Salah itu biasa, kalau berkali-kali itu pilihan.


Semua orang pasti pernah membuat kesalahan, meski itu satu kali dalam hidupnya.

Iya. Mungkin hanya satu kali. Sementara aku? Berkali-kali. Sedungu itukah aku? Katanya kalau melakukan kesalahan berkali-kali itu semacam keledai. Tapi itukan di lubang yang sama. Atau hal yang sama.
Aku sih emang berkali-kali, tapi bukan hal yang sama. Tidak selamanya itu sebuah kedunguan, hanya sering membuat keputusan dan melakukan sesuatu yang salah karena ketidak tahuan.

Ada beberapa cara orang menyikapi sebuah kesalahan.
Menyesali itu berkepanjangan, sampai stress dan depresi dan lupa cara menyelesaikannya.
Tidak peduli dan akan melakukan kesalahan yang sama, berulang-ulang.
Atau belajar dari semua kesalahan, meneliti dimana letak kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

Aku adalah orang yang pernah melakukan ketiganya. Pernah menjadi orang paling dungu dan sangat bebal juga menyebalkan.

Apakah ada kata terlambat untuk memperbaikinya. Bisa jadi sangat terlambat. Bahkan saking terlambatnya, sudah tidak bisa lagi diperbaiki.
Tapi, bukan berarti lantas terus menerus melakukan kesalahan-kesalahan itu.
Menyesal sudah melakukan itu, memang iya. Tapi bagaimana rasanya hidup dengan terus menerus menyesali kesalahan yang sudah diperbuat.

Aku memilih beberapa cara untuk mengatasinya. Salah satunya, dengan menghitung semua kesalahan2 itu (yang sebenarnya sih ga bisa dihitung, saking banyaknya) setidaknya, kesalahan-kesalahan yang dianggap besar dan berakibat besar. Dari situ, pelajari letak kesalahannya, lantas menggaris bawahi point2 solusinya.
Yang sudah tidak bisa di benahi. Ya sudah tinggalkan. Tidak perlu terus menerus di sesali, tinggal menyikapi saja bagaimana seharusnya.

Intinya adalah, bagaimana bisa bijak belajar dari kesalahan. Gak perlu cari pembuktian dari orang lain deh. Biarkan orang akan menilai bagaimana. Yang terpenting, bagaimana dengan diri sendiri aja. Jangan berubah atau mengubah sesuatu hanya untuk membuktikan kepada orang lain. Tapi berlakulah itu untuk kebaikan diri sendiri.

Aku sering menceritakan kesalahan2ku di masa lalu kepada siapapun yang curhat. Bukan karena mau curhat balik. Tapi dengan mengatakan itu, aku cuma pengen menyampaikan, belajarlah dari kesalahanku.
Sayangnya, ada beberapa yang tidak menganggap itu benar. Sehingga, harus kejebles dulu baru bilang,”Yang di bilang kamu itu bener”.

Kandyianiok ra percoyo. Nek rung kejebles mesti rung kapok.

Biasa begitu kan?

Sama πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s