Hello, My Name is Dorris

What do you do with a day that seems to go all wrong? Let it slide and spend the rest of the day wishin’ and hopin’ tomorrow turns out better or take action, it’s time to turn your day around.  Aku memilih opsi yang kedua.

Beberapa waktu lalu aku iseng liat film ‘Hello, My Name Is Dorris’. Ini bukan film yang berat, tapi cukup masuk akal, dalam artian, bisa saja terjadi dalam dunia nyata. Film yang sudah rilis Maret lalu ini genrenya kolaborasi antara Comedy dan juga Drama. Tema yang sederhana, tentang wanita single berusia 60-an bernama Dorris, jatuh cinta terhadap John Fremont, pria teman sekantornya yang berusia jauh lebih muda. Saking jauhnya, mungkin lebih pantas dianggap sebagai cucunya hehehehe

Secara garis besar ceritanya begitu. Dan adegannya juga lebih banyak menampilkan bagaimana usaha Dorris cari perhatian si John.
Diceritakan Dorris ini hanya pernah jatuh cinta sekali dalam hidupnya, itupun saat dia masih berusia 20an, jadi hal yang wajar kalau ketika jatuh cinta lagi disaat usianya sudah tidak muda lagi, jadi seperti exciting, dan merasa kebaikan John itu bentuk cinta juga terhadapnya. Banyak adegan konyolnya Dorris sih, dari salah tingkah setiap kali deket John, bingung cara dandan biar nggak keliatan jadul, sampai nekat jadi hipster sebuah band yang jadi idolanya John demi menyejajarkan posisi, biar keliatan update selera anak muda. Namanya juga mencari perhatian kan.

Kalau lagi pengen nonton film yang gak pake mikir ya film ini bisalah jadi alternatip. Sangat menghibur.

Aku bukan ingin mereview filmnya, karena aku gak jago-jago amat bikin review. Juga bukan ingin membahas tragedy jatuh cintanya Dorris. Tapi aku terkesan pada satu sisi tentang kehidupan Dorris  yang lumayan jelas diceritakan disitu. Dorris, hanya 2 bersaudara dengan adik lelakinya. Adiknya sudah memiliki keluarga sendiri, dan menempati rumah sendiri bahkan sudah sejak muda tidak lagi bersama ibu dan kakaknya. Sementara Dorris, sepanjang hidupnya menemani sang ibu yang sudah sakit-sakitan. Dan tetap menempati rumah itu sampai ibunya meninggal.
Pada satu kejadian, sang adik meminta Dorris meninggalkan atau pindah dari rumah itu karena menurutnya, tidak baik bagi Dorris yang sudah tua harus sendirian di rumah yang besar itu. Tapi tentu saja usul adiknya itu ditolak mentah-mentah oleh Dorris karena rumah itu menyimpan banyak kenangan bersama ibunya. Pertikaian makin meruncing ketika sang adik mendapati rumah itu penuh dengan barang-barang yang tidak berguna. Bahkan istri adiknya ikut-ikutan menegur Dorris dan berusaha keras membuang semua barang yang bertumpuk dan berserakan di dalam rumah besar itu.

Nah…..bagian inilah yang sangat menarik perhatianku.

Dorris ini diceritakan punya kebiasaan sama persis dengan ibunya, senang menumpuk barang. Semua alasannya sama: siapa tau nanti kepake.

Kenapa aku tertarik? Karena itu adalah nyata. Cobalah tanya sama ibu-ibu kalian, ada saja barang yang ditumpuk atau disimpan yang bahkan bertahun-tahun tidak keluar dari lemari atau tidak terjamah sama sekali. Tidak jarang alasannya,”Nggo nduwe nduwe” maksudnya ya yang penting punya lah. Atau alasan paling umum ya seperti Dorris itu,”Siapa tau aku akan pake nanti, entah kapan”. Atau tidak sedikit juga beralasan,”Itu barang kesayangan, banyak kenangan” yaaa semacam itulah. Dengan menumpuk barang bertahun-tahun membuat rumah yang besar dan luas jadi sempit dan terlihat kumuh. Apalagi kalau main taruh aja nggak pake ditata.

Part ini, mengingatkan bagaimana aku juga selama ini. Sering menumpuk barang.

Sebenarnya, aku bukan orang yang seneng beli-beli kalau nggak memang butuuh. Tapi kalau aku merasa perlu ya gimana caranya harus beli. Nah disitulah masalahnya, aku menambahkan barang tanpa mengurangi barang yang ada. Dan itu berlangsung selama bertahun-tahun. Pun, aku selalu awet kalau punya barang. Ya itu tadi, nambah aja terus tapi gak pernah ngganti. Jangan heran kalau barangku setiap pindahan selalu tambah banyak. Yang tadinya satu kali angkut cukup, jadi kudu dua kali angkut.

Sepertinya, alasanku tidak jauh berbeda dengan para ibu lainnya, “Sayang ah kalau mau dibuang, siapa tau nanti kepake” atau “Belum ada gantinya, biarin ajalah”. Akhirnya, terkumpullah barang-barang besar seperti lemari pakaian,aku beli tahun 2007 lalu. Rak CD yang gede banget, buffet kecil buat TV, meja makan berikut 4 kursinya, aku beli tahun 2011. Buffet yang panjang, gede dan berat, sudah aku punya sejak seva bayi, berarti sekitar tahun 1998. Meja kerja ada 2, satu meja komputer kubeli tahun 2013, yang satunya meja tulis simple dan enteng kubeli tahun 2011. Meja rias kaca kecil (udah 2 tahun ini ga kepake) yang aku punya sejak tahun mmmm 1997 kayaknya. Lalu kulkas, ini juga awet banget, aku beli kalau ga salah tahun 2008, masih bagus nggak pernah bermasalah. Terus ada kompor! Nah ini paling bersejarah, aku beli sekitar tahun 2006 atau 2007 lah, beneran seumuran seva, tapi herannya, masih awet dan apinya juga masih bagus. Itu barang-barang besar, belum ditambah kasur besar dan kasur kecil, baju-baju yang entah berapa box itu, juga barang2 dapur plus pernak pernik bejibun banyaknya.

Hhhhhh….setelah bertahun-tahun barang itu ikut kemanapun aku pindahan, maklum, belum punya rumah jadi tiap tahun pindah kontrakan, sekarang aku pusing liat barang-barang itu.

Seperti juga Dorris yang di akhir cerita, bersamaan dengan kesadarannya bahwa jatuh cinta terhadap John adalah sebuah kekeliruan dan kemustahilan, Dorris juga tambah stress liat barang yang memenuhi rumahnya. Akhirnya, Dorris mengikuti saran sahabatnya untuk,”Move on”. Bukan hanya dari masalah cintanya, tetapi juga dari barang-barang masa lalunya. So, bebersih rumahlah dia.

Begitu juga aku, yang sebulan ini sudah merasa pusing dan empet liat barang-barang di kontrakanku. Sebelum aku menonton film tentang Dorris ini, aku sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk ‘membuang’ barang-barang itu.

Iya. Banyak alasan yang membuatku ingin melakukan itu, dari alasan yang bisa dijelaskan sampai alasan yang terlalu sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Aku hanya ingin ‘bebas’ dari semua itu. Aku ingin benar-benar menikmati ‘sendiri’ tanpa beban. Karena sesungguhnya, aku kontrak rumah alasan terbesarku adalah barang-barangku tidak cukup kalau aku hanya menyewa satu ruangan yang namanya KAMAR. Jadi, aku mulai bergerak menjual barang-barang itu satu persatu.

Ibarat sebuah gadget, hidupku perlu mengalami yang namanya ‘reset’.

Beneran harus dibuat ‘kosong’ tanpa isi. Agar lebih ringan proses recoverynya. Lalu kemudian, mengisi dengan yang baru satu persatu bila perlu. Akhir tahun, adalah waktu yang tepat untuk refleksi dan bebenah diri.

Sometimes, you just need a break. Alone. To figure out everything.

Advertisements

#7HariHalu [01] Bertemu, Dekat lalu Menghilang

Dia pikir dia siapa, pergi begitu saja tanpa peduli bagaimana perasaanku, tidak pernah ada kabar bertahun-tahun, lalu tiba-tiba datang menawarkan cinta seolah-olah selama ini semuanya baik-baik saja.

Pertemuan itu kembali terjadi, setelah aku berhasil menguasai semua perasaanku tentangnya. Seharusnya aku tidak perlu mengaduk-aduk kembali perasaanku. Seharusnya aku tanggapi biasa saja ketika dia menghampiriku, saat aku duduk sendirian menikmati segelas hot chocolate tadi.

“Aku dari tadi melihatmu dari jauh, nyaris aku tidak mengenalimu”.

Mendengar itu tenggorokanku serasa tercekat, dengan hot chocollate ditanganku yang baru berkurang setengah. Aku tidak langsung menjawabnya, sambil menata detak jantungku yang berdegup tak karuan, aku angkat gelasku dan ku arahkan padanya sambil tersenyum. Diapun mengangkat gelasnya lalu meminumnya dengan pandangan mata yang tidak beralih dariku. Sebuah alasan yang tepat untuk membasahi kerongkonganku sebelum aku menjawab pertanyaannya.

“Memang kenapa?” Ah hanya itu kalimat yang berhasil meluncur dari bibirku. Dia tersenyum, mengendikkan bahunya. Sebelum akhirnya mengatakan,”Ya….mmm apa ya….kamu tambah cantik”.
Upss…..nyaris meluncur jatuh gelas dalam genggamanku. Kalau saja tidak segera mengontrol perasaanku. Dan aku ternganga sebelum kemudian tertawa. Tawa yang aku rasakan garing.
Aku memilih tidak menjawab pertanyaan itu. Dan aku tenggelam dalam lamunanku sendiri.

Empat tahun yang lalu, sebuah pekerjaan mempertemukanku dengannya. Intensitas pertemuan dan percakapanan melalui sms, telpon juga chat messangers menggulirkan perasaan yang berbeda. Pertemuan-pertemuan yang terjadi melebar tidak lagi tentang pekerjaan. Bahkan hanya karena alasan sepele, kebetulan sama-sama sedang pengen makan mie ayam, atau sekedar mengisi sisa waktu setelah seharian bekerja dengan duduk di sudut coffeshop, atau bisa saja di angkringan, ngobrol apa saja sampai lupa waktu.
Tema pembicaraanpun bergeser, tidak lagi melulu tentang pekerjaan yang sedang kami lakukan bersama. Bahkan, kami sempatkan sering datang bareng menghadiri undangan acara teman, atau menyaksikan panggung musik. Apa saja.

Sepanjang perjalanan intensitas itu rasanya seperti tidak ada hambatan. Sepertinya semua sempurna. Sehingga aku lupa menjagai hatiku. Lalu tanpa aku sadari, perasaan berbeda itu tidak lagi bisa aku kendalikan. Aku jatuh cinta! Ironisnya, aku tidak ingat sejak kapan perasaan ini mulai hadir. Yang aku tau, aku merasa kehilangan ketika intensitas itu perlahan memudar. Kegelisahan mendera saat balasan dari pesan-pesanku lambat laun berkurang lalu kemudian semakin sering dibiarkan dengan tanda terbaca saja. Tanpa balasan.

Hatiku terluka.

Untuk beberapa saat lamanya, aku mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri,”Mengapa aku harus merasakan kepedihan seperti ini? Dia bukan kekasihku”. Juga pertanyaan lain, “Mengapa aku harus bersedih hanya karena kebersamaan itu hilang?”.

Mengapa??

Hidupku baik-baik saja sebelum kamu datang waktu itu. Hari-hariku cukup menyenangkan sebelum kamu hadir mewarnainya.

I’m just fine before i meet you.

Aku sampai lelah kebosanan dengan semua pertanyaan itu, hingga aku lupa bahwa perasaan itu pernah ada. Semuanya sudah kembali baik-baik, dan aku berharap, tidak akan pernah bertemu kamu lagi. Sampai akhirnya…..

“Hey”.

Aku tergagap mendengar bunyi cangkir hancur berantakan di lantai. Cangkir yang terlepas dari genggamanku, meluncur turun menghantam lantai.

“Oh eh…aduh….ya ampun. Eh maaf…” Kataku gugup sambil salah tingkah memunguti pecahan gelas. Sampai akhirnya pelayan datang membawa pel dan sejenisnya.

