Posted in Lifestyle

Mendingan Mikir Mau Masak Apa, Daripada Mikir Mau Makan Apa.

Beberapa waktu lalu, di sosial media ku rame banget postingan tentang, bisa dapet apa dengan uang seratus ribu? Banyak yang menanggapi positip dengan mengatakan “Ya dapet banyaklah, masih bisa dapet bayem, kangkung dll”. Yang sinis juga banyak.

Menurutku, dapet banyak atau gak dapet apa-apa itu ya tergantung kita membelanjakan uang itu dimana dan untuk apa. Misalnya, belanja sayuran tapi di supermarket, ya dapet dikit. Atau belanjanya untuk minyak 2 liter, bawang merah+putih masing- masing sekilo, kentang sekilo, beras 2kg, gula pasir sekilo, atau sembako yang lainnya masing-masing sekilo…ya iyalaaah cuma
dapet itu doang. Jatah beli sembako sama belanja harian harus dibedakan dong.

Jatahku belanja sayur mingguan adalah Rp 100.000,-

Selama aku tinggal di Jakarta, aku jadi bisa mengukur berapa belanja harianku. Belanja harian, artinya itu pengeluaran tetap sehari-hari yang gak jauh-jauh dari makan. Karena aku paling males kalau waktunya makan tapi masih pusing mikir “Mau makan apa, beli dimana”. Mending aku mikir, “Mau masak apa”. Dengan fasilitas dapur di kost, walau sederhana tapi cukuplah buat masak sehari-hari . Jadi, aku memilih repot masak dulu sebelum berangkat kerja, daripada sudah di kantor lalu nahan laper hanya karena ga tau mau makan apa.

Nah karena lebih seneng masak sendiri, jadi awal di kost, searchinglah aku tempat belanja sayuran. Akhirnya, aku menemukan bapak tukang sayur ga jauh dari kost, bahkan ada juga pasar yang pake jalan kaki doang juga nyampe.
Sebulan 2x aku ke pasar sayur, kusus beli yang jarang ada di tukang sayur, misalnya daging, telur, ikan dll. Soalnya kalau keseringan ke pasar, bisa over budget, apa aja pengen dibeli karena banyak pilihan hohoho
Demi menjaga pola dari hidup boros, aku siasati dengan selang seling ke tukang sayur. Dengan pilihan sayur yang terbatas, kalau di tukang sayur bisa lebih hemat. Karena aku cuma sempet belanja tiap weekend, jadi aku belanja sekalian banyak buat masak seminggu. Budgetnya? Seratus ribu rupiah.

Dengan jatah seratus ribu rupiah, aku sudah kalap liat banyak sayuran yang bisa aku beli. Biasanya, aku pasti beli bayem, kangkung, sawi putih atau caisin, labu siam, kacang panjang, tempe+tahu, terong dan bumbu-bumbu dapur yang dirasa stok udah mau habis. Paling selang seling dengan sayuran yang kebetulan pas lagi ada di tukang sayur, misalnya brokoli, daun singkong, daun
pakis ya pokoknya sayur-sayuran yang kadang ada kadang enggak deh.

Dapet kok semua itu dengan seratus ribu, dan kulkas udah bisa langsung penuh dengan sayuran, stok untuk seminggu masak. Kadang ketika belanja, aku udah mbayangin senin masak apa, selasa masak apa dan seterusnya. Jadi belanjaanku ya aku sesuaikan dengan jatah masak harian.

Budget belanja tambahan.

Kalau mau beli beras, minyak, terigu dll atau bumbu-bumbu dapur sebagai pelengkap, biasanya aku membudgetkan sendiri diluar belanja sayuran. Kenapa? Ya karena pasti gak cukuplah kalau cuma dengan uang Rp 100.000,- hehehe

Untuk belanja yang seperti itu, biasanya aku jatah sebulan sekali, jadi masuknya ya di belanja bulanan. Aku menganggarkan Rp 500.000,- untuk belanja bulanan. Sudah pasti termasuk di dalamnya adalah beras, minyak goreng, gula pasir, gula merah dll plus kebutuhan kamar mandi, dari sabun mandi sampe sabun cuci.

Kadang malah kalau sabun mandi dll itu ga harus sebulan sekali beli, bisa 2 bulan sekali baru beli lagi. Toh aku dan seva gak seboros itu sampe tiap bulan beli shampoo. Yang paling boros kalau belanja bulanan itu ya kebutuhan seva. Dia itu suka bermacam- macam sereal, yoghurt, susu, keju, kornet, sosis, nugget dan sejenisnya. Udah bisa ditebak kan harganya berapa. Nggak ada
yang murah juga hehhee

Biaya hidup murah atau mahal itu, relatif.

Biaya hidup di Jakarta itu mahal!! Iya itu pasti. Apalagi kalau hedon, keluar masuk resto atau mal hehehe
Untungnya, aku kok gak terlalu doyan masakan-masakan resto mahal. Apalagi yang nama menunya aja aku susah bacanya, milih sayur lodeh aja aku mah. Untungnya juga aku ga doyan daging- dagingan, jadi ya gak pernah juga pengen makan steak atau apapun yang berbahan dasar daging. Ternyata lidahku ini cukup bersahabat dengan tema murah meriah hohoho

Dengan kencengnya yang aku dengar tentang biaya hidup mahal di Jakarta, bikin aku belajar menyiasati uang belanja. Caranya? Ya masak sendirilah.
Ini tips menyiasati budget mepet, masak sendiri, bawa bekal ke kantor, Itu udah bisa memangkas separo dari kebutuhan hidup sebulan. Sesekali ajalah makan di luar, terutama kalau ada meeting di luar kantor. Kalau kesibukan tiap hari selalu ada meeting di luar kantor, ya siasati aja, jam makan pertama, makan bekal, makan yang kedua di luar. Gitu.

Ehtapi ini tidak berlaku sih buat yang mungkin gak bisa masak atau
tidak memungkinkan untuk masak.

Jadi tips hemat ini sementara masih berlaku untuk diriku sendiri
hehehe

 

Syalom,

~mommyjeci~

Advertisements
Posted in Lifestyle

#7 Isi Tasku? Nggak Perempuan Banget!

Duh kalau udah sampai tema ini kayaknya kok sangat tidak menarik isi tas ku. Tapi karena sudah ditentukan temanya, baiklah mari kita bongkar isi tasku. Yang isinya ya itu-itu aja.

