Rumitnya persoalan yang sangat sederhana


Hal paling sederhana saja terlalu sulit dilakukan meski besar niatannya. Karena kadang, niat saja tidak cukup untuk menggeserkan sebuah prioritas.

Hari ini entah mengapa kok rasanya aku sangat lelah dan sangat mengantuk. Padahal rasanya nggak kurang tidur juga. Mungkin karena beberapa hari full kegiatan sampai malem.
Ahhhh….bukannya itu sudah biasa?? Selama ini selalu begitu kan?? Tentu bukan hal yang baru. Tidak biasanya badanku selemah itu. Sudah sangat terlatih dengan pola yang kerja, kerja dan kerja. Kurang tidur??Ahhhh nggak juga kayaknya, biasa aja. Iya, udah biasanya juga kan begitu dari jaman dulu kala. Tidur dini hari dan bangun pagi-pagi setiap hari. Sudah terbentuk begitu polanya. Jadi ini kenapa??? Aku tu nggak capek, cuma kayak ngantuk aja gitu.
Lalu aku harus menyalahkan siapa ini?
“Mungkin udaranya yang emang lagi bikin males mam” Kata Ivan sore tadi, ketika aku mengeluhkan hal ini sambil sibuk dengan pekerjaanku.
“Masak sih?? Kayaknya biasa aja udaranya. Sumuk banget malahan. Kalau yang sejuk semilir angin gitu mungkin aja ngaruh. Tapi ini kan biasa van” Bantahku.
“Mmmm atau mungkin karena kantor lagi sepi, jadi ngantuk” Kata Ivan lagi.
“Halah….ini sih masih rame. Lha biasanya malah aku cuma sendirian dari siang sampe malem banget, nggak gini juga”
“Jadi karena apa ya mam” Balik tanya Ivan sambil sibuk dengan game di gadgetnya.
“Lha ya gak tau, makanya itu aku nanya” Sambil tidak melepas pandanganku dari layar laptop aku membalas. Ivan terkekeh-kekeh.
“Mami aja gak tau, apalagi aku mam” Masih sambil cengengesan Ivan meneruskan, ” Oh mungkin mami butuh tidur”.
“YAIYALAH! WONG AKU NGANTUK YA EMANG BUTUH TIDUR”
Lalu aku nyolot. Disambut tawa Ivan yang makin kencang. Sial. Bukannya bantu mikir malah ngeledek.
Aku masih penasaran. Kenapa kok aku sangat ngantuk dan kayak capek banget hari ini. Padahal, tidak ada yang istimewa juga yang aku lakukan. Lalu aku mulai merunut kegiatanku beberapa hari kemaren. Aku merentangkan waktu seminggu kebelakang.
Kamis sampai Sabtu minggu lalu aku menghabiskan waktuku di pameran Kampung Buku Jogja. Aku gak ngapa-ngapain juga. Cuma ngobrol sana sini aja. Sampai malem memang. Tapi aku gak capek. Biasa aja wong memang aku gak ngapa-ngapain kok. Sabtunya aku tidur sangat larut, bahkan sampai dini hari. Nggak ngapa-ngapain juga. Ya emang biasa begitu kan. Selalu baru bisa tidur selarut itu. Berarti bukan sesuatu yang baru.
Lalu Minggu pagi-pagi jam 9 sudah meluncur ke tempat audisi Jogja Karaoke Fest, jadi juri sampai sore. Lelah? Nggak juga. Biasa aja. Dilanjutkan ketemuan sama beberapa teman buku dan ngobrol sampai tengah malam. Masuk rumah lewat tengah malam. Tidur juga lewat dini hari. Seperti biasa. Hari Seninnya, lanjut lagi jadi juri dr pagi sampai siang. Lalu ke Maliome. Lalu melayani curhatan ‘pasien hati’ sampai lewat tengah malam. Masuk rumah dan tertidur sudah dini hari. Biasa. Gak ada yang istimewa.
Hari Selasa, dari pagi sudah di kantor Maliome, sibuk dengan segala pekerjaan Listeno. Koordinasi ini itu menyiapkan launching buku milik Agus Mulyadi, Diplomat Kenangan. Menyelesaikan pekerjaanku sampai acara selesai malam hari. Terasa lelah memang, tapi tidak membuatku kecapekan. Biasa aja, sebuah aktivitas yang sangat sangat biasa. Bahkan dulu dulu sering jauh lebih berat dan padat aktivitasnya. Tidur cuma beberapa jam, lalu kerja dan kerja lagi. Biasaaaaaaaaa banget!!
Rabunya, setelah tidur yang mungkin hanya 4 jam, pagi-pagi sekali aku sudah berada di tempat penjurian semi final Karaoke Fest. Dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore mantengin 70 peserta lomba. Menentukan 10 orang yang berhak masuk final. Lalu nyamperin tamu dari Jakarta, ngobrol sampai jam 9 malam. Ah masih sangat sore buatku. Biasanya kalau nongkrong juga sampai lewat tengah malam.
Jadi sebenernya, tadi malam aku pulang cepat dan tidur termasuk lebih cepat dari biasanya. Masak jam 11 udah terlelap. Betapa ‘pagi’ nya tidurku malam tadi.
Dan tadi, berangkat ke kantorpun sudah lewat jam 10 pagi, berarti udah agak siang dong ya. Mengerjakan ini itu untuk Listeno.
Nah kalau dirunut, kan semua yang aku kerjakan selama semingguan ini hal yang sangat sangat biasa dan bahkan terbilang sangat ‘ringan’.
JADI?? KENAPA AKU SANGAT MENGANTUK HARI INI??
Ini persoalan. Persoalan yang sangat rumit pppfftttt…