“Sudah mbak, biar saya saja. Nanti saya bersihkan”
“Eh nnng…maaf ya mas, anu nggak sengaja”. Aku meminta maaf dengan bingung mau melakukan apa. Sementara dia tertawa melihat tingkahku.

“Hey. Kamu kenapa sih. Aku cuma menegur, karena kamu nggak dengerin aku ngomong eh ternyata malah ngelamun. Haduh…gitu aja sampe mecahin gelas lho” Dia berkata masih dengan sisa-sisa tawanya.

“Eh emang kamu tadi ngomong apa?” Kataku beberapa saat setelah mampu menguasai diri.
“Mmm apa ya, aku malah udah lupa tadi ngomong apa. Lupakan. Gimana kabarmu?”.
“Oh aku? Baik. Kamu?” Tanyaku balik. Aku mengucapkan terimakasih pada pelayan setelah membersihkan lantai dari pecahan gelasku dan memesan minuman kembali. Setidaknya, ada jeda waktu sedikit untuk mengatur detak jantungku kembali normal. Dan terlihat biasa saja di hadapannya.

Dia hanya tersenyum menatapku. Aaah….masih sama senyumnya.

He look as good as the day i met him.

“Maaf ya kalau aku tiba-tiba menghilang waktu itu. Sebenarnya…” Dia menjawab pertanyaanku dengan sebuah statement yang seharusnya, tidak penting lagi buatku. Aku tidak menyela perkataannya yang menggantung. Sengaja aku tatap lekat-lekat kedua matanya. Ada kegugupan kulihat di sana.

“Eh tapi penting nggak sih kalau aku menjelaskan ini ke kamu sekarang?” Tiba-tiba dia balik bertanya. Aku hanya tersenyum sambil mengendikkan bahuku sedikit.
“Ya sudahlah, mungkin ini tidak penting buatmu, tapi aku akan menjelaskan. Jadi waktu itu, aku terpaksa menghentikan kedekatan kita, karena……aku takut makin kuat perasaanku ke kamu”
Aku meledakkan tawaku. Memicingkan mataku dan tersenyum dengan sudut bibirku.

“Ada persoalan yang harus aku selesaikan lebih dulu, sebelum aku yakin dengan perasaanku” Lanjutnya. Aku masih diam tak menanggapi.
“Lalu?” Tanyaku kemudian.
“Yah gitulah. Aku merasa waktu itu seperti tidak nyaman menjalani hari-hariku. Gelisah dengan perasaanku sendiri. Sepertinya aku berharap, dulu kita tidak pernah bertemu. Karena sebelum bertemu kamu, semuanya baik-baik saja. Tapi makin dekat kita, makin besar rasa bersalahku. Dan itu tidak adil buatmu.”.

Aku tertawa sumbang. Sinis mungkin terdengarnya.

“Terserahlah kalau kamu mau membenciku. Tapi aku tidak mau melukaimu lebih jauh. Sementara aku tidak yakin dengan perasaanku….”

I forget just why I left you, I was insane

Basi bung!

“Ah sudahlah…..” Aku memotong pembicaraannya. “Cuma mau menjelaskan itu kan? Oke, aku hargai. Ada yang lain?”
“Ya sudahlah, lupakan yang dulu. Kalau kita coba jalani lagi, gimana?”
“Hah? Maksudnya?” Tanyaku tidak paham dengan apa yang dia katakan.
“Ya….aku pengen serius sama kamu” Katanya mengagetkanku.
“Serius sama aku? Memang kamu cinta sama aku?”
“Ya kita jalani aja dulu, kita bisa sama-sama belajar saling mencintai”

Aku tidak tau harus bereaksi bagaimana. Seharusnya aku bahagia, bukankah ini yang aku harapkan dulu? Tapi mengapa sekarang rasanya berbeda. Debaran itu masih ada, tapi tidak lagi sama seperti dulu. Setelah empat tahun tanpa kabar apa-apa, tidak sengaja bertemu lalu dengan enaknya dia mengajakku serius? Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil berdecak heran. Aku menatapnya lekat-lekat, kemana aja kamu ketika aku berjuang sendiri mengatasi kegelisahanku waktu itu? Dan sekarang, setelah aku bisa melupakanmu, kamu menawarkan yang seharusnya kamu tawarkan sejak dulu.

Sepertinya aku masih belum hilang kesal, tapi…..keraguan menyeruak perlahan. Bagaimana kalau aku terima saja tawarannya? Belajar saling mencintai bukan kesalahan kan? Bukankah dulu aku menangisi kepergiannya?

Aku mengatur posisi dudukku yang rasanya tegang sedari tadi. Belum tau apa yang harus aku putuskan.

“Jadi, gimana?” Tanyanya membuyarkan lamunanku.
“Aku cuma heran, mengapa tiba-tiba kamu ingin serius denganku”. Tanyaku kemudian.
“Sebenarnya, sudah agak lama aku berpikir untuk menghubungimu, tapi masih ragu. Akupun masih perlu meyakinkan perasaanku. Apakah keputusanku ini tepat atau tidak”.
“Sejak kapan kamu merasa bahwa aku adalah pilihanmu yang tepat?”
“Aku belum lama putus dari pacarku. Saat itu aku merasa, aku tidak mencintainya. Aah aku sudah malas menjalin hubungan yang tidak jelas. Aku rasa aku bisa menjalani hubungan serius denganmu, toh kita pernah dekat dulu”.

Mendengar penjelasannya, akhirnya aku sudah tau harus menjawab apa.

“Kamu masih mau di sini? Sepertinya aku harus segera pergi.” Aku berkemas, meminta bil dan bersiap pergi.

Dia tidak berusaha menahanku. Hanya menatapku heran. Aku segera melangkah meninggalkannya sebelum dia bertanya lebih jauh. Harus segera menginggalkan segala omong kosong ini. Dia pikir dia siapa, pergi begitu saja tanpa peduli bagaimana perasaanku, tidak pernah ada kabar bertahun-tahun, lalu tiba-tiba datang dan menawarkan segala sesuatu yang terdengar sudah sangat basi.

Terdengar lagu “Closer” The Chainsmoker yang lagi hits itu mengiringi langkah kakiku menuju pintu.

“Now you’re looking pretty in a hotel bar. I forget just why I left You. I was insane”.

Kepala dipenuhi lirik lagu Closer sampai bertemu taxi yang membawaku pulang. Kuhempaskan tubuhku begitu saja di kursi belakang, sambil menyebut sebuah alamat ke driver. Mataku terpejam mengatur nafasku yang memburu, tapi telingaku sayup mendengar sebuah lagu dari radio di taksi yang aku tumpangi.
Damn! Lagu ini lagi???

Insane……..

—————

Cerita ini bergulir akibat terlalu sering mendengarkan lagu Closer milik The Chainsmoker feat. Halsey. Beberapa hari kepalaku terkunci dengan lagu ini. Awalnya, aku hanya suka dengan musiknya, ringan sangat ‘radio friendly’. Halah!

Lalu mulai ngulik liriknya, dari situ terciptalah sebuah cerita dalam rangka challenge 7 hari menulis cerita pendek berdasarkan lagu, yang aku buat bersama Nuno , #7HariHalu.
Closer adalah single ke-3 milik The Chainsmoker berkolaborasi dengan Halsey, yang sejak peluncurannya sudah mencapai posisi nomer 1 di singles Chart Itunes store di Canada dan Amerika Serikat. Berita baiknya adalah, Closer tmenjadi lagu “HIT” paling tercepat untuk mereka!!

Nggak heran. Emang enak sih lagunya. Buat sedikit goyang-goyang manggut-manggut asik juga. LOL.

 

#7HariHalu – Prolog

#7HariHalu adalah challenge 7 hari menulis cerita pendek berdasarkan lagu, yang aku lakukan bersama seorang teman, namanya Nuno. Membuat tantangan (challenge) untuk diri sendiri menulis cerita pendek? Kenapa tidak! Meski hasilnya tak sebagus tulisan penulis-penulis cerpen atau novel best seller itu. Maklumi saja, masih belajar.

Kadang butuh sebuah tantangan untuk memaksa kita melakukan sesuatu. Soal hasilnya bagus atau buruk, menang atau kalah, itu menjadi urusan belakangan. Yang penting berani mencoba tantangannya aja dulu.

Itulah yang aku lakukan bersama Nuno. Menantang diri sendiri untuk menulis cerita pendek berdasarkan lagu. Kami ini sama-sama sering tidak percaya diri dalam hal-hal tertentu. Nuno misalnya, menurutku dia tulisannya bagus, pandai mengolah kata dalam hal mereview. Tapi kadang masih aja bilang kalau ‘nggak bisa menulis’. Lha apa kabar aku??

Aku pernah membaca cerita-cerita pendek yang ditulis nuno di blognya . Menarik. Dan banyak kejutannya di ending cerita. Beberapa hari lalu, memaksa Nuno untuk menulis cerita lagi, tapi dia mengeluh katanya sudah nggak yakin masih bisa menulis cerita. Karena sekarang dia lebih fokus mengisi blognya dengan berbagai macam review, dari Hotel, Rumah Makan sampai produk apalah entahlah.

Aku tetap memaksa. Karena menurutku dia bagus kalau menulis cerita, kan sayang kalau lantas berhenti. Ah ternyata susah juga memaksa anak satu itu. Alasannya pasti adaaaaa aja, intinya merasa nggak PD. Kalau dia yang aku anggap bisa membuat cerita menarik aja nggak PD, gimana aku? Makin nggak PD dong, wong nulis blog sendiri aja masih embuh banget. Bikin cerita pendek buatku itu PR , apalagi novel. Ide di otak banyak, tapi nggak pernah tau gimana cara memulainya jadi sebuah tulisan.

Hujan dan sinyal yang nggak bagus kemaren, bikin aku bingung mau ngapain. Bosan beberes rumah yang nggak beres-beres juga. Rapih juga nggak, capek mah iya. Aku memutuskan untuk tidur saja. Karena suara hujan yang menimpa seng atap garasi itu kencang sekali suaranya, sungguh bikin berisik. Nggak ada indahnya. Jadilah aku memasang lagu-lagu di laptop. Memilih lagu-lagu baru yang sepertinya aku ketinggalan update. Biar gak kalah updatelah sama anakku heuheuheu….

Sampai di lagu Closer-nya The Chainsmoker, aku tiba-tiba teringat percakapan di kolom komen pathku bersama Chika dan Seva.

“Coba dengerin liriknya deh”.

Apaan sih. Aku tuh mengamati lirik lagu kalau memang ada kasus kusus dengan lagu itu, atau memang penasaran atau pas lagi hearing hahha. Biasanya lebih menikmati lagunya saja. Nggak peduli bagaimana liriknya. Dari obrolan itu lantas aku penasaran, emang ini liriknya gimana sih kok Chika dan Seva heboh bener.

Dengan keterbatasan sinyal, akhirnya berhasil cari lirik lagu itu. Manggut-manggut sambil membayangkan sebuah adegan sesuai dengan lagu itu. Karena dilanda kengangguran yang amat sangat, buka laptop lalu mengalirlah kata demi kata menjadi sebuah tulisan.

Aha! Sebuah cerita pendek. Belum sempurna sih, jadi nanti aku sempurnakan dulu sebelum diposting hehehhe
Dari situ mendadak aku ada ide sebuah challenge menulis. Kayaknya seru nih menantang diri sendiri. Tapi lebih seru lagi kalau ada yang ditantangin. Secara otomatis terlintaslah Nuno di otakku.

Awalnya Nuno keberatan, dengan berbagai alasan tentu. Salah satunya seperti yang selalu aku dengar, nggak percaya diri masih bisa menulis cerita. Sampai akhirnya bujukanku berhasil, setidaknya, dengan melakukan tantangan ini, bisa jadi semacam selingan buat content blognya Nuno, nggak melulu review hahaha.

Dengan sedikit ‘maksa’ munculah nama #7HariHalu, halusinasi maksudnya hahahha
Yess…selama 7 hari kedepan, kami akan tenggelam dalam halusinasi kami masing-masing. Judul-judul lagu sudah ditentukan untuk kami jadikan ide cerita pendek, dari hari pertama sampai hari ke-tujuh. Lagu apa saja itu?

Aaaah…..akan lebih seru kalau langsung dinikmati aja nanti. Biar jadi kejutan.

Basa-basinya udahan dulu yak. Sekedar prolog yang menandai challenge menulis cerita pendek antara aku dan Nuno dimulai. Prolog aja panjaaaang Jeeee……….

