Ayamkah? Atau telurkah yang salah??


Semua memiliki kebenaran menurut versi masing-masing. Bisakah melihat dari banyak sisi sehingga tidak dengan mudah hanya bisa menyalahkan orang lain??

Kisah ayam dan telur

Ayam menyalahkan telur, kenapa gak bisa menetas sendiri. Telur menyalahkan ayam, kenapa harus menetas kalau dengan bentuk telur aja tetep bisa bermanfaat.

Ayam menyalahkan telur, kenapa harus menetas kan jadi telur aja tetep bisa dijual. Telur menyalahkan ayam, kenapa di erami, coba kalau nggak kan tetep jadi telur.

Pertanyaannya: siapakah yang bersalah??

Seharusnya, tidak perlu ada pertikaian saling menyalahkan. Karena semuanya tetap bisa jadi benar. Semua benar dengan versi masing-masing. Dan tidak ada yang salah karena bila ditempatkan pada sisi yang positip, apapun yang terjadi, masih bisa bersyukur. Setidaknya, ketika ada kondisi telur tidak menetas, masih bisa dijual, masih bisa di goreng dll. Kalaupun menetas jadi anak ayam, bisa dirawat dan akan menambah jumlah ayam. Bila sudah besar, bisa dipotong untuk dijadijan gulai atau dijadikan indukan lagi.
Lalu?? Kenapa harus melihat sisi negative kalau ketika itu dibalik, ada sisi positive yang lebih bermakna??

Bukankah itu semacam sebuah ilustrasi dari kehidupan sehari-hari?

Seringkali, kita terlalu sibuk menyalahkan. Karena pada dasarnya, menyalahkan orang lain itu pekerjaan paling mudah di dunia ini. Enak banget. Gak perlu pake belajar atau sekolah tinggi, bakat ‘menyalahkan orang lain’ itu sudah tertanam pada diri setiap orang.
Hanya saja, apakah bakat ini perlu dikembangkan? Atau, perlu di create menjadi sebuah motivasi untuk meraih hasil yang lebih baik??
Semua pilihan ada pada diri kita sendiri.

PR terbesar adalah, bagaimana menyikapi dengan bijak ketika disalahkan atas sebuah pekerjaan atau masalah. Mampukah kita menelaah lebih jauh dan menanggapi secara tenang dan mencari penyelesaian? Atau, balik menyalahkan dan tidak akan pernah selesai sehingga lupa pada tujuan akhirnya??

Mau pilih yang mana?

Kalau aku, memilih 3 langkah.

Pertama, menyimak dan mencoba mencari cara membenahi yang katanya ‘salah” itu.
Kedua, kalau masih disalahkan juga, akan berusaha bertanya ‘menurut anda, bagaimana yang benar? Karena benar menurut saya belum tentu benar menurut anda. Jadi saya akan melakukan yang benar menurut anda’.
Ketiga, kalau ternyata masih disalahkan juga, cuma akan bilang,’Silahkan dikerjakan sendiri, karena hanya anda yang bisa melakukan dengan benar’. S E L E S A I.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s