1. Tissue

Kalau ditulis sesuai urutan, ini di urutan pertama. Serius lo. Bukan dompet atau HP. Tapi Tissue. Mungkin ini cuma kebiasaan dari jaman dulu. Aku tu gampang bersin, kena angin semribit dikit udah bersin, hidung kesenggol tangan sendiri aja bersin. Juga, gampang risih kalau telapak tangan kena debu, bukan karena sok bersihan
sih, tapi kalau telapak tangan kotor, terus gak sengaja nyentuh muka atau hidung, pasti bersin. Jadi otomatis yang dicari tissue, ada tissue basah atau tissue biasa. Pokoknya kalau di pas buka tas ternyata gak ada tissue udah kaya bingung. Dulu, ketika anakku masih SD, dia pernah kasih aku kado ulang tahun tissue yang kemasan gede banget. Katanya, “Seva gak tau mau kasih mami kado apa, tissue aja ya? Kan mami selalu butuh tissue”. Owwhhh gitu aja aku udah terharu banget hehehhe

2. Potongan Kuku.

Ini urutan kedua setelah tissue. Nggak aneh kan ya?. Aku pikir nggak cuma aku aja yang selalu nyimpen potongan kuku di tas, iya kan?.
Aku termasuk orang yang memiliki kuku jelek banget. Gampang compel, kadang tiba-tiba sobek ujungnya. Dan itu sangat mengganggu. Makanya aku selalu sedia potongan kuku di tas, dan kalau ada yang pinjem selalu aku ingetin, “Jangan ilang lo”. Bahaya soalnya kalau ilang, bakalan spaneng cari toko yang jualan potongan kuku hahaha

3. Dompet.

Kalau yang satu ini, umum, semua pasti ada dompet di tas. Jadi gak perlu aku jelasin lagi. Semua kepentingan ada di dompet hehehe

4. Handphone

Yha!! Yang satu ini jangan sampai ketinggalan. Repot urusannya kalau sampai gak kebawa. Kerjaan berantakan. Dan udah pasti jadi mati gaya hahha

5. Cologne atau Body Lotion.

Untuk urutan kelima ini agak lama mikirnya, bisa cologne dan bisa body lotion, kadang keduanya ada. Bukan parfume, aku lebih seneng cologne, seger gitu. Parfume jarang ada di tas, biasanya pake cuma di moment-moment tertentu aja. Kalau cologne bisa semprot kapan aja. Kenapa ada body lotion? Karena kulitku jenisnya kering, bawaannya pengen cuci tangan melulu. Jadi biasanya, setelah pake
tissue basah, terus pake body lotion. Selalu begitu kalau seharian di tempat yang sama sekali nggak nemu air buat cuci tangan. Ini cuma kebiasaan aja sih.
Nah itu yang selalu ada di tasku, gak ada yang spesial, dan sangat tidak perempuan banget hahahha. Sepertinya cuma sedikit isinya, tapi aku selalu butuh tas yg gede. Muat banyak, apa aja bisa masuk. Kebetulan aku suka dengan tas yang banyak
kantongnya hehehe

Syalom,

~mommyjeci~

Posted in Lifestyle

#6 Survive Dari Kota ke Kota

Kalau ngomongin kota yang pernah jadi tempat aku tinggal, nggak banyak sih. Tapi lumayanlah buat disebut anak perantuan hehehe

1. Lampung, Tempat kelahiranku.

Ini tempat pertamaku, alias tempat aku lahir sampe selesai SMA. Lampung itu luas yaaa….jadi Lampungnya dimana iniiii…

Nama kampung halamanku itu Hanura, singkatan dari Hati Nurani Rakyat. Berada di kecamatan Padang Cermin Lampung Selatan. Tapi sekarang nama desa itu berubah, karena aku udah lebih 20 tahun kabur dari kampung halaman jadi malah nggak ngeh kalau udah beda namanya hehehhe

Tempatnya sekitar 12km dari Teluk Betung, Bandarlampung. Dulu sih keliatan jauh, tapi sekarang kalau pas pulang kampung kok terasa lebih deket, mungkin karena jalanan udah bagus, udah rame pula. Nggak kaya dulu, sepanjang jalan kalau mau ke kota hutan melulu.

Aku menghabiskan masa sekolah di desaku, Hanura, SMP pindah ke kota Metro, Lampung Tengah, sampai SMA. Setelah lulus, melarikan diri ke kota Magelang, Jawa Tengah.

2. Magelang, Jawa Tengah sebagai ‘Kawah Candradimuka’.

Di kota ini, lebih banyak ceritanya. Aku anggap, di kota inilah proses pendewasaanku, dari remaja menjelang dewasa, sampai menikah, punya anak, pun sampai berpisah dengan ayahnya anakku. Dari cerita suka penuh warna, sampai cerita suram. Komplit terjadi di kota ini.
Oya, awal karirku di dunia radio juga terjadi di Magelang ini. Dari iseng ikutan lomba siaran, sampai akhirnya diterima sebagai penyiar remaja, lalu belajar banyak tentang dunia siaran dan musik. Kalau bukan dari radio di Magelang itu, aku belum tentu menjadi seperti sekarang.

Buatku, kota Magelang itu semacam ‘Kawah Candradimuka’. Itu istilah buat tempat penggemblengan seseorang dari yang tidak tau apa-apa menjadi tau, dari yang lemah menjadi kuat. Kalau terjemahan bebasku sih, tempat melatih mental hehehe

3. Semarang, Kota Pelarian.

Aku sempat setahun tinggal di Semarang. Kota yang tidak pernah terbayangkan akan aku tinggali. Kalau aku menyebut kota Semarang itu sebagai tempat pelarianku hehehe
Ketika problematika hidup mulai ruwet, kebetulan dapet tawaran kerja di radio Semarang. Tanpa pikir panjang, langsung aku terima. Akhirnya, selama setahun aku mondar-mandir Semarang – Magelang, kalau weekend pulang ke Magelang karena anakku masih di Magelang. Gitu terus sampe akhirnya menyerah dengan kota Semarang.

4. Yogyakarta, Kota pendewasaan.

Ini kota yang udah sejak lama aku inginkan untuk aku tinggali. Akhirnya keturutan juga, lelah dengan kota Semarang, kaburlah ke Jogja. Nah kalau Jogja ini, aku anggap sebagai kota pendewasaanku. Baik secara mental maupun pola pikir.
Di kota ini aku belajar berinteraksi dengan banyak orang, belajar bersosialisasi dengan benar. Menurutku, Jogja itu memang tempat yang tepat buat belajar semua itu. Dibanding kota lainnya, termasuk lama aku tinggal di Jogja. Dari masih cupu dalam dunia Music Director radio, sampai dianggap senior. Dari buta teknologi, apapun bentuknya, sampai lumayan ngerti minimal agak nyambunglah kalau diajak ngobrol hal itu hehehe
Dari nggak punya teman, sampai berkelimpahan teman. Niatnya, nggak pengen pindah kemana-mana lagi, di Jogja aja terus. Pokok’e nek ra jogja, ora! Tapi…..

