About the ‘GOAL’


Bekerja keras, tidak selamanya dengan tujuan mencari uang yang banyak. Ada beberapa di antaranya yang karena obsesi, pencapaian target karir tertinggi atau bisa juga sebagai sebuah pembuktian akan kemampuan diri.

Yang manakah kita?

 

Terlalu lama gak bicara banyak disini, membuatku kesulitan kembali memulai.
Harus memulai dengan tema apa……

Malem ini,edisi terjebak di kantor, hujan deras sejak sore. Halanganku untuk pulang adalah karena,gak bawa mantol. Ya sudahlah, kondisi tidak mengasikkan ini masih bisa dinikmati dengan suka hati. Seperti sekarang, karena pekerjaan sudah selesai, dan blahbloh bosen, teringatlah dengan blog yang sempat terlantar beberapa bulan ini. Tertuanglah apa yang terlintas seketika di kepalaku. Tentang apa yang di sebut ‘GOAL’ atau sebuah pencapaian hidup.

Dari ngobrol dengan beberapa teman, ada anggapan bahwa bila bekerja sebagai sebuah pembuktian kemampuan diri, itu dimiliki oleh sebagian besar ‘newbie’ alias pemula atau yang baru awal bekerja.
Tapi menurutku, tidak selamanya itu dilakukan oleh pemula. Misalnya saja, ada sebagian orang yang sudah bekerja bertahun-tahun di sebuah perusahaan. Tapi pada saat tertentu melakukan pekerjaan lain yang lebih sebagai sebuah pembuktian. Atau mungkin passion.
Ya lebih tepatnya, passion. Banyak yang melakukan pekerjaan murni karena masalah finansial. Tapi tidak sedikit pula yang bekerja karena passion. Dan tidak jarang pula, yang berada di wilayah ‘passion’ ini tidak berbanding lurus dengan finansial yg sepadan.

Sehingga tidak salah, kalau ada yang bekerja di suatu tempat hanya untuk menutupi yang namanya kebutuhan material. Dan sisanya, melakukan pekerjaan sampingan hanya untuk melampiaskan kesenangan, hobby atau passion.

Contohnya, banyak dari teman2 penyiar yang tidak bisa jauh dr mic. Karena passion dan kesenangan, tetap melakukan pekerjaan itu. Walau sangat tahu, mungkin pendapatan sebagai penyiar tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga, ada pekerjaan lain yang memang dilakukan untuk melengkapi itu. Dengan sebagai MC misalnya, ini lebih melengkapi lagi, karena dunia MC juga bagian dari passion seorang penyiar. Sama-sama menikmati itu. Ditambah honor yang jauh lebih besar dibanding siaran yang cuma beberapa jam sehari. Deal.

Atau, banyak lagi contoh yang lainnya. Tidak ada salahnya melakukan beberapa pekerjaan selama itu memadai dan worth it buat semuanya.

Lalu, bagaimana dengan usaha keras mati-matian sebagai sebuah pembuktian kemampuan diri? Obsesi? Atau…..hasrat?

Masih banyak juga yang berada di wilayah itu, dimana menghabiskan waktu, energi dan semuanya dalam bekerja untuk sebuah pencapaian puncak. Karena disitulah passionnya berada. Pencapaian puncak. Menjadi ‘sesuatu’ untuk mendapatkan ‘nilai lebih’ baik itu berupa jabatan atau prestis.

Salahkah?

Tentu saja tidak. Aku pernah berada di wilayah itu. Dimana aku merasa ‘penasaran’ berada di posisi yang selama ini menjadi passionku. Dan ketika itu aku dapatkan. Ternyata aku salah. Karena pencapaian tertinggiku ternyata sebenarnya bukan itu. Tapi setidaknya, aku sudah pernah merasakannya. Dan itu sudah cukup. Sehingga tidak ada yang namanya penyesalan atau merasa rugi. Tidak. Aku lega sudah pernah sampai disana. Walau tidak lama.

Beranjak naik ke posisi yang lebih tinggi bisa jadi diikuti dengan perbaikan yang di dapat secara finansial. Umumnya begitu. Sehingga tidak heran bila terjadi sebuah kondisi, ketika berharap finansial yang lebih baik, harus dengan meraih prestasi juga promosi ke posisi lebih tinggi lagi.

Benar juga….

Selama itu memang bagian dari passion kenapa tidak??

Bagaimana dengan sebuah pendapat, “Kita sudah beranjak dewasa (baca: tua) masak mau di posisi ini ini aja. Harusnya udah jadi ini dan itu”

Aku pernah mendapatkan statement seperti itu, agak mengganggu pikiranku, jadinya cukup mempengaruhi mindset ku. Hasilnya? Meraih posisi lebih tinggi menjadi salah satu orientasiku. Meracuni pikiranku. Tapi aku tidak menyesal, karena hal itu menggiringku sampai pada apa yang aku anggap ‘my goal’ di karirku.

Pada akhirnya, yang aku anggap puncak karir itu, ternyata tidak membuatku lebih bahagia. Aku hanya penasaran. Hanya itu, ternyata. Tidak lebih.

Kepuasan, kebahagiaan dan kenyamanan dalam berkarir pada setiap orang berbeda. Dan aku memilih, tidak berposisi sebagai ‘siapa dan apa dalam 1 hal’, tapi lebih kepada ‘apa yang bisa dilakukan dlm banyak hal’ dan itu menghasilkan lebih banyak daripada hanya 1 hal.

Ho oh.
Ujung-ujungnya tetap, demi finansial yang lebih baik. Amiiiin.

*karang urip ki mung ngggo mampir bayar tagihan 🙂

Syaloom,

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s