[Bianglala Rinjani] Chapter 4 – Ketika rindu hanya dianggap sebagai titik terendah sebuah harga diri.


Missing someone is a horrible feeling, but knowing that they don’t miss you back is so much worse.

Beberapa hari aku tidak berkomunikasi dengan Rinjani. Hmmm apakabar dia ya. Tiba-tiba aku teringat dia hanya karena sekarang aku duduk di sebuah coffee shop dengan secangkir kopi di tanganku. Ah Rinjani jam segini pasti sedang menikmati kopi buatannya sendiri, kataku sambil melihat jam di pergelangan tanganku. Baru saja aku memegang handphoneku, orang yang mau meeting denganku di tempat ini sudah datang. Ya sudahlah, nanti selesai meeting saja aku menghubunginya, akan aku suruh Rinjani menyusulku kesini. Aku letakkan kembali handphone di atas meja, dan mulai fokus dengan meetingku siang ini.
Dua jam kemudian, selesai urusan pekerjaanku, aku langsung menghubungi Rinjani melalui chat di whastapp.
“Pasti lagi ngopi”
“Iyalaah….jam ngopiku ini”
“Sekali-sekali ngopi siang diluar gitu kek”
“Widih….ngapain kamu? Mau ngajak aku keluar ngopi? Pasti kangen sama aku ya” Balasnya disertai emot ketawa ngakak yang banyak.
“Emang kamu yang gak pernah punya rasa kangen? hahahha dah buruan kesini” Balasku kemudian sambil menyebut tempat ngopiku sekarang.
“Masih lama kan kamu disitu? Tunggu yak”
“Oke”
Nah bener kan. Aku tau betul, sesibuk-sibuknya Rinjani, pasti dia mau menyenggangkan waktunya untuk seorang teman hanya sekedar minum kopi dan ngobrol gak penting.
Tidak butuh waktu lama aku sendirian. Kulihat Rinjani sedang memarkirkan motornya di halaman dan segera masuk mencariku. Aku melambaikan tangan dari tempat aku duduk.
“Ngapain kamu disini siang-siang?” Tanyanya sambil meletakkan ranselnya yang segede bagasi motor itu.
“Tadi ada meeting sama orang. Mau balik ke kantor kok masih panas, terus inget kamu deh. Kayaknya kok kita sudah lama nggak ngobrol ya” Sahutku panjang lebar.
“Halah. Baru juga seminggu”
“Iya ya? Kita sibuk banget apa ya kok chat aja gak pernah” Kami tertawa bareng.
“Kenapa? Kangen sama aku?” Katanya lagi. Aku melotot protes.
“Seneng amat kamu di kangenin? Kamu aja gak pernah kangen sama siapapun kok”
“Loh kok jadi protes sampe situ? Aku kangen jugalah ngobrol sama kamu. Gila-gilaan sama kamu” Dia tertawa sambil menulis pesanan makanannya.
“Ngopi?” Tanyaku.
“Nggak ah. Kan udah ngopi tadi”.
“Aku tau, pasti es teh leci”
“Nah tuh tau” Rinjani tertawa lagi.
Aku senang kalau melihat Rinjani tertawa seperti tanpa beban. Dan kadang kami tertawa untuk hal-hal yang sangat konyol dan tidak penting. Rinjani mudah tertawa untuk hal-hal sepele. Kadang aku malah bingung apa yang dia tertawakan. Tapi dia benar-benar bisa sangat geli atas sesuatu. Dengan versinya sendiri, katanya itu lucu. Suka aneh memang perempuan satu ini. Tapi itulah yang membuat persahabatan kami awet. Rinjani orang yang sangat menyenangkan untuk diajak sharing, apa saja. Segala tema bisa masuk dalam setiap obrolan kami. Bahkan seringkali olok-olokan bodoh yang tidak jelas. Tapi bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak.
“Ngapain aja kamu seminggu ini?” Tanyaku kemudian. Rinjani masih sibuk dengan es teh lecinya.
“Biasa aja. Kamu kan tau aktivitasku. Didepan laptop, ketemu orang, didepan laptop,ketemu orang gitu aja terus sampai hulk warnanya biru” Rinjani terkekeh-kekeh sendiri. Akupun spontan tertawa. Tidak banyak yang tau bahwa Rinjani itu sebenarnya lucu dan konyol. Itu karena kebanyakan, yang bertemu dengannya lebih sering berbicara pekerjaan. Memang sangat serius kalau urusan pekerjaan. Coba berteman dekat dengan Rinjani, pasti hidupnya tidak akan kesepian. Bercanda terus isinya.
