Diambang Batas Ketidakberdayaan


Pernah dapet istilah: udahjatuh ketimpa tangga,digigit anjing dan harus bangun sendiri pula….
Sepertinya itu istilah yang tepat untukku saat ini. Setiap orang pasti pernah mengalami saat dimana ditimpah berbagai masalah dan merasa benar-benar terpuruk. Beberapa kali aku mengalaminya selama rentang waktu 15 tahun ini. Dan untuk kesekian kalinya,aku mampu mengatasi dan menyelesaikan satu persatu masalah itu sampai akhirnya aku bisa survive sampai sekarang ini.
Dan ini,untuk kesekian kalinya aku mengalaminya dengan persoalan yang lebih rumit,berat dan sangat complicated!!!
Selama ini aku selalu mengatakan kepada diriku bahwa,aku sangat kuat menghadapi semuanya dan pasti akan mampu melewatinya. Entah kenapa,kali ini aku merasa….TAK BERDAYA….
Sulit untuk menguraikan satu persatu masalah yang ada,karena semua sudah saling tumpuk menumpuk kait mengait…mbundet dan mbruwet. Ibarat benang,udah ga nemu di mana ujung dimana pangkalnya. Boro-boro mau menarik lurus dan merapihkannya entah dimana aku harus menemukan ujungnya supaya aku bisa menelusuri dan melepas bundetan-bundetannya.
Sebulan aku berjuang,sebulan aku berpikir,sebulan aku bekerja keras untuk mampu mengatasinya sendiri. Sampai pada batas waktu aku…nyaris menyerah. Semua itu akhirnya berimbas pada fisikku yang semakin hari semakin lemah….aku merasa KALAH.
Biasanya aku bisa dengan tegas dan lantang berkata: aku tidak mau KALAH atas masalah-masalahku,karena aku memiliki Allah yang lebih besar dari masalahku itu yang memampukan aku mengatasinya.
Tapi saat ini…..entah memuai kemana kekuatan itu.
Aku mengatakannya,saat ini adalah titik terlemah yang aku rasakan…..
Ternyata,aku mempunyai batas kemampuan. Dan aku sudah terlalu lelah untuk berjuang sendiri. Bukan aku tidak bersyukur atas orang-orang disekililingku yang berusaha terus menyemangatiku. “Hey…menyerah itu bukan seorang jeci,jeci itu kuat dan pantang menyerah”. Itu yang selalu mereka sampaikan kepadaku. Tapi aku yang biasanya menyambut dengan tawa dan semangat,kali ini hanya bisa tersenyum lemah dan berkata,” Ya…semoga aku bisa menyelesaikan semua ini,tapi i’m just human being,bisa juga lemah dan tidak selalu kuat”.
Saat seperti inilah aku merasa,butuh kekuatan seseorang untuk menopangku,ternyata aku bisa merasa capek selalu kuat,lelah selalu tegar….aku juga bisa lemah dan kalah. Human being……
Makin hari fisikku makin melemah,dan akhirnya…bruk……ambruk dengan sukses…..tapi seperti biasa,aku masih mampu duduk di depan komputer,menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang memang sudah seharusnya aku selesaikan. Dengan kepala cekot-cekot seperti di brakot macan,badan panas keringet dingin…entah apalagi yang aku rasakan,aku tetep berusaha menyelesaikan pekerjaanku.
Sampai akhirnya,hari ini akutidak mampu lagi melakukan apa2….tepar dengan sukses,walau ketika badan mulai enak,aku tetap membuka PC dan menyelesaikan satu-satu….begitu kepala udah mulai doyong,sebelum pingsan di depan meja komputer aku udah langsung cari tempat tidur dan berbaring.
Tak bisa dijelaskan dimana rasa sakitnya,gak bisa di cari apa sumbernya…semuanya complicated…dari masalah pekerjaan,finansial sampai ke masalah….hati.
Semua cukup menguras energiku,dan kondisiku makin parah dengan pertengkaran hebatku semalam karena rasa marah yang berlebihan…….tubuhku seperti dibanting keras dari tempat tinggi,dan…..blek!!!habis sudah…..cuma bisa tergolek tak berdaya tanpa bisa berbuat apa-apa……
Kemarahan dan rasa tidak terima itu sangat meracuni tubuhku,ibarat aku minum racun kuat yang tak ada penangkalnya…