#7HariHalu hari pertama adalah Closer – The Chainsmoker feat Halsey. Tunggu di postingan berikutnya, sebentar lagi 🙂

Syalom,

~jeci~

Memulai Itu Gampang, Konsistennya Yang Susah

Punya konsep dan ide tanpa dibarengi dengan keberanian mewujudkan, sama saja dengan memberi peluang orang lain menjalankannya. Tanpa kita.

Puding Coklat

   Ini bukan sekedar quote atau kata bijak, ini rekaanku sendiri ketika aku merasa selalu seperti itulah yang terjadi. Dari dulu punya konsep dan ide pengen bikin ini dan itu, dari semua yang banyak itu, beberapa ada yang benar-benar diwujudkan ada yang tinggal wacana. Tapi kalaupun diwujudkan, terlantar sampai di ‘halaman depan’ saja. Alias, mulai doang tapi setengah-setengah digarap atau malah dibiarkan teronggok tidak digarap sama sekali.
Akhirnya, ketika orang lain yang mewujudkannya dan berhasil, aku cuma bisa bergumam “Aku pernah punya rencana bikin itu, tapi ragu-ragu lalu nggak pernah dimulai. Ternyata bisa jalan juga kalau diseriusi”. Tapi itu milik orang lain. Bukan milikku. Milikku? Ya tinggalah jadi wacana saja.

  Kadang aku berpikir, apakah mentalku memang mental ‘karyawan’ alias selamanya akan bekerja sama orang dan gak bakal bisa menjadi ‘bos’ lewat usaha sendiri. Cukup mengganggu pikiranku pernyataan itu. Karena sebenarnya, aku bisa melakukan beberapa hal, yang kalau saja aku mau seriusin, ya akan menjadi sesuatu yang besar. Tapi mengapa aku tidak pernah punya nyali untuk memaksimalkan itu. Sehingga sampai sekarang, aku masih berstatus ‘karyawan’.

   Tentu saja menjadi karyawan bukan sesuatu yang salah. Karena dimanapun aku bekerja, apapun yang aku kerjakan, menjadi karyawan dalam hal apapun selama itu aku minat dengan bentuk pekerjaannya dan aku mampu melakukannya, aku sangat menikmatinya. Karena kecilnya nyali tersebut membuatku sulit keluar dari zona amanku saat itu. Off dari radio. Karena aku merasa, kemampuanku hanya disitu, aku merasa tidak pandai, tidak hebat dan tidak istimewa. Sampai akhirnya aku dengan desakan keadaanku di radio membuatku nekat memutuskan hijrah dari dunia radio ke dunia yang berbeda. Disinilah aku, bersama team yang luar biasa di dunia digital, sebuah startup buku suara atau audio book yang bernama Listeno.

   Banyak yang mengubah pola pikirku setelah berada ditempat yang baru. Mungkin bisa jadi karena tersalurkan atmosfir ‘hal-hal’ baru di sekitarku. Hampir setiap hari aku mendengar obrolan tentang ide ini dan itu, menciptakan ini dan itu. Orang-orang hebat di sekitarku mempengaruhiku untuk berani (seperti mereka) menciptakan sesuatu.
Nah…..dari sinilah semuanya berawal. Dari sebuah obrolan sepele di tempat favoritku, pinggir kolam kecil depan studio Listeno pada suatu waktu, aku seperti mendapat ‘suntikan’ semangat untuk melanjutkan dan memaksimalkan kepiawaianku (halah) membuat kue. Bukan sekedar membuat tapi gimana caranya kue-kue itu menghasilkan.

   Membuat kue? tentu saja aku sangat PD melakukannya, tapi menjual?? Hohohoho aku nyerah! Dari dulu permasalahanku disitu, ketidak mampuanku menjadi marketing untuk produkku sendiri! Ya. Aku merasa sangat tidak bisa jualan. Aku hanya bisa produksi.

Produksi berlimpah tanpa penjualan? Bagaimana itu akan menjadi sebuah bisnis? Itu namanya pesta!

   Kalau niatnya berbisnis, atau usaha walau kecil-kecilan, tentu harus ada strategi marketingnya disitu. Itulah sebabnya kenapa selama ini aku tidak pernah bisa mewujudkan ideku, keinginanku, bahkan impianku. Siapa yang mau jualin produkku??

   Duluuu banget, semasa seva masih bayi, saat dimana aku lebih banyak di rumah dan berkreasi macam-macam kue, sampai akhirnya aku menemukan kue-kue apa yang menjadi favorit / andalan untuk aku bikin. Mulailah aku berkreasi dengan bikin bermacam-macam puding, brownies dan cookies. Sempat banyak pesenan sih dulu….duluuuuuuu *lol*
Dari situ aku pernah punya semacam angan-angan bikin ‘house of pudding, brownies and cookies’ di Jogja. Iya bener, dulu itu aku sudah punya sasaran tempat yang aku inginkan. Jogja. Padahal saat itu aku masih di Magelang, entah kenapa kok kuat sekali pengen bikin di Jogja. Mungkin dulu aku merasa, belum banyak toko-toko kue besar di Jogja, apalagi semacam breadtalk gitu, jauuuhhhh…..belum ada! Tapi ya itu cuma angan-angan yang aku keep jauh banget disudut pikiranku. Sampai lupa bertahun-tahun bahwa aku pernah punya impian itu.

   Tahun 2014, itu pertama kali aku mulai lagi bikin kue setelah lebih 10 tahun tidak menyentuh peralatan kue sama sekali. Lumayan sih responnya. Seandainya saja, aku tidak lantas berhenti dan fokus meneruskan usaha itu, bisa saja saat ini aku sudah punya tempat sendiri untuk display kue-kueku hahahha *duh mimpi*. Yah begitulah, kemudian berhenti lagi bikin kue dengan berbagai macam alasan, dari modal, tempat, waktu dan lain-lainnya menjadikanku berhenti (lagi).

   Setelah setahun lebih tidak menyentuh dapur, aku kembali rindu bikin kue-kue lagi. Mulailah aku meng-create resep yang sudah aku punya. Aku perbaiki sana sini sampai aku menemukan formula yang pas untuk cookiesku. Setelah aku rasa perfect, aku mulai woro-woro di sosmed bahwa aku bikin kue lagi. Ahhh diluar ekspektasi, ternyata banyak yang memesan kueku. Apalagi momentnya pas, pas menjelang lebaran. Lalu, setelah itu…..apakah aku akan berhenti lagi? Aku mulai merasa sayang untuk berhenti, dan banyak masukan positif yang aku dengar menyemangatiku untuk tetap melanjutkan bahkan memaksimalkan varian yang lain. Yayayayaya…..aku mulai berpikir untuk tidak berhenti, tapi justru menambahkan produk yang lain. Ya sudah pastilah aku kembali berkreasi dengan puding dan brownies, andalanku!

Bananas Chocolate Muffin

Brownies Coklat Keju

Oke. Aku siap berjibaku di dapur kembali. Tapi kembali muncul pertanyaan besarku, momok yang selama ini menjadi penghalang niatanku serius dengan usaha kuliner ini, MARKETING!

Siapa yang akan menjual semuanya nanti?

   Sampai saat ini, aku masih merasa tidak expert jualan. Dan pertanyaanku itu dijawab oleh seorang teman yang sangat baik karena akhirnya malah semangat membantuku memulai, dia bilang begini,”Bukan mami yang jualan, tapi teman-teman mami”. Kok bisa? “Ya bisalah, kan selama ini mami dapet orderan kue juga karena teman-teman mami ikut ‘jualan’ secara tidak langsung, dengan mereka cerita atau posting di sosmed akhirnya yang lain jadi ikut pesan dan seterusnya dan seterusnya”. Hmmmmm iya juga ya….jadi manteb nih? “Ya udah sih mam, manteb aja wong kue-kuenya mami enak kok. Udah banyak lho yang mau bantuin mami, kook mami masih ragu aja”.

   Setelah aku renung-renungkan, selama ini memang banyak teman-teman dan orang-orang disekitarku yang menyemangatiku. Bukan hanya memberi support, tapi juga ngelarisin kue-kueku hihihi haruskah aku sia-siakan semua itu? Kok sayang ya….

Nastar

   Begitulah, akhirnya aku dibantu seorang teman baik yang lainnya, bisa beli bahan-bahan kue, siap membuat kue-kue yang enak. Bukan cuma itu, tapi juga ikut memikirkan konsep dan strateginya akan seperti apa, mikirin nama brandnya juga hahaha oh iya, untuk brand, sebenarnya aku sudah punya dulu, namanya @sceivabrand, tapi ya gitulah…yang punya nama sekarang protes,”Mbok jangan pake nama itu mam”. Dengan alasan, namanya Sceiva itu nanti orang susah nyebutnya. Hhhhh…..oke baiklah. Pusing lagi kan cari-cari namanya.

   Dari beberapa nama yang muncul, akhirnya aku memutuskan sebuah nama yang aku pilih untuk nama brand kueku ini. Namanya adalah MELSWIT. Itu nama dari sekian banyak corat-coretan nama yang aku bikin, sepertinya gampang disebutnya, dan yang pasti di INSTAGRAM BELUM ADA YANG PAKE NAMA ITU hahahahha penting banget yaaaaa……

melswitlogo

Melswit, bisa berarti melted dan sweet. Itu cukup menjelaskan rasa kue-kue yang aku bikin. Sesederhana itu saja artinya.

   Semoga aku bisa konsisten dengan yang akan aku mulai ini *akhirnya terwujud juga setelah puluhan tahun ide itu nyaris terkubur*. Ini baru awal, masih panjang perjuangan, karena ratusan orang diluar sana juga membuat produk yang sama. Tapi katanya, kalau setiap akan membuat usaha selalu berpikir gitu, kita tidak akan pernah memulainya. Dan itu benar. Katanya lagi, rejeki itu masing-masing, tergantung niat dan usaha kita. Kata orang bijak sih seperti itu hehehe. Belum lagi dengan mikirin kalau rugi atau hal-hal lainnya. Bikin drop dan ga berani melangkah. Tapi kata orang bijak lagi, kalau nggap pernah rugi ya berarti nggak pernah bisnis. Oke baiklah, mari segera saja dimulai 🙂

   Setelah memantapkan hati, lantas, pikiranku melesat jauh, bila aku berhasil merintis usaha ini, bila aku bisa mempertahankan usaha kuliner ini, semata-mata bukan hanya jadi milikku. Tapi semuanya ini aku lakukan untuk nantinya aku wariskan kepada anak semata wayangku yang juga punya hobi dan keinginan yang sama, membuat kue dan punya usaha kuliner sendiri.

   Apa lagi yang aku punya untuk aku berikan kepada anakku? Tidak ada. Hanya inilah yang bisa aku lakukan untuk anakku. Untuk masa depannya. Semoga Tuhan dan alam semesta merestui. Amin.

Di order kuenya ya sist :))))

Note:

Terimakasih Chika dan Ndik atas bantuan dan dorongan semangatnya. Semangat!

Syaloom,

~jeci~

 

 

Nggak Jahat sih, Cuma Nggak Cinta Aja

Hanya karena tidak mencintai, bukan berarti jahat. Tapi akan jadi jahat bila kamu menanggapi perasaannya bahkan menikmatinya, sementara tidak pernah ada cinta di hatimu untuknya. Bukankah itu namanya memanfaatkan perasaannya? Jangan memberi ruang sedikitpun untuk membuat perasaannya makin bertumbuh bila tidak ada cinta di hatimu.

“Kamu tuh PHP banget sih sama Citra” Sisil tiba-tiba datang menjejeri Doni sambil marah-marah. Doni hanya mengernyitkan dahi sambil melirik ke arah Sisil.

“Kamu tahu kan yang aku maksud?” Sisil masih nerocos tidak berhenti bicara melihat Doni tidak merespon. Doni meletakkan buku yang baru dia baca,”Jujur ya, aku tuh sama sekali nggak paham apa yang kamu bicarakan. Kasih prolog dulu kek, dateng-dateng langsung marah-marah nggak jelas”. Sisil mendengus kesal.

“Nggak jelas??? Nggak jelas gimana, udah jelas-jelas kamu bikin Citra sakit hati.”

Doni mendongak,”Sakit hati? Aku bikin sakit hati Citra? Kok bisa? Memang aku ada hubungan apa sama Citra?”.

Sisil melotot ke arah Doni, seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.