Lamat-lamat aku memperhatikan raut wajah Rinjani seperti tidak biasanya. Mendadak murung. Walau dia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku sangat mengenal Rinjani. Pasti ada yang mengganggu pikirannya atau bahkan mungkin hatinya. Tapi Rinjani tidak pernah suka ditanya secara langsung. Pasti dia tidak mau menjawabnya. Aku mulai berpikir keras cara yang paling tepat untuk bertanya.
“Suntuk amat. Banyak kerjaan?”
Rinjani mendesah, lalu tersenyum.
“Nggak juga. Emang aku suntuk ya? Sok tau ah. Kalau aku diem bukan berarti lagi suntuk kan”.
“Non, aku tu kenal kamu bukan sehari dua hari. Masih mau ngelak??” Serangku. Disambut tawa keras Rinjani.
“Bete kenapa kamu?”
“Eh naik apa kamu kesini? Kok aku ga liat motormu?” Rinjani tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang…..sangat tidak penting. Aku tau ini cuma caranya mengalihkan pembicaraan.
“Oh…naek mobil kantor. Panas euy….malas bawa motor” Aku jawab juga pertanyaan tidak pentingnya itu.
“Iya emang. Udah tau panas, nyuruh-nyuruh aku kesini pula” Protesnya.
“Daripada aku ngopi sendirian disini kan?”
“Bilang aja kamu kangen sama aku” Matanya mendelik lucu menggodaku.
“Pengan banget di kangenin ya kamu?” Godaku membalasnya.
“Sekali-sekali lah aku ada yang ngangenin. Biar tau rasanya dikangenin” Katanya tertawa. Ini dia saatnya masuk ke tema percakapan inti, mengulik yang sedang dirasakan Rinjani.
“Iya…iya…kangen deh sama kamu. Apa susahnya bilang kangen. Ehtapi emang aku kangen kok sama kamu. Kamu sendiri? Kangen sama aku nggak?” Skakmat! Tapi bukan Rinjani namanya kalau tidak pandai mengelak.
“Kangen sama kamu? Ngapain? Kangen itu nggak enak!” Rinjani berkata dengan mimik serius.
“Ih siapa bilang gak enak”
“Akulaah!”
“Oh iya sih, kamu kan emang mati rasa” Sahutku sambil menahan senyum. Aku lihat Rinjani mulai membesarkan bola matanya. Aku pikir dia kan marah, ternyata tidak.
“Hahaha…..kalau itu sih, iya sepertinya” Katanya kemudian. Lalu diam. Aku juga diam. Sepertinya AC diruangan ini tidak berfungsi dengan baik, kok aku merasa gerah. Atau aku yang jadi gerah karena percakapan ini? Percakapan absurd tentang Rinjani yang seperti ini memang selalu bikin aku gerah.
“Panas ya? Ini ruangan ber-AC kan?” Rinjani sepertinya merasa kegerahan juga. Lalu mengedarkan pandangan matanya mencari letak AC.
“Eh jangan-jangan, kita aja nih yang kegerahan” Kataku sambil tertawa.
“Bisa jadi. Kamu sih pake membahas masalah kangen segala. Jadi gerah kan” Rinjani malah menyalahkan aku.
“Kamu juga sih, ngapain coba muka suntuk gitu”
“Aku lagi marah dengan diri sendiri, ngapain coba harus kangen sama seseorang” Katanya kemudian, sangat pelan nyaris tidak aku dengar.
“Hah?? Apa?”
“Harus ya di ulang?” Aku kena lemparan tissue Rinjani karena pertanyaan itu.
“Kaget aja, sejak kapan Rinjani yang aku kenal punya perasaan kangen? Tuh kan lagi jatuh cinta” Godaku disambut lirikan tajam Rinjani.
“Justru itu, makanya aku males mau bilang. Nyebelin kan?”
“Nikmatin aja non, jangan ditolak. Bisa merasakan kangen itu artinya kamu masih punya perasaan. Iya kan?” Aku berusaha menghibur Rinjani. Aneh. Kangen kok malah murung. Tapi bukan Rinjani namanya kalau tidak aneh.
“Rindu itu sama sekali tidak menyenangkan. Aku tidak suka”. Aku hanya merespon dengan dahi mengerut.
“Jadi kamu nggak mau kangen sama aku?” Aku mencoba mencairkan suasana.
“Kalau kangen sama kamu itu gampang. Tinggal ngajak kamu ketemuan beres deh”
“Nah, kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama dengan orang yang kamu kangenin itu?”
