Never Play The Game Without Knowing The Rules


“Kamu bermain-main tanpa mengerti aturan permainannya, akhirnya nyesel sendiri. Jadi, jangan pernah mencoba memasuki arena permainan tanpa kamu ngerti bagaimana aturan mainnya”Β Don’t play the game without knowing the rules,dude!

Pohon rindang dimana aku sedang duduk dibawahnya, bergoyang ranting dan daunnya tertiup angin. Meniupkan serpihan rambut yang sedikit menutupi wajahku. Kepenatan seharian ini seperti ikut berhembus sirna. Sangat menenangkan, duduk menghadap lapangan rumput yang luas. Tidak banyak orang berlalu lalang yang mengganggu kesenanganku menikmati senja disini. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, sebuah pesan di whatsapp datang dari dia yang beberapa hari ini intens berkomunikasi denganku. Aku menatap layar handphone sambil tersenyum sebelum membukanya.

“Nonton yuk, ada film bagus nih”
“Boleh aja,ketemu disana? Atau gimana?”
“Ketemuan disana aja deh dari pada ribet”
“Okay”
Aku hanya punya sedikit waktu lagi sebelum malam datang melepaskan senja yang indah ini. Dan akupun beranjak pergi memenuhi ajakan nonton film malam ini.

Aku melihat jam di pergelangan tanganku, sepertinya aku kecepetan datang, karena masih panjang waktu film yang kami inginkan. Tidak masalah buatku, karena aku masih bisa duduk di cafe sebelah dan menikmati hot chocolate kesukaanku. Tanpa aku sadari, senyum tipis menghiasi wajahku ketika mengingat kedekatanku yang tiba-tiba dengannya. Sering bertemu, tanpa pernah berccakap-cakap dalam waktu yang lama. Hanya saling menyapa dan kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sampai pada suatu hari, kami bertemu tanpa sengaja yang membuat kami saling bercerita panjang dan seru. Sejak itu, dimulailah intensitas komunikasi kami. Dari obrolan tidak jelas sampai yang mendekati serius. Saat itu, aku hanya berpikir, sepertinya dia salah orang yang akan di dekati. Karena dia belum mengetahui banyak tentang aku. Dan tidak pernah tau bahwa terlalu banyak kerumitan dalam kepalaku dalam sebuah hubungan. Settingan mindset, peraturan hati dan sejenisnya. Tidak. Dia tidak akan pernah tau dengan kesederhanaan berpikirnya.
Mau bermain?? Seharusnya dia ketahui dulu dengan siapa dia akan bermain. Juga harus mengetahui dulu peraturannya.
Aku mencoba menjelaskan dengan samar, tapi sepertinya, itu malah membuatnya makin penasaran. Baiklah. Mari kita bermain. Aku ikuti dulu permainanmu.

Lamunanku berhenti ketika melihat seseorang sibuk mencari-cari. Aku lambaikan tanganku,dia menghampiri dengan tersenyum dan menjabat tanganku seperti biasa.

“Udah lama nunggu?”
“Nggak juga, hot chocolateku belum habis kok” Aku tertawa. Tidak lama kami fokus dengan film yang kami tonton.

Setelah selesai, sepertinya aku tidak ingin segera pulang. Sayang rasanya bertemu cuma sebentar.
“Laper gak? Makan dulu yuk?” Kami sepakat memakai satu kendaraan supaya gampang. Sepanjang perjalanan, percakapan kami tidak pernah berhenti. Ada saja yang kami perbincangkan. Okee…..ini akan jadi hal yang tidak aku suka, karena aku bisa benar-benar jatuhcinta. Jangan sampai pakai hati ya….ini biasa aja kokk. Aku menghibur diriku.
Sambil menunggu pesanan makanan kami, masih ada saja tema yang kami obrolkan. Dia lebih banyak bertanya tentang diriku, hidupku, cerita cintaku bahkan hatiku. Aku bercerita sebatas yang dia perlu tahu saja. Karena aku harus percaya dulu dengan siapa aku akan bercerita. Tidak semudah itu orang bisa menggali tentang aku yang sesungguhnya. Tapi entah kenapa, dia seperti punya daya tarik sendiri, mampu membuka perlahan dinding yang aku bangun sangat tebal selama ini. Aku bisa santai menceritakan banyak hal. Tentang segala luka yang pernah ada, tentang banyak kegagalan dalam perjalanan cintaku. Dan banyak hal lainnya.