“Kamu sadar nggak sih Don, kalau kamu sudah bikin Citra terluka”.

“Lhoh aku tuh ngapain? Aku beneran nggak ngerti, aku melakukan apa sama Citra? Kenapa juga aku yang disalahkan kalau dia sakit hati. Bisa saja dia sakit hati sama orang lain”.

“Kamu itu nggak punya perasaan bener sih jadi orang.” Sisil tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Lalu dia membuka layar handphonenya dan menunjukkan history chat percakapan Citra dan Sisil kepada Doni.

Doni mengamati percakapan itu sambil sesekali dahinya mengerut. Setelah itu dia kembalikan handphone ke Sisil,”Kok bisa begitu ya?” Doni seperti bergumam. Untuk beberapa saat lamanya mereka larut dalam diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri.

“Sil, tolong tunjukkan salahku dimana. Apa salah kalau selama ini aku baik sama Citra?”. Doni bertanya sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Ya sebenarnya kamu tidak salah kalau baik sama Citra. Tapi kamu sudah memberi harapan sama dia. Kan kamu seperti PHP sama dia. Kamu memberi harapana palsu sama dia.”

“Nah….itu dia yang aku nggak paham. Harapan apa? Aku biasa saja selama ini. Tidak menjanjikan apa-apa dan tidak memberi harapan apapun. kenapa Citra merasa aku memberi harapan sama dia. Aneh”.

“Ya nggak anehlah Don, sikapmu sama dia selama ini membuatnya jatuh cinta. Apa yang kamu lakukan sama dia, membuatnya punya harapan untuk bersamakamu.”

“Tapi aku cuma……” Doni tidak melanjutkan kalimatnya. Dia terlihat bingung akan menjelaskan bagaimana.

“Jadi menurutmu aku jahat sama Citra? Hanya karena aku tidak mencintainya?” Tanya Doni tiba-tiba. “Aku memang selalu baik sama dia, karena dia juga baik sama aku. Dia asik diajak ngobrol, ya nyambung aja aku ngobrolnya. Intinya memang menyenangkan, tapi bukan karena aku mencintainya. Cinta kan nggak bisa dipaksa Sil”. Lanjut Doni.

“Jadi kamu tidak mencintai Citra?” Sisil balik bertanya dan dijawab dengan gelengan kepala Doni.

Sisil menatap mata Doni lekat-lekat, seolah mencari kebenaran di sana.

“Nah kalau aku nggak cinta, tapi berlaku baik sama dia terus aku dianggap PHP? Aku yang salah karena baik? Apa aku harus jahat gitu?”. Doni menjelaskan tanpa diminta. Sisil hanya mendesah, sungguh bukan posisi yang menyenangkan berada diantara keduanya. Doni maupun Citra sama-sama dekat dengannya. Mau menyalahkan siapa? Juga dimana salahnya?

Begitulah yang sering terjadi. Ada banyak sisi yang bisa dilihat, bagaimana itu bisa terjadi,tergantung juga dari sisi mana kita memandangnya. Banyak yang berbicara tentang kasus PHP menilik dari kejadian yang dialami si korban. Atau yang merasa menjadi korban. Tapi, bagaimana bila melihatnya dari sisi yang dianggap pelaku PHP? Karena tidak semuanya itu tepat bila dianggap sebagai orang yang memberi harapan palsu.

Dari cerita tentang Doni dan Citra, yang terjadi di antara mereka sebenarnya hanya sebuah kebiasaan bersama-sama. Saling merasa nyaman berinteraksi. Pertemanan itu sangat menyenangkan bagi keduanya. Tentu saja menjadi tidak nyaman dan menyenangkan bila salah satunya lantas terjebak memakai perasaan lebih atau jadi jatuh cinta. Karena ternyata, sikap welcome dari Doni atas hubungan pertemanan itu ditanggapi berbeda oleh Citra. Begitulah cinta yang kadang datang karena sebuah kebiasaan bersama. Tanpa direncanakan dan diinginkan keduanya, perasaan suka perlahan bisa menjadi cinta. Bila itu dirasakan oleh keduanya, tentu tidak akan menimbulkan masalah pelik. Bisa saja lantas jadian lalu akan menjadi pasangan yang asik dan saling mencintai. Tapi bagaimana bila perasaan itu hanya tumbuh pada salah satu saja? Perasaan sayang dan perhatian sebagai teman, meluluhkan dan bisa membuat jatuh cinta, ini menjadi sangat merepotkan.

Pertemanan yang asik itu, selanjutnya akan kehilangan keasikannya.

Bagaimana tidak? Doni yang masih ingin tetap baik, karena memang Citra sangat menyenangkan untuk dijadikan teman, tentu dia tidak ingin semakin melukai hati Citra, dengan langsung pergi menghindar begitu saja ketika tau bahwa Citra mencintainya, tapi disisi lain, bila Doni tetap bersikap sama, baik itu waktunya yang selalu tersedia buat Citra, atau tetap menjadi pendengar setia ketika Citra butuh teman untuk sekedar berbagi keluh kesah,justru memunculkan rasa kuatir akan semakin menumbuhkan harapan yang besar pada Citra. Serba salah kan?

Jadi, tidak tepat juga kalau kasus seperti Doni ini, lantas Doni dianggap si Pemberi Harapan Palsu ketika Doni memilih untuk mulai menjaga jarak atau sedikit mengurangi intensitas bertemu dengan Citra?

Sebagai sisi orang yang tidak mencintai, Doni merasa tidak memberi harapan apapun kecuali merespon positive pada pertemanan yang terbentuk dengan Citra. Sementara Citra, karena kecewa dan terluka tidak mendapatkan perasaan yang sama lantas merasa kebaikan Doni itu sebagai sebuah harapan yang palsu.

 Di posisi manakah kamu? Sebagai Doni? Atau sebagai Citra?

Bila posisimu sebagai Doni, tidak perlu merasa bersalah ketika harus merenggangkan intensitasmu. Bukan berarti kamu harus lari menjauh bahkan menghindari untuk tidak berteman lagi. Akan lebih menyakitkan, bila kamu menanggapi perasaannya bahkan menikmatinya, sementara tidak pernah ada cinta di hatimu untuknya. Bukankah itu namanya memanfaatkan perasaannya? Jangan memberi ruang sedikitpun untuk membuat perasaannya makin bertumbuh bila tidak ada cinta di hatimu. Tegas dalam bersikap itu lebih penting, untuk menjaga supaya tidak makin melukainya.

Bila posisimu sebagai Citra, ketahuilah bahwa tidak selamanya orang yang selalu ada buatmu itu mencintaimu. Juga tidak selalu terjadi bahwa orang yang selalu membuatmu tersenyum ketika kamu bersedih itu adalah bentuk harapan yang dia berikan padamu. Berbesarlah hati bila pada akhirnya, dengan mengetahui perasaanmu, dia memilih untuk membuat jarak kedekatan denganmu. Karena memang itulah yang seharusnya dia lakukan agar tidak makin melukaimu. Berdamailah dengan diri sendiri untuk bisa menerima kenyataan, bukan lantas menghakiminya sebagaii orang yang sudah memberi harapan palsu padamu.

Memang tidak mudah untuk tetap berteman baik dan masih tetap asyik seperti sebelumnya bila masih ada rasa cinta dihatimu untuknya.

You can never “just be friends” with someone you fell in love with.

Bersyukur Untuk Hari Ini

masakanku hari ini

“Being strong doesn’t always mean you have to fight the battle. True strength is being adult enough to walk away from the nonsense with your head held high”

Aku menemukan kalimat yang pas untuk ‘quote of the day’ di hari pertambahan usiaku hari ini.  Mengapa pas? Karena kalimat itu seperti mengingatkanku pada prinsip yang aku tanamkan pada diriku sendiri sejak 2 tahun belakangan ini. Termasuk sampai dengan hari ini.

Sore tadi, di sela-sela keriuhanku merespons ratusan ucapan dari teman-teman di sosial media, termasuk setelah berkeringat mondar-mandir di kantor menyiapkan makan siang yang sederhana sebagai ucapan syukurku, sempat bercakap-cakap dengan content writer Listeno yang nota bene cewek. Bermula dari keluhannya atas masalah keperempuanan yang mengganggu, dimana aku juga pernah mengalaminya, selain aku menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter yang aku anggap cocok, akupun sharing tentang permasalahan hidup dan bagaimana aku menyikapinya.

Segala macam penyakit dari yang sederhana sampai yang parah, kadang bersumber dari stress atau bahkan depresi. Terutama aku, sangat rentan terhadap masalah psikis. Kalau cuma masalah telat makan atau salah makan atau kurang istirahat, masih tidak terlalu mempengaruhi tubuhku tapi kalau sudah masalah hati dan pikiran, kontan tanpa perlu waktu lama sudah bereaksi cukup dahsyat terhadap tubuhku. Dari yang migren, maag akut sampai yang sepele, bersin dan biduran!

Itu permasalahan dari aku kecil sebenarnya, dulu banget, tiap aku sakit, ibu dan saudara- saudaraku tidak bertanya,”Sakit apa?” tapi pertanyaannya adalah,”Kamu lagi mikir apa?” atau “Kamu lagi punya masalah apa?”.

Sampai masalah paling parah yang menurutku puncak dari segala permasalahan hidupku terjadi
3 tahun yang lalu. Permasalahan bertubi-tubi, yang biasanya aku bisa menyelesaikan satu persatu, kali itu sama sekali tidak bisa terselesaikan, makin banyak dan menumpuk. Bukan masalah-masalah kecil yang bertumpuk lalu jadi besar, tapi masalah yang sudah sangat besar ditambah dengan masalah-masalah besar lainnya. Aku bukan lagi stress, tapi depresi tingkat tinggi. Hanya saja, aku tidak bisa mengutarakannya dengan gamblang kepada orang lain,boro-boro mau curhat, cerita aja nggak bisa. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, ketika masalah itu besar, justru aku tidak bisa bercerita pada siapapun. Kalau aku masih curhat sana-sini, itu malah berarti masalah yang sangat sepele. Kebiasaan itu membuat kepala seperti tertimpa patung gupolo yang gede banget itu, karena selalu berpikir keras mencari penyelesaiannya. Dada menjadi sesak karena memendam semua masalah sendiri, tanpa bisa share ke orang lain. Buatku, masalahku tidak selamanya orang akan mengerti, dan tidak selalu orang bisa membantu menyelesaikannya. Jadi buat apa bercerita? Sungguh sebuah prinsip yang sangat ‘ego’ aku rasa. Tapi begitulah aku, seperti orang yang selalu melihat bahwa aku selalu ceria, penuh tawa dan banyak bicara. Sesungguhnya, bila itu aku lakukan, adalah salah satu caraku untuk tetap merasakan bahagia, tanpa harus curhat kesana kemari memohon belas kasihan. Tapi setiap orang punya cara yang berbeda bukan? Jadi aku tidak juga lantas menyalahkan atau memandang rendah orang yang mampu curhat sama orang lain. Karena aku tidak bisa melakukan itu.

Karena hal inilah, aku sampai jatuh sakit cukup lama, dan sakitku pun tidak ringan. Berobat ke dokter,malah dokternya yang bingung karena aku tidak bisa menjelaskan bagian mana yang sakit. Alhasil, cuma dikasih vitamin dan obat maag besertasaran,”Jangan stress ya bu”. Sudah itu
saja. Akhirnya, dikit demi sedikit aku memampukan diri untuk berdamai dengan semua hal yang membuatku sesak tersebut. Diawali dengan menyingkirkan kemarahan pada banyak hal, banyak orang juga banyak kondisi yang aku anggap tidak ‘bersahabat’ dengan diriku. Dimana sebelumnya, aku menganggap diriku kuat karena bisa ‘bertempur’ dengan mereka yang membuatku marah dan tidak bahagia itu. Ternyata aku salah, karena kekuatan seseorang bisa dilihat dari bagaimana kedewasaannya untuk berdamai dengan diri sendiri dan bisa menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan. 

Kembali ke obrolanku dengan Ayoe tadi, aku mengatakan bahwa, sejak aku menderita sakit yang justru merugikan aku sendiri, aku tidak pernah mau lagi dibuat stress oleh orang lain, juga keadaan. Karena sekecil apapun masalah kalau itu dibuat stres, pasti timbulnya akan ada saja penyakit yang menyertai.

