sangat menyebalkan, atau menjadi sebuah pertemanan yang asik. Mungkin di awal terasa menyenangkan bisa bercerita banyak hal menarik yang tersimpan sekian lama, tiba-tiba berhamburan seperti membongkar kotak usang.

Tapi buatku, sama sekali tidak berarti apa-apa. Tidak senang, tidak juga sebal. Biasa saja, karena mereka yang sudah berderet di ruang masalaluku, akan tetap berdiam disana. Tidak akan pernah masuk kedalam ruangku saat ini. Meski begitu, aku tidak perlu megusir mereka ketika datang menghampiriku. Mereka menyapa dan mengajakku bicara, aku tanggapi. Bila tidak menghubungiku, aku tidak akan pernah mencari. Sesederhana itu.

Orang pertama yang datang dengan penyesalannya adalah, yang pernah membuatku jatuh cinta di usia remaja. Satu yang dia ungkapkan berkali-kali adalah penyesalannya sudah menyia-nyiakan aku waktu itu.

“Setiapkali aku teringat kamu,yang teringat adalah kamu yang gak pernah berontak walau seberapa banyak aku menyakiti kamu….” Katanya ketika berhasil menemukan nomer telponku saat itu. Pernyataan itu muncul setelah beberpa kali kami berinteraksi.
Sebenarnya, aku sudah tidak terlalu tertarik dengan percakapan kami yang seringnya membahas kejadian-kejadian masalalu yang menurutku konyol ketika diceritakan sekarang. Tapi kembali aku berpikir, apa salahnya mengenang kekonyolan masalalu. Seperti tiba-tiba aku teringat kebodohanku yang hanya diam tanpa protes ketika dia datang dan pergi semaunya.

“Yang mana? Oh yang kamu gonta-ganti cewek gak jelas itu?” Aku tertawa. “Parahnya, kok kamu cuek aja gitu sama cewek manalah di depanku. Sementara aku? Anteng aja nggak sama siapa-siapa”. Aku terkekeh mengingat itu semua.
“Nah itu dia yang aku gak pernah lupa,aku gonta-ganti pacar tapi kamu tetep aja sendiri,aku jadi merasa bersalah…”
“Eh tapi aku inget, waktu itu aku sempet deket sama temen kita, padahal aku cuma sering curhat aja sama dia. Kamu marah-marah sama aku. Aneh. Padahal waktu itu kamu juga lagi pacaran sama siapalah entah” Aku mengingatkan tentang kebodohannya.
“Oh iya. Gimana aku gak marah, aku tau banget kalau dia itu suka sama kamu. Kok kayak mengambil kesempatan gitu”
“Dih….egois kamu. Aku juga tau sih kalau dia suka sama aku. Aku cuek aja. Malah aku yang jadi gak enak, kayaknya malah aku deh yang memanfaatkan dia” Aku terkekeh lagi.
“Eh aku jadi mau tanya, sebenernya kamu suka sama dia juga nggak sih? Aku marah sama kamu karena aku merasa, kamu itu suka juga sama dia”
“Lah kalau aku juga suka sama dia memang kenapa? Kok kamu harus marah?” Sebenarnya ini bagian yang tidak penting dibahas, toh sudah masa lalu buat apa juga kalaupun tau jawabannya.

“Yeee ditanya kok balik nanya, kalau kamu suka sama dia ya pantaslah kalau aku cemburu” Spontan aku tertawa ngakak mendengar jawabannya. Cemburu? Kok aku waktu itu gak tau ya kalau dia cemburu. Mungkin karena perasaanku masih mentah ala remaja. Tidak tau kalau hal seperti itu namanya cemburu. Aku geli sendiri mengingatnya.

“Kok bisa kamu cemburu? Bukannya kamu waktu itu punya pacar? Dan status kita aja sama sekali nggak jelas” Tanyaku.
“Ah nggak taulah. Aku seperti tidak rela aja kamu sama orang lain. Kok bisa ya aku sebodoh itu dulu. Padahal aku suka banget loh sama kamu”.

Kami tertawa bersama. Lalu berikutnya, kami sama-sama terdiam. Percakapan di telpon itu seperti melambungkan anganku ke puluhan tahun silam. Saat aku menikmati masa remaja di daerah kecil dimana aku bersama orangtuaku tinggal. Disanalah aku mengenal getaran hati pertama kalinya. Pertama kali aku tau yang namanya ‘suka’ dengan seseorang. Atau mungkin bahkan itu yang namanya jatuh cinta. Baru menyadari bahwa malu-malu kucingnya kami saat itu adalah cinta. Yang terjadi kemudian, segala sesuatunya memang tidak berjalan mulus lalu dengan berjalannya waktu,aku tidak pernah lagi memikirkan dia dan segala cerita tentang dia,karena akupun sudah jauh meninggalkan kota dimana kami sama-sama tumbuh.
Jarak,waktu dan cerita hidup yang berbeda membuatku melupakan bahwa aku pernah punya kenangan indah di masa lalu bersama dia. Walaupun seingatku, saat itu yang terjadi hanya senyum malu-malu ketika bertemu. Boro-boro sampai pergi berdua, hanya sekedar ngobrol berdua saja tidak pernah. Selalu bergerombol dengan teman-teman yang lain. Tapi saat itu aku merasa indah walau hanya seperti itu.
Aaaah masa remaja. Menggelikan bila diingat. Bagaimana aku terpaku rasa terhadap satu orang. Seperti tidak bisa jatuh cinta pada orang lain. Mengingatnya sekarang hanya membuatku geli sendiri, sebenernya waktu itu aku setia apa bodo sih.

