Hold every memory as you go #NjagongHamid


Sometimes, when loosing someone, it can be a process and it is not something you get over in a matter of time. There are stages that a person must go through to fully heal.

Tiba-tiba menemukan kalimat ini, ketika untuk beberapa hari aku masih merasa sedih, dan sering masih ingin menangis ketika kehilangan seorang teman baik untuk selama-lamanya. Setiap mengingat dia, yang sering terlintas adalah agenda omelanku yang gak berhenti- berhenti, bukan karena benci, tapi gemes karena aku mengasihinya.

Iyo mid, aku geregetan karo koe, aku gemes karo koe, aku sengit karo koe!!!
Koe ki nyebahi!!

Aku selalu seperti itu setiap menasehati dia dengan banyak hal karena ke pasif-annya, karena ke-pesimis-annya. Dulu hampir setiap hari, temenku yang benama Hamid ini kerumah, gak ada agenda kusus apa-apa, cuma dateng, bikin teh dingin, terus anteng aja di depanku, diem aja gak ngomong apa-apa. Tiap kali aku tanya, kenapa setiap
kerumahku kok openingnya selalu gitu, dia selalu jawab,”Aku kesini kan cuma mau nunut blah-bloh, biar ada temennya”. Hih!!

Apa yang istimewa dari seorang Hamid buatku?? Karena menurutnya, ketika dia merasa sendiri gak ada temen ngobrol dimana semua temen yang lain pada sibuk, dia selalu menemuiku yang menurutnya, aku yang available kapan aja bisa ditemuin. Iya. Waktu itu aku tidak pernah kemana-mana, selalu menghadap komputer di rumah aja.
Sehingga dia sewaktu-waktu bisa kerumah dengan sebelumnya memberi kode,

“Mami gak kemana-mana? Tak mampir nunut blahbloh, mau dibawain
apa?”. Begitu selalu. Dan biasanya aku cuma jawab,
“Iya, aku dirumah, kesini aja, gak usah bawa apa-apa”.

Gak berapa lama dia sudah mengetuk pintu rumahku dengan ketukan berirama khasnya,tok….tok tok tok….tok. Kira-kira begitulah gayanya kalau di tuliskan. Padahal kadang pintu rumahku itu ga tertutup, tetep aja dia ngetuk begitu. Dan aku mesti nyolot,

“Halah! Tinggal masuk aja lho mesti ketak ketok”. Dia jawab,”Lhoo kan biar mami tau kalau aku udah dateng”

Grrr….apa cobaaaa!! Tapi ya gitu, biar udah di omelin ya tetep aja dia begitu setiap kerumahku. Tapi akhirnya memang itu menjadi satu- satunya temenku yang punya ciri khas kalau kerumahku. Cuma Hamid yang seperti itu.

Selanjutnya udah bisa ditebak, dia akan langsung ke dapur, buka kulkas, ambil sirup di botol yang sebenernya cuma dia juga yang menghabiskan (SIRUP JATAHMU MASIH ADA DI KULKAS SAMPAI SEKARANG, MID!). Setiap sirup di botol habis, aku kok mesti inget beli hanya buat persediaan kalau dia dateng. Kayak udah otomatis aja.
Setelah itu, dia akan duduk di kursi meja makan depanku, aku masih tetap di kursi kerjaku ngadep komputer. Dia gak risau, dia udah biasa ngobrol sambil aku kerja. Dia gak pernah protes. Karena walau aku didepan komputer sambil kerja, kuping dan mataku masih mengarah ke dia. Mendengarkan setiap kalimat yang dia sampaikan dan
menanggapi seperti biasa. Pernah suatu kali, dia dateng pas mood ku lagi berantakan, bawaannya pengen marah kayaknya waktu itu aku lagi kesel sama orang dan barusan marah-marah. Dia dateng, dengan senyum khasnya.
Aku cuma meringis dikit dan fokus dengan komputerku. Hamid diem aja, gak protes gak ganggu. Dan aku juga banyak diem karena aku lagi bener-bener sedang tidak berselera ngobrol, atau pikiran lagi entahlah. Gak lama Hamid pamitan pulang, saat itu aku merasa gak enak.