5. Jakarta, kota tempatku berjibaku dengan kebutuhan hidup.

Setelah bertahan 12 tahun di Jogja dan gak pengen pindah, tapi ternyata ada situasi dan kondisi yang mengharuskan aku meninggalkan kota kesayanganku itu. Melalui proses perenungan yang mendalam, perang batin selama setahun, akhirnya aku memutuskan, pindah ke Jakarta. Alasan utamaku, biar deket anakku. Puji Tuhan, ada aja jalannya. Sekarang aku di Jakarta, tempat dimana aku banyak merunduk. Belajar kembali hal-hal baru. Dan tentu saja, berjibaku dengan kebutuhan hidup.

Ternyata, sepanjang hidupku, aku melewatinya dengan beberapa kota. Mungkin ini hasil dari ‘kenekatanku’, keluar dari kota kelahiran sendirian, bisa jadi nanti kembali ke sana…..tetap sendirian juga heuheuheu…

 

Stalom,

~mommyjeci~

Posted in Lifestyle

#5 This Is Me!

5 Fakta soal diri sendiri

Ini tema yang paling aku sukai, ngomongin diri sendiri.

Jadi aku tu……ibarat buku yang terbuka, dimana setiap orang bisa membacanya. Nggak ada rahasia, kalaupun ada fakta yang orang nggak tau, bukan karena aku rahasiakan, cuma karena mereka ga pada nanya aja. Kalau ditanyain pasti aku jawab apa adanya.

Issshhhh lagian siapalah aku sampai orang mau sekepo itu pengen tau tentang aku sih hahahha

Ya sudahlah. Karena temanya adalah nyebutin 5 fakta tentang diri sendiri, aku ceritakan aja yang mungkin jarang banget orang tau.

1. Bungsu dari 5 saudara.

Aku anak kelima, kakakku 4, yang sulung laki-laki, satu-satunya laki-laki. Puji Tuhan semua kakakku masih diberi kesehatan sampai sekarang. Kalau ada mitos anak bungsu itu biasanya paling beda dari saudara-saudaranya, bisa jadi bener sih. Sebagai perempuan, badung banget waktu kecil sampe remaja, temennya laki semua. Beda dengan kakak-kakak perempuanku yang normal sebagaimana perempuan pada umumnya. Mungkin karena badung itu jadi kadar kenekatannya diatas rata-rata. Asal udah punya mau ya nekat aja walau ditentang orang tua (ini jangan ditiru, contoh nggak baik). Tapi kalau aku ga nekatan, mungkin ga punya cerita hidup yang berwarna hehehe

2. Sebagai orang tua tunggal dari seorang putri.

Aku punya putri 1, udah gede. Udah kerja pula. Kalau lagi jalan bareng ya kaya kembaran lah *dih
Aku tidak selalu mendampingi dia, ada masa-masa dimana kami terpisah tempat. Baru ketika gede barengan lagi di Jogja, sampai dia tamat SMK. Berpisah lagi ketika dia mendapat tawaran kerja di Jakarta. Sekarang gantian aku yang nyusulin dia ke Jakarta, dan bersama lagi. Nantinya aku bakal cerita banyak deh tentang kami, aku dan sceiva. Putri semata wayangku.

3. Sebagai ‘mami kandung’nya Sceiva, tapi jadi ‘mami virtual’nya banyak orang.

Biasanya, kalau yang memanggil aku ‘mbak’ atau ‘kak’ pasti orang yang baru kenal aku. Atau orang yang hanya sekedar ketemu dan sambil lalu aja. Begitu mulai dekat dan akrab, secara otomatis berubah panggilannya jadi ‘mami’.
Kalau merunut awal mula dipanggil mami itu kira-kira 10 tahunan yang lalu. Aku punya teman-teman sekumpulan, alias anak-anak muda yang deket banget dan sering kumpul-kumpul entah itu cuma ngopi bareng atau hangout bareng. Karena aku selalu berlaku seperti ibunya mereka, yang galak, cerewet, ngomelan tapi menyayangi mereka, akhirnya ada salah satu yang entah gimana manggil aku ‘mami’, lalu setiap ketemu ya otomatis aja dia manggilnya ‘mami’. Sampai-sampai orang lain kalau ketemu dia, nanyanya “Mami mana?”, lama-lama semuanya manggil ‘mami’. Dari mereka lantas menyebar kemana-mana, sampai ke lingkungan pekerjaan. Semisal ada anak band ke Jakarta, ada yang nanya, “Di Jogja kenal Mami gak?”, itu sudah pasti yang di maksud adalah “Mami Jeci”. Begitulah, sampai sekarang nggak cuma anak band, label, management artis atau MD saja yang memanggil aku ‘mami’. Kalau anakku bilang, “Mami itu anaknya banyak” hehehe

4. Buta arah, selalu nyasar.

Banyak yang bilang, “Jangan tanya arah sama mami deh, bakalan tersesat”. Aku nggak bisa marah kalau dibully begitu, ya gimana, kenyataannya emang begitu. Entah kenapa, setiap kali mau ke tempat baru, misalnya diajak meeting atau menghadiri suatu acara, begitu liat tempatnya, belum nyari udah pusing duluan. Bahkan kalau merasa asing, beneran sampe mules.

“Kan bisa pake GPS”, mungkin akan pada bilang gitu, tapi aku kasih tau aja bahwa aku tuu ya nggak bisa baca GPS, tetep aja nyasar!!
Paling pening tu kalau diajak janjian di Mal, duh baru masuk Mal udah pusing kepalaku, pasti nggak nemu juga tempatnya.
Dan aku sangat bahagia dengan adanya taksi dan ojek online, berkat mereka, aku percaya diri kalau mau kemana-mana. Tinggal duduk manis, nyampe deh tempatnya. Kalau ditanya drivernya, “Mau lewat mana bu”, aku jawab “Mana aja deh pak, yang penting nyampe”. Aman.

5. Benci warna kuning, dan phobi ulet bulu.

Seperti mengada-ada ya kok benci warna kuning. Tapi ya ini nih sama dengan orang yang takut balon, takut cicak, bahkan takut ayam atau muntah kalau liat pepaya. Ya semacam itu.

Setiap kali melihat benda berwarna kuning, aku selalu mendesah, “Kenapa di dunia ini harus ada warna kuning”, atau “Kenapa sih harus warna kuning? Kan banyak warna lainnya!”. Entah berawal darimana dan nggak ingat juga mulai kapan aku benci warna kuning. Kadang sesak nafas aja kalau terpaksa berlama-lama liat warna kuning.

Dulu malah ekstrim banget, bisa tiba-tiba melempar benda yang aku pegang ternyata berwarna kuning. Suatu kali pernah ada acara kumpul-kumpul di tempatku, ada satu anak yang dateng dengan baju warna kuning. Begitu aku liat, nggak bilang apa-apa tapi langsung nyodorin kaos, “Ganti baju gih”. Dengan kebingungan dia ya nurut aja ganti baju, setelah itu baru dijelasin sama anak-anak lain, “Kamu sih pake baju warna kuning, disuruh ganti kan”.