Siapapun pasti tidak ingin stress, tapi kadang, stress itu datang tanpa kita sadari. Mungkin masalah yang kita hadapi itu tidak terlalu besar, dan kita bisa menganggap sepele. Tapi diam-diam, alam bawah sadar kita itu mengendapkan permasalahan itu dan terus tertampung disana. Jadi sebenarnya, masalah itu belum selesai, akhirnya menimbulkan stress yang tidak kita sadari.

Dari semua itu, mulailah dengan menyingkirkan masalah-masalah yang tidak penting untuk dipikirkan. Penting atau tidaknya masalah itu, hanya diri kita sendiri yang tau ukurannya. Kalau misalnya tidak menghasilkan apa-apa yang positip, ngapain juga harus kita pikirkan banget-banget.

Kalau aku, sudah mulai menolak kuat-kuat hal-hal yang sekiranya akan membuatku sakit hati atau kecewa atau tidak menyenangkan. Misalnya, aku paling jengkel kalau janjian sama orang yang tidak serius, alias sering hanya wacana, jadi aku tidak akan pernah mau membuat janji sama mereka. Daripada aku jengkel kan? Kecuali kalau itu ada hubungannya dengan pekerjaan yang mau nggak mau harus membuat janji dengan orang lain, dibuat santai aja mindsetnya. Ketika janjian selalu dibatalkan atau harus bikin agenda ulang, ya tidak masalah, anggep aja itu bagian dari pekerjaan. Gak perlu dibuat jengkel atau pusing. Bikin penyakit aja.

Itu contoh sepelenya, atau ketika mendengar sesuatu yang buruk tentang kita dari orang lain, ya direnungkan aja, bener nggak memang seperti itu, kalau memang tidak ya biarkan orang akan bicara apa, toh tidak mempengaruhi penghasilan kita atau tidak merugikan kita secara finansial. Beda sih kalau yang menganggap buruk kita adalah orang yang menggaji kita, nah perlu diklarifikasi kalau memang tidak seperti itu kejadiannya.

Aku sekarang lebih berpikir simple dalam hal itu, tidak semua orang menyukai kita atau menganggap kita baik. Itu hak mereka, kita tidak bisa memaksa mereka untuk menyukai kita. Begitu juga sebaliknya, selama kita tidak merugikan orang lain, persetan aja orang mau bicara apa tentang kita. Itu aja sih prinsipnya.

Easy going, itu kadang diperlukan. Dengan begitu, kita tidak akan mudah marah dan tersinggung untuk hal-hal sepele.

Nggak perlu jadi orang yang ribet, kalau memang kita tidak bisa mengikuti sebuah ajakan teman karena sedang malas atau enggan, daripada terpaksa ikut hanya karena rasa ‘nggak enak sama temen’ ya gak perlu dipaksakan. Better terus terang aja kalau sedang tidak ingin pergi dengan alasan atau tidak perlu pakai alasan. Karena melakukan hal yang terpaksa itu hanya merugikan diri sendiri. Kalaupun memang terpaksa harus pergi, ya konsistenlah, artinya, keputusan untuk pergi toh kita buat sendiri walau terpaksa, jadi nikmatilah semuanya. Jangan bersungut-sungut yang hanya akan mengganggu mood orang lain.

Selalu bersyukur, ini penting, karena kalau kita tidak pernah bisa bersyukur untuk hal-hal yang sepele, betapa mengerikan hidup kita. Isinya hanya keluhan dan keluhan. Sebagai manusia biasa ya pastilah selalu merasa kurang, tapi kalau itu disikapi dengan selalu mengeluh dan bersungut-sungut, seberapa besar yang kita dapatkan tidak akan membahagiakan juga. Nikmati setiap prosesnya, sekecil apapun yang kita terima tetaplah bersyukur. Memang, sungguh lebih mudah bersyukur ketika kita tercukupi apa yang kita inginkan, tapi mampukah kita bersyukur untuk kondisi terpahit dalam hidup kita? Karena hidup itu selayaknya dinamis, ada cukup ada kurang kadang bahagia kadang sedih, jalani saja dan mengucap syukurlah kita masih diberi hidup dan kekuatan untuk menghadapinya. Bukankah itu hal yang luar biasa yang patut kita syukuri?.

Dan, diatas segala kesulitanku, aku mengucap syukur untuk banyak hal bahkan yang terkecil. Aku bersyukur berada di tempat kerja yang menyenangkan, dengan pekerjaan yang aku sukai. Ngomongin kurang, selalu aja ada kurangnya, tapi tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Lalu, aku bersyukur masih memiliki teman yang banyak, entah itu yang selalu ketemu setiap hari atau hanya bercengkerama di dunia maya. Baik teman yang menyenangkan maupun tidak, semua adalah teman. Bahkan yang tidak menyukai akupun tetap aku anggap sebagai teman. Hak mereka untuk tidak menyukai aku. Juga aku bersyukur masih bisa dibuat marah oleh satu atau dua orang teman, karena itulahromantika berteman. Tidak selalu cocok dan akur. Yang penting (berusaha) untuk tidak merugikan mereka.

Aku bersyukur atas kesehatan walau kadang ada saja yang membuat tidak nyaman, tapi aku masih tetap bersyukur aku sehat. Masih bisa bekerja dan beraktivitas. Semoga selalu sehat. Kalaupun ada kesakitan dalam tubuhku, aku anggap peringatan untukku beristirahat.

Begitupun aku bersyukur bertambah tua hari ini, dengan usia yang tidak lagi muda, masih memiliki energy yang besar untuk berkarya. Tidak memungkiri, kadang ada keluh menyisip dalam hati, seharusnya, di usiaku saat ini, bukan waktuku bekerja keras. Seharusnya begini, seharusnya begitu….
Aaah…..sungguh sebuah pikiran yang meracuni tubuh. Tidak perlu. Karena, kalau sampai di usiaku seperti ini masih bekerja keras, itu karena ‘pilihanku’ di masa lalu. Mengeluh bukan pilihan yang tepat, bahkan aku tidak memberi ruang sedikitpun untuk aku bisa mengeluh. Nggak sempat. Kerja dan kerja. Aku masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan, dan itu sebuah anugerah yang luar biasa, jadi mengapa tidak dipergunakan dengan semestinya.

Terimakasih untuk usia menjelang setengah abad. Juga bersyukur masih terlihat bugar, segar dan cantik *ahahahha puji aja sendiri J*
Itulah kebanggaanku satu-satunya, tua dalam angka, tapi muda dalam keseharian.

Selamat ulang tahun kepada diriku sendiri, mana kado untuk diri sendiri? Aaaahh….aku terlalu mahal merencanakan kado untuk diri sendiri, masih juga berkat belum tercukupi untuk memenuhinya. Tak apalah. Mungkin lain kali. Nabung lagi hehehe

Setidaknya, hari ini aku menghadiahi diri sendiri dengan melaunching music webblog ku yang bertahun-tahun terbengkelai, iniradio.com semoga hadiah ulang tahunku ini bisa berguna buat banyak orang nantinya.

Terimakasih ratusan teman yang sudah mengucapkan dan mendoakan banyak hal baik hari ini. Aku amin-kan semuanya. Semoga Tuhan mendengar 🙂

Akhirnya, terimakasih Tuhana sudah memberiku kesempatan hidup dan berkarya sampai dengan hari ini. Puji Syukur tak terhingga untuk itu.

Syalom,

~jeci~

AMDI – Labelers dan National Radio Day

AMDI – Labelers dan National Radio Day

Kepada teman-temanku Music Director dan Labelers, selamat bersukaria dalam kemeriahan agenda tahunan National Radio Day yang ke-10. Hanya tulisan ini yang bisa aku persembahkan buat kalian, mewakili ketidakhadiranku bersama kalian saat ini.

Seharian dari siang sampe malem ini tumben-tumbennya aku tidak membuka akun path ku, biasanya walau nggak posting apa-apa, tapi selalu nyempetin scroll-scroll timeline. Sekedar melihat update temen-temenku disana. Tapi hari ini, selain kebetulan ada pekerjaan yang bikin aku bisa fokus gak kepikiran pengen buka path, juga karena sedang tidak ingin lihat postingan sebagian teman-temanku yang MD maupun label sedang bersukaria di Puncak!!

Hari ini, adalah hari diselenggarakannya NRD atau National Radio Day yang ke 10. Kesedihan mendalam aku rasakan, karena selama berlangsung 10 kali, baru inilah aku tidak menghadiri.

Ya, inilah alasan utamaku. Naif? Lebay? Emang!! Terserahlah apa mau disebutnya, tapi memang begitulah adanya. Walau tetap ada juga yang bilang, ngapain mesti sedih, atau ah cuma gitu doang atau gittu amat sih atau juga kenapa harus begitu biasa ajalah dan blablabla yang lain.

Orang boleh punya rasa yang berbeda dong ya dalam merespon sesuatu? Kalau sebagian merespon secara biasa saja, ya nggak papa juga. Bebaaas. Toh tidak akan ada juga yang menghakimi. Seperti halnya aku, yang tidak bisa menjawab dengan tepat setiap ada pertanyaan,”Kenapa harus sedih hanya karena nggak ikut NRD?”.
Benar. Aku tidak tau harus menjawab bagaimana, atau apa alasannya.

“Kadang kesedihan itu tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan”

Okay, sekarang kilas balik dulu aku pengen ngobrolin panjang lebar tentang NRD.

Apa sih National Radio Day itu.

Music Director radio di Indonesia punya komunitas yang bernama AMDI, Asosiasi Music Director Indonesia. Nah AMDI yang mewadahi para Music Director se Indonesia raya itu setiap tahun punya ‘Pesta Besar’. Pesta disini bukan hingar bingar sekedar makan minum tanpa konsep ya, tapi kata ‘pesta’ disitu aku anggap mewakili sebuah kemeriahan.
Ada kemeriahan dalam rangka berkumpulnya MD seluruh Indonesia (terutama yang sudah menjadi anggota AMDI) baik yang sudah kenal lama, atau yang baru bertemu saat itu, dan juga bertemunya para MD ini dengan penggiat music di Indonesia, dalam hal ini adalah Label Recording atau Management Artis. Gathering akbar yang diadakan setahun sekali itulah yang kita namakan National Radio Day, dan tahun ini sudah diadakan yang ke 10 kalinya.

Ketika menjabat sebagai Music Director sebuah radio, sku adalah salah satu dari MD yang aktif di AMDI, otomatis akupun tidak pernah melewatkan sekalipun silaturahmu akbar tersebut. Bahkan aku akan dengan senang hati membantu para panitia dalammelancarkan acara tersebut. Walau biasanya aku lebih banyak jadi tim penggembira alias memeriahkan suasana alias teriak-teriak biar rame hehhehe *aaaaaaaaahhh pastii ada yang bilang, teriak-teriak apa marah-marah mam??* hahhaha iyaaa…iyaaa….bukan marah wooy…cuma ngomel-ngomel doang hihihi tapi ngomel dengan sayang lhooo…

Sudah! Balik ke topic.

Kebiasaannya, gathering akbar ini diselenggarakan antara bulan Maret dan April, bisa akhir Maret atau awal April. Tergantung kondisi, tapi tidak pernah lewat dari bulan-bulan itu. Inipun ada sejarahnya, dulu, selalu dibuat di bulan Maret karena sengaja dibuat pas dengan jadwal Java Jazz, event Jazz yang besar itu agar memudahkan para MD untuk sekalian nonton event tersebut. Dulu, biasanya selalu dibuat beberapa hari sebelum event Java Jazz yang diadakan selalu di hari Jumat sampai Minggu. Jadilah NRD dibuat Rabu dan Kamis, sehingga teman-teman MD luar kota atau luar Jakarta yang berniat nonton Java Jazz bisa datang sekalian untuk NRD. Seingetku, memang dulu banyak banget MD luar Jakarta yang tidak pernah absen nonton Java Jazz, sehingga dengan settingan waktu yang dibuat demikian akan lebih efektif buat para MD datang ke Jakarta. Tidak harus bolak balik, repot kan booo….udahlah tiket pulang pergi mahal, belum tentu dapet ijin dari kantor pula kalau keseringan pergi dalam waktu berdekatan.
Begitulah awalnya, sampai kemudian beberapa tahun kesini, walau sudah tidak lagi mengikuti agenda event Java Jazz, tapi tetap dilakukan pada bulan yang sama.

Apa sih yang dilakukan selama NRD??