“Kok pulang? masih panas lho, mbok nanti”
“Besok lagi aja aku kesini lagi kalau muka’nya mami udah enak diliat”
Aku seperti ketampar, tapi aku jujur bilang sama dia,
“Oh iyo sih….maap yo Mid, aku lagi embuh tenan iki, lagi banyak yang
bikin aku emosi”
“Iyo mi, santai wae. Sesok aku dolan meneh”

Kemaren pas di pemakaman, setelah prosesi semua selesai dan aku mampu bertahan tanpa air mata, tiba-tiba Koh Irwan yang berdiri di sebelahku nanya,

“Mam, siapa yang nganter-nganterin mami lagi” Cesssssssssssssss langsung airmata menitik, aaaah koh Irwan pake ngingetin sih 😦

Karena pertama kali aku dolan ke Maliome, kantornya koh Irwan ini, aku di anterin Hamid, saat itu bukan aku gak bisa sendirian, tapi pas kebetulan kok dia WA aku katanya lagi senggang, aku tanya,
“Kamu tau kantornya Maliome??”Dia jawab,”Aku belum pernah kesana sih mam, tapi aku ngerti tempatnya”.

Pas banget! Karena aku sering disorientasi arah kalau cari lokasi, pas aku memang lagi pengen dolan kesana, pas ada Hamid yang bersedia nganter. Langsung dia samperin aku ke kantor dan meluncurlah kami ke Maliome,ketemu koh Irwan, dan teman-teman yang lain. So, aku gak kudu nyasar, berkat Hamid.

Iya. Soal antar mengantar ini, memang bukan satu-satunya orang yang nemenin aku atau anter aku kemana-mana. Toh biasanya juga aku sendirian. Tapi, Hamid ini memang istimewa! Kadang pas aku butuh temen yang bisa nganterin ke sebuah acara atau tempat yang dimana itu dia juga kenal atau tau, pasti mau kalau aku mintain tolong. Dan aku jadi gak sendirian kemana-mana. Tapi dengan syarat, yang dia gak merasa ‘asing’ dengan tujuanku. Kalau itu sebuah keramaian yang dia merasa gak kenal atau gak nyaman, pasti dia milih,”Tak anterin aja ya mam, tapi aku tinggal”.
Kadang, aku masih harus paksa-paksa dia supaya mau gabung, tetep aja dia gak mau. Huh! keras kepala! Tapi yaah itulah Hamid, aku selalu berusaha memahami dirinya. Aku gak maksain banget kalau aku rasa memang itu bikin dia ga nyaman. Aku paham apa yang bisa dan tidak membuatnya nyaman.

Pernah suatu sore, kami sama-sama blahbloh, mau kemana dan ngapain. Akhirnya nongkronglah kita di sebuah warung kopi. Berdua sambil nunggu temen-temen yang wacana mau nyamperin. Sambil menunggu gelap, aku jalan-jalan ke pematang sawah di belakang cafe itu, lalu aku teriak-teriak ke dia minta di foto in. Dengan gayaku yang aneh-aneh sampe nyungsep di rumput bahkan klekaran di gubug. Dia nurut aja aku suruh fotoin gini gitu.

Tapi sempet ngomel,”Hiyuuuh…..ini malah dikerjain suruh foto-foto emak-emak”.
Aku gak marah. Malah ngakak se ngakak-ngakaknya. Setelah aku anggap selesai, eh malah dia bilang,”Uwes mam?? Kok udah to, ndak sisan kungkum di blumbang situ,tak foto ben koyo kuda nil kerdil”
Bah!!! Kurang ajar koe Mid!! Aku lempar dia sama sepatu sambil ngakak. Dia pun cengengesan. Endingnya, sampai malam kami tetap berdua karena teman-teman membatalkan untuk datang. Kami cuma tersenyum, biasa yo Mid?

