P.E.L.A.N.G.I


Badai ini tak akan lama, depanku sudah tersedia pelangi. Bias pelangi yang ku ciptakan sendiri. Mengayunkan langkah dengan sangat ringan. Betapa menyenangkan ketika melihat pelangi setelah hujan berhenti.

Kadang,ketika kesedihan dan tumpukan masalah sedang menghampiri, bagaikan berada di tengah padang luas dengan terpa’an hujan badai dimana tak ada satupun tempat untuk berteduh atau berlindung.

Saat seperti itu,apa yang sering kita lakukan?? Mencoba menangkis terpaan hujan yang terasa perih di wajah, menutup rapat mata dan tak sedikitpun mencoba membuka mata, atau menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencoba lari dan mencari perlindungan.

Yang terjadi, kita tetap berdiri di tempat dan membiarkan diri kita menderita dengan kondisi itu.

Dan itupun yang sering aku lakukan, tak beranjak sedikitpun dari tempat semula. Aku menikmati setiap tetes hujan yang mengikis perih seluruh tubuhku. Aku nikmati dan rasakan teruss dan teruuus. Sampai saatnya dimana aku tidak merasakan perih itu lagi. Aku menjadi kebal, kulitku mengeras, membeku. Lalu setelahnya, aku  menengadah dan melangkah, pelan. Hanya sesekali menengok dan mempelajari keadaan di sekitarku.

Saat itulah aku bisa melanjutkan perjalananku sambil tersenyum. Aku sudah merasakan kepedihan dan aku mampu bertahan tetap berdiri tegak walau seluruh tubuhku berdarah tersayat-sayat. Inilah saatnya dimana aku merasakan kemenangan, ketika aku mampu mengalahkan penderitaan itu dan ketika aku mampu menembus derasnya hujan badai yang menerpaku.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s