Setiap tahun selalu punya konsep yang berbeda, pun makin kesini makin lebih baik. Berisi dan terkonsep rapih. Baik itu dari panitia MD maupun panitia Label yang berada dibawah perkumpulan bernama Labelers. Oya, nama Labelers ini belum lama terbentuk, baru beberapa tahun terakhir ini, 2 atau 3 tahun yang lalu sepertinya. Aku melihatnya bukan untuk mengkotak-kotakkan Label, tapi lebih menyamakan visi misi untuk makin membuat semarak Industri Musik Indonesia. Senang lihatnya, beda label, beda artis, tapi bisa kompak maju bareng. Meski berbeda-beda konsepnya setiap tahun, tapi esensinya selalu sama, ada musik, ada workshop dan ada keriaan.

Seperti apa acaranya?

Acara inti selalu dibuat 2 hari, Rabu dan Kamis.

Hari pertama kusus acara intern MD, dari dan untuk MD.
amdi nrd 2016
Music Director Indonesia yang hadir di NRD2016

Content acaranya pun berwarna, tentu tidak melupakan sesi penting yaitu diskusi dengan tema kusus yang berbeda setiap tahunnya. Dalam sesi ini, selalu menghadirkan nara sumber, entah itu dari MD sendiri yang expert atas tema itu, atau bisa saja praktisi dari luar, tergantung dari tema itu sendiri.
Misalnya saja, pernah hadir petinggi-petinggi label untuk menjadi nara sumber tentang Industri musik. Atau senior-senior MD yang sudah beralih menekuni dunia Music digital. Intinya adalah, apa yang didiskusikan tersebut berguna untuk menambah pengetahuan MD.
Diantara sesi yang serius tersebut, selalu diselipkan penampilan artis-artis penyanyi baik solo maupun band yang sudah sangat populer. Persembahan dari Label yang mendukung acara NRD tersebut. Genrenya pun tidak semua pop, mengingat MD yang datang berasal dari radio yang berbeda-beda segmen, bahkan ada pula yang dari radio bersegmen dangdut. Jadi tentu saja, ada penyanyi dangdut yang pada saat terselenggaranya NRD tersebut sedang naik daun. Dari penampilan penyanyi-penyanyi ini, bisa dilihat betapa bersatunya para MD yang kesehariannya tenggelam dalam format musik yang berbeda-beda tersebut.

Benar adanya bila ada sebuah pernyataan bahwa musik itu mempersatukan.

Itu bisa dilihat dari para MD yang membaur, semua menikmati apapun musik yang disajikan. Bahkan ikut larut didalamnya, tidak terkecuali para MD yang setiap harinya sama sekali tidak pernah mendengarkan lagu dangdut karena format musik di radionya adalah pop, bisa tiba-tiba bergoyang sangat heboh mengikuti irama lagu dangdut yang sedang dibawakan penyanyinya. Semua yang ada disitu larut dalam musik. Apapun musik yang ditawarkan.

Itu sebagian acara inti di hari pertama. Capek? Banget tapi bahagia. Aku selalu mengatakan satu hal kepada para MD yang baru sekali ikutan NRD,”Sebelum berangkat NRD, persiapkan energy kalian, karena selama NRD acara selalu padat hanya menyisakan beberapa jam di malam hari untuk istirahat sebelum melanjutkan kegiatan di hari kedua yang juga tidak kalah padat. Jadi tidak ada yang boleh mengeluh capek”. Aku galak ya. Iya 😦

Tapi memang begitulah yang selalu terjadi, tapi jangan kuatir, sepertinya kebahagian selama mengikuti acara sangat mampu membayar semua kelelahan itu. Bahkan sepertinya, lupa akan rasa lelah, gimana enggak? Bahkan setelah acara selesaipun, masih banyak para MD yang berkerumun, bergerombol ngobrol bahkan kalau nggak diteriakin suruh istirahat pada bandel gak segera tidur. Nah inilah bagianku, ngomelin temen-temen MD yang sudah lewat dini hari masih belum juga istirahat padahal besoknya masih harus bangun pagi-pagi untuk mengikuti agenda hari kedua.

Hari kedua, bersilaturahmi dengan Label/Management Artist.
Labelers NRD2016
Panitia Labelers NRD2016

Agenda dihari kedua diambil alih oleh panitia dari Labelers, karena hari kedua ini memang dikususkan untuk ajaang silaturahmi antara MD dan label atau management artis. Banyak acara seru yang sudah dirancang oleh panitia Labelers, dan selalu berbeda setiap tahunnya. Tidak ada yang serius-serius, karena niatnya memang untuk bersilaturahmi, jadi kalau mau bertemu langsung, ngobrol langsung ya sekarang itulah waktunya. Karena bisa jadi, ada teman-teman MD terutama yang jauh dari luar Jakarta berinteraksi dengan label hanya melalui email, chat atau telpon dan sms. Hari kedua inilah agenda yang disediakan untuk bercengkerama akrab-akraban.
Labelers juga tidak mau kalah dengan panitia MD, juga memberi acara yang luar biasa meriah, entah itu hadiah-hadiah game atau penampilan para artis mereka. Belum lagi ditambah makan dan minum sepuasnya.

Di sesi ini, kadang aku lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman label, ngobrol bercanda kangen-kangenan daripada menikmati penampilan para artis. Bukan tidak mau menikmati atau menyepelekan, tapi rasanya tidak cukup waktu sehari untuk ngobrol satu persatu dengan teman-teman label itu. Dan ini cuma setahun sekali bisa bertemu semuanya di satu tempat. Jadi aku tidak melewatkan begitu saja, walau tetap masih bisa menikmati semua acara yang sudah dibuat teman-teman label.

Dimana tempatnya? Apakah harus di Jakarta?

Setiap tahun bisa saja berbeda tempat, minimal dalam penyelenggaraannya walau mungkin seringnya di Jakarta tapi bisa di tempat yang berbeda-beda. Bahkan beberapa kali diadakan di Jakarta dan Bandung. Sempet juga loh sekali dibuat di Jogja, wah itu moment terindahku sebagai ketua NRD2013 lalu. Tapi memang, paling sering di Jakarta, mengingat beberapa hal yang jadi alasan kuat, terutama karena kebanyakan label dan management artist berposisi di Jakarta. Melipir sedikit, sempat dibuat di Ancol, tahun 2015 lalu di Cibubur, dan tahun ini di Puncak. Ini keduakalinya NRD diselenggarakan di Puncak yang dingin itu. Tahun depan dimana ya? Siapa tau di Bali? Atau di Surabaya? Siapa tau kan, dengan catatan, kalau memungkinkan hehehe

Apa sih manfaat dari NRD? Cuma kumpul-kumpul dan hura-hura??

Tentunya tidak sesederhana itu. Kami berkumpul setahun sekali bukan tanpa alasan dan tanpa manfaat. Bicara soal keuntungan dan manfaat, banyaaak sekali.
Iya banyak yang didapatkan baik itu oleh MD maupun label.
Untuk MD.
Manfaat yang didapat adalah mendapat pengetahuan baru, bisa dari workshop yang diadakan atau saling sharing dengan teman-teman MD yang lain. Ini bukan saja menambah ilmu, tapi juga teman baru.

Kalau ingin mengukur seberapa besar kemampuan kita, cobalah keluar sebentar dari tempat biasanya kamu berada, dan bertemulah dengan banyak orang dengan profesi yang sama. Dari situlah kamu akan tahu bahwa ternyata,”Masih banyak hal yang harus aku pelajari”.

Selain itu, mempererat hubungan baik dengan para label. Ini penting, salah satunya supaya MD tidak ketinggalan materi-materi baru, masak MD mau download bajakan sih diketawain bekicot loh :)))

Jadikan ajang silaturahmi itu untuk saling memperkenalkan diri, terutama buat temen-temen MD baru atau yang baru ikutan NRD. Dengan begitu, MD juga membawa nama radionya. Ingat, setiap MD yang hadir di NRD bukan membawa namanya sendiri tapi ada logo intansi dikepala masing-masing. Hadir dalam agenda NRD bukan untuk kepentingan MD sendiri tapi untuk membesarkan nama Radio masing-masing. Pulang dari NRD, bawa semangat baru, dan aplikasikan ilmu yang didapat sesuaikan dengan segmen radio masing-masing.

Untuk Label/Management Artist

NRD tentu bermanfaat untuk mengenal MD dari berbagai kota yang belum pernah bertemu atau bahkan belum pernah berinteraksi sama sekali. Ini penting, karena dengan mengenal baik para MD, materi-materi kalian bisa sampai di tangan orang yang tepat. Selama materi itu sesuai dengan segmen radio, pastilah masuk playlist. Dengan agenda silaturahmi itu, para label bisa langsung bertanya soal materi-materi mereka kepada para MD. Apapun bisa disampaikan, bahkan bila itu berupa keluhan sekalipun. Kata pepatah lama “Tak kenal maka tak sayang”.

Itu hanya beberapa point penting yang dihasilkan dari agenda setahun sekali yang bernama National Radio Day ini.
Selebihnya?? Saking banyaknya, aku cuma bisa bilang “Tak terkatakan” hehhehe

Aku ingin menulis sedetail-detailnya tentang NRD ini. Lain waktu saja ya. Siapa tau nanti hadirnya bukan lewat blog tapi dalam berbentuk BUKU *tolong di-Amin-in yuuk hahahha

Aaaah…..keasikan bercerita soal NRD, jadi sedikit tersisih rasa sedihku. Betapa inginnya aku berada diantara mereka, bersukaria bersama, aku rindu kebersamaan itu. Dan aku betul-betul sedih tidak lagi bersama mereka saat ini 😦

Kelebayanku ini bisa jadi karena aku mengklaim diriku sendiri sebagai orang yang setia pada profesi dimana aku dibesarkan. Music Director sudah berurat berakar dalam darahku. Kalau orang radio bilang, darah R itu sudah demikian kental mengalir dalam tubuhku.

Kalau saat ini aku sedang tidak eksis sebagai MD radio manapun, bukan berarti aku betul-betul lepas dari profesi tersebut. Masih ada yang aku lakukan dengan membuat playlist untuk orang lain, meski itu bukan sebuah playlist radio. Selain itu, aku masih membuka diri kepada pelaku music untuk sekedar sharing atau ngobrol tentang bagaimana sebaiknya sebuah materi baru itu diperlakukan. Sampai saat ini, masih banyak teman-teman musisi atau management artis yang meluangkan waktu hanya sekedar ngobrol tentang materi-materi baru mereka.

Music Director dan Music, sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Begitu pula denganku, sampai kapanpun, aku tidak bisa lepas begitu saja dari sebuah profesi yang bernama MUSIC DIRECTOR!

Selamat merayakan ‘pesta tahunan MD’ National Radio Day yang ke-10 teman-temanku. Meski aku tidak bersama kalian, tapi aku menyimpan keharuan tersendiri. Semoga kedepannya Music Director dan Label/Management Artist tetap kompak dan saling support untuk sebuah tujuan: MEMAJUKAN MUSIC INDONESIA!!

Hidup Musik Indonesia \o/

Salam

~jeci~

Ribut Terus? Udah Bener Belum Cara Berkomunikasinya?

Masalah komunikasi terbesar adalah kita tidak mendengarkan untuk memahami tapi kita mendengarkan untuk membalas dengan segala asumsi sendiri dan pandangan yang berbeda. Padahal asumsi dan kurangnya komunikasi itu adalah pembunuh nomer satu dari sebuah hubungan.

Apapun bentuk hubungannya, entah itu hubungan cinta atau pekerjaan, yang namanya relationship itu tidak akan pernah lepas dengan yang namanya komunikasi. Komunikasi berperan penting menentukan keberhasilan dari hubungan tersebut. Yang pengen aku bahas sekarang ini tentang komunikasi dalam sebuah hubungan cinta, terutama untuk sepasang kekasih yang sering terlibat pertengkaran hanya karena masalah komunikasi. Bukan seberapa banyak jalinan komunikasinya, tapi seperti apa bentuk komunikasinya.

Bagaimana hubungan cinta seseorang akan berhasil bila tidak adanya jalinan komunikasi yang baik diantara keduanya? Tidak bisa aku bayangkan,seandainya ada hubungan yang salah satunya sulit diajak komunikasi atau bahkan jarang berinteraksi. Hubungan macam apa itu? Aneh menurutku, sebesar apapun cinta di antara keduanya,tanpa komunikasi atau interaksi sama dengan NOTHING!!