Hamid ini memang selalu punya julukan / panggilan kusus pada beberapa temannya. Aku?? Tentu saja gak kelewatan, dan satu- satunya panggilannya buatku adalah MAMI GALI. Duh Miiiid….gak ada yang lebih imut gitu po yo manggilnya 😦
Sampai-sampai, dia buat loc sendiri kalau dia check in di path pas kerumahku,”Rumah Mami Gali” hadoooh!!!!
Njuk saiki ra ono seng manggil aku gitu lagi mid….tapi kan itu cuma kamu ya yang manggil aku gitu. Nek seng liyane mesti aku mecucu 😦

Suatu kali, dia dateng pas aku bongkar-bongkar ruangan kerjaku. Mau aku geser-geser lemari dan lain-lain. Kebetulan mindahin rak CD yang tadinya di kamar mau aku tarok luar. Apesnya dia sih sebenernya kok dateng pas aku geser-geser lemari. Dia gak keberatan bantuin geser-geser lemari, tapi sambil teriak-teriak mbangunin Tigor yang lagi tiduran di ruang depan. Mereka berdua akhirnya berhasil geser- geser lemari. Bonusnya adalah, Hamid nemu beberapa CD yang menurutnya aneh dan unik. Dia kegirangan kayak nemu harta karun.

Pernah juga terjadi, pas aku lagi sibuk di dapur dia dateng. Liat komputerku nyala, dia bilang,
“Mam, minta lagu ya”. Aku jawab,”Lagu opo?”.
“Lagu apa ajalah yang bisa aku temuin di komputernya mami”.

Aku bilang,”Kalau kamu ga tau mau nyari lagu apa, nanti malah kamu bingung lho, soale itu banyak banget. Mesti mumet mau cari satu-satu di semua folder disitu”.
Dia jawab dengan PD,”Tenang mam, mesti nemulah nanti”.

Oke, akhirnya aku biarkan dia ngobrak-abrik komputerku. Sejam kemudian, dia kemringet. Garuk-garuk kepala dan pusing. Aku tanya,”Dapet yang kamu cari?”. Dia jawab sambil pegang ucek-ucek mata dan lepasin kacamatanya,”Kok mumet yo mam, iki ono pirang lagu sih? Kok akeh tenan”.
“Loh kan aku tadi udah bilang, kalau kamu ga tau mau nyari lagu apa yo mumet nyarinya”
“Ho oh e, ternyata sirahku mumet. Aku bingung. Ini lagu apa aja kok ada disini, dari yang jelas sampe ra jelas. Embuhlah mam, rasido wae”.Β Lalu kami ngakak bareng.

Selalu ada obrolan bertema berat kalau sama dia. Biasanya dari curhat-curhatannya tentang kehidupannya, tentang temen-temennya, tentang lingkungan dia berada, tentang masa depannya, tentang apapun, bahkan tentang hatinya yang tak pernah bisa lepas dari cintanya di masalalu 😦