“Kenapa mami gak coba tidur yang seharian gitu” Tiba-tiba Ivan memberi usul.
“Nah itu!! Aku tu pengen banget bisa kaya gitu. Tidur seharian, matiin handphone. Makan tidur makan tidur gitu aja terus sampai malem” Aku setuju dengan idenya.
“Ya udah mami gitu aja coba” Ivan bersemangat karena aku menyetujui usulnya. Kali ini agak masuk akal memang idenya.
“Tapi kapan? Gimana caranya aku bisa kaya gitu” Makin persoalan kan jadinya.
“Loh ya bisa aja to mam, coba dikuat-kuatin ga pegang hp” Tambah Ivan.
“Heh! Ini bukan soal hapenya. Ini soal ‘kapan supaya aku bisa seperti itu’, soalnya selama ini aku gak pernah bisa gitu. Selalu adaaaaa aja yang bikin aku gak sukses. Pengen sekaliiiii aja bisa melakukan itu”.
“Tergantung alasannya mam, coba kalau alasannya adalah challenge”
“Hah?? Maksudnya??” Tanyaku gak paham dengan yang dibilang Ivan itu.
“Ya misal gini, coba ada challenge, siapa yang tahan seharian ga pegang hape dapet duit 10 juta gitu. Pasti mami bisa melakukan itu”. Katanya ceria. Tak pikir-pikir ivan ki somplak apa ya….ide macam apa itu?? Tapi ku jawab juga.
“Aaaah iyaaa!! Bener! Kalau ada challenge begitu, pasti aku bisa!” Aku tertawa tapi sebentar saja, karena sedetik berikutnya aku sadar,kalau ide Ivan itu sangatlah absurd. Cah siji ki cen kadang ra nggenah usulnya.
Aku lantas diam. Lalu dengan wajah serius aku bilang,”Aku kok pengen ya bisa kaya orang-orang itu. Beneran bisa tidur pulas seharian tanpa kepikiran apa-apa” Aku berkata cenderung bergumam.
“Bisalah mam, coba diniatin sehari aja gitu”
“Iya ya….kapan ya…mmmmm besok aja kali ya. Ah gak bisa! Besok kerjaanku masih banyak, sore janjian sama ini dan itu. Terus malem masih ada janjian lagi. Gagal. Gak bisa besok van” Aku membantah.
“Ya kalau gitu Sabtu atau Minggu”
“Ah iya ya….bener. Eh gak bisa juga! Sabtu udah ada agendaku dari siang sampe malem. Wes raiso jelas kuwi. Minggu aja….aaaah ya gak bisa juga, aku udah ada janjian lagi. Malemnya njuri final karaoke. Padet juga kegiatanku dari siang”.
“Oh iya ya mam. Mmmmm jadi kapan ya mam” Ivan ikutan mikir sambil gigit-gigit kuku kakinya eh tangannya.
“Berarti mami perlu piknik!” Kata Ivan tiba-tiba.
“Ealaaaah….sejak kapan aku piknik!! Bukannya aku senang malah tambah capek itu sih. Ogah! Bad Idea!” Bantahku langsung.
“Ya kan refreshing mam” Tambah Ivan.
“Buatku refreshing itu ya TIDUR! Dan aku pengen tidur seharian tanpa terganggu gadget dan kepikiran kerjaan. Wes kuwi wae cukup”.
“Ya sudah mam, kalau gitu, tentukan hari kapan mami mau tidur seharian” Sahut Ivan sambil ngeloyor pergi. Sepertinya dia mulai kehabisan ide. Atau kurasa, dia yang lelah ngadepin persoalanku yang cukup rumit ini.

Dari kejadian sore tadi, aku lantas mulai berpikir, sepertinya memang aku harus melakukan kegiatan tidur seharian tanpa melakukan apapun dan tanpa gadget di tangan. Sekali aja dalam hidup aku akan mencobanya.

TAPI KAPAAAN???!!!!!

“Bener kata Seva, Mami itu RUMIT!” Teriak Ivan dari dalem studio Listeno.
“Sudah!! DIAM KAU!”

Jeci itu, hal rumit sangat bisa dibuatnya sangat mudah. Tapi sebaliknya, hal sangat sederhana justru dibuat sangat rumit.

Oalah Je….Je……
Ngangguro…..

Shaloom,

-jeci-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s