Term and Conditions of Long Distance Relationship


“It’s not how much time we have but how to use the time to communicate”

 

Seberapa banyak korban dari hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship?? Untuk kalangan anak muda, aku yakin kalau yang tunjuk tangan pasti banyak hohohho
Yayaya…..dari yang berhasil melewatinya, tidak sedikit juga yang gagal di tengah jalan. Lebih-lebih kalau status hubungan masih dalam taraf pacaran. Yang udah menikahpun bisa aja kok bubaran gara-gara hubungan jarak jauh (ini aku curhat??) LOL.

Apa yang ingin aku tuliskan disini, lepas dari aku membenci yang namanya LDR, tapi dari sekian curhatan yang aku dengar, bentuk kasusnya kurang lebih sama.
Kalau ada seribu orang tidak menyukai bentuk hubungan jarak jauh, aku masuk dalam salah satunya yang bahkan membenci. Bukan tanpa alasan. Tentu saja dengan alasan yang sangat kuat. Bukan sekedar sakitnya menahan rindu, atau tidak bisa selalu bersama-sama. Tapi hal-hal makin rumit juga terjadi.

Misalnya saja.

Akan sulit atau rentan menjalani LDR bila pelakunya terbiasa kemana-mana bareng. Dari cuma sekedar nongkrong atau hunting tempat makan, menyelesaikan masalah, hangout sama temen yang senengnya berbarengan pasangan (banyak kan yang seperti ini) atau juga yang tipikal ‘tergantung’ biasa memutuskan sesuatu bersama atau biasa di anterin kemana-mana. Mendingan, begitu tau akan ada kondisi LDR, lebih baik pikirkan sekali lagi untuk setuju meneruskan hubungan. Bisa dipastikan, berantakan di tengah jalan.
Begitulah, kenapa aku membenci yang namanya hubungan jarak jauh atau lebih keren dengan istilah Long Distance Relationship??
Pada dasarnya,ketika aku menjalin hubungan dengan seseorang,gak pernah bisa berjauhan. Karena aku tipikal yang senengnya melakukan sesuatu bersama-sama. Nonton,makan,hangout atau cuma nongkrong sama temen. Mauku,yang jadi temenku ya temen dia,begitu juga sebaliknya. Walau mungkin dunia dan aktivitas berbeda,tapi ada waktunya untuk melakukan hal-hal seru bersama. Itu ideal menurutku sih.

Itu bisa jadi alasan pertamanya.

Yang kedua, lebih suka membahas masalah tanpa menunda. Betapa sulitnya komunikasi dalam kondisi berjauhan. Hanya mengandalkan gadget yang mungkin sangat terbatas. Kadang butuh keputusan last minute, tapi kebetulan kok sedang sulit di hubungi. Hasilnya? Uring-uringan sendiri. Belum lagi, kalau masalahnya itu adalah masalah yang terjadi di antara keduanya. Pertengkaran melalui handphone masing-masing tak terelakkan. Alih-alih telpon buat menyelesaikan masalah dengan kesadaran masing-masing, yang terjadi bisa saja selesai masalahnya, dengan salah satu mengalah tapi dengan alasan,”Males ribut”. Endingnya? Bisa mempengaruhi perasaan masing-masing, apalagi kalau keduanya masih menahan ego. Mempertahankan hubungan tak lebih dari sekedar ‘rutinitas’ atau kebiasaan saja. Perasaan? Lambat laun bisa menguap tertelan masalah itu sendiri atau kesibukan masing-masing.

Yang ketiga, kondisi rentan berikutnya adalah tentang suasana hati.
Kenapa suasana hati? Karena yang namanya suasana hati itu tidak selamanya baik-baik saja, atau selalu bahagia. Ada saat-saat tertentu yang tiba-tiba mood berantakan, feel drop, atau lagi bete entah karena pekerjaan atau sekelilingnya. Banyak yang mempengaruhi suasana hati. Bila itu terjadi, apa yang ingin dilakukan? Tentu saja curhat dengan pasangannya yang jauh disana. Melalui apa saja, baik telpon atau sekedar chat. Bila saranaitu maksimal, pasti akan bisa selesai dengan baik. Tapi dari sekian ratus komunikasi dan apesnya, dalam sekali atau dua kali atau bahkan lebih dari tiga kali ‘sambungan eror’ alias tidak tepat tersambung. Tentu akan menimbulkan masalah baru. Misalnya, ngomong banyak lewat chat, tapi tidak ditangkap dengan baik, malah jadi salah paham. Karena bahasa tulisan dengan bahasa lisan itu, terutama, dalam sebuah pertengkaran bisa sangat berbeda pengertiannya. Belum lagi kalau kondisi komunikasi itu tidak lancar, yang disana tidak terlalu serius menanggapi, atau bahkan tidak menanggapi dengan alasan sibuk. Lebih parah lagi kondisinya.
Dan bilaitu terjadi lebih dari tiga kali, kerenlah kalau masih bisa bertahan hehehhe