Dan selalu….selalu aku marah-marah, ngomel-ngomel panjang setiap kali gemes dengan prinsi-prinsipnya yang menurutku sangat apatis, seperti gak mau beranjak dari zona ‘pesimis’nya. Bahkan sering kesel kalau dia sudah kumat pesimisnya. Seperti dia itu nothing dan gak bisa apa-apa. Padahal, menurutku, dia bisa melakukan apapun!! Dia itu tidak bodoh, dia hanya idealis! Idealis yang embuh banget (AKU SENGIT RO KOE MID!).
Pada suatu pembahasan dia tentang pekerjaan, aku sempat bertanya,”Sebenernya praktisimu itu apa sih?Sebenernya yang menurutmu sebagai keahlianmu itu apa sih?”
Lalu dia bercerita blablablabla. Dan aku bilang,
“Sepertinya banyak temen yang nawarin kerjaan ini itu, kenapa kamu gak ngambil salah satunya?”. Dia diam sebelum akhirnya menjawab,”Soalnya kalau yang ini tuh gini gini, yang itu gitu gitu,pokok e aku ra cocok”.
“Lha yang cocok buatmu yang seperti apa?”
“Ya yang gak harus banyak aturan blablabla, terus ra kudu di atur pake baju apa, boleh ngantor pake kaos oblong blablabla”. Aku diem aja, mikir mau jawab apa.
Akhirnya aku bilang,”Mid, yang namanya perusahaan pasti punya aturan sendiri-sendiri, bahkan perusahaan kecil sekalipun. Kalau kamu pengen kayak gitu, berarti cobalah maksimalkan kemampuanmu dan bikin kantoran sendiri. Kamu bisa bikin aturan sendiri. Bebas sak karepmu”.
“Nha itu masalahnya mam, nek koyo ngono kuwi kan butuh modal ra sitik”
“Lho lha iyalah jelas kuwi, berarti piye?” Aku mengembalikan pertanyaan ke dia.
Jawabannya,”Yowes ngene wae sek mam, seng penting konco-koncoku iseh akeh, tur konco-koncoku bahagia“.
“Mid!! Kamu juga berhak menentukan kebahagiaanmu sendiri. Semua dari kamu sendiri. Gak bisa nuntut orang lain untuk membahagiakan kita. Nek koe ngono terus kapan kondisimu akan berubah?”. Itu sebagian dari omelanku. Dan seperti biasanya. Dia hanya tersenyum.

Aku gemes. Aku geregetan. Aku pengen dia melakukan sesuatu. Aku pengen bisa berbuat sesuatu untuk dia. Tapi apa?? Bahkan dia sendiri gak tau kepengennya gimana 😦

Iya. Aku jengkel. Karena dia banyak membantu temen-temennya. Dia juga banyak bantu aku. Bahkan ada aja solusi tiap aku bertanya yang tentang digital yang aku gak dhong! Misalnya, tentang gmailku yang selalu overload. Kejadian sepele, dia dateng pas aku lagi ngomel-ngomel mbersihin gmailku yang setiap hari penuh. Gak cukup kapasitas 15 gb gratisan dari gmail. Dan aku dibuat habis waktu hanya untuk buangin isi email yang sudah expired. Setiap hari. Lalu dengan santai dia bilang,
“Mbok langganan aja mam, wes kuwi solusi paling pas nggo gmailmu”.
Aku masih dengan mengomel bertanya macem-macem tentang gmail yang berbayar. Maklum,gaptek aku! Dia menjelaskan blablabla yang aku jawab dengan “Oooooh…..gitu? Oke!”. Lalu aku mengikuti arahannya, gak lama, DONE! gmailku sukses dengan kapasitas 100gb! Dan dengan sombongnya aku bilang,”Modyiaroooo!! Saiki gmailku 100gb! Wes konooo nek meh dho kirim gmail sak jebolmu!” Dia ngakak gak selesai-selesai denger aku ngomong gitu. Sering kejadian ini dia ceritakan ke temen-temennya,”Koyo mami dong, wes iso sombong gmail e 100gb” Hahahaha koe cen nyebahi!

Nyebelin adalah setiap dia bilang,
“Mam, aku ndak meh request lagu, aku mau request jodo wae iso ra?”. Aku langsung jawab,
“ORA ISO!”
“Kok ra iso to mam, mbok iso. Golekke aku jodo”
“Wegah! koe ngeyelan okh”
“Ora wes, aku ra meh ngeyelan meneh”
“Emoh! Koe ki tep ngeyelan nek di kandani”
“Demi jodoku, aku meh manut mami wes”
“Koe ki wes ngerti jodomu Mid, mung koe seng ra pernah wani nembung”.
Jawabanku itu ternyata telak buat dia. Setelah itu dia dateng kerumahku kusus curhat masalah itu 😦

Hhhh…….maaf Mid, aku gak bisa bantu apa-apa lagi untuk permasalahanmu yang itu. Prinsip dan pola pikirmu tentang itu udah ga bisa di utak-utik. Kekeh dan absolute. Embuh tenan 😦

Ketika aku berniat pindah kontrakan, aku masih sempat nanya-nanya ke dia, kalau daerah ini deket rumahmu gak? Kalau yang disini kamu deket ga? Semacam itulah. Sampai akhirnya aku dapet rumah di lokasi yang sangat mudah dia jangkau.