Beneran mengganggu kebencianku dengan warna kuning ini, gimana enggak, aku kan nggak bisa ngatur orang jangan pake warna kuning kalau di tempat umum, apalagi yang aku nggak kenal.

Karena aku sadar ini sangat mengganggu, aku mulai menerapi diri sendiri. Kalau tiba-tiba ketemu warna kuning, aku cukup bilang ke diri sendiri,”Nggak papa, cuek aja”. Berdamai dengan diri sendiri. Lumayan berhasil sih, karena sekarang aku nggk seekstrim dulu kalau liat warna kuning, pura-pura gak tau aja kalau itu warna kuning hehehhe

Yang masih belum bisa hilang itu adalah takut ulet bulu. Jangan pernah kagetin atau takut-takutin aku dengan ulet bulu, daripada repot nggotong aku karena pingsan. Ini lumayan serius sih. Bahkan cuma nulis gini aja, aku udah merinding dan gemeteran. Sigh.

Salam kenal dari Mommy Jeci, mami kandungnya Sceiva, dan mami virtualnya banyak orang.

 

Syalom,

~mommyjeci~

 

Posted in Lifestyle

#4 Kamu anak Twitter, IG atau FB?

Kamu anak twitter, IG atau FB?

Ketiga platform itu cukup hits sebagai media sosial untuk berinteraksi secara personal. Bisa ngobrol atau cuma sekedar komentar gak penting.

Sempat ramai pada pindah jadi ‘anak path’ waktu platform itu masih hits. Tapi sebelum path kukutan alias tutup, aku udah jauh lebih dulu uninstall aplikasinya, bukan dengan alasan kusus, cuma merasa bosan dan udah ga nemu asiknya lagi.

Aku nggak bakal menjelaskan apa itu media sosial, atau apa aja macem bentuknya. Terlalu serius buatku menjelaskan itu. Tapi aku cuma menyoroti yang cukup berpengaruh dalam keseharianku.

Berawal dari Yahoo Messanger

Ini perkenalanku dengan media sosial. Ketika aku masih gak paham apa itu internet dan kegunaanya. Nggak ngerti apa itu email, tapi terpaksa harus bikin karena butuh berkomunikasi dengan seseorang yang dulu berada di tempat yang sudah lebih maju dari tempat aku berada. Di sana sudah pake handphone yang komunikasinya bisa pake email, aku yang cuma ngerti sebatas telpon umum harus berkenalan dengan internet, dan diajarin bikin email. Akhirnya dari email itu, bisa ngobrol pake chat messangernya. Bertahun-tahun kemudian, aku baru ngeh kalau itu bisa buat memperlancar pekerjaan. Dan memang betul, selain pekerjaan lancar tanpa harus telpon, dari YM juga aku bisa berinteaksi lebih akrab dengan teman-teman di banyak kota. Dulu sih aku mana tau kalau YM itu semacam media sosial fufufufu

Setelah sedikit ‘melek’ internet.

Facebook – Aku beruntung dengan pekerjaan yang mengharuskan berinteraksi dengan banyak orang, udah gitu bikin aku gak terlalu kudet bangetlah. Jadi ngerti mainan Facebook juga, ternyata dari media sosial yang ini sangat bermanfaat buat berbagi kenangan dengan temen-temen Music Director seluruh Indonesia. Paling seru kalau sehabis event tahunannya Music Director yang namanya National Radio Day, pasti mantengin FB karena bakal banyak foto-foto kemeriahan kami di share sama teman-teman.
Sempet beberapa saat ga buka-buka FB walau ga sampai deactive akun, gara-gara pening liat status serem-serem waktu pilpres 2014 lalu hahahha

Twitter – Selain aktif di FB, aku juga mulai kenalan sama Twitter. Semakin menemukan keasikannya di platform ini, jadi sedikit mengabaikan FB. Sama seperti di FB, di twitter mulai bertemu dengan lebih banyak teman. Bukan saja sesama profesi, tapi jadi sering ngobrol dengan teman-teman musisi yang aku kenal. Lebih personal dibanding FB menurutku. Selain itu, jaman musim yang namanya status galau, ya jelaslah aku manfaatkan baik-baik. Mungkin kalau buka-buka status Twitter tahun 2011 – 2013 lah kira-kira, banyak status ‘sok’ bijak di sana. Tapi, lebih daripada itu, lewat Twitter aku bertemu dengan orang-orang yang asik. Lintas komunitas. Berbagai macam profesi. Semuanya asik, dan celotehan mereka di Twitter jadi hiburan menarik buatku. Sampai sekarang akunku masih aktif, sudah jarang update cuma lebih sering scroll timeline aja. Masih banyak yang menarik kok, lucu-lucu pula. Satu lagi, selalu muncul istilah-istilah atau bahasa-bahasa antik di Twitter. Yang kalau itu dilakukan di FB atau IG, bakal ada note “Cuma anak Twitter yang paham”. Gitu.

Path – Ketika muncul Path, rame-rame anak Twitter dan Facebook beralih meramaikan Path. Dari yang cuma iseng, sampai yang bener-bener meninggalkan Twitter dan Facebook lalu sangat eksis di Path. Pernah kejadian, ketika Path down, anak Path rame lagi muncul di Twitter, terus anak Twitter bilang, “Path lagi down ya, pantesan aja anak Path banyak yang lari ke Twitter lagi”. Kurang lebih seperti itulah. Lucu aja aku liat ceng-ceng’annya mereka. Sayangnya, platform itu tidak berlangsung lama hitsnya, lama-lama sepi juga. Kalau aku intip FB, ternyata banyak yang kembali ke Facebook, sebagian kembali ke Twitter yang sempat sepi. Yhhaaaaa…FB dan Twitter rame lagi.

Instagram – Kalau Instagram? Tentulah aku punya juga, udah lama juga, lumayan eksis juga ternyata ngeliat jumlah postinganku, lebih banyak dari jumlah followerku hahahha
Tapi aku bukan yang addict banget sampai memikirkan tampilan feednya. Posting ya posting aja. Kadang tidak peduli hasil gambarnya, yang penting captionnya *halah

Masih banyak sih bentuk media sosial yang lain. Tapi aku sekedar punya dan asal liat-liat aja.

Masih merasa pentingkah punya media sosial?

Buatku sih masih penting.
– Masih bisa menjadi media hiburan dan informasi, nggak kudet dengan yang sedang terjadi.
– Setidaknya, masih bisa tau keadaan teman-teman. Ketika masih ada status-status teman-teman sliweran di timelineku, aku masih bisa bilang,”Oh si ini sekarang usaha ini, oh si itu sekarang begini, oh dia sehat-sehat aja, aduh itu temenku sakit apa semoga cepat sehat”. Walau tidak berinteraksi secara langsung, aku senang bisa tau kabar terkini mereka.
– Sampai sekarang, media sosial masih memegang peran penting sebagai sarana berpromosi. Apapun bentuknya. Apalagi yang punya usaha online shop waaaah….hari gini tidak memanfaatkan media sosial? Sayang bangetlaaah….

