[Bianglala Rinjani] Chapter 1 – Prolog


Bersyukurlah bila memiliki seseorang yang menginginkanmu selalu berada bersamanya. Yang bisa menerimamu apa adanya. Yang mau melakukan apapun untuk membuatmu tertawa dan yang mau mengasihimu apapun yang terjadi. Begitulah yang namanya sahabat.

     Adalah Rinjani, sahabatku, sosok wanita yang hidupnya keliatan santai. Easy going, praktis gak suka ribet, penggila kerja, sembarangan apa adanya. Untuk ukuran wanita, sangat tidak wanita banget kurasa. Tidak pernah pusing dengan make up, tidak suka belanja, lebih suka nongkrong di warung kopi berjam-jam bahkan sendirianpun tidak masalah. Mandiri? Tentu saja dia sangat mandiri. Paling tidak suka tergantung dengan orang lain, karena prinsipnya adalah, dia sendiri tidak suka bila orang lain tergantung sama dia. Kadang aku berpikir, jangan-jangan dia itu lelaki yang terjebak dalam tubuh wanita. Bagaimana tidak, pola pikirnya sangat jauh dari wanita kebanyakan, lebih banyak logikanya dari pada perasaannya. Malah mungkin perasaannya sudah mati kurasa. Eh kalau ini sih berlebihan. Tidak seperti itu juga, karena kadang dia masih bisa merasa sedih bahkan galau. Apalagi kalau lagi kumat jiwa kewanitaannya, bisa uring-uringan tanpa sebab atau sedih yang tidak jelas juga apa masalahnya.

     Tapi buatku, dia adalah sahabat yang unik. Fleksibel untuk urusan apapun. Partner sharing yang asik dalam segala hal. Kadang konyol, kadang bisa sangat serius. Aku mungkin satu-satunya orang yang paling dekat dengannya, setahuku, hanya aku yang mengetahui semuanya tentang dia. Dari hal paling remeh sampai yang paling berat tentang dia, aku mengetahuinya. Apakah dia pemilih? Oh tidak, dia tidak pernah memilih teman, yang aku tau dia memiliki banyak teman di segala penjuru. Tidak peduli profesinya apa dan seperti apa, dia selalu menyambut pertemanan dengan sangat terbuka. Hanya saja, untuk orang yang dia sebut sebagai sahabat, dia memang sangat memilih. Dia bukan tipe wanita yang mudah mengobral masalah pribadinya kepada sembarang orang. Hanya kepada orang yang dia percaya, dia bisa menceritakan tentang hidupnya. Sebaliknya, dia sangat tertutup untuk hal itu. Kecuali ada yang bertanya, dia akan menjawab apa adanya. Dia orang yang sangat terbuka, tidak suka berahasia apalagi drama, dia sangat membenci itu. Menurutnya, hidup kebanyakan drama itu bikin ribet sendiri. Itu salah satu yang aku suka dari Rinjani. Selama itu tidak merugikan orang lain, dia tidak peduli orang akan menilai dia bagaimana dan seperti apa. Satu hal lagi, dia sangat pandai menempatkan diri. Dia bisa sangat resmi, atau sebaliknya, bisa bertingkah bodoh dan banyak bercanda. Tergantung dia sedang berada dimana dan dengan siapa.
Paling menarik adalah kalau bicara tentang cinta dan hati, aku yang jadi sahabatnya saja sering tidak begitu paham dengan pola pikirnya untuk masalah itu.
“Makanya, kalau jatuh cinta tuh dari otak dulu, jangan langsung pake hati. At least, kalau proses cinta tidak mulus sesuai harapan, nggak kelamaan sakit hatinya” Katanya suatu kali. Konsep yang aneh menurutku.
“Pendekatan terus kamu, kapan jadiannya?” Rinjani pernah bertanya itu, ketika aku tidak juga kunjung mengikat wanita yang aku cintai.
“Namanya juga pendekatan sama cewek, pelan-pelanlah, biar nggak kabur kalau terlalu agresip” Jawabku waktu itu.
“Cewek itu, kelamaan pendekatannya juga bisa kabur. Hari gini cewek nggak butuh waktu lama buat diajak jadian, kalau dia juga tertarik sama kamu, begitu kamu ajak jadian pasti maulah”. Bantahnya. Tapi tentu saja aku tidak sependapat dengan Rinjani.
“Ya nggak bisa gitu dong, cewek kan biasanya butuh proses” Aku mendebat pendapatnya.
“Iya memang butuh proses, tapi nggak kelamaan juga kali broo. Kelamaan dapet kepastian, kesamber orang loh. Cewek sekarang tuh praktis, instan, menyesuaikan dengan era digitallah. Mana yang memberi kejelasan lebih dulu, itu yang diambil. Coba aja kalau nggak percaya”. Katanya lagi, tidak putus asa meyakinkan aku. Sial! Lama-lama kepikiran juga omongannya. Yang tadinya aku santai aja, jadi gelisah. Jangan-jangan bener yang dibilang Rinjani. Memang sering aneh, tapi sering bener juga.
Dan menyebalkan adalah ketika apa yang dikatakan Rinjani itu benar, baru saja aku berniat menyatakan keseriusanku, ternyata wanita yang sedang aku dekati itu sudah digandeng orang lain.
Pengen rasanya berteriak dan melempar bom pada Rinjani. Rinjani, kamu benar!!

Begitulah Rinjani. Kepedihan dan luka yang dia alami membuatnya terlalu banyak perhitungan, ukuran dan timbangan bila bicara soal hati.

……..tobe continued

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s