“Mid, aku udah dapet rumah. Cedak to karo nggonmu? Berarti kalau kamu mau main kerumahku ga kejauhan. Gampang to?” Dia senang denger lokasi rumah kontrakanku gak jauh dari rumahmu. Dan ketika aku pindahan, dia sempet bilang,”Mam, ga bisa bantuin ya, badanku lagi gak penak iki rasane”. Iya mid, gak papa…..

Beberapa saat setelah aku pindahan, Hamid sakit dan sempat di rawat beberapa hari di RS. Aku cuma bisa WA dan memantau perkembangannya lewat sosmed. Selama dia masih update status, berarti dia baik-baik aja. Pas aku berencana mau nengok ke RS ternyata dia sudah pulang. Aku senang. Berarti dia udah sembuh. Udah bisa main-main lagi. Lalu seminggu setelah dia keluar dari RS, dia main ke kontrakan baruku yang memang deket banget dengan rumahnya. Masih dengan kebiasaannya, bawa teh dingin di plastik. Saat itu aku cuma bilang,”Kamu lho kok yo masih minum manis-manis terus. Mbok banyakin minum putih”. Duuh kok yo aku masih ngomel yo Mid.
Kesempatan itu tidak banyak yang kami obrolin. Cerita-cerita biasa karena lama gak ketemu. Aku sempet bikin bakwan jagung kesukaannya. Dia kupaksa makan gak mau, cuma ngemil bakwan aja udah kenyang, katanya.

Aku lupa obrolan kami apa aja, tapi kayaknya memang ga ada yang penting banget. Cuma sempet aku nanyain penyakitnya. Dia menjelaskan. Dan aku omelin lagi. Maaf yo Mid 😦

Beberapa minggu lalu, tiba-tiba dia telpon aku pas aku lagi kerja di kantor.
“Mami di rumah gak?”
“Lah aku kan di kantor mid?”
“Wooo tak kiro dirumah, mau tak dolani mumpung aku lagi di utara”
“Walaaah…..aku kan sejak di radio ini jam kantor mid. Pulang jam 5 nanti. Piye? Abis aku pulang kantor po?”
“Wah….keburu aku pulang mam. Wes kapan-kapan aja tak dolan nek mami ndak sibuk. Mami sekarang sibuk e”
“Woooo aku ra sibuk yooo….cuma ngantor aja tiap hari. Mbok pas sabtu apa minggu gitu lho nek meh dolan kerumah. Tapi ngabari sek yo”
“Gampanglah mam. Nek pas mami ra sibuk wae”

Duh Miiiid…..aku ki ra sibuk yoooo….
Dan aku cuma meng-iyakan aja omongannya. Gak lama obrolan di telpon itu. Cuma begitu aja.

Semingguan yang lalu, secara tidak sengaja ketemu dia di kedai Lokalti punya Arga. Karena kebetulan aku ada janjian ngobrol sama Mas Iwan Temukonco, yang aku kenal juga lewat Hamid saat dulu seru-serunya ngobrolin blog di twitter. Makasih yo Mid, mas Iwan cuma salah satu teman yang kamu dapetin lewat kamu. Masih banyak yang lainnya, temanmu yang akhirnya berteman juga sama aku.
Sebenernya, saat itu aku gak ngeh kalau ada kamu di antara kerumunan teman-teman yang lain di seberang aku duduk. Kok yo tumben lho kamu ndak nyamperi aku. Temen-temen yang lain, karena aku dateng lebih dulu, dan gak janjian sama mereka, pada nyamperin aku duluan satu persatu, sekedar say hi. Baru setelah urusanku dengan mas Iwan selesai, aku bergabung dengan mereka.