Buat musisi yang mau populer? Kencengin aja digitalnya…..

Mau digunakan sebagai hal yang positif atau negatif, ya kita sendiri yang mesti bijak memilih.

Gitu aja sih…

 

Syalom,

~mommyjeci~

Posted in Lifestyle

#3 Blog Dengan Nama Sendiri, Tentang Diri Sendiri

#3 Tema : Kenapa Memilih Nama Blog Yang Sekarang digunakan

Aku menggunakan nama blog ini sejak awal bikin blog di wordpress, nggak punya alasan kusus.
Dulu mana kepikiran mau bikin nama yang gimana-gimana, kenal blog juga baru itu. Blognya juga dibantu bikin sama temen, maklum masih sangat-sangat buta yang berbau digital.

Asal tarok nama aja.

Iya. Asal tarok nama aja ketika si teman ngajarin bikin blog.

Dia nanya,”Mau dinamain apa blognya?”
Aku jawab,”Namaku ajalah, biar gampang”

Iya. Sebatas biar gampang aja.

Asal nama Jeci Gracietta

Jujur. Nama itu hanyalah nama ‘panggung’. Bukan nama yang tertera di KTP atau surat resmi lainnya. Nama panggung yang sudah aku gunakan lebih dari 20 tahun, sepanjang aku berkarya di dunia radio. Mungkin kalau sekarang, nama-nama penyiar yang hits di radio, udah hits pake nama sendiri, ga sampe pusing nyari nama udara (hadeh bahasaku lawas banget) hahha
Memang dulu istilahnya gitu, nama udara. Dan nama itu biasanya sangat jauh dari nama aslinya. Blas ga ada sambung-sambungannya sama sekali. Misal nama asli Tutik, bisa aja punya nama udara Selvi.

Yang penting gampang diucapkan, mudah diingat dan terdengar komersil (ihik).

Sementara nama Jeci itu sebenernya, aku juga asal pake aja waktu bingung mau pake nama udara apa waktu mau siaran dulu. Ngambil dari nama keponakan, Yesica, aku modif aja tulisannya jadi Jeci. Untuk nama belakangnya, di radioku dulu nama belakang harus yang agak-agak keliatan gimanaaa gitu. Aku pake aja nama Gracietta, berasal dari kata ‘grace’. Dipercantik jadi Gracietta.

Jadilah namaku Jeci Gracietta. Dan nama itu juga yang aku pakai buat personal blogku.

Sempet bikin macem-macem nama blog.

Setelah tau asiknya nulis blog, jadi sok-sok’an bikin blog ini dan itu yang namanya juga spesifik menyesuaikan contentnya.

1. Blog Resep masakan.

Sempat bikin blog resep masakan, karena aku seneng dan sering masak buat sendiri, jadi aku iseng bikin blog resep masakan yang kusus buat pemula. Karena tujuannya buat yang lagi belajar masak, resepnya ya yang sederhana bahannya, ga ribet bikinnya. Beneran yang praktis dengan peralatan dapur seadanya bisa bikin masakan yang enak, minimal buat diri sendiri.
Tapi, apakabar blog itu sekarang? Entahlah, lama ga update hahaha

2. Blog Musik.

Saking cintanya sama dunia musik dan radio, aku dulu obsesi banget bikin radio online. Bikinlah semacam web music blog, berisi press release dari penyanyi-penyanyi yang merilis lagu baru. Baik itu penyanyi pendatang baru, atau penyanyi yang udah hits. Asal baru merilis lagu baru, ya aku masukkan dalam web music blog itu.
Lumayan bertahan bertahun-tahun walau content tersendat-sendat ngisinya.
Dari tersendat-sendat, sampai akhirnya berenti total tahun ini. Sayang sih, tapi mungkin suatu saat nanti aku baru bisa fokus lagi.

3. Blog sangat pribadi.

Kenapa aku bilang sangat pribadi? Ya karena isinya bener-bener sangat pribadi, pergumulan hati yang tiada akhir. Kegalauan yang tiada tara hahahhaha
Tapi setelah lupa caranya galau, jadi nggak pernah update lagi, bahkan nama blognya juga udah lupa!

Yah gitu deh

Sekarang mulai galau lagi pengen pindah blog. Pengen pake nama blog yang lebih simpel dan gampang nyebutinnya.

Sementara belum nemu nama yang pas, ya bertahan aja dulu dengan blog ini.

Syalom,

~mommyjeci~

Posted in Lifestyle

#2 Tema Hati Melulu

Katanya, kalau mau serius bikin blog itu, harus punya ciri khas, mau tema seperti apa blognya. Kalau para blogger bilang, niche blognya jelas biar jelas juga sasarannya, ibarat radio ya segmennya jelas, jadi format musik dan programnya ketauan akan seperti apa.

Kalau ngomongin radio sih aku paham betul, tapi kalau soal blog? Aku termasuk bebal ngikutin saran orang, bahkan teman-temanku blogger yang udah panen dollar itu sampe kesal, “Niche blogmu lho yang jelas dulu”.

Yayayaya……itu memang benar, niche itu penting untuk sebuah blog. Apalagi kalau mau digarap serius yang akhirnya nanti bisa monetize gitu, wajib sih menentukan niche gitu. Sementara aku, merasa blog cuma buat tumpahan uneg-uneg aja, nulis ya nulis aja, ga mikirin mau nichenya apa. Yaaah gimana mau profesional kalau kaya gitu hahahaha

Jadi kalau ditanyain, “Niche blognya apa?”
Iseng aja aku jawab,

Tema tentang hati dan persoalannya.

Sebenernya, nggak sengaja juga mau konsisten di area itu, cuma setiap kali ada hasrat menulis, kok yo selalu pas nemu tema yang gak jauh-jauh dari urusan hati. Walau nggak semuanya sih, tapi misal ada 100 tulisan, 75nya itu soal hati!!

Apakah semuanya tentang diriku sendiri?

Nggak juga sih, kebanyakan malah hasil mendengar curhatan orang. Atau, melihat kegalauan orang di sosial medianya, tiba-tiba muncul ide buat bikin tulisan dari status orang itu. Kalau mau dibuat tema garis besarnya, lebih ke pengalaman hidup.

Pengalaman hidupku, yang aku bagikan ke orang lain. Kesalahan-kesalahanku di masa lalu, aku bagikan ke orang lain buat pelajaran supaya orang yang membacanya tidak melakukan kesalahan yang sama.

Ada alasan kusus?

Ya nggak juga.
Cuma karena aku merasa lebih bisa ngomong banyak aja kalau temanya itu. Lebih menguasai materinya. Bukan karena aku lebih hebat atau sok bijak, tapi karena aku sudah pernah ngalamin, atau aku sudah mengalami lebih dulu jadi ya lebih gampang membahasnya. Dan bahasanya juga sederhana, bahkan aku sering memakai bahasa sehari-hari.