Sekali lagi…..aku hanya bisa diam…..karena berusaha menjelaskan dan mencoba dimengerti,hanyalah sebuah kesia-siaan. Semua merasa benar pada porsinya masing-masing,dan yang sebenarnya terjadi adalah,perbedaan dasar pemikiran saja yang membuat semuanya jadi makin parah.
Hhhhh…..ya sudahlah,bukankah masih ada banyak hal yang harus aku pikirkan dan sangat membutuhkan energiku daripada hal yang tidak beda dari yang selalu terjadi?bukankah hanya kesia-siaan dan buang waktu serta energi untuk selalu membahasnya? Karena penyelesaiannya hanya ada di pola pikir masing-masing,pola pikir yang berbeda tidak akan pernah bisa menjadi sama ketika rasa dan hati juga tidak sama. Tak akan pernah ketemu,sampai kapanpun.
Cukup aku menyadari itu,dan seharusnya,semua bisa dianggap selesai dan tak perlu dipikirkan lagi….seharusnya. Hanya,bisakah aku tidak memikirkan itu???
Setidaknya,sehari ini aku sudah memberi waktu untuk hati dan pikiranku berkutat disitu,yang aku temukan adalah sebuah pelajaran untuk bisa selalu pahami bahwa,bila rasa hati tidak sama,kepentingan itu bisa sangat berbeda. Cukup harus ‘tau diri’ dimana posisinya dan berdirilah disitu. Jangan pernah beranjak kemana-mana yang itu hanya akan membuat gesekan keras berujung pada saling melukai dan tetap yang akan sangat terluka,hanya aku. So??masih akan bertahan dengan semua itu??entahlah…only time will tell

Kadang setiap orang butuh waktu untuk sekedar ‘diam’,tanpa berinteraksi dg siapapun dan tidak melakukan apapun. Seorang teman yang beberapa hari lalu menelponku menyarankan,’Ambil waktu buat tenang,sehari dua hari,tanpa melakukan apa apa dan berinteraksi dg siapa-siapa,tenang dan diam….itu dulu aja yg harus dilakukan”. Awalnya aku masih aja ngeyel walau memang sdh berniat akan melakukan itu entah kapan waktunya,belum juga melakukan itu,tapi pertengkaran semalam,memampukan aku untuk meng-off kan semua aktifitas di BB. Aku seharian tidak banyak berinteraksi dan memberi waktu hati dan pikiranku beristirahat.

Sore tadi aku terpaksa di bawa temenku ke Panti Rapih karena keadaanku yang makin parah,dan sampai di ruang dokter,sambil dokter tempel-tempel stetoskop di dadaku,dokternya bertanya: ada masalah apa bu?lagi banyak pikiran ya….
Again….hanya itu yang selalu di sampaikan dokter setiap kali aku masuk ke ruangan dokter,dokter apapun,baik itu dokter kulit,dokter umum bahkan dokter kandungan…..semua penyakitku berawal dari pikiran,stres dan depresi….uuufff….

Baiklah…..aku sudah diberi obat penenang,dan sesuai anjuran dokter,uraikan satu-satu masalah,diselesaikan tidak cuma dipikirkan….dan obat ini hanya sarana untuk menyembuhkan,dan kesembuhan itu sendiri,tergantung bagaimana aku menyikapi semua masalahku.
Terimakasih masih ada yang peduli bertanya kabarku,kesehatanku dan kedua temanku yang mengantarku ke RS…aku tetap harus bersyukur untuk itu.

Obat sudah aku minum,dan sepertinya,ini obat mengandung ‘penenang’ jadi aku ‘dipaksa’ tidur tanpa ampun…aku mengantuk dan kepalaku sangat berat untuk menengadah…aku harus segera berbaring dan terlelap. Semoga besok terbangun dengan kondisi fisik yang lebih baik.

Terimakasih Tuhan untuk rasa sakit,hanya dengan seperti inilah aku bisa beristirahat….Tuhan masih sangat baik kepadaku 🙂

Syaloom

~jeci~

Advertisements

2 thoughts on “Diambang Batas Ketidakberdayaan

  1. Oh dear mami,aku ga bisa membayangkan seperti apa keadaanmu saat ini,tapi kalo sampai cekot-cekot kaya dibrakot macan…itu pasti something big..maybe i can not help you to get thru diz..but i trully hope that you’re gonna be okay soon. like doctor said “take the pill first and let your self see clearly into the core of your problem”..have a good rest.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s