[Bianglala Rinjani] Chapter 2 – Tingginya harga diri untuk ditukar dengan sebuah penolakan


One of the worst feelings is being ignored by the person you want to talk to more than anything.

Sore itu ketika aku sedang menikmati obrolan seru dengan Chyntia, temanku yang lain, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Sebuah nama muncul di layar, Rinjani. Hmmm tumben ni anak telpon, biasanya juga teriak-teriak aja di whatsapp.

“Apa non?” Segera aku mengangkatnya.
“Dimana kamu” Seperti biasa, Rinjani tidak pernah berbasa-basi kalau telpon.
“Lagi jalan sama Chyntia”
“Oh. Ya udah kalau gitu”
“Hei…kenapa?”
“Nggak ada. Besok aja. Udah ya” Wah ada yang tidak beres ini dengan Rinjani kalau seperti ini. Biasanya, kalau nadanya datar dan menunda pembicaraan pasti dia akan minta tolong sesuatu atau butuh sesuatu. Aku tahu apa yang harus kulakukan.
“Kamu sekarang dimana?” Segera aku bertanya sebelum Rinjani menutup telponnya.
“Coffeshop seberang jalan deket kantorku”
“Oke. Tunggu sebentar ya, aku susul kesana”
“Eh nggak usah, kamu kan lagi sama Chyntia. Besok aja gakpapa kok”
“Bye”
Lebih baik langsung aku tutup telponnya, karena kalau ditanggapi, lebih panjang urusannya.
“Chyn, aku anter kamu pulang ya” Kataku kemudian kepada Chyntia.
“Ada apa dengan Rinjani? Rinjani kan tadi yang telpon?” Tanya Chyntia seperti kuatir.
“Iya. Rinjani. Ah biasalah, dia mau minta tolong sesuatu. Tau kan gimana Rinjani? Dia tu nggak pernah mau bilang langsung kalau butuh sesuatu. Harus aku sendiri yang ngerti kalau dia minta bantuan” Aku menjelaskan, disambut tawa Chyntia yang sudah sangat maklum dengan sifat Rinjani.
“Dia kan emang gitu, kalau bisa aja pasti udah dia lakukan sendiri. Nggak mau ngrepotin orang. Ya udah sana, disusul aja. Aku bisa pulang sendiri, gak usah dianterlah”
“Eh ya jangan, aku anter aja. Repot tau kalau harus pesen taksi” Kataku tidak memberi kesempatan Chyntia pesan taksi, langsung menggandengnya masuk ke mobilku.
Tidak lama kemudian aku sudah duduk dihadapan Rinjani yang asik dengan laptopnya.
“Kerjaaaaa terus. Piknik sana! Biar gak bete” Aku tutup laptopnya.
“Sial!! Dateng-dateng bikin rusuh kamu” Rinjani mendelik. Aku tertawa melihat ekspresi Rinjani yang lebih keliatan lucu daripada nyeremin kalau sedang sewot seperti itu.
“Kesepian ya, kok tumben pake telpon aku segala tadi” Kataku sambil memanggil pelayan. Rinjani hanya mendengus lalu membuka laptopnya kembali.
“Aku udah disini loh,malah dicuekin. Kalau mau kerja di kantor aja non”
“Mana Chyntia? Kok nggak kamu ajakin kesini sekalian?” Rinjani tidak menanggapi gurauanku.
“Udah aku anter pulang, ada acara katanya” Terpaksa aku berbohong, kalau aku tidak bilang seperti itu, Rinjani pasti malah ngomelin aku habis-habisan.
“Jangan-jangan kamu paksa dia pulang. Waaah jahat kamu, kan aku udah bilang, aku tuh nggak apa-apa, iseng aja tadi telpon kamu. Harusnya kamu tetap sama Chyntia, bukannya kamu senang ya kalau lagi sama dia?” Nah kan….ngomel kan….
“Haduh apaan sih kamu, dibilangin dia kebetulan juga akan ada acara. Ya udah aku anterin pulang sekalian. Lagian, apa deh pake bilang aku seneng segala” Gantian aku yang ngomel.
“Yeee….kaya aku nggak tau aja kalau kamu lagi naksir Chyntia. Sama aku pake rahasia segala sih kamu” Rinjani menertawakanku. Memang susah menyembunyikan sesuatu dari Rinjani, entah dia itu semacam cenayang, walau nggak diceritain pun pasti aja tau. Makin aku menghindar, makin keras Rinjani memaksaku jujur. Lebih baik terus terang saja.
“Kalau udah tau, ya udah, buat apa aku jelasin lagi” Kataku berdiplomasi.
“Jadi bener? Terus udah sampai mana pendekatannya? Udah keliatan belum hasilnya?” Rinjani memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan sulit dijawab. Aku mendesah.
“Ya gimana ya. Masih gitu-gitu aja. Keliatannya Chyntia asik-asik aja kalau sama aku, tapi aku belum bisa memastikan kalau dia juga suka sama aku. Udah ah, kok malah membahas soal aku sih. Kamu sendiri kenapa?”
“Udah berapa lama kamu intens mendekati dia? Dia tau nggak kalau kamu suka sama dia?” Tanya Rinjani lagi. Duh apa sih ini orang, detil banget kalau tanya.
“Baru beberapa bulan ini kok intensnya. Kan kamu juga selalu tau setiap aku pergi sama Chyntia. Sebenarnya, aku sudah menunjukkan sikap yang tidak biasa ke dia. Dia juga tidak pernah menolak kalau aku ajak jalan. Ya sudahlah yaa dinikmati aja dulu”
