[Bianglala Rinjani] Chapter 3 – Jatuh cinta itu, senengnya cuma sebentar. Sakitnya yang lama.


I found it hard to be in love. That’s only because I didn’t want to fall in love. I refused to lower my walls down. I was too afraid of getting hurt.

Sore itu, aku kembali menemani Rinjani, kali ini dia ingin mencari tas yang dia butuhkan. Buat yang tidak terlalu suka mal atau belanja, mungkin akan nyaman menemani Rinjani belanja. Karena dia bukan tipe cewek yang doyan menghabiskan waktu di mal tanpa tujuan. Dia juga tidak suka belanja. Dia membali sesuatu karena dia butuh. Seperti saat ini. Kebetulan aku sedang tidak ada acara, jadi ketika tadi aku berkunjung ke kantornya, dia tiba-tiba bilang kalau pengen cari tas.
“Bukannya masih banyak tas mu” Kataku.
“Mana? Udah pada rusak. Aku mau yang bisa buat bawa laptop juga. Biar praktis” Jawabnya.
“Terus mau beli dimana?” Rinjani menyebut tempat yang menjual tas-tas kusus kesukaannya. “Sibuk gak kamu?” Tanyanya kemudian. Pertanyaan ini biasanya mewakili sebuah permintaan tolong. Seperti itulah Rinjani, jarang secara langsung minta tolong. Kalau aku sudah hafal dengan kebiasaannya.
“Kebetulan lagi kosong, yok aku anterin”. Langsung ku lihat wajah Rinjani sumringah. Bergegas dia membereskan barang-barangnya dan beberapa menit kemudian kami sudah sampai di tempat yang Rinjjani mau. Tidak butuh waktu lama Rinjani menemukan tas yang dia inginkan.
“Mau kemana lagi kamu?” Tanyaku setelah keluar dari toko itu.
“Mmmmm kemana ya….gak ada rencana kemana-mana sih” Jawabnya.
“Ya siapa tau, namanya juga cewek, kan seneng kalau liat mal, biar ga niat beli juga tetep aja jalan-jalan”. Kalimatku langsung disambut tawa Rinjani yang sangat keras.
“Heh!! Baru kenal aku ya?? Sejak kapan aku suka kluyuran di mal??” Protesnya masih dengan tawa renyahnya.
“Yaaa kaliiii ajaa sekarang udah berubah kan” Sahutku juga sambil tertawa.
“Widih….apalah yang bisa membuatku berubah. Nggaklaaah….ke mal itu ya biasa aja, niat banget ngabisin waktu di mal. Bisa migren aku kelamaan di mal”
“Loh…namanya juga lagi jatuh cinta, biasanya kalau orang lagi jatuh cinta itu ada aja yang berubah. Yang tadinya gak suka eh jadi suka, atau sebaliknya”. Tanpa kusangka pernyataanku ini membuat Rinjani melotot tajam dan meninjuku.
“Sembarangan! Siapa yang jatuh cinta? Aku? Sama siapa? Kata siapa? Ngaco aja kalau ngomong. Kalau dapet info tuh cari tau dulu, akurat apa nggak”
“Yaelah neeng, segitunya langsung nyolot. Biasa aja kaliiii”
“Kamu juga sih, asal kalau ngomong” Rinjani merengut.
“Emang kenapa sih kamu selalu denial kalau bahas soal beginian? Jatuh cinta kan hal yang lumrah. Siapa aja bisa jatuh cinta kan. Begitu juga kamu. Apanya yang salah coba” Protesku gak kalah panjang.
“Ya emang ga ada yang salah. Tapi jadi salah kalau itu di tujukan ke aku”
“Memang kenapa?”
“Males ah kalau udah ngebahas beginian”
“Kamu ini aneh”
“Aneh? Ya enggaklaah…apanya yang aneh. Biasa aja” Rinjani makin gusar. Dia berjalan cepat ke arah motorku di parkir. Berdiri diam di dekat motorku sambil menungguku yang berjalan di belakangnya.
“Cepetan napa sih. Lama amat jalannya”
“Idih….jadi marah-marah gitu sih” Rinjani tidak menjawab, langsung duduk di belakangku. Sepanjang jalan kami tak banyak berbincang seperti biasanya. Aku sendiri lebih banyak diam dan berpikir heran. Sangat heran kenapa Rinjani selalu marah setiap kali aku membahas soal jatuh cinta. Mmmm lebih tepatnya, tentang dia dan jatuh cinta. Sudah lama ingin aku tanyakan hal ini. Tapi tidak pernah menemukan momen yang pas. Rasa penasaranku semakin meningkat dengan perdebatan sekilas tadi. Entah karena rasa penasaran itu atau karena memang dari siang belum makan, aku mulai merasa lapar. Tanpa berkompromi dengan Rinjani, aku langsung membelokkan motorku ke sebuah rumah makan. Menurutku, Rinjani juga pasti lapar, buktinya dia tidak protes.

