#13HariNgeblogFF [8] Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?


kadang,untuk bisa merasakan cinta yang sesungguhnya dengan menurunkan kadar ego

“Ntar malem jadi kan ngumpul?” Rinjani belum menjawab pesan dari Andi yang mempertanyakan kepastian acara nanti malam.

Bukan tidak mau menjawab,hanya bingung mau jawab gimana. Agenda ngumpul malam nanti itu ide dari Samudra minggu lalu,bukan sebuah acara resmi,cuma pengen nongkrong bareng rame-rame dengan temen-temen circle mereka.
Walau agendanya tidak terlalu penting,tapi biasanya,kalo ajakan ngumpul itu dari Rinjani atau Samudra, pasti semua bersemangat mencari waktu yang pas biar bisa dateng.Tapi gimana ini.

Rinjani hanya memandang pesan di HP nya itu dengan tatapan kosong. Gimana aku harus ngomong,sementara Samudra aja entah gimana kepastiannya. Rinjani mendesah.

“Coba kamu sms Samudra deh,kalo dia jadi,ya sudah ayo,tentukan tempatnya” Akhirnya Rinjani menemukan kalimat paling pas untuk menjawab pesan Andi.

“Yaah..kenapa aku yang harus nanya,bukannya kalian yang ngajakin kita ngumpul…gimana sih”

Β Duh….gak mungkin kan aku harus bilang sama Andi kalo lagi ribut sama Samudra. Rinjani mulai resah.

“Udahlah gak usah mbantah,sana buruan sms Samudra,ntar ngabarin ya” balas Rinjani tanpa kompromi.

Rinjani gelisah menunggu kabar dari Andi. Seminggu setelah pertengkaran di penginapan lalu,tidak ada komunikasi diantara Rinjani dan Samudra. Rinjani bertahan untuk tidak menghubungi lebih dulu. Selain gengsi,sepertinya itu cukup untuk menjagai hatinya agar tidak lebih terluka lagi. Setiap kali ingin menulis pesan,delete lagi,menulis,delete lagi. Malas rasanya harus selalu bertengkar.
Rinjani menggenggam erat HP seolah-olah Samudra ada disitu. Berulang kali matanya tertuju ke layar HP. Berharap ada pesan yang menyenangkan.

Ah ya sudahlah,kalau memang tidak ada kabar dari Samudra,berarti agenda nanti malam dibatalkan saja. Rinjani mulai mengambil keputusan. Perhatiannya kembali fokus pada pekerjaan di layar komputernya. Untuk sesaat, Rinjani berhasil mengesampingkan pikirannya tentang Samudra.

Masih belum ada berita apa-apa sampai menjelang sore. Biasanya, Rinjani tidak terlalu buru-buru untuk pulang. Tapi kali ini sepertinya semangatnya bekerja menguap. Diapun mulai berkemas. Menutup semua file yang terbuka di komputernya. Membereskan meja kerjanya. Dan siap-siap untuk pulang.

“Tumben beberes cepet” Indah yang juga sedang berkemas meledeknya. Rinjani hanya tersenyum tanpa suara.
“Heh! Lagi kesambet ya…biasanya cerewet,ngapain sih kamu beberapa hari ini kayak salah makan gitu. Dieeeem aja” Indah mulai mengintrograsi.

“Emang kenapa?Biasa ajalah”
“Dih….jawabanmu itu aja gak biasa,apanya yang biasa” Indah merasa gak puas dengan jawaban Rinjani yang terdengar malas-malasan.
“Cuma lagi males aja. Mumet gak punya duit” Rinjani tertawa sambil berdiri dan melangkah keluar ruangan kerjanya. Masih sempat dia dengar teriakan Indah.

” Halaaah paling ribut lagi kan sama Samudra”.

Brengsek ah. Indah memang selalu iseng. Rinjani senyum-senyum sendiri sambil menuntun sepeda motornya keluar parkiran.
Okay,jadi ini aku harus kemana?pulang?atau…..aaaah coba kalo gak lagi ribut sama Samudra,pasti udah bikin janji.
Opss….!! Rinjani menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Seolah membantah apa yang sedang dipikirnya.

Tiba-tiba dia menepi dan berhenti. Sudah tidak bisa lagi menahan keinginan untuk menghubungi Samudra. Pelan-pelan dia keluarkan HP dan mulai mengetik sebuah pesan. Pesan sudah siap dikirim. Tapi Rinjani masih termangu. Delete. Rinjani mengurungkan niatnya dan memasukkan kembali handphonenya kedalam tas.

Enggak deh kalo aku harus menghubunginya. Kan dia yang bikin masalah. Dia aja gak mikirin aku,kenapa aku masih mikirin dia. Kali ini pertengkaran terjadi di otak dan hati Rinjani. Antara gengsi menghubungi duluan,dan sangat ingin tau tentang Samudra.
Dan Rinjani memantapkan untuk tidak akan menghubungi Samudra lebih dulu. Siapa tau Samudra butuh sesuatu lantas akan menghubunginya. Ternyata,Rinjani tidak bisa menolak kata hatinya,masih berharap Samudra mengajaknya bertemu.

Rinjani seperti enggan mau pulang,ketika dilihatnya sebuah tempat ngopi disisi jalan,dia membelokkan motornya dan segera mencari tempat yang tepat untuk menikmati kegelisahannya dengan secangkir cokelat panas.

Cangkir berisi cokelat panas itu tidak segera dia minum. Pandangan Rinjani kosong sambil memegang cangkir itu dengan kedua telapak tangannya. Pikirannya melayang kemana-mana,dengan satu tokoh: Samudra.

Suara Jessie J dari handphonenya membuyarkan lamunannya. Segera dia angkat tanpa melihat nama yang muncul.

“Ya? Oke” Rinjani menutup percakapan dengan senyum dibibir setelah menyebutkan keberadaannya.
Tidak lama,seorang laki-laki,tidak terlalu tampan tapi menarik. Duduk dihadapannya.

“Maaf,masih merepotkanmu,bisa bantu kan??” Rinjani tersenyum. Untuk seorang Samudra,apa sih yang enggak.
“Iya,nanti aku bantu. Kirim ke emailku aja apa yang kamu butuhkan,besok aku cariin” sambut Rinjani menanggapi permintaan Samudra untuk menyediakan kebutuhan pesta kejutan ulangtahun Cahaya. Kekasih Samudra.

#13HariNgeblogFF hari ke-8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s