Say Hello to Goodbye :)


Dari sebuah percakapan sederhana :

“Mam,aku yang mutusin,kenapa aku yg sakit sendiri ya”. Lalu kujawab,”Itu tergantung alasan memutuskan,kalo alesannya krn udah ga cinta ya ga bakalan sakit,tapi kalo krn alesan lain,terpaksa hrs memutuskan walau hati masih cinta,ya itu pasti akan sakit banget”.

“Mmmmm iya sih,ada banyak alesan buat aku mutusin dia,padahal aku masih sayang banget….”

Apapun alasannya,yang namanya perpisahan itu….menyedihkan bahkan bisa sangat menyakitkan,apapun bentuk perpisahan itu tentu sangat tidak menyenangkan. Bahkan ketika memutuskan karena sudah tidak cintapun,tetep aja ada perasaaan ga enak.

Jadi,seperti apa enaknya?menurutku,ya ga ada enaknya hehehhe

Semua bentuk perpisahan sudah pernah aku alamin,dari yang sekedar pisah jarak sampai pisah kehidupan….huuffff……dan semuanya ga ada yang menyenangkan rasanya.

Menurutku,itulah hidup,selalu ada pertemuan dan perpisahan,sebuah pernyataan umum yang sering terdengar. Yang terpenting disini adalah,bagaimana kita menyikapi PERPISAHAN itu. Ketika perpisahan itu melibatkan hati yang paling dalam,pasti ada airmata diantaranya. Dan itu melelahkan. Sebenarnya,ada cara sederhana untuk mengatasi kepedihan karena sebuah perpisahan : menyadari bahwa memang perpisahan itu harus terjadi. Tapi,apakah itu mudah???tentu saja tidak. Perlu proses panjang untuk memahami itu, dan juga perlu berjuang untuk berdamai dengan hati sendiri agar sampai pada titik itu.

Aku,adalah orang yang sudah terbilang ‘kebal’ dengan yang namanya perpisahan,itu disebabkan karena terlalu seringnya aku dihadapkan pada kondisi itu. Menangis,kadang harus kupaksakan untuk bisa,hanya untuk sedikit melegakan hati. Setelahnya,aku hanya berpikir sederhana,diratapin seperti apapun,tidak akan mengubah keadaan,perpisahan itu akan tetap ada,jadi untuk apa lebih lama meratapi sebuah perpisahan karena itu tidak akan mengembalikan kondisi kembali seperti semula. Ini bukan teori,bukan juga aku yang sok hebat. Sama sekali tidak,kalo aku bisa melakukan itu,hanya karena aku sudah terlalu sering sehingga aku sudah tau bagaimana menyikapinya. Kadang,aku memilih untuk tidak mempunyai ‘rasa’ apapun terhadap apapun atau siapapun,hanya karena aku tidak ingin lagi terjebak dengan yang namanya perpisahan. Karena rasanya itu ga enak banget.

Tapi selama kita hidup,betapa mengerikan bila ‘rasa’ pun kita sudah tidak memilikinya. Kita bukan robot kan???dan aku bukan robot hanya sebuah tubuh yang terlampau kuat dengan sepotong hati yang mengeras. Tapi aku masih bisa merasakan kepedihan dan kebahagiaan.

Aku pernah dapet saran : jangan mau dibuat frustasi sama orang. Dulu,betapa susahnya aku menterjemahkan kalimat itu,ditambah aku yang sensitif,semua-mua dirasa-rasa,ga bisa santai dan masa bodoh. Tapi makin lama-aku makin ngerti maksud dari kalimat itu. Ya….itu benar,orang yang punya masalah,kenapa kita yg harus frustasi???dan cukup dahsyat juga dampaknya ketika aku bisa menjalankan teori itu,aku jadi sangat ‘kejam’,istilahnya : senggol bacok. Kok jadi serem ya hehehhe

Dalam hubungan antar hati,bila ada kondisi harus pisah,apapun alasannya,aku tidak pernah ada kata ‘ikhlas’,yang ada hanya berusaha melupakan,dan kalau sudah sampai disana,ga ada lagi rasa pedih akibat perpisahan itu.

Banyak orang selalu bilang,” Di ikhlasin aja” atau “Ikhlas aja” dan aku bisa dengan tegas menjawab : gak akan pernah ada kata ikhlas dlm hidupku. Dan jangan pernah paksa aku belajar ‘ilmu ikhlas’,karena aku gak akan pernah MAU,bukan tidak bisa.

Hmmm…sebuah contoh yang buruk ya hehehe…sama sekali tidak inspiring sepertinya. Tapi aku hanya berusaha realistis,kalau pada akhirnya dengan melupakan eh kayaknya bukan melupakan deh kata yg tepat,tapi terlupakan..ya kalau nanti sudah terlupakan dan rasa itu tidak ada lagi,ikhlas itu akan datang dengan sendirinya kok. Jadi kenapa aku harus memaksakan diri untuk ikhlas kalo memang itu menyulitkan. Aku bukan orang hebat yang pandai untuk bisa ikhlas. Jadi,menurutku akan lebih realistis bila pernyataannya adalah : Jangan paksakan dirimu untuk ikhlas bila itu tak mampu dilakukan,hanya belajar untuk tidak berusaha mengingatnya dan akhirnya terlupakan. Kalau orang bilang,ikhlas itu ada di hati,aku sebaliknya,menurutku,ikhlas itu ada di dalam otak.

Bermain mindset aja,jangan dipikirkan bahwa perpisahan itu akan menyedihkan,tapi pikirkanlah bahwa perpisahan itu memang harus terjadi.

Susah???pasti iya,karena akupun melewati proses yang panjang untuk sampai pada grade itu. Tapi itu bisa dilatih,bisa dipelajari. Dan aku yakin,siapapun bisa melakukan itu,asal MAU.

So???masih bersedih dan meratapi perpisahan????bermanfaatkah untuk kehidupanmu???bila itu tidak bermanfaat,jangan lakukan 🙂

Lagu ini bisa banget buat backsound hehehhe

 ……I’ll forget it and let it go…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s