Melebarkan Tema

Kalau dipaksa harus menulis tentang wisata atau jalan-jalan, gimana aku mau nulis orang aku ga terlalu suka jalan-jalan dan ga pernah berwisata. Blogku kan personal, masak aku harus googling dan copas tulisan orang. Aneh aja sih.
Terus ngomongin gadget? Halah! Aku ini termasuk yang agak gaptek, gak terlalu ngerti soal begituan, apalagi kok suruh review, malah apalah jadinya.

Udahlah, aku nulis yang sesuai kapasitasku aja, kalaupun mau melebarkan tema, mungkin sedikit ngomongin soal musik, itupun sangat personal. Walaupun latar belakang pekerjaanku dekat dengan musik, tapi aku bukan orang yang pandai memilih redaksional yang pas buat bicara soal musik secara detil. Seperti teman-temanku yang lebih pandai dengan istilah-istilah musik itu.

Intinya, tema yang aku sukai dalam menulis blog itu adalah tema sehari-hari. Entah itu soal keluarga, pekerjaan, atau kebiasaan orang pada umumnya. Apa aja bisa aku tulis, tidak terpaku pada niche tertentu.

Jadi, kalau mau jalan-jalan ke blogku, jangan berekspektasi tinggi. Nggak akan nemu tulisan dengan tema yang luar biasa. Jangan juga berharap nemu gaya tulisan yang baku, aku masih harus belajar banyak kalau mau membuat tulisan dengan bahasa yang baik dan benar hehehhe

Bahkan aku aja nggak PD dengan tulisanku sendiri. Lebih gak PD lagi kalau tulisanku dibaca orang.

Lah terus?? Buat apa nulis blog kalau takut dibaca orang?

Padahal aku pernah denger cuplikan kalimat dari sebuah drama korea (kok aku lupa drama apa),

“Yang penting sudah mencoba, kita tidak akan pernah membuat perubahan kalau tidak pernah berani mencoba. Jangan merasa tidak percaya diri, supaya kamu bisa mengukur kemampuanmu”

Kurang lebih seperti itulah.

So??? Langkah pertama yang aku ambil untuk menguatkan rasa percaya diri dalam menulis blog adalah melatih kebiasaan menulis dengan konsisten tiap hari membuat sebuah tulisan. Dan program #30DayBlogChallenge dari bloggerperempuan.co.id ini sangat menguntungkan buatku. Paling tidak, bisa memaksaku untuk menulis blog setiap hari dengan tema yang berbeda.

Kalau kata sahabatku Nuno Orange  yang udah hits jadi blogger itu, “Jangan minder”.

Oke baiklah.

Syalom,

~MommyJeci~

Posted in Lifestyle

#1 Kenapa Nulis Blog?

Seperti tema hari pertama #BPN30dayChallenge2018 “Kenapa Nulis Blog?”, pertanyaan itu sama dengan yang banyak orang ajukan ke aku, karena aku tidak dikenal orang sebagai blogger, jadi wajar aja ketika banyak orang terutama yang kenal sama aku bertanya begitu.

“Kenapa to kok seneng nulis di blog?” atau “Mami blogger? Kok sering nulis blog?”
Jawabanku biasanya,”Aku ga merasa sebagai blogger juga sih,cuma seneng nulis aja di blog”.

Jadi kenapa?

Pada dasarnya, dari kecil dulu seneng coret-coret, seneng nulis surat dengan kalimat-kalimat panjang. Seneng bercerita dalam tulisan. Karena dulu waktu kecil, sampai remaja, tergolong orang yang susah ngomong atau mengungkapkan isi hati (tsaaah) jadi ya coret-coret aja di buku. Bahkan kadang buku pelajaran ada aja
tulisan ngaco di beberapa lembarnya atau di lembar belakang. Sempet juga rajin nulis di buku harian jaman SMA, isinya ya kegiatan hari itu, malah kalau kupikir itu semacam jurnal hahaha

Tapi, dari situlah kebiasaan nulis kebawa sampe dewasa. Walau ketika dewasa udah nyaris ga pernah nulis-nulis lagi. Sampai kemudian, ketemulah dengan yang namanya Friendster. Sosial media yang hits pada jamannya. Di FS ada fitur blognya, nah mulai deh kembali menuangkan segala keluh kesah disitu. Berhubung tulisanku udah pasti alay banget kalau dibaca sekarang, jadi mending nggak usah dibahas aja isi blog di FS itu.

Berkenalan dengan ‘diary versi digital’.

Aku ingat pertama kali aku kenalan dengan yang namanya blog itu lewat platform wordpress. Ketika aku sedang asik nulis-nulis di FS, temen kantorku bilang, “Kalau kamu suka nulis-nulis gitu, mending bikin blog aja”.

Saat itu, aku masih gak paham apa itu blog, sampai aku lihat gimana temenku bikin tulisan bagus-bagus di blog wordpressnya. Dari situlah aku mulai tertarik, dan minta diajarin. Aku harus berterimakasih sama temanku itu :*

Jadi, kesukaanku nulis blog itu sebenernya karena keasikan mainan ‘diary digital’ itu hehehe

Makin suka nulis blog

Seperti yang lainnya, bermula dari nulis tentang diri sendiri. Sampai kemudian berkembang bahkan ada yang sampai bisa menghasilkan.
Kalau aku? Bermula dari nulis tentang diri sendiri, sampai sekarang ya masih tentang diri sendiri heuheuheu…..

Cuma bedanya, sekarang lebih luas temanya, nggak melulu curhatan pribadi, tapi tetap sih nggak jauh-jauh dari yang namanya curhat. Makin kesini makin berisi curhatan banyak orang.

Karena dalam dunia nyata, aku sering jadi tempat curhat, kebanyakan sih curhat masalah hati. Entah itu soal gebetan, pacar, pasangan hidup sampai soal anak dll. Satu atau dua tema curhatan itu kadang menarik buat aku tumpahkan dalam sebuah tulisan. Apa dan gimana permasalahan mereka, sampai solusinya.

Kupikir, bisa jadi banyak orang di luar sana juga mengalami kegalauan yang sama, tapi belum tentu mendapat teman yang pas buat diajak sharing, Daripada aku selalu memberikan solusi yang sama untuk kasus yang sama dari orang yang berbeda, ya mending aku tulis aja di blog.

Jadi, kalau ada yang curhat ke aku dengan kasus yang pernah aku dengar, kadang ya aku bilang aja, “Coba kamu baca blogku yang judulnya ini, sama persis dengan kasusmu”.

Bukankah pengalaman orang lain bisa jadi pelajaran buat yang lainnya?

Sesederhana itu alasanku nulis blog, dengan bahasaku sehari-hari aku bisa menuangkan banyak kata yang memenuhi otakku ke dalam tulisan di blog, entah itu pengalamanku sendiri, atau pengalaman orang lain yang aku tuliskan, semoga bisa buat belajar untuk yang lainnya.