“Hmmm……” Rinjani menggeser laptopnya, lalu menatapku.
“Kenapa? Kok gitu reaksimu?”
“Kamu harus memastikan perasaannya. Tidak pernah menolak ajakanmu jalan belum berarti dia ada hati juga sama kamu” Aku terdiam. Bener juga kata Rinjani ini.
“Kalau menurutmu?” Aku balik bertanya. Rinjani mengerutkan dahi, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lagi-lagi sorot matanya menatap seperti menyelidikiku.
“Kalau memang kamu yakin dengan perasaanmu, dan menurutmu dia meresponmu positif ya berarti kamu harus segera mengatakan sama dia. Kan udah keliatan jelas kalau dia sepertinya juga punya perasaan yang sama dengan kamu. Nunggu apa lagi?”.
“Gitu ya”.
“Iyalah. Kecuali kalau selama ini Chyntia seperti ogah-ogahan kalau diajak jalan sama kamu. Atau malah banyak menolaknya. Kalau seperti itu, menurutku tidak perlu kamu teruskan perasaanmu. Lupakan dia, anggep temen aja”.
“Kok begitu? Kan aku belum nembak, masak udah nyerah duluan”. Sanggahku.
“Kalau aku sih begitu. Buat apa berjuang untuk sesuatu yang sudah ketauan tidak ada hasilnya”. Pernyataan Rinjani ini membuatku kembali berpikir serius tentang bagaimana Rinjani yang sebenarnya. Menurutku, yang penting berjuang dulu, hasilnya mau bagaimana ya lihat aja nanti. Itu menurutku. Tapi aku tidak mengatakan protesku itu kepada Rinjani. Sepertinya, dia punya alasan sendiri mengapa berkata seperti itu.
“Ah kamu kan selalu seperti itu. Optimis dikit kenapa sih” Kataku akhirnya. Rinjani hanya tertawa sedikit sinis terdengarnya.
“Sekarang begini deh, misalnya kamu dengan orang yang kamu suka itu. Siapa tuh namanya?” Kataku kemudian, dijawab dengan tepisan tangan Rinjani seolah mengatakan bahwa itu tidak perlu dibahas. Tapi aku tetap membahasnya, karena ini berhubungan dengan rasa penasaranku atas pernyataannya tadi.
“Aku tanya sekarang, contoh sepele, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa dia menolak ajakanmu? Sedangkan memintapun kamu tidak pernah”. Aku bertanya kepada Rinjani.
“Meminta??” Rinjani tersenyum sumbang. Cenderung sinis.
“Iya, meminta. Bukankah kamu harus memintanya lebih dulu baru tau ada penolakan atau tidak?” Rinjani tidak langsung menjawab. Melirik tajam ke arahku masih dengan senyum sinis khasnya. Lalu mengeluarkan tawa yang sungguh tidak enak di dengar.
“Jangankan meminta, bahkan bertanya pun aku tidak mau” Jawabnya.
“Yaa….minimal bertanya, mau nggak kamu ajak nongkrong misalnya. Sekedar bertanya saja kalau memang kamu tidak mau meminta”. Aku mendesaknya. Rinjani tertawa sangat keras, lalu bertanya,”Apa?? Bertanya?? Meminta??” Secara mendadak raut wajah Rinjani berubah, dingin dan keras.
“Tidak akan pernah. Aku tidak mau meminta, yang aku sudah tau bahwa aku tidak akan mendapatkannya. Aku tidak mau bertanya dengan sebuah pertanyaan yg aku tau jawabanya adalah tidak”.
Pernyataan panjang yang membuatku terdiam. Mencerna apa yang dia katakan. Kami sama-sama diam, aku tidak tau harus menjawab apa atau mengatakan apa. Akhirnya aku tenggelam dengan gadgetku sendiri. Dan kulirik Rinjani masih diam tak bergeming dari posisinya. Membuka kembali laptopnya, lalu menenggelamkan perhatiannya pada pekerjaannya. Sepertinya, percakapan ini tidak terlalu mempengaruhinya. Atau sudah sedemikian datar hatinya. Wajahnya seperti tidak berekspresi. Hanya kadang kulihat beberapa kali dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Aku mengambil gelas minumanku, menatap sekeliling tempat dimana kami berbincang. Sebuah cafe sederhana, dengan banyak kalimat qoute di seputar dindingnya. Lebih banyak bicara tentang kopi. Ku lihat banyak kursi yang masih kosong. Hanya satu atau dua rombongan yang asik bercanda. Cukup nyaman sebagai tempat yang senang keheningan. Terdengar musik yang mengalun pelan dari ruangan depan. Lagu yang sudah sering aku dengar. Dan tanpa sadar aku ikut bersenandung.
Tatapan mataku kembali menuju Rinjani. Yang masih dengan posisi sama. Heran, nggak capek apa kayak gitu terus. Aku mengurungkan niat bersuara, sepertinya dia sedang asik dengan pekerjaannya. Walau sebenarnya, banyak pertanyaan di otakku, tentang Rinjani, tentang pernyataan-pernyataannya. Tentang pola pikirnya. Tentang…..

