Wangsinawang


Hidup itu…wang sinawang…

Istilah jawa itu sepertinya sulit kalau aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan tepat.
Bisa jadi berarti,yang terjadi belum tentu seperti yang dipikirkan…
Ah…kok gak tepat juga ya kalo diartikan begitu,lebih ke bagaimana cara pandang masing-masing. Sepertinya begitu.

Contoh sederhana adalah,ketika seseorang berkata,”Enak ya jadi kamu,semua bisa di kerjakan dirumah”. Apakah yang terjadi memang benar-benar ‘enak’ seperti yang dikomentarkan? Belum tentu.

Setiap orang berhak untuk berkomentar tentang kita,bisa dari perkataan,atau sikap kita sehari-hari. Tapi tidak selamanya juga yang terdengar dan terlihat itu seperti yang ada dalam pikiran kita.

Aku pernah berkomentar,”Enak ya jadi artis/penyanyi tuh,sering show keluar kota,jalan-jalan kemana-mana”. Dan sudah lama kalimat yang ada di kepalaku itu aku buang,karena akhirnya aku tau bahwa tidak selamanya itu menyenangkan,hanya karena tuntutan profesi mereka harus bekerja dengan cara itu. Jalan-jalan itu capek.

Lebih-lebih ketika aku mengalaminya sendiri,dimana untuk pertamakali dalam hidupku,aku berada di 5 kota berbeda dalam waktu 5 hari. Sendirian,dengan tas besar-besar yang aku tenteng kemana-mana,pagi ini dimana,siang sudah harus mengejar kendaraan untuk menuju ke kota lainnya. Dan ini bukan PIKNIK atau JALAN-JALAN.

Aku marah dan emosi setiap mendengar komentar orang,”Enaknya jalan-jalan terus”. Rasanya pengen tak lempar yang berkomentar seperti itu. Tapi aku hanya menjawab,”Gak enak!”.
Memang gak enak,kenapa aku bilang gak enak,yang pertama,yang aku lakukan ini bukan jalan-jalan atau piknik. Kedua,pada dasarnya aku tidak suka traveling. Tapi diluar itu semua,aku tetap menikmati perjalananku dan apa yang aku lakukan. Karena itu bagian dari pekerjaan yang harus aku selesaikan.
Prinsipku,selalu menikmati sekecil apapun yang aku kerjaan ketika aku sudah memutuskan untuk mengambilnya. Anggaplah ini sebagai konsekwensi dari sebuah tanggungjawab. Bila pekerjaan itu dilakukan dengan hati,semuanya akan terasa ringan dan menyenangkan. Dan itulah yang terjadi ketika aku tidak terlihat lelah dan masih selalu menebar senyum kepada setiap orang yang aku temui,walau rasanya….capeeeeek dan ngantuuuuk banget.

See?? Gak selamanya anggapan orang itu memang begitu kenyataannya kan?? Itulah salah satu bentuk yang dinamakan ‘wang sinawang’.

Ada cerita tentang seorang teman,yang aku kenal dia selalu cheers dan asik. Tapi apa yang terjadi? Aku mendengar dia meninggal dengan sangat mengenaskan karena sakit. Dan tau apa penyebab sakitnya? DEPRESI!!
Hanya karena dia terlihat selalu ceria,semua orang menganggap hidupnya BAHAGIA tanpa beban. Begitulah.

“Mami ini kayaknya happy terus ya”. Pertanyaan dari banyak orang yang sering aku dengar. Dan aku selalu menanggapinya dengan senyum dan berkata,”Harus! Tepatnya,selalu mencoba bahagia”.

Aku menganggap kalimat itulah jawaban yang paling tepat untuk setiap pertanyaan seperti itu. Kenapa? Karena aku berpikiran,bahagia itu untuk dibagikan kepada orang lain,kesedihan dan permasalahan itu untuk diri sendiri. Tidak perlu toh semua orang tau apa yang kita rasakan dan alami?.

Hal yang paling mendasar adalah,dengan aku mencoba bahagia dan memperlihatkan kebahagiaan itu kepada orang lain,maka akan terciptalah kebahagiaan yang sesungguhnya dimana orang lain itu bisa bahagia melihatnya.

Ini bukan semata-mata teori tanpa makna. Tapi memang seperti itulah sesungguhnya yang terjadi dan membuatku bisa survive sampai saat ini.

Tidak ada hidup yang selalu bahagia,hanya bagaimana kita cara kita menyikapi hidup dengan menciptakan kebahagiaan itu sendiri.

Ketika aku merespon curhatan orang lain tentang permasalahan hidupnya,aku memberi kekuatan dan penyelesaian. Bukan tidak mungkin di saat yang sama,aku sedang mengalami masalah yang luar biasa berat. Tapi aku ‘mengambil’ kekuatan itu dari setiap orang yang akhirnya menjadi kuat karena nasehatku.

Ya,hidup itu….wang sinawang 🙂

Syaloom,

~jeci~

Advertisements

7 thoughts on “Wangsinawang

  1. Heeh,. Wong sing ra ngerti sok ngono.

    “Kowe kok ketok bahagia”

    “Kowe selo ngetwit terus”

    Padahal yo mecicil ngalor ngidul… Jarke ja, Mi…

    Like

    1. hahahha….kandianiokh! sok nyebahi seng waton komentar ngunu kuwi…ra ngrasak’e asline yo mecicil nggosrek2 nggo bayar tagihan hahhaha
      Nek nuruti ra selo ki yo ra selo jan2e to….*lha malah misuh neng kene hahahha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s