#justsaying


Bertemu, lalu berkomunikasi. Intensitas meningkat. Jatuh cinta seketika. Kemudian perlahan menghilang. Selanjutnya terlupakan. Sudah biasa terjadi begitu bukan??

Teringat beberapa waktu lalu, mungkin beberapa bulan yang lalu. Aku pernah geleng-geleng kepala melihat seorang temanku, yang nota bene lelaki dewasa, begitu tergila-gila mengagumi seseorang. Seorang wanita muda belia, tidak bisa dibilang jelek rupa juga. Lumayan bening menurutku.


Aku berulang kali bertanya, apa yang membuatnya begitu kesengsem sama gadis belia itu. Menurutnya, tidak ada yang istimewa sebenarnya, hanya menarik perhatiannya saja karena orangnya asik di ajak bicara, tapi cenderung manja dan kolokan.
Aku protes, ya iyalah manja dan kolokan, masih muda gitu umurnya. Juga aku sempet mencela bahwa si gadis cantik itu, tidak secerdas rupanya, ada banyak kekonyolan ketika diajak bicara.
Menurutnya, itu justru yang membuat si gadis itu terlihat lucu di matanya. Karena sering tidak nyambungnya. Duh.
Akhirnya aku tidak pernah lagi berkomentar tentang itu. Menurutku, sah-sah saja dia terpesona dan kesengsem dengan si gadis muda belia itu. Hanya, secara sambil lalu, waktu itu aku berkata,”Hati-hati jatuh cinta beneran lho”.
Dengan antusiasnya dia menjawab,”Lho memang aku sudah jatuh cinta”.
Oke baiklah…..

Beberapa waktu kemudian, apa yang terjadi pada temanku itu, berbalik ke arahku. Ya, benar. Seperti arah mata angin yang berubah haluan. Arah mata angin itu menuju padaku. Apa pasal??
Aku terkesima, terpesona dan kesengsem juga dengan lelaki muda belia. Aku terdiam menyadari ini. Jangan sampai temanku mengetahuinya. Bisa dibalas nanti. Pasti dia akan berkomentar lebih nyelekit lagi.
Mungkin seperti inilah yang dirasakan temanku. Hanya sekedar terpesona dan kesengsem. Tapi seperti juga dia yang sering merindukan gadis belianya. Akupun sama. Sering merindukan pertemuan dan percakapan dengan si lelaki muda. Banyak hal baru yang aku dapatkan, sesuatu yang tidak pernah menjadi topik pembicaraan dalam setiap obrolanku dengan banyak orang selama ini. Mungkin itu salah satu alasannya. Tapi yang membedakan dengan si gadis belianya temanku itu adalah, si lelaki muda ini lebih smart, cerdas dan punya standart pola pikir yang tinggi. Juga idealisme yang nempel di badan pesawat, alias tinggi banget!!
Ketika si teman tau tentang ini, komentarnya pun sama.
“Halah. Masih kecil itu….jangan terlalu serius. Jatuh cinta beneran rasain”.

Dan akupun menjawab, mengulang jawaban dia tempo hari.
“Memang aku sudah jatuh cinta kok.”

Skakmat!!!

Karma does exist!!

Ahhh….apa artinya jatuh cinta buatku, hanya semacam menelan daging buah durian, yang setelah habis masih tersisa aromanya. Setelah itu, angin lambat laun akan menghapusnya. Apalagi kalau orang yang membuatku jatuh cinta itu sudah mengoyak harga diriku. Hal itu akan segera membuatku amnesia.

“Hah?? Emang aku pernah jatuh cinta sama dia? Masak sih? Ah itu cuma kilaf kurasa”.

Selesai ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s