“Kamu sadar nggak kalau kamu sudah mencari perkara sama aku” Tanyaku tiba-tiba saat kami sibuk dengan makanan kami masing-masing.
“Kok cari perkara sih? Emang aku salah apa?”
“Nggak ada, cuma kamu berani-beraninya bertanya tentang aku seperti itu”
Dia tertawa,”Loh, aku tuh penasaran sama kamu”
“Kenapa? Emang apa yang membuatmu penasaran?”
“Ya apa ya. Kamu tu menarik. Cerita sama kamu tu menyenangkan. Banyak hal yang aku baru tau tentang sesuatu. Dan prinsip-prinsipmu dalam menyikapi hidup itu seperti tidak biasa. Ya seru aja. Jadi aku penasaran”.
“Oooo…jadi cuma penasaran ya hmmm”
“Eh emang salah ya kalau aku penasaran?”
“Nggak. Cuma bahaya. Nanti kalau aku jatuh cinta gimana?” Aku mengatakan itu dengan nada bercanda.
“Wah jangan dong. Nyaman aja boleh. Kan kamu bilang, jangan terlalu pakai hati, nanti sakit” Sial!! Dia mengembalikan pernyataanku. Fine!!
“Emang kamu nyaman sama aku?”
“Iya, aku nyaman sama kamu. Eh…kamu nggak pengan menjalin hubungan lagi dengan orang lain? Masih bisa jatuh cinta kan?” Pertanyaannya yang tiba-tiba seperti menohokku. Untuk menjawab ini, aku butuh waktu diam beberapa menit. Tidak spontan seperti biasanya. Apa yang harus aku jawab? Aku sendiri tidak tau pasti apa jawabannya.
“Kalau bilang nggak pengen, kok kayaknya aku menipu diri sendiri ya. Tentulah aku pengen juga. Tapi gimana, kalau emang belum ada?”
“Belum ada yang bisa bikin kamu jatuh cinta lagi?”
“Bisa jadi”
“Kamu kok rumit ya kayaknya”
“Tergantung. Emang agak rumit sih kalau soal hati” Aku tertawa sendiri.
“Atau kamu susah buat jatuh cinta lagi?”
“Sebenernya, aku tu mudah kok jatuh cinta. Yang sulit menemukan orang yang bikin aku mudah jatuh cinta itu” Jawabanku sepertinya agak rumit buat dia. Aku lihat, dia seperti berpikir, mungkin mencerna maksudku itu.
“Kamu menutup hati banget mungkin”
“Ah nggak juga, hatiku selalu terbuka lebar kok. Tapi belum ada aja yang benar-benar ingin masuk. Biasanya ya cuma kayak kamu gini”
“Kayak aku gimana sih?”
“Ya kayak kamu gini, cuma iseng, coba-coba, ibaratnya, cuma ngintip-ngintip dalam hatiku. Baru mau nyentuh hatiku eh udah pergi lagi dengan alasan beda-beda”
“Wah kamu ini. Bahasamu rumit kali kaaaak” Dia tertawa dan menepukku sangat keras.
“Woy! Sakit tau” Aku meringis.
“Halah cuma segitu doang, sakit mana dengan ditinggalin sama orang yang dicintai?” Sindirnya tajam. Lalu kami tertawa keras.
“Kalau gitu, tepuk lagi yang keras deh, gak papa sakit digebuk kamu daripada ditinggalin kamu” Buseet!! Kata-kata menjijikkan itu keluar begitu saja. Tapi aku bercanda sebenernya.
“Emang kamu mencintai aku? Sembarangan ngomong deh” Jawabannya juga sembarangan.
“Ya nggaklah kalau cinta sama kamu. Nyaman aja cukup. Justru itu bahayanya. Cinta itu nggak penting. Justru yang paling berbahaya itu rasa nyaman”.
“Masak sih?”
“Iya loh, cinta itu belum tentu bikin nyaman, tapi kalau awalnya udah nyaman, seketika itu juga bisa jatuh cinta. Makanya, jangan deket-deket, nanti aku jatuh cinta” Mendengar ini, dia langsung menolehku dengan ekspresi yang menunjukkan keheranan.
“Mau deket-deket terus aaah biar kamu jatuh cinta” Dia menggodaku. Aku tau ini hanya bercanda. Akupun tidak menanggapi serius.
“Udah ah, yok pulang. Kelamaan disini sampe warungnya udah mau tutup tuh” Aku membelokkan tema dengan sangat mulus, karena memang aku lihat pengunjung di tempat makan ini sudah mulai sepi. Tertolong deh,jadi bisa menghindar dengan indah hehhehe
Sepanjang perjalanan pulang, kami masih bercakap-cakap dengan banyak tema. Sepertinya, tidak ingin segera mengakhiri malam ini. Sigh.

Malamku mulai terganggu. Tidak lagi seperti biasanya, tanpa memikirkan siapapun, bisa langsung tidur. Aku mulai merasakan kegelisahan dalam hatiku. Aku berusaha membantahnya. Aku sangat mengenal dengan perasaan ini. Sebuah perasaan yang sudah sangat lama aku matikan. Sungguh aku tidak menginginkan perasaan ini kembali lagi. Dia sudah mengusik ketenanganku. Dia tidak akan menyadari perbuatannya. Sesederhana itulah cara untuk membuatku jatuh cinta.