Mungkin kalian berpikir bahwa, mana ada hubungan seperti itu, yang namanya orang pacaran itu pastilah berkomunikasi.

Oh iya. Itu benar, tapi komunikasi macam apa dulu itu. Aku beberapa kali mendengar keluh kesah dari yang curhat sama aku, tentang komunikasi ini. Ternyata, banyak juga diantara pasangan-pasangan yang begitu sulitnya berkomunikasi.

Bahkan 9 dari 10 pertengkaran  bisa dipastikan alasannya hanya karena komunikasi yang salah. Tidak nyambung. Yang satu inginnya apa, ditanggapi dengan salah oleh lainnya. Alhasil perdebatan itu berujung pada pertengkaran. Semua hanya karena cara berkomunikasinya yang tidak tepat. Ditambah lagi dengan salah satunya mengabaikan pola komunikasi yang intens. Artinya, kadang tidak terpikir akan untuk mengkomunikasikannya karena dianggap tidak penting. Masalah penting dan tidak inilah kadang memicu perdebatan. Tidak penting menurut satu pihak, tapi bisa jadi sangat penting untuk pihak yang lain.

Contoh sepele.

“Aku udah mau balik dari kantor nih”

“Okay. Take care yak”

Beberapa jam kemudian.

“Kamu udah di rumah? Aku otw kerumahmu”

“Ya belumlah, kan aku sekalian ke cafe A ketemuan sama temenku”

“Loh kok nggak bilang?”

“Udah bilang kaliiii…..kan kemaren aku bilang kalau hari ini mau nongkrong sama temen”

“Iya memang. Tapi kok pas pulang tadi gak bilang”

“Ya aku pikir kamu udah tau, jadi ga kepikiran juga mau ngasih tau lagi”

“Apa susahnya sih Cuma ngasih tau kalau mau langsung kesitu”.

“Duh..gitu aja kok malah jadi ribet sih”.

“Bukannya ribet, tapi kalau misalnya kamu tadi bilang, kan aku langsung nyusulin kamu. Nah sekarang posisinya aku udah hampir deket rumahmu. Kan jauh lagi kalau mau balik ke situ”

“Ya udah sih, nggak perlu kesini kan gak papa. Aku bisa pulang sendiri kok”

“Astaga kamu ini! Aku tau kamu bisa pulang sendiri. Tapi bukan itu yang aku permasalahkan?”

“Lah terus apa? Kan tadi kamu sendiri yang ngeluh karena jauh mau ke cafe ini. Gimana sih”.

“Iya memang. Maksudku, kalau tadi kamu bilang kan gak sampe kayak gini”

“Aku udah pamit loh ya tadi. Kemaren juga udah ijin mau nongkrong sama temen-temen. Terus aku lagi ini yang salah?”

“Kamu kebiasaan selalu begitu. Menyepelekan hal-hal kecil”.

“Ya ampuuun…..kok jadi panjang ya pake nyalahin kebiasaanku segala”.

“Memang kamu selalu begitu kan? Padahal aku sudah sering mengingatkan soal komunikasi dari hal-hal yang sepele. Masih aja kamu lakuin”.

“Gila ya. Masalah sepele aja jadi ribut gini”.

“Sepele? Jadi menurutmu ini masalah sepele? Itulah kamu, semuanya dianggap sepele. Bahkan sampe menyepelekan bagaimana menghargai orang lain”.

“Cuma masalah aku lupa nggak ngabarin kamu kalau langsung ke sini doang langsung kamu anggap aku nggak menghargai kamu. Ya nggak gitu juga dong. Aku kan sudah ijin kemaren, semuanya harus pake ijin katamu. Itu sudah aku lakukan. Masih aja salah”.

“Ini bukan soal ijin!”.

Blaaar…….

Panjang. Iya. Perdebatan itu menjadi sebuah pertengkaran, lalu jadi panjang dan lebar kemana-mana. Dan itu semua hanya masalah kecil sebenarnya, tidak terbiasa menyampaikan hal-hal yang terlihat sepele. Itu saja. Apakah hanya salah satu yang salah? Menurutku, keduanya salah. Mengapa begitu?

Begini.

Dari contoh kasus tersebut, semua bermula dari sama-sama lupa. Yang satu lupa ngasih tau bahwa dari kantor langsung ke tempat nongkrong. Yang satunya juga lupa kalau sore itu kekasihnya ada agenda nongkrong dengan teman-temannya. Kalau saja kekasihnya dari awal sudah menyampaikan, simple saja misalnya,”Aku sekalian ke tempat nongkrong nanti sebelum pulang”, tentu saja pertengkaran itu tidak akan terjadi, karena sang kekasih akan langsung menjemput kekasihnya di tempat nongkrong tidak langsung ke rumahnya. Hanya karena mis komunikasi sederhana, kejutan yang sudah dipersiapkan sang kekasih buyar seketika. Bisa saja dia berencana langsung ke rumah kekasihnya untuk memberi kejutan dengan hati berbunga-bunga. Drop langsung hanya karena masalah komunikasi. Sepertinya kesalahan terjadi pada kekasih yang tidak memberitahu lebih dulu. Tapi selanjutnya, sang kekasih juga menjadi salah karena, memperpanjang masalah itu tidak pada tempatnya. Itu karena kejengkelan hatinya, atau buyar suasana hatinya karena kejutan yang akan dia berikan gagal. Emosi. Terpancing emosi sehingga tidak lagi bisa berpikir jernih untuk segera mencari solusi, yang ada membahas masalah itu sampai panjang. Padahal, kondisi seperti itu, bila saja ditanggapi dengan sedikit santai walau jengkel setengah mati, bisa segera mencari solusi. Misalnya dengan cara begini:

“Oh iya ya aku kok lupa kalau kamu mau nongkrong sama teman-temanmu. Masih lamakah?

Yang disana tentu akan merespon dengan asik juga.

“Aaaah aku juga lupa tadi nggak ngasih tau dulu kalau langsung kesini. Maaf ya. Mungkin sejam lagi aku udah bisa pulang kok”

Secara otomatis tanpa disuruh, sang kekasih akan langsung minta maaf atas kekeliruannya. Dan ini lebih menyejukkan hati. Dibanding dengan langsung memberondong dengan segala macam tuduhan dan kekesalan. Selanjutnya bisa membuat agenda yang lain.

“Ya sudah kalau gitu nanti ngabarin aja kalau udah mau pulang. Aku mau mampir ke mal deket rumahmu sekalian cari sesuatu”.

Case close. Tidak ada perdebatan, tidak ada pertengkaran. Tapi hal sepele tersebut bukan berarti lantas diabaikan. Bisa menjadi topik pembicaraan kalau sudah bertemu dalam suasana enak, dan dibahas secara baik-baik. Tentu hasilnya akan berbeda dengan yang pertama.

Jadi sebenarnya, kunci utama bisa membentuk komunikasi yang baik adalah, bagaimana kita merespon permasalahan itu. 

Selain masalah komunikasi yang tidak tepat dalam sebuah kasus. Bisa juga sebuah hubungan akan menjadi berkurang chemistrynya ketika intensitas tidak terjaga. Setiap orang mungkin punya prinsip yang berbeda dalam sebuah hubungan, salah satunya mungkin berprinsip tanpa rutinitas percakapan selama masih bisa menciptakan kenyamanan diantara keduanya itulah cinta.

Well….lantas aku berpikir, bagaimana bisa ada kenyamanan bila tanpa interaksi yang intens? Apa yang didapat ketika bersama-sama tapi tanpa obrolan? Satu hal yang aku pahami adalah,“Rasa cinta itu perlu dipelihara, bukan cuma sekedar ditanam lalu tumbuh dengan sendirinya, dan sarana untuk memelihara rasa itu dengan sebuah interaksi”.  Tanpa adanya komunikasi/interaksi rasa cinta yang sudah ada itu bisa menguap dengan sendirinya.

Suatu kali seorang teman mengatakan kalau dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Aku sempat heran, karena aku mengenal siapa yang membuatnya jatuh cinta. Aku hanya bertanya,”Kok bisa? Bukannya selama ini kalian sekedar saling sapa kalau bertemu? Kalian sudah lama kan kenalnya? Kok nggak dari dulu jatuh cintanya?” Semburan pertanyaan itu dia jawab dengan sebuah kalimat sederhana,”Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya kami jadi sering berinteraksi”. Sudah begitu saja.  Interaksi disini bukan dalam bentuk pertemuan demi pertemuan, tapi komunikasi. Mereka selalu berkomunikasi dalam bentuk apapun, bahkan kadang obrolan sederhana tanpa makna dalam. Dan komunikasi itu dilakukan oleh kedua pihak, bukan salah satu saja yang selalu memulai komunikasi. Begitulah, bahkan sebuah komunikasi yang sederhana mampu membuat seseorang saling merasa nyaman dan jatuh cinta.

Aku bukan mau menghakimi bahwa tidak berkomunikasi itu adalah sebuah kesalahan….tapi coba dipikirkan deh,pasti hampir semua kesel ketika chat maupun sms terabaikan. Yang Cuma sekedar teman saja bisa kesel, apalagi kalau itu adalah pacar. Kalau makin lama komunikasi itu makin berkurang, atau hanya salah satu pihak yang selalu berinisiatif memulai, bisa dijamin sudah terjadi perasaan yang berbeda diantaranya.

Hal yang sederhana sebagai bentuk dari menghargai orang lain adalah membalas atau merespon pesan-pesannya. Simplenya gini deh, ketika orang mengirim pesan buat kita, prosesnya adalah : memikirkan, mencari nama yang akan dihubungi, dua hal itu saja bisa dikatakan ada niat. Ga mungkin menghubungi seseorang tanpa memikirkannya lebih dulu. Sederhana kan? Masihkah komunikasi menjadi salah satu yang penting buatmu?

KOMUNIKASI adalah bentuk menghargai orang lain. Belajar mendengar, mempelajari dan memahami seperti apa orang yang kita ajak berkomunikasi. 

Mari menyelesaikan masalah dengan memperbaiki cara BERKOMUNIKASI.

Syalom

~jeci~

Mencintai Orang Yang Sudah Punya Pasangan Itu Nggak Salah.

Iya memang nggak salah. Yang namanya cinta itu kadang datang dengan sangat tidak sopan dan tidak tau diri memang.

 

   Dilarang tak bisa, dipaksapun apalagi, makin tidak bisa. Munculnya pun kadang tidak tepat. Tidak tepat waktu, juga tidak tepat kepada siapa. Begitupun perasaan cinta terhadap seseorang yang sudah punya pasangan. Pasangan resmi pula. Salah? Tentu tidak. Sah-sah aja, namanya juga jatuh cinta.

Tapi, akan menjadi salah dan masalah bisa perasaan itu bukan saja terus dipelihara tapi diwujudkan.

Bagaimana bisa lantas diwujudkan? Mengapa tidak?

Cinta itu bisa lantas terwujud bila mendapat respon positive dari yang bersangkutan.

   Awalnya sekedar jatuh suka atau simpatik, tidak terlalu menjadi pikiran sebelum ada sinyal positive. Ibarat kata, gayungpun bersambut. Senyum terbalas, percakapan-percakapan kecil mulai tercipta. Hasilnya adalah, perasaan yang semula sekedar terpesona meningkat jadi jatuh cinta.

   Selanjutnya, cinta itu makin berkembang ketika peluang terbuka lebar. Peluang? Iya. Peluang selalu bersama. Entah itu selalu bertemu di kantor yang sama, atau dalam sebuah pekerjaan yang sama, atau bahkan aktivitas dalam circle yang sama. Biasanya, situasi yang seperti itulah yang memicu ‘perasaan terlarang’ itu muncul bahkan berkembang.

  Hal-hal sederhana yang bisa menciptakan semua itu misalnya saja tentang intensitas komunikasi, perhatian, kasih sayang atau….

Perhatian.

   Perhatian yang seperti apa? Sekedar greeting pagi, siang,malam? Mungkin lebih dari itu, setidaknya ketika sedang penat oleh banyak pekerjaan atau masalah, ada teman diskusi yang nyaman, cocok dan tentu menyenangkan. Pastinya begitu, saling mempunyai rasa kan? Mencuri waktu dikala padat pekerjaan, tentu ini akan menjadi saat yang menyenangkan. Walau hanya sekedar berbincang-bincang di sudut salah satu cafe dengan secangkir kopi barangkali. Waktu senggang di hari kerja jadi bisa sangat berkualitas dan dinanti.

