#JustSaying


When taurus is finally tired or trying, they will just leave. No fight, no argument, and sometimes not even goodbye.

 

Aku tertegun dengan kalimat,”Cuma gitu aja komentarmu? That’s it? Just cool? ”
Aku cuma membalas dengan icon smile. Lalu dia melanjutkan,”Not you’re the hottest ever. Yang aku tau, kamu selalu bersemangat setiap ngobrol sama aku. Selalu panjang-panjang jawabanmu. Kenapa sekarang kamu membalas chat ku hanya dengan kata-kata pendek. Itupun kadang aku seperti harus memaksa kamu membalasnya”.
Aku tersenyum simpul membaca deretan kalimat panjangnya itu. Rasanya pengen menjawab dengan kalimat panjang juga,”Itu duluuu…ketika aku masih punya hati sama kamu, ketika aku masih mau susah payah menciptakan interaksi buatmu. Itu dulu….sewaktu aku….aaaaaah malas!!
Akhirnya aku cuma membalasnya dengan satu kata,”I’m sorry”.
Esok harinya, dia memberi emot sedih untuk menjawab perkataan maafku. Aku? Hanya membacanya. Tidak lagi ku balas.

Aku pernah mengingatkanmu, aku tidak akan berhenti memberi kesempatan sampai aku merasa sudah waktunya berhenti. Karena aku sudah sangat malas membuang energy perasaan buat orang yang gak jelas perasaannya ke aku. Ngapain? Macam udah segitu hebatnya kamu sampai harus aku pikirkan. Gak penting.

Dan aku tak perlu memakimu untuk berhenti. Juga tak perlu dengan pernyataan apapun ketika aku benar-benar pergi. Bahkan mungkin kamu tidak akan permah menyadarinya bahwa aku sudah tidak lagi bersamamu.
Mungkin saat itu kamu berpikir, itu biasa dan akan baik-baik saja. Parahnya lagi, kamu berpikir, aku tidak akan berubah. Masih sama dengan perasaan yang dulu. Pemikiran yang tolol! Salah besar, tuan.

Sehingga berapa lama berikutnya, dia mencariku dengan keceriaan seperti biasa. Mencoba mengingatkanku akan hal-hal menyenangkan yang pernah terjadi. Tak ketinggalan dia menyertakan pernyataan rindunya kepadaku.
Kamu tau apa reaksiku? Seandainya kamu berada tepat di depanku, kamu akan melihat aku hanya mendengus dengan ujung bibir tertarik ke atas sedikit. Sinis.
Maaf tuan, sudah terlambat untuk semuanya itu. Kamu sudah melewatkan kesempatan yang aku pernah berikan. No more chance.
Tapi aku tidak sekejam itu. Aku masih bisa memberikan reaksi yang cukup sopan. Setidaknya, balasan-balasan singkatku itu masih bisa dianggap sebuah bentuk aku menghargainya.
Apa yang dia lakukan toh tidak ada apa-apanya. Jadi tidak perlu sampai aku tidak mau mengenalnya.

Ini salah satu dari contoh kasus. Yang lainnya? Gak terlalu penting lagi.
Who’s next ‘the kemaki’s person’??

Makanya, kalau lagi merasa di senengin ki rasah kemaki!
Udah dibilangin, perasaan cintaku tuh cuma berumur 3 bulan, kalau selama itu gak di pelihara ya hangus. Lewat masa berlakunya. Paham??!! Oke. Paham ya??!

Ini berlaku dalam kasus apapun. Bila suatu ketika aku sedang berbaik hati dan memberi banyak perhatian dan loyalitasku,sedikit saja tidak dihargai atau di abaikan. Maka tidak akan ada toleransi itu lagi. Cukup beberapa kali saja aku melakukannya. Setelahnya, jangan harap aku akan berlaku sama. Pasti akan aku hitung.

Hidup itu harus timbal balik.Biar seimbang. Bukan berarti selalu ada pamrih. Tapi bagaimana saling menghargai aja. Jangankan soal pekerjaan, cuma rasa kangen aja pake effort kok.

Apalagi menahan kangen sama orang yang gak ngangenin kita huahahahhaha…

Karepmulah J……

Selamat tidur,

Shalom

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s