Yang keempat, ada sebagian orang yang mempunyai kelemahan dalam hal intensitas. Maksudnya, cenderung menjadikan sebuah intensitas komunikasi itu sebagai tolok ukur langgengnya sebuah hubungan. LDR bisa menjadi momok. Bagaimana tidak, kalau yang disini tidak berhenti intensitas komunikasinya, sementara sebaliknya, yang disana lebih sering mengabaikan. Akan jadi satu-satunya alasan untuk selalu bertengkar. Itu pasti. Resiko terburuknya adalah, ketika menemukan seseorang yang lain yang bisa memberikan intensitas itu lebih sering dan selalu ada.
Apapun masalahnya, potensi untuk intens sama yang lainnya itu akan sangat terbuka lebar. Ya emang sih,semua tergantung pribadi masing-masing. Tidak semuanya begitu, tapi aku menyoroti sebagian besar yang begitu terjadinya.

Ada sebuah prinsip umum, yang selalu mencintai tapi berjauhan itu akan dikalahkan dengan yang sekedar nyaman tapi selalu ada :)))

Jadi begini….
Ketika kelemahan dalam mencintai seseorang itu terletak pada intensitas. Begitu komunikasi tidak lagi lancar, apapun bentuknya, tanpa di sadari, demi tidak merasa sakit hati atau bersedih, perasaan mulai di kendorkan. Tidak melulu memikirkan dia, tidak melulu merindukan dia, dan sebagainya. Kasarnya sih, udah masa bodohlah, dan masa bodoh itu berbanding lurus dengan tidak punya perasaan lagi hahahha
Dan ketika ‘ikatan’ itu mengendor, perasaan dengan si dia yang jauh disanapun akan perlahan menguap, jadi biasa aja, disinilah peluang untuk orang lain masuk itu sangat besar.

Hubungan jarak jauh tuh, banyak ribetnya. Yang awalnya oke oke saja menjalin hubungan jarak jauh,tapi pasti lama-lama jadi ribet. Kalau udah ribet, pasti gampang nyolot. Kalau udah nyolot,akhirnya yo sak karepmulah. Mau ngabarin sukur,gak ngabarin ya masabodo. Nah ujung-ujungnya? Gak peduli lagi kan??

Sebagian orang, memilih untuk membebaskan perasaannya dari pada tetap mempertahankan perasaan yang sama tapi jadi gelisah dan tidak nyaman gara-gara komunikasi yang tidak lancar.

Intinya adalah, bila memutuskan untuk mempertahankan hubungan jarak jauh, hal pertama yang harus dipertahankan adalah masalah komunikasi. Sekarang dengan sarana komunikasi yang luarbiasa,dari fasilitas chat di gadget yang bermacam-macam,tinggal pilih. Bahkan mau sambil liat-liatan juga banyak tuh aplikasinya. Semua fasilitas kecanggihan teknologi itu sangat membantu para pelaku LDR dalam mempertahankan hubungan. Apa susahnya untuk selalu berkomunikasi,kalau gak pernah bisa ketemu ya minimal berkomunikasi kan ya. Nah kalau udah ketemu aja susah eh komunikasi juga asal-asalan,apa yang mau dipertahankan.
Just wasted time,i guess….
Yang kumaksud dengan komunikasi itu juga tidak harus 24 jam full ngobrol juga kali yaa. Esensinya bukan di kuantitas,tapi lebih kepada kualitasnya.

It’s not how much time we have but how to use the time to communicate.

Nikmati saja hubungan jarak jauh itu, bila masih berjalan dengan baik. Sementara buat aku sendiri, LDR bisa saja berhasil bila yang disana itu bisa memelihara perasaanku dengan cara intensif seperti itu.

I put all the terms and conditions for Long Distance Relationship

Aku pikir, hal itu tidak saja berlaku untukku ya. Pasti banyak orang sebagai pelaku LDR akan melakukan hal yang sama.
Yang pasti,aku sangat salut dengan mereka yang berhasil dalam menjalani hubungan jarak jauh. Banyak juga kok temen-temenku yang akhirnya sampai di kursi pelaminan. Intinya sebenernya di saling cinta dan saling memahami bagaimana menjalani hubungan jarak jauh itu sebaik-baiknya. Kalau itu sudah dilakukan manurutku apa sih artinya jarak……

Karena yang sebenar-benarnya adalah,selama ada cinta yang kuat diantaranya,jarak itu hanya sebatas gadget. Pastikan gadget full aplikasi chat/video call,full data internet,dan pastikan full batre :))))

Selamat menjalani hubungan jarak jauh,perhatikan rambu-rambunya dengan baik maka akan selamat sampai tujuan.

Happy weekend

Syaloom

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s