Itu bukan cinta


Gerakan tangan kami di atas gadget masing-masing terhenti di waktu yang sama. Menatap gambar yang sama. Lalu sama-sama diam. Dengan pikiran masing-masing.

Sore itu sengaja ku luangkan waktu untuk seorang teman yang lama tidak bertemu. Hanya saling menyapa di sosial media. Rupanya dia sedang bersedih atas perpisahannya dengan orang yang dia cintai.
Aku menyimak setiap keluh yang dia sampaikan. Berceritalah dia bagaimana terpaksa melepaskan kekasihnya. Bukan karena dia tidak mencintainya. Tapi karena sudah sampai pada titik tidak lagi bisa bertahan atas ketidak jelasan.
Aku mengenal keduanya, dia dan kekasihnya. Sama-sama temanku. Aku pernah begitu marahnya atas sikap si pria yang terlihat tidak sungguh-sungguh mencintai kekasihnya. Apalagi memperjuangkannya. Ada banyak alasan yang dia sampaikan, dari masalah jarak dan kesibukan. Apapun yang dia sampaikan menurutku bulshit. Betapa marahnya aku,satu hal yang aku ingat saat itu, aku mengumpatnya dengan kalimat,”Jangan karena kamu merasa dicintai membuatmu begitu angkuh bisa memperlakukan dia seenaknya. Kalau kamu tidak mencintainya, lepaskan.”
“Aku cinta mam, cuma gimana ya. Mau ketemuannya tu susah. Dia juga sibuk sama kerjaannya.” Salah satu alasannya. Aku tersenyum sinis waktu itu.
“Kalau cinta tu, apapun di perjuangkan. Apalagi cuma soal ketemuan. Lah kamu? Boro-boro melakukan sesuatu. Komunikasi aja gak jelas kok”.

Dan sekarang, si wanita sedang tertunduk di depanku. Mengurai kisah pedihnya. Sebuah kondisi yang sudah pernah aku prediksikan. Bagaimana sebuah hubungan akan berlangsung harmonis kalau perasaan tidak seimbang.

Tiba-tiba kami sama-sama menghentikan jari di layar yang sama pada ponsel masing-masing.
Sebuah foto baru saja di unggah oleh mantan kekasihnya melintas di timeline path kami. Karena kami sama-sama berteman path dengan sang mantan.
Sebuah gambar yang menceritakan kebahagiaan sang mantan dengan kekasihnya yang baru. Tawa lepas terlihat disana. Dengan caption, menikmati liburan bersama.
Aku menatap temanku. Aku tau rasanya sangat sakit. Aku hanya merengkuhnya, dan berbisik, “Iya, aku tau rasanya. Be tough.”

Aku tersenyum sedikit sinis melihat gambar itu. Aahhh seharusnya, kamu saat itu tak perlu membantahku dengan mengatakan kalau kamu mencintainya. Kalau dengan yang kamu sebut pacar itu sekarang bisa mengajaknya jalan-jalan. Seharusnya, kamupun bisa melakukan itu dengan pacarmu yang sebelumnya. Itu kalau kamu memang benar-benar cinta kepadanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s