Mengerti apa Bodoh???


Aku tidak pernah menginginkan hubungan yang sesaat. Tapi seringkali aku dipaksa harus menyelesaikannya.

Aku orang yang sangat pengertian,dari dulu seringkali diposisikan sebagai orang yang harus ‘mengerti’ dan selalu berada di pihak ‘tidak bisa melawan’. Dalam hal apapun.
Dan itulah yang seringkali membuat banyak orang jadi terlihat ‘seenaknya’ terhadapku. Dan aku??? Cuma diam dan berlalu.

Protes??? Nggak bisa juga…

Aku cuma kadang heran,apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh mereka ketika bersikap seperti itu ya.
Lantas,ini siapa yang salah??
Kadang aku berpikir,bahwa akulah yang salah. Benarkah??

Bukankah aku menuruti kemauan mereka supaya aku ‘ngertiin’ mereka??
Jadi dimana salahku??

“Kamu dirumah aja,gak boleh kemana-mana”. Lalu dia pergi bersama teman-temannya. Aku diam.
“Bolehkah aku pergi dengan teman-temanku?”.
Dijawabnya dengan tegas,”Ngapain sih,gak penting juga kan cuma ngobrol kesana kemari gak jelas”. Aku diam.

Baiklah,aku diam dan aku harus mengerti bahwa hanya dia yang boleh pergi bersama teman-temannya.

Sampai pada suatu ketika,”Itu ada yang nyariin kamu,siapa itu?”.
“Ah itu temen kantor,ada urusan kerjaan”.
“Oh oke baiklah,aku mengerti”.

Beberapa hari kemudian,masih orang yang sama dengan gaya yang berbeda mencarinya.
“Tuh,dia lagi yang dateng,kok aneh sih ngapain sering-sering dateng kesini dan kalo ngobrol sikapnya aneh gitu”
Reaksinya sungguh diluar dugaan.
“Bisa ngerti gak sih kalau itu temen kantorku? Diem aja deh,gak mungkin aku macem-macem”. Aku diam.

Selanjutnya,aku tidak lagi berkomentar apapun ketika melihat atau mendengar dia bersama teman wanitanya. Sampai pada suatu ketika aku mengetahui kenyataan bahwa,mereka mempunyai hubungan kusus,tidak hanya sebagai teman satu kerjaan. Sigh.

Aku mengerti.
Bahkan ketika aku harus mendengarkan penjelasannya untuk meminta maaf atas semua itu. Aku diam. Aku mengerti.

Sejarah berulang,adegan demi adegan seperti pengulangan. Tidak ada yang berubah. Akukah yang salah?? Hanya karena aku dipaksa untuk mengerti dan aku akhirnya benar-benar MENGERTI dan tidak berbuat apa-apa.

Sampai aku mengambil kesimpulan,aku ini mengerti atau bodoh??

Kejadian demi kejadian,dengan tokoh yang berbeda. Tidak jauh berbeda cerita yang terjadi. Dan lagi-lagi,aku harus menerima kehilangan hanya karena aku diposisikan harus mengerti kondisinya.
Sampai bahkan untuk merasa cemburupun aku tidak diperbolehkan. Aku harus mengerti keadaannya.

“Tolong dong kamu ngerti,aku berhak mempunyai masadepan dengan pilihanku.”

Okay,aku mengerti. Tapi siapa yang akan mengerti perasaanku? Hatiku??? Lagi-lagi aku cuma bisa diam.

Untuk kesekian kalinya,aku masih tidak diijinkan untuk menempati posisi ‘dimengerti’.

“Aku minta pengertianmu deh,aku lagi sibuk banget dan banyak masalah”.
“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”. Sebuah tanya yang sebenarnya aku sudah tau jawabannya.
“Tolong kamu ngertiin,jadi kalau aku jarang menghubungimu ya jangan jadikan itu masalah”.

Membaca permintaannya ini membuatku tersenyum. Getir.
Tapi apa yang aku lakukan? Aku membalasnya dengan disertai icon senyum dibelakangnya.
“Baiklah,aku ngerti kok”.
“Makasih ya”.
“Its ok”.

Dan aku membiarkan hari-hari selanjutnya hanya terisi dengan percakapan usang,basi dan tak bermakna. Hanya karena aku mencoba mengerti. Iya. Aku mengerti.

“Selamat pagi” Begitu dia selalu menyapa setiap pagi. Dan aku membalasnya dengan sapaan yang sama. Titik. Tidak ada lagi percakapan berikutnya.

Sampai menjelang siang,bahkan sore. Aku menunggu dia menyisakan waktu untuk sekedar bertanya,”Lagi apa?”
Oh iya,aku rindu pertanyaan itu. Pertanyaan yang waktu itu aku anggap lucu dan aneh. Hari gini masih ada yang memberi pertanyaan itu? Tapi kadang,asik juga sih kalau ditanyain.
Eh tapi itu kapan ya?? Aaaah…entahlah itu kapan. Karena belakangan yang aku terima adalah pesan-pesan yang memakai tanda baca titik,tanpa koma.

“Aku pulang dulu ya.” Dan apa yang bisa aku jawab kecuali,” Okay.” Tetap menyertakan senyum di akhir kalimatku.

Selanjutnya,tidak lagi ada yang istimewa. Dan aku merasakannya sebagai sebuah situasi yang menjebakku pada kondisi yang sama seperti biasanya. Datar.

Apakah ini hal yang baru? Tidak.
Bertemu,bercerita,tertawa bersama. Lalu kemudian perlahan menghilang dan lenyap. Meninggalkan aku masih ditempat yang sama ketika pertama kali bertemu. Ini bukan yang pertama.

Dan apa yang terakhir aku lakukan? Hanya tertawa tanpa ekspresi.
Ha Ha Ha……

“Kamu marah? Bukankah sudah aku jelaskan?”

Nggaaaak…..aku gak marah. Aku sangat pengertian,bahkan ketika tidak lagi dianggap adapun. Aku tetap bisa mengerti…..

Aku tidak kemana-mana. Idle.
Tetap disini,kamu bisa datang dan pergi kapanpun kamu mau. Dan aku tidak beranjak. Kamu bisa menemukanku ditempat semula,ketika pertama kali kamu menemuiku. Aku tidak akan kemana-mana sampai kamu menyatakan,selesai.

~~~

Tulisan ini hanya sepenggal cerita,bahkan terlalu singkat kalo dibilang sebagai ‘cerita yang pernah terjadi’. Sepertinya cuma terseret arus akibat mendengarkan lagu Bukan Aku Tapi Kamu – Syafir

Aku sudah tak punya mimpi yang dulu,saat indah denganmu
Kau buat aku lupa……
Jangan bertahan,dengan diriku kalau tak ada cintamu lagi.
Jangan kau paksa,karena kurasa,hancurnya kita terjadi…
bukan aku yang buat itu…tapi kamu.

Iki tulisan opo tooooo….aku ki yo waton lho iki.

~jeci~

Advertisements

5 thoughts on “Mengerti apa Bodoh???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s