Daripada BREAK mending COFFEEBREAK


Aku gak mengenal istilah ‘break’ dalam sebuah hubungan,karena menurutku itu hanya akan membuat celah perpisahan lebih lebar.

Dalam sebuah perdebatanku,
“Sepertinya kita perlu break dulu sampai semuanya tenang dan kita bicara lagi”
“Maaf,aku gak mengenal istilah break,kalau masih mau lanjut,ayo diselesaikan masalahnya. Atau sekalian aja selesai”
“Tapi gimana bisa menyelesaikan kalau semua belum tenang”
“Untuk tenang dan kemudian bicara,gak perlu harus break kan?”

Itu sepenggal percakapanku sama seseorang tentang ‘break’ dalam sebuah hubungan. Bisa jadi aku memang saklek dalam hal itu,dan gak semuanya harus seperti aku kan.
Hanya saja,yang aku sering temukan adalah,yang namanya break itu kadang seperti membuka peluang untuk kemungkinan bener-bener selesai. Jadi,apa sebenernya esensi dari ‘break’ itu sendiri??

Menurutku,’break’ itu semacam keputusan untuk pisah sementara karena hubungan keduanya mulai sangat melelahkan. Dan untuk langsung mengakhiri sepertinya sulit juga. Sehingga dibutuhkan yang namanya ‘break’ untuk kemudian bisa pisah baik-baik. Ini pemahamanku sih.
Bukan tanpa dasar sebenernya.

Beberapa kejadian yang aku temui berakhir seperti itu.
Mungkin begini,ketika masa break itu yang semula untuk mempertimbangkan dan merenungkan kembali seberapa besar perasaan masing-masing,atau mengukur kekuatan untuk saling memperjuangkan tapi dalam perjalanannya,tujuan itu membias.

Membuat perjanjian sebulan bahkan sampai 3 bulan untuk break,dan apa yang akan dilakukan selama break itu? Sebagian memutuskan untuk tidak saling berinteraksi.
Apa yang terjadi bila dalam sebuah hubungan tidak lagi ada interaksi??
Yang terjadi bisa 2 hal :

Bisa kangen banget dan pengen segera menyudahi break itu,atau justru makin hilang chemistry dan tentu saja makin terbiasa tidak bersama dan berkomunikasi.

Cuma dua hal itu yang akan terjadi.

Masa-masa break kadang dijadikan seperti ‘waktu bebas’,bebas melakukan apa aja dan tidak harus tergantung sama pasangan. Bahkan bebas meluapkan perasaan terhadap apapun tanpa harus merasa bersalah. Bahkan bisa jadi seru-seruan terhadap seseorang bisa menjadi sebuah keseriusan,alhasil tanpa disadari menggiring perasaan makin jauh dari pasangan. Lalu ketika masa break selesai,keputusan akhir adalah,perpisahan.

Tidak semua begitu,aku hanya menganalisa dari 75% yang aku tau.
Tapi mungkin juga itu hanya karena aku aja yang memang tidak pernah bisa melakukan yang namanya ‘break’ itu. Masalahnya,ketika tidak ada interaksi ya lama-lama emang aku kehilangan chemistry,bahkan perasaanku. Mending sekalian aja maunya apa,putus ya putus aja,ngapain pake break segala.
Itu kalau keadaannya memang aku menjalin hubungan yang dibilang orang “pacaran” gitu. Beda halnya kalau cuma bermain hati. Lebih lama kayaknya buat move on. Aneh memang.

Iya,aneh atau malah gila 😐

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s