Rinjani. Betapa aku mengaguminya. Wanita yang aku kenal sangat tegar dalam mengatasi hidupnya yang tidak selalu indah. Aku tau persis bagaimana dia melewati segala permasalahan hidupnya. Kegagalan cintanya berkali-kali. Mungkin itu yang membuatnya mengeraskan hati untuk tidak peduli lagi dengan yang namanya cinta. Hhhh…..tanpa sadar aku mengeluarkan desahanku. Rinjani menatapku dengan kening berkerut. Tanpa bicara dia menyingkirkan laptop dari hadapannya. Memperbaiki posisi duduknya. Lantas menatapku lama. Sungguh aku tidak tau apa yang ada dalam pikirannya.

“Karena aku sudah sangat tau bahwa dia tidak menginginkanku. Lalu, untuk apa sebuah pertanyaan dan permintaan sia-sia yang aku sudah tau jawabanya? Sehalus-halusnya bahasa penolakan, penolakan adalah penolakan. Sebaik-baiknya sebuah alasan, penolakan tetaplah penolakan. Jangan merendahkan diri sendiri deh”. Dengan tiba-tiba Rinjani menjelaskan, seolah tau bahwa dalam diamku ada pertanyaan itu di dalam kepalaku.

Begitulah Rinjani, harga dirinya terlalu tinggi untuk ditukar dengan sebuah penolakan.

…..tobe continued

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s