Begitu dapet tempat duduk yang nyaman, kami langsung memesan makanan. Rinjani tidak banyak bicara langsung menulis pesanannya.
Sambil menunggu makanan kami datang, akuu tidak melewatkan kesempatan ini buat bertanya.
Aku memandang Rinjani dengan rasa ingin tau yang besar,”Rinjani, mengapa kamu begitu benci jatuh cinta. Bukannya jatuh cinta itu indah?”
Rinjani tersenyum dingin lalu menjawab,”Aku tidak membencinya”.
“Lalu kenapa kamu mesti marah kalau disinggung soal itu”. Aku menatapnya, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya. Aku menunggu. Rinjani tidak bereaksi. Seperti tidak peduli dengan pertanyaanku. Aku biarkan tidak mendesaknya. Kulihat dia memainkan rambutnya, sorot matanya kosong.
“Kenapa?” Aku mengulang pertanyaanku.
“Aku tuh tidak membencinya. Hanya aku tidak menginginkannya”.
“Iya. Kenapa?”
“Menurutku, jatuh cinta itu perasaan yang sia-sia. Dan entah mengapa, aku selalu merasa diriku di posisi rendah ketika jatuh cinta. Atau, aku merasa orang yang membuatku jatuh cinta itu hanya akan menganggapku rendah. Lalu menyepelekanku, lalu merendahkan aku. Lalu menganggap itu perasaan sampah yang harus di hindari. Aku hanya benci merasakan itu ketika aku jatuh cinta. Dan aku tidak mau menjadi rendah hanya karena jatuh cinta. Itu saja”. Jawaban yang panjang itu membuatku tercenung. Aku tidak pernah menyadari bahwa seperti itulah kerumitan hati Rinjani.

“Mmmm….jadi itu yang membuatmu bertahan tidak mau jatuh cinta?” Tanyaku kemudian.
“Kamu tau kan kalau aku tidak mudah jatuh cinta? Sayangnya, setiap kali aku jatuh cinta, selalu pada orang yang tidak bisa menerimanya. Jadi males banget kan”.
“Berarti bukan rasa itu yang salah. Kamu aja yang salah orang”.
“Memang bukan. Tapi rasa itu juga sering tidak bisa di atur mau sama siapa kan? Jadi, bukan salahku juga kalau setiap aku merasa jatuh cinta dengan orang yang salah. langsung aku tolak rasa itu?” Rinjani begitu tegas menyatakan rasa tidak sukanya.
“Aku tidak suka jatuh cinta. Rasanya tidak enak”. Lanjutnya lagi sebelum aku berkomentar.
“Dinikmati ajalah neng kalau lagi jatuh cinta, kadang indah juga loh” Akhirnya aku berkomentar pelan meredakan emosi Rinjani. Rinjani lagi-lagi tersenyum sinis.
“Buat apa? Jatuh cinta itu, enaknya cuma sebentar, sakitnya yang lama”. Kata Rinjani sambil memainkan sendok di piringnya.
“Sepertinya kamu lagi jatuh cinta sekarang. Sama teman barumu itu? Yang kamu bilang ada kerjasama kerjaan sama kamu itu?” Pertanyaanku itu membuat Rinjani makin gusar. Menyorongkan piring yang masih tersisa setengah lebih makananya.
“Obrolan ini bikin aku nggak selera makan” Rinjani menjelaskan tanpa aku tanya.
“Loh kenapa? Pertanyaan gampang lho itu. Kenapa segitu resahnya kamu”
“Okee okee….iya. Benar. Aku jatuh cinta. Dan aku sangat tidak menyukai perasaan ini. Aku tidak suka merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta itu membuat perasaan jadi tergantung, merusak suasana hati. Yang pasti, aku tidak suka dengan segala elemen yang menyertai rasa jatuh cinta”
Weiittsss….sabar buuuuuu” Aku berusaha mencandainya sambil menepuk punggung tangannya. “Jangan keras-keras, pada shock nanti yang dengar” Aku menahan ketawa sambil melihat ke sekeliling kami. Untung kami duduk agak menyempil, tidak diantara keriuhan orang yang nongkrong disini. Rinjani malah memukul tanganku, tapi kali ini ada senyum di wajahnya.
“Sial kamu! Jadi drop kan ini” Rinjani tertawa.
“Kamu juga sih ngomongnya pake emosi. Santai aja kenapa” Aku masih terkekeh geli.
“Habisnya kamu memancing sih” Rinjani mulai bersungut-sungut.
“Geli aja aku denger konsep jatuh cintamu. Dengar Rinjani, sebaiknya kamu nikmati saja rasa jatuh cinta itu. Jangan seserius itu, sadar tidak kalau seperti itu justru kamu malah menyakiti dirimu sendiri?”
“Iya sih, aku tau. Bahkan aku sering merasa, kalau aku jatuh cinta, itu seperti aku memberi peluang untuk dilukai. Melengkapi hati untuk jatuh cinta itu, seperti meramu racun untuk diri sendiri. Tragis ya” Rinjani memelankan suaranya, terdengar hanya sebagai desahan. Aku merasakannya seperti Rinjani melepas semua kesesakannya. Hanya karena jatuh cinta!
“Rinjani, seandainya, jatuh cintamu itu bersambut? Katakanlah, orang yang membuatmu jatuh cinta itu ternyata juga memiliki rasa yang sama denganmu? Apakah kamu juga akan merasa seperti itu?” Tanyaku sangat hati-hati. Rinjani tidak langsung menjawab, ekspresinya datar. Beberapa kali mengubah posisi duduknya. Pandangannya menatap jauh keluar.
“Bisa jadi. Aku sudah tidak memiliki kepercayaan lagi untuk itu. Aku tidak akan membiarkan diriku terseret ketidak berhargaan hanya karena rasa yang aku punya. Cintaku, bukan untuk menempatkan diriku di posisi yang tidak berharga. Aku akan menghargai diriku dan hatiku sendiri. Tidak banyak yang bisa melakukannya kecuali diriku sendiri”.

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala tidak lagi berkomentar. Hanya perkara jatuh cinta, Rinjani membuatnya sangat rumit. Menurutku. Tapi itulah Rinjani.
Rinjani yang terlalu angkuh untuk menukar harga dirinya dengan sebuah rasa yang bernama jatuh cinta.

……tobe continued

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s