ADELE – QUEEN of GALAU


Katakanlah dibutuhkan sebuah ramuan yang tepat untuk sebuah debut album. Sebuah single yang menohok, strategi promosi yang mumpuni, dan juga packaging yang menarik. Ketika banyak solois wanita yang menampilkan keseksian dan dominasi beat R n B di setiap single mereka, Adele Adkins hadir membawa suatu angin segar. Membawa kesederhanaan dalam musiknya.

Perjalanan Adele untuk dikenal secara luas pun menjadi cerita yang menarik untuk diikuti. Bagaimana talentanya dalam menciptakan lirik dan metaforfosa yang kuat dalam setiap penggalan kalimat yang digunakan. Inilah yang menjadi nilai jualnya dalam album 19. Album yang berbicara tentang rasa bangga, patah hati, sampai bagaimana menjadi seorang pemimpi yang baik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu daya tarik dari album ini ada single Chasing Pavements yang maha dahsyat. Dirilis sebagai single kedua, track ini mampu menghadirkan tataran baru dalam menggali emosi. Inilah yang menarik saya untuk lebih menyimak lagi keseluruhan isi album ini. Bagaimana bisa dia membuat satu album yang penuh dengan materi yang menarik? Rasanya kita tahu semua track ini bercerita tentang apa. Hasilnya adalah Grammy untuk nominasi Best Pop Vocal Performance.

Padahal dari awal dirilis, single ini tidak begitu kelihatan taringnya di Amerika. Barulah setelah dia menyanyikannya di acara Saturday Night Live, Amerika terperangah. Sebuah amunisi dari Inggris telah hadir kembali. Menyusul kejayaan rekan-rekannya terdahulu. Chasing Pavements pun melaju lancar di chart-chart iTunes dan Billboard walaupun hanya terhenti di posisi 28.

Tahun 2008 adalah era Mariah Carey berjaya dengan Touch My Body, era Flo Rida, David Guetta, dan masih banyak lagi musik yang bisa dikatakan hingar binger berseliweran di chart, radio, maupun televisi. Adele berani untuk mendobrak itu semua. Komposisi 19 dipenuhi oleh unsur blues, jazz dan soul yang menggunakan teknik vokal Adele.

Dengan diproduseri oleh Jim Abiss dan Eg White, track-track lambat, penuh emosi hadir melalui Melt My Heart To Stone, First Love, maupun Tired. Satu track yang lumayan berbeda adalah Cold Shoulder yang dirilis sebagai single ketiga. Ada nama Mark Ronson disana yang membuat beat yang lumayan terkesan riang namun dari segi lirik tetap bernada suram. Inilah salah satu modal awal ketika di album 21, vokal Adele bisa melebur dengan mudah di berbagai tipe lagu.

Ketika mencari referensi untuk album 19, terakhir album ini telah mencapai penjualan sebanyak 1.015.000 kopi hanya untuk di Amerika saja. Hal ini berlaku lebih banyak ketika berbicara angka di Inggris dan Irlandia, dimana album ini bahkan masuk kembali ke dalam chart berkat perilisan dan suksesnya album 21. Perkiraan kasar bahwa album 19 ini telah terjual 3 juta kopi di seluruh dunia. Sebuah angka yang tidak main-main untuk seorang pendatang baru.

Jadi bisa dikatakan memang banyak hal yang membuat Adele menjadi perhatian banyak pihak. Terima kasih untuk label Jamie T’s Pacemaker yang telah mempercayakan single Hometown Glory di rilis secara independen. Inilah awal ketika jodohnya bersama XL Records berawal. Dimulai dengan sebuah anthem tentang kecintaan terhadap kota, sistem yang berjalan, yang membuat semua orang juga ikut terbuncah ketika mendengarnya.

Inilah awal semuanya, ketika Adele pertama kali memaksa kita untuk Make You Feel My Love, untuk merasakan cinta yang dikeluarkan melalui suaranya. Walaupun entah cinta itu berisikan harapan, emosi, atapun ratapan yang sangat membingungkan. Inilah jalan awal sebuah kesuksesan artis besar. Cheers!

Thanks to : Welly Creativedisc @ http://www.creativedisc.com 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s