Kalau para blogger hebat disana itu sering bikin review tentang produk, aku juga bikin review, iya review….review hati.

 

Ehtapi, sekarang mulai belajar nulis dengan tema umum kok, kadang yang gak jauh-jauh dengan musik, atau parenting. Yaaaah….asal yang baca gak ketinggian ekspektasinya karena tulisanku sangat personal, alias pakai asas dasar ‘menurutku’ hehehhe

Syalom

~mommyjeci~

Posted in Music

Masih Ada…..

The 90s Festival 2018 – Belum lama ini aku dapet kesempatan nonton event 90’s Festival, seperti judulnya, yang performe juga angkatan 90an. Walau kalau menurutku sih, beberapa yang tampil gak semua populer di era itu. Tapi baru populer setelah tahun 2000-an. Dan kebanyakan yang tampil pun populer di penghujung 90an, alias sudah mendekati tahun 2000. Itu sih sebenernya yang jadi alasanku agak tidak terlalu pengen nonton. Yaah mungkin yaa karena aku generasi pertengahan 80-an ke pertengahan 90-an, jadi berharapnya yang tampil musisi populer di era awal 90an. Hehehhe. Eh tapi bukan berarti aku nggak menikmati panggung 90’s festival loh ya, setidaknya masih ada nama 2D, Dian PP dan Deddy Dhukun yang muncul. Nah diantara banyak nama di line up 90’s festival itu, cuma di panggungnya 2D ini aku beneran fokus nontonnya, berdiri depan eh samping depan, dan menikmati setiap lagu yang dibawain.

Kebanyakan yang memenuhi depan panggung 2D ya kurang lebih sepantaranku, banyak om-om dan tante-tante, yang kali aja ‘anak gaul’ pada jamannya.

Kalau aku perhatiin kemaren, sepertinya tampilan 2D ini malah nggak terlalu menarik minat nonton para generasi 90-an akhir, yang di tahun itu mungkin masih SD atau SMP. Karena generasi mereka lebih tertarik menikmati B3, Kidnap Katrina, Wayang, Funkop atau juga Bunga. Panggung-panggung yang justru aku nikmati dengan sambil lalu aja. Bukan aku ga suka dengan mereka semua itu, tapi sensasi ngefansnya udah lewat, alias jaman mereka ngetop, aku udah bukan remaja lagi. Udah kerja dan malah udah menikah heuheuheu…
Jadi kebanyakan yang memenuhi depan panggung 2D ya kurang lebih sepantaranku, banyak om-om dan tante-tante, yang kali aja ‘anak gaul’ pada jamannya hahahha

Suara Dian PP merdunya masih sama kok dengan yang aku denger jaman aku SMA dulu.

Begitu Dian PP nongol di panggung, aku sedikit kaget, “Yaampun Dian kurus banget”. Mungkin karena aku gak pernah kepo liat-liat foto update Dian PP di internet, jadi baru tau kalau dia sekarang kurus banget. Tapi hal itu lalu terabaikan begitu Dian mulai nyanyi, menurutku merdunya masih sama kok dengan yang aku denger jaman aku SMA dulu. Iyaaaa iyaaaa….nggak usah protes,

“Yakin mami 90an masih SMA?”.

Maksudkuuuu…..aku udah tau Dian PP pas masih SMA, tahun 83 atau 84 itu kan udah ada tuh lagunya Dian PP, dulu sering banget diputer temen sekolahku. Aku masih inget cover kasetnya warna biru, tadinya aku lupa apa judul dan albumnya. Terus aku tanya mbah Google deh, ternyata judulnya “Melati Di Atas Bukit”, judul albumnya Indonesian Jazz Vocal. Agak aneh sih sebenernya, aku bukan penggemar jazz, bahkan saat itu aku ga paham-paham amat jenis-jenis aliran musik. Ngertiku ya pop aja. Tapi mungkin waktu itu aku suka ama suaranya, atau aku terpengaruh temenku yang saking addictnya sampe pita kaset ‘nglokor’ alias kusut karena diputer terus.

Aku baru bener-bener ‘ngeh’ sama Dian PP itu ketika keluar album “Kau Seputih Melati” tahun 1986.

Itupun ya sebatas ngeh aja, tau ada nama Dian Pramana Poetra, gitu doang belum sampe ngefans. Cover album warnanya biru muda. Tau kasetnya juga kayaknya bukan karena aku yang beli, tapi kaset kakakku kalau ga salah eh atau temenku ya (aaah entahlah aku lupa). Nah single hits nya itu loh yang bener-bener meledak, ngetooooop banget, “Kau Seputih Melati”. Tapi kayaknya aku baru mulai suka banget banget sama lagu itu pas barengan dengan jaman Mus Mujiono ngehits dengan single “Arti Kehidupan”. Waktu itu, seingetku kalau pas aku denger radio, playlistnya hampir selalu deretan tuh lagunya, Mus Mujiono – Arti Kehidupan, terus Dian PP – Kau Seputih Melati, Trio Libels – Bukan Sekedar Mimpi, Januari Christy – Aku Ini Punya Siapa, lagu-lagu itu beberapa diantara sering banget aku denger di radio jaman aku SMA, sekitar tahun 87-an gitulah. Baru bener-bener kenal banyak lagunya Dian PP itu pas udah masuk radio, sebagai penyiar remaja jaman tahun 90 itu, yaiyalah wong tiap hari harus ngulik lagu baru. Sementara Dian PP seingetku termasuk eksis di awal tahun 90-an itu, sekitaran 89 – 92 gitu deh, nggak cuma nyanyi sendiri, tapi banyak banget proyekannya. Dari duo dengan Deddy Dhukun pake nama 2D, terus dengan nambah 1 nama, Bagoes AA jadilah K3S, Kelompok 3 Suara, terus ada juga yang ramean bareng Malyda juga. Banyak banget hitsnya.

2D, Dian Pramana Poetra & Deddy Dhukun

Untuk formasi 2D, yang sudah dibentuk di tahun 87, dengan keluarnya sebuah album Keraguan, bisa jadi awalnya ini cuma sebuah kolaborasi iseng, tapi ternyata hits mereka “Keraguan” lumayan meledak, sangat sering diputar di radio. Nama 2D makin kuat lewat album kedua, kalau album pertama “Keraguan” berisi banyak penyanyi, tapi di album kedua ‘Masih Ada” semua lagu diciptakan dan dinyanyikan oleh 2D. Sepertinya, jaman itu judul album itu sesuai dengan single hitsnya, rata-rata begitu sih, termasuk album “Masih Ada” ini, single hitsnya pun berjudul sama. Lagu “Masih Ada” ini sangat populer di tahun 90 walau albumnya dirilis tahun 1989. Emang gila sih ini lagu, masih sama enaknya didengerin sampe sekarang.

