Teman VS Drama


Pertemanan yang biasa aja itu tidak seharusnya merepotkan. Yang rumit kalau tanpa sadar sudah menciptakan kenyamanan yang membuat seseorang jatuh cinta,sementara kita tidak. 

Beberapa waktu lalu,aku ketemu dengan seorang teman,ngobrol cerita-cerita seru sampailah kesebuah obrolan yang….menarik!!
Menarik disini bisa diartikan….ummm…gosip-gosip gimana gitulah hahahha…

“Eh si teman kita itu udah putus katanya” temenku membuka percakapan sambil ngunyah,kayak nggak niat cerita gitu deh…
Dan aku yang tadinya ketawa-ketiwi sendiri baca timeline di twitterku yang parah ancurnya itu mendadak beralih perhatian ke kalimat opening temenku itu.

“Hah??putus ama siapa? emang punya pacar??” spontan dong aku komentar gitu. Gantian temenku yang jadi kaget.
“Loh…katanya sama yang pernah dikenalin ke kita itu”
“Emang mereka pacaran?” Aku masih gak percaya.
“Katanya sih gitu…tapi ya entahlah” Yaaah…temenku sendiri aja malah gak percaya diri gitu sama infonya.
“Kata siapa?” tanyaku lagi.
“Ya kata dialah…emang kenapa sih?” temenku makin heran dengan pertanyaan-pertanyaanku yang dia anggap…aneh.
“Oh…..hmmm…ya gimana ya…kalau kamu dengernya dari orang lain,aku malah percaya. Tapi kalo dari dia sendiri yang cerita ke kamu kok menurutku perlu di pertanyakan kebenarannya” Aku menjawab sambil kembali mata tertuju ke gadgetku. Sok cuek gitu.

Sudah kutebak,pasti si temanku ini jadi kepo. Dan memang,dia seperti gak puas dengan jawabanku itu.

“Sek..sek…jawabanmu kok menimbulkan banyak pertanyaan di kepalaku,kuwi maksudte opo yo…”
Aku langsung ketawa ngakak denger pertanyaannya yang mengandung kepo mendalam hahaha

Jadi begini ceritanya,si teman yang jadi ‘tokoh’ dari perbincangan kami ini punya kebiasaan yang….berlebihan,atau kalo bahasa gaulnya Jogja itu…KEPUNJULEN. Kalau anak-anak jaman twitter sekarang mungkin bilangnya lebay…bisa jadi.

Yang aku tau,sitemanku itu sering membuat ‘drama’ atas hubungannya dengan seseorang. Jadi misalnya,dia akrab dengan cowok,seringkali menebar ‘opini publik’ bahwa dia jadian sama si cowok itu. Padahal,ya belum tentu. Karena seringannya,ketika pada akhirnya terkuak,kejadian yang sebenarnya adalah mereka memang akrab,kemana-mana bareng. TAPI GAK JADIAN JUGA SIH.

…..Eh tapi seringnya sih si cewek yang ngajakin,namanya temen,diajakin ya maulah ya…kalau emang memungkinkan,ada waktu dan lagi selo ya hayuk aja di ajakin makanlah atau nontonlah atau sekedar hangout nongkrong dimana….

Nah permasalahannya disini adalah,si cewek seringkali memunculkan notif bahwa mereka jadian. Alhasil,ketika si cowok menyadari bahwa pembicaraan meluas,dan dia jadi tokoh yang seolah-olah jadian sama si cewek ini mulai gerah dan akhirnya mundur teratur. Sekedar jaga hubungan baik,tetap berteman tapi alakadarnya.

Nah,aku sering mendengar perkataan beberapa teman yang ngomong,”Duh jadi serba salah,mau ngejauh gimana…mau tetep baik ntar dikira ngasih harapan. Repot ya..”

Dan aku,sering pula berkomentar sendiri,lha wong kekancan wae lho kok yo repot….

Tapi gak salah juga sih kalau akhirnya teman-temanku itu jadi merasa kerepotan lebih-lebih kalau yang dihadapi ini termasuk teman yang sering kepunjulen itu. Paling gerah kalau udah mulai ‘disidang’ dengan teman-teman,”Kamu juga sih ngasih harapan”.

Sudah bisa ditebak,jawaban mereka adalah,”Lhoh ngasih harapan gimana,aku biasa aja lho…namanya berteman kan diajak nongkrong kalau memang pas aku bisa ya kenapa enggak. Kalau memang asik buat ngobrol kenapa harus menghindar. Ya asik-asik aja to,tanpa tendensi apa-apa”.