Tidak butuh waktu lama untukku jatuh cinta. Jatuh cintaku tidak perlu banyak proses. Sesederhana dia meluangkan waktunya untuk bercakap-cakap denganku. Sesederhana perhatiannya atas cerita-ceritaku. Hanya dengan cara yang sederhana.
Aku tidak pernah berharap lebih atas seseorang. Cukup aku merasakannya sendiri. Jatuh cinta ini hanya milikku. Bahkan aku harusnya berterimakasih kepadanya yang membantuku menemukan perasaan ini kembali. Artinya, hatiku belum membatu. Masih bisa jatuh cinta.

Hari kesekian.
Berawal dari percakapan biasa di whatsapp. Dia tiba-tiba meminta maaf atas percakapan di malam itu.
“Kenapa harus minta maaf?”
“Ya aku merasa berlebihan. Aku udah punya pacar. Jadi kayaknya kita nggak bisa deket-deket lagi”
Aku tercenung sejenak menatap layar handphone yang terpampang chat nya. Hmmm…..perasaanku mulai nggak enak. Kenapa harus ada pernyataan itu? Kenapa tidak bisa biasa aja. Enjoy aja. Toh aku tidak pernah berharap banyak.
“Aku takut nanti kebablasan. Aku takut dengan diriku sendiri kalau jadi gak kontrol lagi. Aku harus menjaga peraaan orang yang bersamaku” Whatsappnya datang lagi sebelum aku sempat membalasnya. Aku mendesah. Harus jawab apa coba. Berkali-kali aku mengetik, delete lagi, mengetik lagi, delete lagi. Begitu terus.
“Sudahlah. Biasa aja sih. Aku tau kok kamu udah punya pacar. Kan aku juga bilang kalau aku gak butuh sesuatu yang serius. Sekedar kita bisa ngobrol dan ketemu aja udah asik kok” Akhirnya aku memilih itu yang aku anggap sebagai kalimat yang pas menanggapi whatsappnya.
“Iya sih, tapi aku juga takut kalau kamu kebablasan perasaanmu. Kalau nanti kamu pake hati beneran gimana. Mending nggak usah diterusin aja ya”.
“Okay. As by request”.
Done. Aku menekan tombol off dalam hatiku. When i’m done. I’m Done. Itu prinsipku.
Aku tidak membalasnya lagi. Buatku, pernyataannya itu menyudahi semuanya. Ada rasa tersinggung dan jatuh harga diriku. Susah dijelaskan. Yang pasti, harga diriku terusik.
Belum selesai aku menenangkan hati dan pikiranku, dia sudah mengirim pesan kembali di whastappku.
“Kamu dimana? ketemuan yuk dimana gitu”
Aku tersenyum. Ini apa sih maksudnya……
“Oke, sebentar lagi ya”

Akhirnya, pertemuan itu terjadi kembali. Aku membiarkan dia menemukan jawaban atas rasa penasarannya. Aku memberikan apa yang dia inginkan. Walau aku tau, ini sedikit menggores hatiku. Tidak apa-apa. Aku juga ingin tau, sejauh mana rasa penasaraannya atas diriku. Dan aku juga sangat tahu, bahwa setelah ini dia akan menyatakan penyesalannya kembali. Dan akan menyudahi kembali. Lets play the game,dude!

“Thanks for tonight. Aku bingung. Sepertinya ini akan jadi yang pertama dan terakhir. Entahlah, kok aku seperti ini. Galau nih”

Sebaris kalimat di whatsapp dari dia setelah pertemuan. Seperti dugaanku. See?? Benar kan?? Dan aku hanya menjawab simple.

“It’s Okay. Aku udah tau kok. Kalau kamu cuma penasaran”
“Sepertinya sih iya, aku cuma penasaran. Dan kalau masih penasaran tuh rasanya belum puas. Padahal kalau udah ketemu jawabannya, ya udah. Gitu aja”
“Iya, aku tau. Semoga malam ini semuanya menjawab rasa penasaranmu”.
“Sudah”.
“Puas kan? Udah nggak penasaran lagi kan?”
“Maaf ya. Kok rasanya aku jadi nyesel. Kenapa jadi gini”
“Nggak perlu minta maaf. Bukan salahmu. Aku yang memberi peluang untuk kamu masuk dan menuntaskan rasa penasaranmu”
Lalu dia bercerita banyak hal tentang rencana besarnya dengan yang bersamanya sekarang. Dan berulang kali minta maaf. Hanya sebaris kalimat yang aku berikan atas permintaan maafnya.
“Never Play The Game Without Knowing The Rules”.
“Maksudnya apa itu?”
“Ya seperti itu, kamu bermain-main tanpa mengerti aturan permainannya, akhirnya nyesel sendiri. Jadi, jangan pernah mencoba memasuki arena permainan tanpa kamu ngerti bagaimana aturan mainnya. Paham kan?”
“Oh….mmm iya. Maaf ya. Are you okay?”
“I’m Okay. Its okay to be not okay” Diakhiri dengan emoticon smile.

I Ussually give people CHANCES than they deserve. Once i’m done, I’m DONE!!

——–

Hanya sebuah cerita pendek yang sangat pendek. Terinspirasi dari curhatan seorang tokoh yang tidak bisa disebutkan namanya πŸ™‚

Shaloom

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s