Gaya 90-an Banget? Ya seperti gayanya Dian PP itu

Sssssttt…coba deh liat videoklip nya, aku senyum-senyum geli sendiri liatnya, bukan karena mereka tampil lucu, tapi mengingat kembali gaya tampilan di jaman itu. Style cowok jaman 90-an itu ya kaya Dian PP itu, rambut agak dijambul keriting, panjang bawah dikit, terus bajunya blazer ala-ala disampir aja di samping. Nah gaya fotonya, dulu tu ya kayak gitu itu hahahha
Kalau anak abg jaman sekarang populer dengan gaya foto dua jari membentuk V ditarok dimata, terus bibir di monyong-monyongin biar tampak seksi, nah kalau dulu…udah gaya banget tuh kalau foto tangan dipinggang terus agak nyamping, atau duduk dengan gaya nyamping, dengkul ditekuk. Ya persis kaya gaya Dian PP inilah

 

Liat videoklipnya itu, gaya Dian PP ya mewakili gaya anak muda jaman itu kalau di depan kamera hahahha

Udah ah…malah jadi ngakak sendiri inget gaya jaman dulu.

Back to topic.

Duo Dian Pramana Poetra dan Deddy Dhukun ini terbilang sangat kompak.

Bukan saja sebagai penyanyi duo, tapi sebagai komposerpun, mereka sudah banyak menghasilkan lagu-lagu yang jadi hits. Terbukti dengan album pertama “Keraguan”, dan album kedua “Masih Ada’ sangat laris di pasaran. Ada rentang waktu yang lumayan panjang dari album kedua ke album ketiga, ada masa dimana nama Dian PP sempat menghilang, sementara pasangan duetnya, Deddy Dhukun tetap eksis sebagai komposer dan produser. Mereka kembali mengeluarkan album di tahun 1996, album ketiga yang berjudul “Sebelum Aku Pergi”.

Sayangnya, sukses album pertama dan kedua tidak berlanjut ke album ketiga.

Menurutku, reuni mereka ini seperti kurang berhasil, bahkan “Sebelum Aku Pergi’ yang dijadikan single hits pun kurang mendapat perhatian. Banyak faktor sih yang bisa jadi alasan, bisa jadi karena kurang gencar promonya, atau kalah saingan sama pendatang baru. Seingetku ya, pertengahan 90-an itu, masa dimana lagi banyak-banyaknya penyanyi baru bermunculan. Baik itu band, ataupun penyanyi solo, bahkan kelompok vokal, dari yang cuma duo sampe rame-rame. Banyak macam dan tentu saja beragam jenis musiknya. Yaah anggap saja memang era mereka sudah lewat, wajar sih menurutku. Pertengahan 90-an itu, bermunculan nama Titi Dj, Yana Julio, Elfa’s Singers, Java Jive, Dewa 19, Anggun, Slank dll dll waaaaaaaah banyak banget. So, nama 2D selesai di album ketiga, karena setelah itu nggak ada lagi lanjutannya, alias itu sebagai album terakhir mereka.

Tapiii……walau cuma menghasilkan 3 album, setiap kali ada event yang mengusung 2D, tetaplah banyak lagu mereka yang ditunggu-tunggu buat nyanyi bareng.
Seperti aku kemaren, nyaris hafal semua lagu yang mereka bawain. Nggak sampe terus-terusan teriak ikut nyanyi sih, sedikit-sedikit bersenandunglah hehehe

Gimanapun juga, aku terpuaskan dengan penampilan 2D di event 90’s festival kemaren. Udah gitu aja.

Sebagai bonus dari tulisan ini, sedikit aku berbagi kebahagiaanku dari nonton penampilan 2D kemaren, dengan kemampuan kamera hp yang terbatas, jadilah video recehan ini 😀

Posted in Lifestyle

Ini Nggak Penting, Nggak Usah Dibaca

Seperti membuka lembaran baru…..

Setelah tulisan di blog ini terhenti sejak Desember tahun 2016 yang lalu. Yah. Hampir 2 tahun tidak ada tulisan baru. Tidak ada cerita baru yang tertulis.

Kalau mau dipertanyakan apa alasannya, jawabannya akan menjadi absurd. Nggak jelas. Bisa jadi terlalu sibuk menjalani kehidupan nyata yang semakin sulit? Atau dasarnya males? Niat doang tapi ga gerak. Sama aja boong sih.

Kalau maujawab,”Lagi ga punya ide”. Halah. Macam blogger apalah sok-sok’an pake alasan ga punya ide, nulis ngawur aja ga bisa apalagi nulis bener. Jadi alasan yang itu kayaknya terlalu ‘enggak banget’.

Masih sering ngomong sendiri. Masih sering pikiran ini sibuk dengan berbagai macam hal. Yang mungkin kalau mau dituliskan, bisa jadi ratusan tulisan. Itu kalau niat.

Ya sudah. Apalah arti banyak ide di kepala kalau ga pernah dituangkan jadi sebuah tulisan. Lagiaaaan yaaaa….sok-sok amat sih mau ala ala nulis nunggu ide segala, emang mau nulis apaan. Macam banyak pembacanya aja hakhakhakhak….

Jadi. Blog ini sekarang nggak aku sambungin kemana-mana. Kalau dulu, sibuk tarok link dimana-mana biar kalau ada tulisan baru ketauan orang terus pada baca. Haaasyaaaah!!

Rasah aneh-aneh.

Kalau dulu banget, rajin bikin catetan di buku harian. Kalau sekarang ya menyesuaikan lah, udah era digital yaaaa jadi anggep aja ini buku harian versi digital.

Kalau duluuuu banget, abis nulis buku harian sibuk ngumpetin buku jangan sampe ketauan orang, bahkan sampe punya buku harian yang ada gemboknya (walau tetep aja sih ketauan ibuk, dirusak gemboknya ya tetep aja bisa dibaca heuheuheu), kalau sekarang pengen ga ketauan orang ya balik aja nulis di buku harian. Manual. Iya toh….

Jadi gitu, alasanku pengen balik lagi ke blog ini ya cuma sekedar biar kepalaku ga penuh dengan banyak pikiran. Biar gak lupa aku pernah mikir atau kepikiran apa.

Jangan berharap di blog ini bakal nemu tulisan berkualitas seperti tulisan para blogger yang kerap menang lomba atau yang pembacanya ratusan bahkan ribuan itu. Jangan ketinggian ekspektasi bakal nemu review tentang apalah apalah yang berguna buat pembaca seperti blog temen-temenku yang pandai nge-review produk itu.

Ini blog ku, ini ceritaku, ini keluh kesahku. Kalau ga sengaja mampir ke blog ini dan terasa bosan dan gak penting ya udah tutup aja. Lewatin aja. Gak usah baca-baca lagi.

Dah gitu aja.

 

Syalom,

~jeci~