Selanjutnya,persidangan akan sampai,”Kok bisa sampai dia merasa kalian jadian??”
Dan bisa ditebak jawabannya,”Itu masalahnya,aku juga gak ngerti kenapa dia jadi merasa begitu. Aku tuh biasa aja,gak menunjukkan yang gimana-gimana. Berteman aja,konco apik. Gitu thok”.

Pembahasan akan mendetil seperti ini,”Mungkin pernah ada pembicaraan yang mengarah gitu,atau pernah ada percakapan yang seperti mau lebih dari sekedar temen gitu?”. Bermacam-macam jawabannya,ada yang menjawab tidak.
Tapi ada juga yang menjawab,”Pernah ada,kayaknya dia pernah ada lah ngobrol yang melipir ke arah sana. Tapi gak aku tanggepin,ya menurutku kayaknya lebih asik jadi temen aja sih”.

Lhaar……kejadian seperti ini bukan sekali aku denger,dan tidak juga cuma 1 orang. Banyak. Lebih banyak pihak perempuannya sih yang kepunjulen. Tapi gak sedikit juga si cowoknya. Kebetulan kok ya mereka itu teman-temanku sendiri.

Jadi siapa yang salah disini? Gak ada yang salah sebenernya,apa lagi kalo sudah bicara perasaan.

Cuma yang aku sering heran,apa sebenernya yang membuat mereka seperti itu? Karakterkah? Kebiasaankah? Atau hanya sekedar cari sensasi atau perhatian?? Sepertinya banyak alasannya.

Aku mencoba menganalisa dari berbagai sisi,perasaan lebih bisa saja tumbuh dari kebersamaan yang sering terjadi. Interaksi yang intens lewat media apapun. Nah yang aku tangkap,karena intens itu jadi muncullah yang namanya ‘kebiasaan’,kebiasaan curhat dan ditanggepin asik,bikin nyaman. Kebiasaan gak pake banyak alesan ketika diajakin makan diluar,nonton atau nongkrong sekedar ngebir sambil ngobrol macem-macem. Semua itu bikin nyaman. Bukan tidak mungkin salah satunya jadi mempunyai rasa yang lebih. Karena nyaman.
Yang tidak tepat disini adalah,kalau sudah menemukan rasa nyaman terhadap seseorang,lantas merasa si teman ini menjadi ‘hak’nya. Kemana-mana harus sama dia,apa-apa harus dengan dia. Kalau perasaan bersambut,gak masalah sih,memungkinkan untuk segera jadian. Tapi….kalau perasaan yang muncul itu hanya sepihak,yang ada pertemanan jadi tidak lagi asik. Lebih parah lagi kalau akhirnya dapet predikat ‘PHP’. Tentang ini sudah pernah aku bahas disini

Yang sering kepikiran adalah,gimana cara mereka bertahan dengan gaya penuh drama itu ya…
Padahal itu kan susah….aku aja mungkin ga bisa niru seperti itu.
Salut buat yang bisa melakukannya dengan sempurna. Tapi…mau sampai kapan??

Atau memang hidupnya lebih bahagia dengan cara itu? Padahal kalau dipikir,membuat ‘drama’ seheboh apapun,kan pasti ketauan kebenarannya gimana ya…njuk piye kuwi…

Laaah ini kok aku malah yang pusing mikir,lha po urusanku?? Kok selo menuh2in pikiran dengan yang bukan urusanku. Mbok yo biar mau dramaqueen kek..mau kepunjulen kek urip e dewe-dewe. Ditanggung dewe. Wes gitu aja sih.

Eh tapi ada juga lho yang menyikapi berbeda atas perasaaan yg kepunjulen itu. Ada temenku yg lain,bisa jadi contoh untuk kasus ini. Temenku ini cowok,punya temen akrab cewek yang sebenernya memang kondisinya cuma pertemanan akrab aja. Gak lebih. Tapi karena si cewek punya perasaan yang lebih,ya pastinya memperlakukan lebih juga dong ke si cowok. Gak cuma perhatian dan segala fasilitas (hati),perlakuan lebih si cewek ini termasuk dengan posesip dan insekyurnya. Komplitlah,cuma kurang masalah hati aja. Si cowok yang gak cinta ini,gak keberatan juga diperlakukan seperti itu,selama gak maksa jadian aja,ya dia santai…gak harus jadi pacarnya untuk MENIKMATI kasih sayang dan perhatian itu.
See?? Selama ada kesepakatan kedua belah pihak,gak masalah kan sebenernya. Dinikmatin aja. Tapi resiko tanggung sendiri. Tentang hal satu ini,akan aku tuliskan di blog kapan-kapan. Nek selo hihihihi

Kalau dalam interaksi yang tidak seimbang itu masih bisa mendapatkan kenyamanan,tidak ada yang perlu dipersalahkan. Nikmati saja….

Syaloom

~jeci~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s