“Loh, ada kamu juga to Mid? Waah aku ndak tau e nek ada kamu disini”
Dia hanya tersenyum. Aneh sih menurutku, kok yo ndak mbales omong apalah apalah. Bahkan ketika aku salami dan peluk dia karena lama ndak ketemu, dia cuma senyum.
“Piye kabarmu? Sehat to?”
“Alhamdullilah mam, aku baik-baik aja”
“Sukurlah, jogo kesehatanmu yo”
Hanya begitu obrolan kami. Pas aku mau pulang, sempat bilang dia,”
“Kamu mau pulang juga?” Karena aku liat (untuk pertamakalinya dia pake jaket) memakai jaketnya. Seperti mau pulang.
“Nah gitu loooo pake jaket nek pergi-pergi” komentarku.

Dia hanya tersenyum. Bener-bener cuma senyum. Ndak banyak komentar dan ndakk ikutan bercanda bareng kami. Saat itu, aku beneran merasa aneh sama dia. Aku heran dan sempet bertanya dalam hati,”Aku salah opo yo sama Hamid” atau “Hamid ngopo e sama aku kok gitu”. Tapi pertanyaan-pertanyaan dalam hati itu aku tepis. Karena aku merasa gak ada masalah dengan Hamid, jadi aku anggap itu cuma perasaanku aja. Akhirnya aku malah ga jadi pulang bareng. Karena aku udah keburu mau pulang, tapi dia masih asik ngobrol dengan Daday yang baru dateng. Ya sudahlah…aku pulang dengan banyak pertanyaan tentang Hamid yang tidak terjawab.

Aku salah. Bukan tidak terjawab. Jawabannya datang terakhir, hari Rabu tanggal 20 Mei kemaren.

Hamid menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu dengan…..kepergiannya yang tiba-tiba.

Pergi yang tidak akan pernah kembali. Pergi yang benar-benar pergi tanpa pernah bisa aku temui dan aku ajak ngobrol kaya dulu lagi. Ternyata, pertemuanku dengannya terakhir itu, senyumnya yang terakhir aku liat itu, semacam mau ‘pamitan’ yang gak bisa dia sampaikan dengan kata-kata. Sepertinya begitu 😦

Siang hari yang panas, tiba-tiba mendapat berita, Hamid dipanggil pulang oleh Bapa di Surga. Aku shock. Tanpa bisa aku tahan, meluncur deras airmataku. Antara tidak percaya dan sangat sedih. Ya, kesedihan yang sama dirasakan teman-teman Hamid yang lain. Aku hanya salah satu yang tak berarti apa-apa mungkin. Banyak teman-temannya yang lain yang merasa sangat sedih dan kehilangan.

Loosing someone might always be a bad thing. Sometimes, Bad Things happen for a good reason, for purpose of good.

Hamid, aku sedih. Aku minta maaf tidak meluangkan waktu untuk ngobrol banyak sama kamu waktu itu. Aku minta maaf 😦
Sekarang, aku harus merelakan kamu pergi ke rumah Bapa di Surga. Disana sudah disediakan tempat yang indah buatmu.

Kalau kemaren-kemaren aku tidak merasakan sesuatu yang spesial ketika pasang lagu Charlie Puth – See You Again. Sekarang terasa beda. Aku mendadak gloomy setiap lagu itu terputar. Terlebih yang versi tanpa rap Wiz Khalifa. Makin nggrantes dengernya.

It’s been a long day without you my friend
And I’ll tell you all about it when I see you again
—-
Why’d you have to leave so soon?
Why’d you have to go?
—-
I know you’re in a better place
But it’s always gonna hurt
—-

Yeah…..at the end, i just want to say,

“So let the light guide your way, and every road you take will always lead you home”

Hold every memory as you go. When I see you again, my friend…

In Memoriam of Hamid, the best friend of mine 😦

C360_2013-08-16-14-09-26-581
Beginilah posisi kami setiap kali Hamid dateng kerumahku

 

 

 

 

 

 

Aku dengan pekerjaanku di depan komputer, dan Hamid duduk di depanku sambil ngobrol. Begitulah.

 

Allah besertamu di Surga,teman…..

 

 

 

Advertisements

One thought on “Hold every memory as you go #NjagongHamid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s