Life is all about taking risks and accepting challenges.


Some people said,”Life begins at the end of your comfort zone”. And I said,”It sure does! But that doesn’t mean a comfort zone isn’t nice to have”.

 

Ini semacam #repost dari tulisanku tahun 2012 lalu. Udah lama ya….

Kenapa tiba-tiba pengen ku repost,karena aku kembali di dera perasaan seperti ini (lagi).
Karena yang aku rasakan tidak jauh berbeda,pasti juga yang ingin aku tuliskan tidak akan berbeda. Jadi,aku putuskan untuk me-repost saja hehehe
—–

Kadang,aku salut sama temen-temen yang bisa begitu mudah dan berani membuat sebuah keputusan dalam hidupnya. Karena aku merasa sulit bisa melakukan itu.
Dan akhirnya,aku berpikir,sebenernya aku yang terlalu takut dengan sebuah perubahan sehingga stuck dalam area ‘nyaman’ atau karena aku banyak memperhitungkan??

Kalau keputusan itu berakhir baik dan tidak berujung pada sebuah penyesalan karena keputusan yang salah,boleh lah ya itu dianggap sebuah prestasi. Tapi kadang,yang aku temui,jadinya menyesal sudah terlalu buru-buru membuat keputusan tanpa memikirkan dari banyak sisi. Nah,ini yang aku tidak inginkan.

Sering aku mengatakan bahwa,”Aku adalah orang yang sangat mengenal diriku sendiri,apa keinginanku dan kebutuhanku”. Hal itulah yang membuatku tidak mudah mengambil sebuah keputusan tanpa mempertimbangkan banyak hal,baik-buruk,untung-rugi dll. Semuanya ini karena aku sudah melewati masa-masa dimana dulu lebih sering membuat keputusan tanpa pikir panjang,dan hasilnya tidak selalu baik. Menyesal???tentu saja sempat merasa menyesal,tapi sekarang,aku membuat semuanya itu menjadi sebuah peajaran berharga bahwa itu adalah proses dimana aku terbentuk menjadi seperti sekarang ini. Mungkin,tanpa sebuah proses ‘melakukan kesalahan’ aku tidak akan banyak belajar dan tidak tau cara memperbaikinya.

Posisi aman dan nyaman,dibilang juga ‘comfort zone’ sering dialami oleh banyak orang dan dianggap itu sebagai orang yang tidak bisa berkembang. Apakah begitu?aku sih tidak saklek berpikir sesempit itu,banyak latar belakang yang harus dilihat dari keputusan orang untuk tetap berada di ‘wilayah nyaman’ atau ‘comfort zone’ itu. Melihat kebutuhan orang juga berbeda-beda,pun kemampuan orang juga tidak sama,aku melihatnya itu sebagai sebuah pilihan. Dan mau kalau toh berkembang,tidak selamanya harus move ke tempat baru ya…

Dan itu kembali ke pilihan itu tadi. Memutuskan keluar dari ‘zona aman’,pasti sudah dengan pertimbangan yang matang dan sudah memperhitungkan segala sesuatu sebaik-baiknya.
Dan 1 hal penting yang harus jadi petimbangan utama adalah: memastikan bahwa ketika keluar dari situ,ada kondisi lebih baik dari sebelumnya.

Buatku,itu adalah prinsip yang harus dipegang ketika akan memutuskan keluar dari kondisi ‘nyaman’ itu.
Yang mengetahui gimana keadaan dan seberapa besar kebutuhan kita,ya kita sendiri yang tau ukurannya.
Aku,mungkin terlalu ‘pengecut’ untuk melakukan perubahan,tapi semua dengan sebuah perhitungan yang matang,ada saatnya dimana aku harus ‘mengembangkan diri’ tanpa harus melepas apa yang sudah aku lakukan sekarang.

Jadi pengertiannya disini adalah,selama itu bisa aku lakukan,kenapa tidak memilih untuk ‘menambahkan’ sebuah pekerjaan dari pekerjaan yang sudah ada,bukan ‘berpindah’ dari pekerjaan sekarang ke pekerjaan yang baru. Begitu.

Respect kepada teman-temanku yang akhirnya memutuskan untuk berpindah profesi dengan pekerjaan yang baru,dan aku yakin sekali bahwa itu bukan sebuah keputusan yang mudah.

Dan saat ini,ketika aku memutuskan untuk me-repost ini,aku diperhadapkan sebuah kenyataan dimana aku tidak bisa MEMILIH.
Tidak bisa memilih untuk harus tetap di zona aman,atau nekat dengan jalan hidup yang lain. Tidak. Itu bukan lagi sebuah pilihan yang harus kupilih. Tapi harus aku lakukan,tidak bisa tidak.

Cepat atau lambat,keputusan harus aku ambil,dengan segala resikonya.

Sometimes,scary out of the comfort zone

Duduk diam dan berpikir,atau duduk diam dan membiarkan semuanya terselesaikan sendiri?
Aku mencoba memikirkan saran dari sebagian orang yang bilang,”Dalam situasi seperti itu,mending mengambil waktu untuk diam dan tenang,bila perlu disappear dulu”.

Yah itu ada benernya sih,beberapa minggu ini aku (seperti biasa) mengambil sikap tenang dan rileks. Tapi sampai kapan? Sementara waktu berjalan terus,dan halooooooooooo apakabar tagihan-tagihan bulanan??? Apakabar uang sekolah anakku? Apakabar kebutuhan harian untuk aku hidup bersama putriku???
Apakah semuanya itu bisa juga diam dan menunggu??

TENTU SAJA TIDAK!!!

Baiklah,aku memutuskan untuk mengambil waktu sampai akhir April ini,itu target waktu yang aku putuskan. Setelah itu. Biar Tuhan yang melakukan sesuatu untukku.

Dalam keputusasaanku,aku masih memiliki iman dan percaya entah dimana Tuhan akan menempatkan aku.

I’m blessed.

I need to step out of my comfort zone to take risks. And I know, life is about taking risks. I learn by taking risks and seeing where it takes me. That is what makes life exciting.

Syaloom
~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s