“Kenapa aku harus bilang? Toh perasaan rinduku tidak berarti buat dia”
“Belum tentu. Coba kamu ajak bertemu, kan rindumu terselesaikan” Saranku.
“Masalahnya, tidak semudah itu”
“Harusnya mudah. Kamu aja yang membuatnya jadi rumit”
“Bukan begitu, aku gak mau diremehkan hanya karena aku merindukannya. Untuk apa aku menyampaikan kerinduanku kalau aku tau bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama? Aku merindukannya sebagai seseorang yang special. Bukan kerinduan sebagai sahabat seperti yang dia mau”.
“Ya udah sih, setidaknya dia masih mau jadi sahabat kamu kan?”
“Meehhhhh……Sahabat? Sahabat yang bagaimana? Kalau sahabat itu ya seperti kamu ini, tanpa aku minta, kamu tiba-tiba ngajak aku keluar. Walau cuma sekedar dengerin cerita konyolmu yang gak penting itu. Masih belum paham aku bentuk persahabatannya akan seperti apa. Entahlah.” Rinjani menjelaskan panjang lebar dengan emosi yang meluap-luap. Seperti biasanya, aku hanya duduk mendengarkan. Karena kadang, Rinjani hanya butuh didengarkan, dia sudah tau apa yang harus dia lakukan.
“Lalu, bagaimana dengan kerjasama kalian?” Tanyaku pelan-pelan takut semakin membuatnya murka.
“Kalau itu sih,nggak ada masalah.Tentu saja aku profesional dalam pekerjaan. Memangnya terus aku jadi memusuhi dia gitu? Ya enggaklaah. Kamu tahu betul bagaimana aku dalam hal pekerjaan kan?” Tanya Rinjani yang ku jawab dengan anggukan.
“Aku akan tetap bekerjasama secara profesional. hanya tidak lagi meneruskan perasaanku. Apapun itu bentuknya, bahkan walau itu hanya sebuah rasa rindu. Sudah cukup. Biarlah dia melanjutkan hidupnya dengan semua permasalahannya. Aku memutuskan tidak akan mengusiknya dengan segala macam yang tidak perlu, apalagi kok cuma masalah rindu. Sangat tidak penting.” Lanjut Rinjani mulai mengatur emosinya. Aku hanya menaikkan alisku.
“Bukankah kamu menyiksa dirimu sendiri kalau seperti itu?”
“Kenapa? Nggaklah. Justru ketika aku merasakan rindu, saat itu juga aku merasa hal itu hanya membuatku lebih rendah dihadapannya. Aku jadi merasa lemah. Itu baru namanya menyiksa diri sendiri. Tidak. Aku tidak mau. I’m Done!” Jelasnya sambil menyeruput minuman di depannya sampai habis. Sepertinya dia sudah lebih lega sekarang.
“Eh kayaknya aku salah berdoa deh” Tiba-tiba Rinjani mengejutkan aku dengan kalimat yang aneh.
“Hah? Kok bisa gitu? Maksudnya apa sih?” Tanyaku heran.
“Iya. Salah berdoa. Aku kan berdoa supaya bisa merasakan rindu. Rindu yang berbeda terhadap seseorang, nah dikabulkan deh”
“Harusnya seneng dong, kan doanya terkabul”
“Ya memang seneng, tapi doaku salah. Ng…..tidak lengkap mungkin”.
“Lalu menurutmu, doa yang benernya gimana?” Tanyaku masih penasaran.
“Harusnya, doaku tuh begini, Tuhan, beri aku rasa rindu terhadap seseorang yang juga merasakan rindu kepadaku. Gitu. Lah ini, Tuhan cuma kasih rasa rindu aja, tapi ke orang yang tidak peduli dengan rasa rinduku. Kan jadinya surem yak” Rinjani terkekeh-kekeh sendiri. Akupun tak tahan untuk tidak tertawa.
“Kadang kesuraman itu hanya perlu ditertawakan. Ya nggak?” Rinjani meminta persetujuanku yang aku tanggapi dengan tawa yang lebih keras.
“Yuk ah balik. Obrolan kita ini sangat konyol, sebelum makin absurd, kita sudahi saja” Rinjani sudah seperti biasanya lagi. Ceria, dan sangat mampu dengan cepat membuat ringan segala seuatu yang tidak mengenakkan hatinya.

Rinjaniii…Rinjani…..kadang aneh, kadang lucu, absurd bener orangnya.
Begitulah sahabatku ini. Aku kadang tidak paham dengan jalan pikiran Rinjani, harga dirinya terlalu besar untuk ditukar dengan perasaan rindu.

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s