Kasih Sayang.

   Kadang, bentuk kasih sayangnya bukan sentuhan fisik yang menjadi pilihan utama, tapi kedekatan secara emosional. Memberi prioritas waktu untuk sebuah pertemuan. Entah itu hanya sekedar berbincang-bincang, atau hang out bareng. Nonton misalnya. Apalagi bila punya kesenangan yang sama, sama-sama senang nonton. Lalu memperbincangkan hal-hal menarik dari film yang barusan ditonton. Tentu ini menjadi moment paling berkesan untuk keduanya. Yah intinya, ketika sedang butuh teman untuk hang out, si dia selalu bersedia menemani, atau meluangkan waktu disela padat aktivitasnya.

Rutinitas

  Seberapa intens komunikasi yang terjadi? Dari masalah ringan sampai berat menjadi topik pembicaraan, baik dalam agenda pertemuan atau cuma sekedar chat messanger. Tidak harus ada ungkapan sayang di dalamnya. Karena hubungan orang yang sudah dewasa kerap kali tidak butuh ucapan yang terdengar basi seperti itu. Bahkan, bisa saja yang menjadi topik pembicaraan adalah keseruan bersama buah hatinya. Apapun itu, bisa menjadi alasan untuk sebuah percakapan.

Berawal dari urusan lidah dan perut.

   Dari yang sering terjadi disekitarku, hubungan itu semua bermula dari datang ke tempat undangan makan bersama, karena kebetulan itu undangan dari teman di circle yang sama. Lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan makan bareng,entah sekedar sarapan soto atau setiap pulang kerja hunting tempat makan. Kemana-mana selalu bersama, dari yang sekedar mencoba menu baru di sebuah tempat makan,sampai akhirnya menjadi partner tetap hunting tempat makan. Kebetulan, sama-sama doyan makan dan mencoba tempat makan baru. Akhirnya, disetiap agenda hangout bersama teman-temanpun, jadi otomatis datang barengan. Sesederhana itu semuanya berawal.

   Hak masing-masing sih kalau mau meneruskan ‘saling suka’ itu, kadang kalau lagi nyaman dalam kondisi seperti itu juga pada gak bisa di nasehatin kan. Malah ujung-ujungnya kita yang ngasih nasehat dibilang sok ikut campur urusan orang. Tragisnya, ada juga yang berbalik menyerang, menjauhi atau memusuhi yang nasehatin sebagai bentuk pertahanan diri.

   Cuma mau ngasih tau aja, kalau ada diantara kamu terjebak situasi seperti itu. Sedikit saran kalau masih mau ‘main cantik’ dan nggak pengen terjerembab sakit hati hehehehe. Beberapa hal yang seharusnya diingat dan dipersiapkan.

Apa sih yang bisa diharapkan? Mau berharap apa??

   Intinya adalah, jangan terlalu banyak berharap pada seseorang yang sudah memiliki pasangan resmi. Karena sebesar apapun cintamu, tidak akan pernah menjadi pasanganmu yang sebenarnya. Ada saatnya perasaan itu harus berhenti karena sebuah kondisi dimana dia harus kembali pada keluarganya dan tidak memiliki waktu lagi bersamamu. Persiapkan hatimu untuk kondisi itu, yang pasti akan terjadi.

   Yakin tidak akan cemburu dengan keharmonisan keluarganya? Pertanyakan pada hatimu, sekecil apapun, pasti ada rasa cemburu yang menyelinap dalam hatimu. Mungkin kamu bisa saja dengan arogan bilang,”Ngapain aku cemburu?” Lalu, siapkah hatimu ketika sampai pada saatnya kamu harus mengatakan,”Aku tuh siapa sih buat dia? Bukan siapa-siapanya”. Periiih tsaay…..

   Siapkah hatimu bila sewaktu-waktu harus dikesampingkan karena dia memilih bersama keluarganya daripada kamu? Pada awal-awal hubungan itu tercipta, semuanya masih terasa indah. Dimana kamu masih menikmati indahnya diprioritaskan.

Berharap untuk tetap di perhatikan? Jangan lebay deh. Jelas itu besar kemungkinan tidak terjadi. Karena ada yang lebih besar untuk dia perhatikan. Keluarganya.

Berharap untuk tetap disayang? seberapa besar dia bisa berikan itu? seberapa lama dia bisa bertahan melakukan itu??? tidak akan lama……

Syarat dasar berani mengambil keputusan menjalani status seperti itu adalah, kamu sudah memegang sebuah komitmen dalam dirimu sendiri bahwa kamu siap selalu cemburu,siap sewaktu-waktu di kesampingkan,bahkan juga siap sewaktu-waktu ditinggalkan.

   Jadi, apa yang harus ditangisi bila tiba masanya kamu ditinggalkan? Bukankah dari awal sudah tau kondisinya, dan tetap meneruskan rasa jatuh cinta itu. Yang semula hanya nyaman berteman, ujung-ujungnya pakai hati juga.

Bahagia yang kamu dapatkan hanya semu, sesungguhnya, kamu tidak benar-benar bahagia. Hanya merasa bahagia.

Karena, tidak ada yang bisa kamu harapkan lebih dari dia, pahami posisimu, sadari kekuatanmu. Tak ada yang layak untuk dipertahankan dan diperjuangkan.

Masih tetap berdalih bahwa kalian hanya ‘berteman dekat?’ sebagai dalih pembenaran atas hubungan itu? Ataukah hanya untuk menghibur diri sendiri?

Trust me,

“You can never ‘just be friends’ with someone you fell in love with”.

 

Masih Mau Meratapi Mantan Nih??

Air mata yang sia-sia adalah ketika air mata itu jatuh untuk seseorang yang tidak lagi mencintai kita.

 

Salah satu yang bisa didapat dari sosial media adalah bisa tau apa yang terjadi dengan seseorang. Apalagi kalau dia cukup eksis atau nyampah dengan mengupdate setiap apa yang dirasakannya atau apa yang terjadi.
Begitulah yang sering aku tangkap. Menangkap kenyataan dari beberapa orang yang masih terjebak kegalauan atas mantan.
Mantan?? Masih aja trend ya membahas soal mantan. Dan selalu saja ramai kalau sudah bicara tentang mantan hohoho

Segitu susahnya ya melupakan mantan?
Yaiyalah susah, gimana enggak, orang tiap hari kegiatanya kepoin mantan sih. Stalking sana sini, cari tau sana sini, dan selalu demen kalau ada yang cerita abis ketemu si mantan. Senggol curhat deh jadinya.

Seharusnya ada tips pantangan untuk yang ingin melupakan mantan. Itu kalau memang ingin melupakan sih. Kebanyakan malah menikmati kenangan mantan walau perih pedih rasanya hahahha

Gini lo,

Kalau memang pernah sangat disakiti oleh mantan, mbok jangan menyakiti diri sendiri dengan kepo sosmednya mantan. Senggang sedikit, langsung buka akun twitternya, liat seru-seruan si mantan sama temen-temennya, langsung nyeri hati. Apalagi kalau ada conversation si mantan dengan gebetan barunya atau bahkan pasangan barunya. Ujung-ujungnya, tutup akun si mantan dengan derai air mata.
Belum lagi kalau si mantan punya akun IG, nggak di gembok pula, gampang banget buat kepoin. Buka-buka dehh gallerynya. Senyum-senyum pas yang dilihat gambar-gambar lucu, lalu straight face pas liat foto si mantan piknik bareng dengan teman-temannya yang kebetulan temenmu juga. Biasanya kan sama kamu perginya, eh kali ini mereka pergi tanpa kamu. Nyesek deh. Belum lagi kalau tiba-tiba sampai pada foto si mantan ngerangkul cewek lain, apesnya, itu pasangan barunya pula. Bukan lagi straight face, udah langsung kelojotan cari shower buat nangis biar ga ketauan. Repot sendiri kan.
Ditambah dengan selalu ‘now playing’ di akun path, eh lagu yang di dengerin galaaaau semua. Terus captionnya comot-comot lirik yang pas. Berasa udah jadi penyair dadakan deh.
Dengerin lagu itu buat menghibur diri, ini malah menenggelamkan diri dalam kegalauan. Tambah kejang-kejanglah jadinya. Abis gitu, eh liat si mantan kasih comment tuh di temen path kamu, bawaannya pengen nyamber aja pasti. Kalau udah gitu kontan baper pasti….
Pliisdeeeh….

Laaahhh?? masih nyimpen percakapan dengan mantan di chat messanger??
Yaelaaaaah…….udah basi juga masih aja dibaca-baca,delete aja napa?
Iya sih udah di delete percakapannya, tapi masih nyantol di history, keingetan dikit langsung bongkar ‘gudang’ di buka lagi. Sama aja bo’ong!!
Kenapa nggak sekalian aja tuh di capture, atau di print dengan font yang guede lalu tempel di semua dinding kamar. Baca-baca deh menjelang dan bangun tidur, biar makin joss nyeseknya.

Nomer kontak mantan emang gak harus langsung di buang sih, baik itu di whatsapp atau pin bbm sekalipun. Tapi bukan berarti setiap waktu mantengin recent update bbm nya si mantan. Kecuali kalau si mantan bukan tipe yang suka gonta ganti status atau DP bbm sih aman lah ya, tapi kalau kebetulan si mantan lagi pasang status baru di bbm nya, apesnya kok statusnya tentang cinta? Jelas dong itu bukan buat kamu. Nah nyesek nggak liatnya? Sapa suruh liat-liat recent updatenya. Udahlah pasang status cinta eh DP nya mendadak ganti juga dengan foto berdua sama yang lain,makin afdol tuh nyerii hatinya. Coba aja kalau nggak percaya. Gitu aja terus sampe patung gupolo bisa jalan.

Setiap pasangan, pasti pernah dong punya tempat makan favorit. Nah ini nih……
Udah tau kalau dateng kesitu pasti keingetan mantan, masih aja bolak-balik kesitu sekedar buat mengenang. Buat apa cobaaa?? Kalau belum bisa lepas dari kenangan mantan, mendingan hindari dulu deh tempat-tempat yang dianggap ‘bersejarah’ itu. Entah itu datang berombongan sama temen apalagi sendirian,nggak usah deh. Cari perkara aja itu namanya. Lebih berperkara lagi, cari tempat duduknya yang biasanya dipake berdua pula. Sedia tissue banyak-banyak aja kalau gitu, jadi kalau pas nangis biar bisa pura-pura kesiram es teh lalu pilek gitu.

Paling susah memang menghindari mantan kalau circle pertemanan kebetulan sama.
Menghindar ketemu mantan masih bisa, tapi masak harus menghindar dari teman-temannya?? Sebaiknya sih memang tidak perlu sampai begitu. Tapi kalau kenyataannya bila bertemu mereka membuatmu makin miris, nggak ada salahnya sedikit menyingkir. Bukan berarti memusuhi mereka sih, hanya sekedar melipir sejenak sampai suasana hatimu stabil. Jangan malah sengaja mencari-cari mereka hanya buat sarana kamu mau curhat. Hadeeehhhhh….
Sekali dua kali teman-temanmu dengan senang hati mendengarkan, bahkan memberi saran mungkin, tapi kalau setiap pertemuan selalu curhat? Lama-lama juga pada males. Beneran loh….

Apapun itu, jangan dengan sengaja melakukan hal-hal yang akan menambah perih luka hatimu. Perpisahan yang terjadi dengan mantan, apalagi kalau kamu lagi cinta-cintanya eh dia malah memilih orang lain, itu memang sangat menyakitkan. Tapi mau berapa lama kamu menenggelamkan diri dengan rasa sakit seperti itu? Kenyataannya, orang yang kamu ratapi sudah berbahagia dengan orang lain. Satu hal ini saja, sudah layak menjadi alasanmu untuk tidak lagi bergelimang air mata menangisi kepergiannya. Mau sampai nangis darah sekalipun, tidak akan membuatnya kembali. Permasalahan terbesar bukan karena si mantan sudah bersama orang lain, tapi karena rasa cintanya sudah tidak lagi menuju kepadamu. Ketika dia memilih orang lain untuk kebahagiaannya, sudah saatnya kamu menyadari bahwa cintanya sudah bukan untukmu lagi.

Air mata yang sia-sia adalah ketika air mata itu jatuh untuk seseorang yang tidak lagi mencintai kita.

Jadi, masih mauu meratapi mantan nih???

Shalom,

~jeci~