“Jadi merasa bodoh nggak sih kalau kita mengingatnya lagi? Pun buat apa coba kita membahasnya? Kan udah nggak penting juga sekarang”. Kataku memecah kesunyian.
“Iya sih memang. Aku cuma kadang kalau inget kamu, masih merasa bersalah aja dengan kelakuanku dulu”.
“Halah. Sudahlah. Toh waktu itu kita masih sama-sama abg, ngerti apa soal cinta” Aku tertawa. Tapi kali ini aku tertawa sendiri, karena aku tidak mendengarnya ikut tertawa. Hening.
“Halo?? Kok diem??” Tanyaku akhirnya. Aku mendengar dia mendesah di ujung telpon.
“Gimana ya caranya aku minta maaf. Mungkin memang kita masih abg waktu itu, tapi aku tetap aja merasa sangat keterlaluan sama kamu”.
“Ya udah sih. Aku juga udah lupa kok. Mungkin aku sudah memaafkanmu lama sekali”.
“Makasih ya. Aku cuma mau bilang, sebenarnya dulu aku cinta banget sama kamu. Tapi aku tidak tau caranya menghargai perasaan kamu”.
“Iya iya….aku tau. Ya sudahlah. Jangan terlalu merasa bersalah. Aku sudah melupakan semuanya”. Jawabku tulus.
“Tapi gimana kalau ternyata aku tidak bisa melupakanmu? Bagaimana kalau ternyata aku masih sering kepikiran sama kamu? Atau bagaimana kalau ternyata aku masih merasakan cinta sama kamu? Mungkin kali ini cinta yang lebih dewasa?”.
Pertanyaannya yang beruntun itu mengejutkan aku. Aku tidak bisa langsung menjawab. Diam dan berpikir. Ini apa maksudnya?

“Masih pentingkah semua itu untuk waktu sekarang?” Aku balik bertanya.
“Sepertinya tidak penting. Tapi aku pengen tau jawabanmu”.
“Untuk apa?”.
“Ya pengen tau aja. Karena seperti itulah yang aku rasakan selama ini”.
“Oh……”
“Kaget? Lama sekali aku mencarimu, aku pikir, aku selalu teringat kamu hanya karena aku merasa bersalah. Tapi setelah aku rasa-rasakan lagi. Bukan hanya itu, aku masih menyimpan perasaanku di ujung hatiku. Kadang perasaan itu menguap keluar.” Katanya lirih. Aku kembali bingung harus menjawab apa. Karena sejujurnya, jangankan perasaan, selama ini mengingat dia aja aku tidak pernah.

“Jadi gimana?.
“Apanya yang gimana?” Ah aku malah memberi pertanyaan bodoh.
“Ya ya ya….aku tau, itu tidak penting lagi buatmu. Tapi setidaknya sekarang aku lebih lega, sudah mengatakan semua penyesalanku. Dan meminta maaf untuk semua kelakuanku dulu. Soal bagaimana perasaanku sekarang, anggap saja itu karma karena aku sudah menyia-nyiakanmu dulu” Katanya menjelaskan. Giliran aku yang mendesah. Sungguh, ini pembahasan yang sangat tidak penting lagi buatku.

“Aku cuma bisa bilang, bahwa aku sudah memaafkanmu, dan melupakan semua yang kamu lakukan terhadapku dulu. Anggap saja kita masih sangat muda sehingga begitu mudah kita melakukan kebodohan itu. Sekarang, kita punya kehidupan masing-masing. Jadi menurutku, kita kembali saja menjalani hidup kita seperti biasa. Soal perasaanmu, aku tidak melarang atau memaksamu untuk menyimpannya. Bila itu tidak mengganggu kehidupanmu yang sekarang, silahkan menyimpannya. Tapi kalau yang kamu rasakan itu hanya mengganggu kebahagiaanmu, lebih baik segera lupakan.” Jawabku panjang lebar, berharap apa yang aku katakan itu tidak menyinggung perasaannya atau bahkan melukainya.

“Baiklah, aku mengerti. Terimakasih ya kamu masih mau menerima telponku, masih mau bercakap-cakap denganku. Aku senang”.
“Its Okay. Kita kan berteman, masak aku harus jahat sama teman lama” Kataku bercanda. Untungnya diapun tertawa. Percakapan di telpon itu berakhir dengan baik.

Tidak perlu di sesali apa yang telah lewat. Apa yang terjadi di masalalu tidak bisa dibuang begitu saja. Hanya kita sendiri yang bisa memilih akan mengingat yang mana. Bila hanya menyakitkan, kita bisa mengendapkannya. Tidak perlu mengaduknya kembali. Dari sekian panjang percakapanku dengan orang di masa remajaku itu, menyisakan pertanyaan panjang, mengapa pernyataan cinta itu harus datang sedemikian terlambat.

Note:

Kisah ini sudah dipenuhi drama hanya untuk sebuah tulisan dalam rangka memenuhi quota #SelfChallenge

Shalom,

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s